Melawan Mertua Julid

Melawan Mertua Julid
Mengusir Kakak Ipar


__ADS_3

Hari ini aku mendapat informasi terbaru dari Cindy.


[Tuh, nomor telepon sama email pemilik akun fake itu.]


Nomor teleponnya rasanya tak asing. Aku tekan nomornya di ponselku. Mataku melotot. Ini nomornya Mas Adit. Tanpa banyak cincong, langsung aku telepon.


"Ayu, ngapain telepon-telepon suamiku ?" Teriak Mbak Dita dari kamar sebelah. Aku keluar sambil menggendong Kiara, mencari ibu mertua untuk memegang anakku dulu.


"Titip, Bu, bentar."


"Kamu mau kemana ?"


Aku tak menjawab pertanyaan ibu mertua. Langsung saja aku dobrak pintu kamar Mbak Dita.


Bruk!


Pas sekali Mbak Dita dan Mas Adit ada di kamar. Aku berkacak pinggang, memasang wajah penuh emosi. Mungkin sudah mirip lahar panas, merah dan menggolak.


"Mau apa kamu, Ayu ? Mentang-mentang pegang sertifikat rumah, seenak jidat masuk kamar orang tanpa adab." Ucap Mas Adit.


"Iya nih, Si Ayu. Mentang-mentang punya rumah, punya usaha, punya anak, makin bertingkah. Mau apa kamu, hah ?"


"Mas Adit, coba jelaskan akun fake ini !"


"A-akun maksudmu, Ayu ?" Tanya Mas Adit tiba-tiba gugup. Wajahnya berubah pucat.


"Gak usah sok bego, deh, Mas. Kalo mau nyerang, gentle dong. Masa pake akun fake, banci kamu, Mas !"


Plak!


"Astaghfirullah, Dita, Ayu !" Pekik ibu mertua yang menyaksikan dari dapur saat Mbak Dita menamparku. Dia tak berani mendekat karena sedang menggendong Kiara.


Plak!


Plak!


Aku tampar balik pipi Mbak Dita. Tak tanggung-tanggung, kiri dan kanan. Kali ini sudah tak ada ampun. Mereka benar-benar sudah keterlaluan. Semakin diberikan kenyamanan, malah sok-sokan, banyak tingkah.


"Sialan ! Berani yah, kamu ! Dasar adik ipar gak ada otak !"


"Jaga mulutmu, Mbak ! Suami Mbak yang salah. Bisa-bisanya dia fitnah usaha suamiku. Dulu kami masih berbaik hati saat dia banned akun yutub kami dan korupsi uang hasil jualan. Dibiarkan, sekarang makin keterlaluan. Beraninya dia fitnah usaha pentol kami pakai daging babi dan daging tikus."


"Jangan sembarangan nuduh ! Lihat, itu akun fake, bukan milikku !" Sela Mas Adit membela diri.


"Hahaha, kamu pikir aku sebodoh itu, Mas ? Aku sudah lacak pemilik akun fake ini menggunakan jasa hacker hebat. Ketahuan nomor sama email-nya. Masi mau ngelak ?"


"Eh, belum tentu itu punyanya Mas Adit. Bisa saja, itu hanya akal-akalan kamu nuduh kami !"

__ADS_1


"Oke, kita bawa kasus ini ke jalur hukum."


Aku ambil anakku dari tangan ibu mertua.


"Ayu, tunggu..."


Aku tidak peduli siapapun yang memanggil. Aku pergi ke tukang ojek yang biasa mangkal dekat rumah. Tekad ku sudah bulat mau membawa kasus ini ke kantor polisi. Sebelumnya aku sudah menghubungi Mas Bagas dan meminta dia menyusul ke kantor polisi.


"Sayang, apa benar fitnah akun fake itu kelakuan Mas Adit ?"


"Iya, Mas. Aku sudah punya bukti-bukti nya."


"keterlaluan !!! Ini sudah masuk ranah kriminal, pencemaran nama baik. Sudah, kita laporkan saja !"


Aku dan suami sependapat melaporkan Mas Adit. Setelah beres, aku pulang bersama Mas Bagas. Tak lama polisi juga menyusul membawa surat penangkapan untuk Mas Adit. Sekali-sekali harus dibuat jera, biar isi kepalanya berfungsi dengan baik.


"Apa-apaan ini ? Kalian sudah gila, seenaknya laporin suamiku ke polisi." Teriak Mbak Dita saat melihat polisi datang di belakang di kami.


"Bagas, Ayu, ada apa ini ?" Tanya ibu juga panik melihat ada polisi dirumah.


"Tangkap pria ini, Pak !" Perintah Mas Bagas.


"Jangan ! Mau dibawa kemana suamiku ?"


Aku malas berdebat, bergegas masuk kamar. Kasihan putriku, dibawa kesana kemari. Biar Mas Bagas saja yang mengurus mereka. Tak mungkin dia diam saja, kelakuan kakak iparnya sudah sangat keterlaluan.


Terdengar keributan dari ruang depan. Niatnya mau menghindari keributan, tapi malah penasaran. Tak apalah, aku ikut nonton saja.


"Ara, jangan kaget yah, denger Bude kamu ngereok. Sambil *****, yah."


Aku lihat dari pintu kamar, ada bapak mertua juga, baru pulang dari kebun. Sepertinya ibu mertua yang menjemput agar cepat pulang.


"Ada apa ini, Gas ? Kenapa Adit dibawa polisi ?"


"Mbak Dita dan Mas Adit sudah sangat keterlaluan, Pak, Bu. Mereka sudah fitnah usaha Bagas. Pendapatan usaha Bagas menurun drastis, hampir mau bangkrut. Bagas gak Sudi mereka disini."


Sepertinya suamiku benar-benar sakit hati. Baru kali ini dia sangat berani. Padahal, biasanya dia paling takut dengan bapaknya.


"Enak aja ! Mbak gak tahu apa-apa. Pasti istri kamu yang tukang hasut. Semua ini fitnah ! Gak mungkin Mas Adit berbuat seperti itu."


"Mbak, bukti yang aku berikan ke polisi itu kuat, lho. Kalo gak kuat, mana mungkin polisi akan menindaklanjuti." Sela ku dari pintu kamar.


"Diam kamu, Ayu !!!" Teriak Mbak Dita kesetanan.


"Ya Allah, Dita, ada-ada saja kamu ini. Itu sudah keterlaluan, Dit. Masa kalian fitnah usaha adik kamu sendiri pakai daging tikus ?"


"Bu, kenapa malah bela Si Bagas ? Ini semua fitnah !" Sentak Mbak Dita.

__ADS_1


Plak !


Bapak mertuaku menampar Mbak Dita. Mungkin habis sudah kesabarannya. Ya, emang Mbak Dita sudah terlalu sering membuat masalah dalam keluarga.


"Bapak gak mau bela kamu lagi !"


"Pak... bapak !"


"Pak, gimana Adit, Pak ? Masa bapak diam saja ?"


"Urus anakmu, Bu !" Ucap bapak sambil berlalu.


"Aduh, gimana ini ?" keluh ibu kebingungan.


"Gas, kita bicarakan baik-baik saja dulu. Kalau bawa-bawa polisi gini, malu."


"Mas Adit sudah keterlaluan, Bu. Pertama dia korupsi sampai jutaan, sekarang dia fitnah usaha Bagas sampai hampir bangkrut. Bagas gak terima, Bu."


"Kurang ajar kamu, Bagas ! Seenaknya saja menuduh. Cepat bebaskan suamiku !"


"Bebaskan sendiri kalau Mbak bisa !"


"Sialan kamu, Bagas ! Bu, bantu ngomong, Bu. Aku malu, Bu, kalau Mas Adit di penjara."


"Tapi ibu harus gimana, Dita ?"


"Bawa baju-baju Mbak Dita, keluar dari sini. Kalau aku kesini lagi, barang-barang Mbak masih disini, aku bakar !"


Mas Bagas keluar dari rumah. Emosi benar-benar menguasai dirinya. Dia memang tipe orang penyabar, tapi kalau sudah disenggol terlalu dalam, maka akan keluar api amarahnya. Mirip macan kelaparan yang baru bangun dari tidur. Serem banget kalau menyaksikan emosi Mas Bagas menggelegar.


"Ayu ! Semua ini gara-gara kamu !"


Mbak Dita mau menyerangku, tapi ibu dengan sigap menghalangi. Menjauhkan Mbak Dita dariku.


"Sudah Dita, jangan buat yang aneh-aneh. Ayu lagi gendong Ara, kalau sampai anaknya jatuh, kamu juga bisa ikut masuk penjara."


"Aarrgh !!!" Teriak Mbak Dita meraung sambil menangis.


Bukan aku tak mau melayani, tapi sadar diri, punya anak. Lebih baik menghindar, masuk ke kamar. Dari sini masih terdengar suara Mbak Dita masih marah-marah. Cukup lama dia menangis sambil teriak-teriak. Aku intip dari balik pintu.


"Tenang, Dita... lebih baik kamu kerumah Pakde Eko. Kalau masih disini, Bagas bisa makin ngamuk. Anak itu kalau sudah marah, ampun, ibu saja takut."


"Tapi, Mas Adit, Bu, hiks... hiks"


"Nanti ibu bantu ngomong. Sekarang, tenangkan diri kamu dulu."


Ibu merangkul Mbak Dita. Membawa barang-barang, dan mengajaknya keluar dari rumah. Baguslah Mbak Dita diusir dari sini. Orang seperti dia mungkin harus merasakan susah dulu, biar sadar.

__ADS_1


__ADS_2