Melawan Mertua Julid

Melawan Mertua Julid
Sakit Hati


__ADS_3

POV Ibu


"Bu, mau kemana ?"


Air mata runtuh dari kelopak mataku. Tak menyangka, anak yang sangat aku sayangi malah sampai hati menamparku. Ya Allah, apa ini hukuman karena selama ini aku selalu berat sebelah kepada Bagas ?


"Hiks, hiks,"


Sakit sekali hati ini. Seorang ibu yang selalu berusaha memberikan kebahagiaan kepada anaknya, malah diperlakukan layaknya sampah. Diinjak dan disakiti semena-mena.


Kurang apa ibu padamu, Dita ? Apapun yang kamu mau selalu ibu usahakan. Tapi sikapmu semakin keterlaluan. Ibu maklum jika tenaga ibu diperas untuk membantumu, tapi ibu juga punya hati. Sungguh sakit dan pedih, ketika diperlakukan kasar oleh anak sendiri. Padahal, almarhum suami dan orang tua ku saja tak pernah berbuat demikian.


Drrttt drrttt


Drrttt drrttt


Dita terus menerus menelepon, tapi aku abaikan. Saat dia menamparku, diri ini tersadar sudah terlalu memanjakan anak itu sampai dia berbuat seenaknya. Benar kata Bagas selama ini, aku salah sudah terlalu memanjakan Dita.


Drrttt drrttt


Aldi ikut menelepon, aku abaikan saja. Lebih baik menelepon Bagas dan Ayu. Aku harus minta maaf, mungkin selama ini rasa sakit yang dirasakan Bagas lebih dalam.


Tuutt... tuutt...


"Gas, kamu marah sama ibu, Nak ? Sampai tak mau mengangkat telepon dari ibu. Hiks, hiks,"


Sudah puluhan kali menelepon, tetap tak ada jawaban. Akhirnya nomor Bagas malah tak bisa dihubungi. Air mata semakin deras, bukan karena sakit hati lagi, tapi rasa takut jika Bagas membenciku.


Tuuttt... tuuttt...


"Ayu, angkat, Nak."


Tuuttt... tuuttt...


"Halo, assalamualaikum, Bu."


"Ayu, Alhamdulillah kamu angkat telepon ibu, Nak. Dimana Bagas, Yu ?"


"Mas Bagas ada Bu, tapi..."


"Tapi apa, Nak ?"


"Mas Bagas marah besar sama ibu. Ibu sih, belain Mbak Dita terus. Baru kali ini Mas Bagas ngamuk, aku aja sampai gak berani dekat-dekat. sudah dulu yah, Bu, aku takut hapenya dilempar ke planet saturnus kalau ketahuan teleponan sama ibu."


"Ayu... Hallo, Ayu..."


Sambungan telepon diputuskan begitu saja. Ya Allah, apa aku sangat keterlaluan sampai Bagas murka ? Aku harus bagaimana kalau sudah begini ?


Aku rebahkan tubuh di ranjang, dengan posisi menyamping. Menikmati rasa sakit atas ulahku sendiri. Dada terasa sakit saat dibawa menangis.


"Uhuk ... uhuk ..."


Batuk terus melanda, padahal proses pengobatan sudah mau enam bulan. Tetap saja rasa sakitnya tak hilang.


"Da-darah ?"


Mataku melotot melihat darah di tanganku. Memang sudah beberapa kali aku mengeluarkan darah saat batuk. Aku sering mengabaikan kesehatan karena sibuk membantu Dita. Sampai minum obat tak teratur, tapi aku tidak bilang siapa-siapa termasuk dokter.

__ADS_1


Tok... Tok...


"Bu Ratih, buka pintunya."


"Intan ?"


"Ini ayam bakar buat Bu Ratih. Jangan telat makan."


"Dari ?"


"Dari Ayu. Dia juga pesan jangan telepon dulu, dan mungkin nomornya emang gak bakal bisa dihubungi. Tapi, Ayu bakal tetap ngasih duit diam-diam sama ibu. Makanya Bu, anak buruk rupa jangan dibelain terus. Udah muka buruk, hatinya kayak biji kedondong pula."


"Tolong sampaikan sama Ayu dan Bagas, ibu minta maaf. Sekarang ibu menyesal selalu membela Dita."


"Gak salah dengar, Bu Ratih ? Emang Bu Ratih diapain sama Dita ?"


"Gak, intinya sampaikan maaf ibu."


Aku ambil ayam bakar dari Intan. Tapi dia menahan tanganku agar tak masuk ke dalam rumah. Aku malas mengobrol banyak dengan Intan, meski dia baik dan suka membantu tapi mulutnya hobi gosip.


"Bilang dulu Bu, baru aku sampaikan sama Ayu. Cerita saja, Bu, jangan sungkan. Aku udah kayak ponakan ibu loh, kalau ibu sakit, siapa yang bantu duluan kalau bukan aku."


"Dita... dia nampar ibu."


"Astaghfirullah, dasar anak durhaka binti kurang ajar. Bu Ratih makanya jangan terlalu baik sama Dita. Nanti aku bantuin ngomong sama Ayu dan Bagas, biar mereka mau maafin Bu Ratih, dan Bu Ratih bisa tinggal sama Bagas."


"Makasih, Intan."


Percuma disembunyikan, Dita memang sudah keterlaluan. Aku tak peduli lagi jika Intan menyebar gosip atau menggunjing Dita. Sebagai seorang ibu, aku sudah terlanjur sakit hati.


***


Sudah satu Minggu aku mengurung diri di rumah. Dita terus menghubungi, Aldi juga berusaha membujukku dengan cara datang kesini, tapi aku tak mau. Harusnya Dita sendiri yang kesini untuk minta maaf.


"Ratih... Ratih ! Buka pintunya, aku Ijah."


"Mbak Ijah, masuk Mbak."


Mbak Ijah datang membawa sayuran. Katanya titipan Intan buat aku, disuruh Ayu. Aku selalu terharu dengan sikap Ayu. Sampai hal-hal kecil saja dia selalu memperhatikanku. Tapi aku sama sekali tak pernah menyenangkannya sebagai menantu. Hanya penyesalan yang terus membelenggu di hati. Aku malah tersiksa dengan sikap baik Ayu, karena bayangan kesalahanku yang segunung padanya.


"Kamu beneran ditampar Si Dita ?"


"Mbak tahu dari siapa ?"


"Dari Si Intan. Makanya aku sengaja mengantar sayuran sendirian, sampai warung dijaga anakku dulu. Penasaran, kok bisa Si Dita kurang ajar kayak gitu sama kamu, gimana ceritanya ?"


"Biarkan saja, Mbak. Mungkin aku yang tidak becus mendidik Dita."


"Emang, ini semua akibat sikap kamu sendiri, Ratih. Makanya sama anak jangan pilih kasih. Malu sama Bagas dan Ayu yang selalu diperlakukan kayak anak tiri, tapi baik banget sama kamu. Lihat tuh, Si Dita, malah nginjek-nginjek kamu."


Mataku berkaca-kaca, ucapan Mbak Ijah sangat menampar hati ini. Aku merasa semakin berdosa, beban rasa bersalah ini semakin menyesakkan dada.


"Aku gak maksud pilih kasih, Mbak. Mbak tahu sendiri, Dita itu anak yang aku tunggu-tunggu selama lima tahun menikah tidak punya anak. Ditambah lagi dulu, Dita suka sakit-sakitan, jadi sampai gede aku kebiasaan lebih memperhatikan Dita dari pada Bagas."


"Aduh, Ratih-Ratih, kamu sadar, sikap kamu itu keterlaluan. Apalagi sama Ayu. Kalau Si Bagas susah aja semakin ditekan. Beda sama Dita, kamu selalu usaha buat dukung dia. Kita ini sudah tua, jangan sampai mati meninggalkan luka sama anak. Di dunia ini bukan hanya ada anak durhaka, ibu durhaka juga ada, yah, modelan kamu gini."


Aku menangis sesenggukan mendengar ucapan Mbak Ijah. Ucapannya terkesan memojokkan meski disampaikan dengan nada biasa. Hatiku perih, teringat sikap buruk pada Ayu dan Bagas.

__ADS_1


"A-aku harus bagaimana, Mbak ?"


"Ya, minta maaf sama Ayu dan Bagas. Terus, kamu ikut saja sama mereka, gak usah ngurusin Dita. Sekarang kamu harus bersikap keras sama Dita, biar dia sadar tanpa kamu dia kelabakan mengurus anak sendirian. Biar sadar, Ratih. Jangan lembek sama anak kayak Dita."


"I-iya Mbak, tapi Bagas marah sama aku, Mbak. Dia bahkan gak mau angkat telepon aku, hiks, hiks."


"Ya, pasti marah, salah kamu sendiri."


"Terus aku harus gimana, Mbak ?"


"Nanya lagi, sana ke Jakarta samperin mereka."


"Iya, Mbak."


"Sudah, gak usah nangis. Aku pulang dulu yah."


Mbak Ijah pulang, meninggalkanku yang sedang menangis sesenggukan.


Di waktu sore aku coba menelepon Bagas dan Ayu lagi, tetap saja tak aktif. Air mata bercucuran. Aku tetap paksakan untuk makan agar tak sampai sakit. Siapa yang mau mengurusku kalau aku sakit.


Tok... Tok...


Siapa yang bertamu selepas Magrib ? Apa itu Mbak Ijah ? Tapi seperti suara laki-laki.


"Bu..."


"Dita... Aldi ?"


"Bu, ibu kenapa sih, marah terus ? Udah seminggu gak pernah ke rumah. Aku kewalahan ngurus dua anak, Bu. Soal tamparan itu, aku minta maaf."


"Kamu sudah keterlaluan, Dita. Meskipun ibu sudah memaafkan kamu, tapi rasa sakitnya masih ada. Sakit hati ibu."


"Ya ampun, Bu, namanya juga gak sengaja. Ibu sih, keluar-keluar segala. Aku jadi dihina pas beli makan. Ibu jangan egois, kasihan dong sama Dita. Udah punya anak dua, ngurus rumah gede, terus harus masak dan belanja sendiri. Dita gak sanggup Bu, muka Dita buruk rupa kayak gini, malu, Bu."


"Rasakan sendiri perbuatan kamu, Dita. Ibu menyesal sudah memanjakan kamu. Kali ini kamu urus sendiri hidup kamu. Ibu gak mau ikut campur."


"Dih, ibu kenapa sih, cuma masalah sepele aja digede-gedein."


"Astaghfirullah, berani nampar ibu kamu anggap hal sepele ? Kalau kamu yang diperlakukan kayak gitu sama anak kamu gimana ? Ingat Dita, dari kamu kecil ibu gak pernah nampar kamu, nyubit pun gak pernah."


"Iya, Bu, maaf Napa. Udah, damai, Bu. Kalau bukan sama Dita, ibu mau sama siapa ? Gak bakal ada yang ngurusin. Meskipun Dita gak banyak duit, tapi kalau ada apa-apa pasti ke Dita yang dekat. Gak kayak Si Bagas, jauh dari sini, terus gak peduli sama ibu."


"Kamu yang gak peduli sama ibu, Dita. Ibu sakit kamu sibuk sendiri. Mendingan Ayu, cuma menantu tapi selalu peduli sama ibu, gak jadiin ibu kayak babu."


"Dih, ibu jadi aneh banget. Jangan-jangan kena guna-guna Si Ayu."


"Astaghfirullah, sadar Dita. Secepatnya kamu berubah lebih baik, takutnya anak kamu yang bakal balas perbuatan buruk kamu. Ibu sudah merasakan sakit hati diperlakukan buruk sama anak yang ibu sayangi."


Aku tutup saja pintunya. Sudah tak sanggup menahan kesal, takut kelepasan.


"Bu, buka pintunya !"


"Ayo pulang saja. Syukurin, salah sendiri. Rasain akibatnya. Aku suka kasar sama kamu, tapi gak berani kasar sama orang tua sendiri. Emang gila kamu !"


Masih terdengar percakapan Dita dan Aldi dari balik pintu. Perlahan suara mulai senyap ketika suara motor semakin menjauh. Aku masuk kamar dan membereskan pakaian. Besok pagi mau naik travel untuk pergi ke rumah Bagas dan Ayu.


Meskipun hatiku ragu mereka mau memaafkanku. Sudah banyak kesalahan yang aku lakukan. Tapi, kalau aku tak meminta maaf, beban di dada ini semakin berat.

__ADS_1


__ADS_2