
Waktu libur tahun baru telah tiba. Ibu sengaja meminta kami untuk pulang kampung, mumpung sedang momen tahun baru. Katanya ibu juga rindu ingin mengunjungi makam bapak mertua. Jadi, kami putuskan liburan tahun baru kali ini, kita liburan di kampung.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, akhirnya tuan rumah datang."
"Alhamdulillah, Abah Yai, Bu Nyai." Kami saling bersalaman.
"Monggo, Monggo... duduk."
"Mbak Ayu, Pak Bagas, dan Bu Ratih, biar Ahmad yang bawa barang-barangnya." ujar anak pertama Kiai Munir.
"Gak papa, Gus ?" Gus Ahmad mengangguk, lalu dia membantu kami membawa beberapa barang bersama Mas Bagas, karena kami memang membawa cukup banyak barang.
Kiai Munir, istri, dan dua anaknya sengaja menunggu kami sampai larut malam. Katanya ingin bertemu, karena selama ini kami hanya berkomunikasi soal bisnis akhirat melalui telepon saja.
Rumah ini sudah sedikit berubah dari semenjak terakhir kami kesini. Sofa dipindahkan ke ruang televisi karena ruang tamu sampai teras khusus digunakan untuk tempat anak-anak mengaji, jadi ruangannya harus dikosongkan. Hanya ada meja-meja kecil saja.
"Abah Yai, terima kasih sudah menunggu kami sekeluarga sampai selarut ini."
"Saya yang sangat senang bisa bertemu kalian. Selama ini sudah numpang disini, tapi baru sekarang bertemu tuan rumahnya."
"Abah Yai jangan sungkan, kami justru sangat senang rumah ini jadi lebih bermanfaat, dari pada dibiarkan kosong."
"Bu Nyai, ini ada sedikit oleh-oleh dari kami." Aku sodorkan lima tumpuk kue talas Bogor kesukaanku.
"Asik jajan." ujar seorang anak kecil yang umurnya sekitaran lima tahunan. Sepertinya dia anak bontot Kiai Munir. Aku pernah melihatnya di foto yang dibuat status WA oleh Bu Nyai. Ternyata anaknya sangat tampan, aura-aura orang hebat sudah melekat sejak dini.
"Bilang apa, Fatih ?"
"Maacih."
"Sama-sama, Gus Fatih."
"Terima kasih, Mbak Ayu. Ahmad, tolong siapkan minum yah." ujar Bu Nyai pada anak pertamanya yang sudah berumur dua puluh tahunan.
Kami duduk bersama dan mengobrol banyak hal. Termasuk rencana perluasan tempat mengaji ini, karena Abah Yai berniat mendirikan Madrasah juga disini. Di area belakang memang lahannya masih cukup luas, jadi bisa digunakan. Hanya saja, kami harus membicarakan lagi terkait jual beli kebun belakang milik saudara almarhum bapak."
"Kalau begitu, kami pamit pulang dulu, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, Abah Yai."
__ADS_1
Pukul sepuluh malam, kami baru bisa istirahat setelah kurang lebih satu jam berbincang-bincang dengan Kiai Munir dan keluarga. Aku masuk ke kamar. Kamar ini terlihat bersih dan rapi. Sepertinya sengaja dibereskan. Aku memang memperbolehkan keluarga Kiai Munir atau santrinya untuk menginap disini dan menggunakan perabotan yang ada.
"Woy ... buka pintu !"
"Itu suara Mbak Dita, Bu."
"Sudah, gak usah dibuka. Ibu istirahat saja, pasti capek kan habis perjalanan jauh. Sayang, kamu juga istirahat."
"Iya, Mas."
Oke, besok saja menyapa Mbak Dita. Berkali-kali dia berteriak, tapi kami sama sekali tak ada yang mau merespon. Lagian, malam-malam begini tak punya adab saat bertamu. Teriak-teriak udah mirip orang kurang waras saja.
"Woy, buka !"
"Ibu !"
"Bagas !"
Anakku Kiara sudah tidur. Aku jadi penasaran mau melihat Mbak Dita. Sudah setengah jam dia masih setia mengetuk pintu dan berteriak-teriak tak jelas.
"Dita, nanti tetangga pada kesini, susah besok lagi aja."
"Mimpi kamu ! Jelas-jelas mereka kesini untuk liburan. Kamu ini suka sekali buat kepalaku pusing. Tinggal dirumah, masak, anteng sama anak-anak apa susahnya sih ?"
Aku rapatkan kuping ke pintu. Seru mendengar percakapan dua sejoli paling serasi di muka bumi ini.
"Sayang..." Suara Mas Bagas sedikit membuatku kaget.
"Eh, Mas Bagas."
"Ngapain disitu, ayo tidur."
"Tapi Mas, Mbak mu berisik banget."
"Abaikan saja, sayang. Kita setel musik biar tak terganggu dengan suara Mbak Dita."
Aku belum menjawab, Mas Bagas sudah menarikku ke kamar. Kami saling berpelukan, meski banyak suara-suara menyebalkan dari Mbak Dita. Kita abaikan saja, tetap asyik bermesraan sampai mimpi menjemput.
.
.
__ADS_1
"Nah, nongol juga kamu !" teriak Mbak Dita dari kejauhan. Aku sedang menyapu halaman, kaget dengan tingkahnya. Mirip orang yang sedang mengejar-ngejar maling. Pasti pagi-pagi sudah mau ngajak rusuh.
"Kenapa, Mbak ?"
"Malah nanya. Semalam aku datang kesini kenapa gak dibukain pintu ?"
"Oh itu, sengaja, Mbak. Soalnya kami semua mau istirahat, capek."
"Dih, lurus banget ngomongnya, gak merasa bersalah sama sekali."
"Emang gak !" jawabku mantap dengan ekspresi santai, lalu melanjutkan menyapu. Mbak Dita semakin geram, dia menghentakkan kaki kesal.
"Mana ibu ? Aku sudah tahu semua yang terjadi. Gara-gara tinggal sama kamu, ibuku jadi kena kanker. Pasti kamu kasih ibuku jamur beracun yah ?"
Aku hembuskan nafas kasar sambil melempar sapu sekuat tenaga. Mbak Dita terlihat syok dengan tingkahku. Mbak Intan yang kebetulan berada di halaman rumah pun mendekat.
"Eh, mau ngajak ribut ?"
"Gak, Mbak. Mau ketemu ibu kan ? Ngomong dong. Bentar ! Bu... ibu..." Aku teriak di dekat pintu, lalu duduk di kursi depan. Malas banget pagi-pagi begini ribut, aku bawa santai saja. Soal menyapu nanti aku lanjutkan lagi.
"Dita, ngapain kamu kesini ?"
"Astaga, ibu gak seneng aku kesini ?"
"Ibu cuma malas adu mulut sama kamu. Kedatangan kamu selalu buat ibu pusing."
"Enak aja, harusnya ibu sadar gara-gara tinggal sama Ayu, ibu jadi kena kanker. Ih, serem banget. Nih, untuk terakhir kalinya Dita kasih kesempatan buat ibu untuk kembali ke rumah Dita. Dijamin gak bakal penyakitan." mertuaku tersenyum, lalu mengusap pundak anaknya.
"Penyakit ini sarana Gusti Allah menyadarkan ibu agar tidak pilih kasih lagi. Maaf Dita, ibu mau kamu mandiri. Tapi, ibu akan selalu mendoakan, agar Allah memberi kamu hidayah. Kamu jangan cemaskan ibu, Ayu dan Bagas luar biasa baik sama ibu. Mereka memberikan apapun yang ibu mau." jawab ibu dengan senyuman. Mbak Dita makin kepanasan.
"Hahaha, lihat tuh, Dita, Bu Ratih makin berisi badannya, kelihatan seger, dan terawat. Gak kayak pas sama kamu, sakit-sakitan dan kecapean. Aduh, aduh, Si Dita gak sadar-sadar." ujar Mbak Intan meledek.
"Diam !" bentak Mbak Dita.
Dia menatap tajam, kehabisan kata-kata. Niat hati mau menjelek-jelekkan aku, malah senjata makan tuan. Keburukan dia yang akhirnya terlihat jelas.
"Lihat saja, Bu, suatu saat ibu pasti nyesel udah gak peduli sama aku !"
"Dan kamu, Ayu ! Aku doakan anak-anakmu nantinya jadi jahat, sama kayak ibunya. Jahat banget, memisahkan aku sama ibuku. Mulai sekarang aku gak Sudi anggap kalian keluarga !" bentak Mbak Dita dengan nada berapi-api. Dia pergi dengan kondisi hati terbakar, dipenuhi amarah yang ditimbulkan dari itu dengki dirinya sendiri.
Kita lihat saja, Mbak, Doa buruk tak akan pernah dikabulkan. Marilah fokus mengurus anak masing-masing. Aku malah takut, kamu akan diperlakukan tidak baik oleh anak-anakmu, seperti perbuatanmu pada ibu. Bukankah buah jatuh tidak jauh dari pohonnya ? Semoga kamu insyaf, Mbak.
__ADS_1