Melawan Mertua Julid

Melawan Mertua Julid
Perkara Jual Rumah


__ADS_3

Menjelang isya, pintu depan diketuk sangat keras. Siapa yang datang ? Tak mungkin Mas Bagas, dia bilang bakal pulang malam hari ini. Aku tengok dari jendela. Mata melotot karena kaget, ternyata tamu yang datang itu Mbak Dita, Mas Aldi dan ibu. Ada apa gerangan mereka datang kesini ?


"Ayu ... Bagas !"


Aku bukakan pintu.


"Mbak, Mas, Ibu, kalian kenapa datang tiba-tiba ?"


"Gak sopan, dimana-mana itu persilahkan tamu masuk dulu, baru bertanya."


"Oh iya, lupa, maklum tamunya bawa aura gelap, jadi gimana gitu, hehehe."


Mbak Dita menatap sinis. Dia melewati aku dengan langkah angkuh, dadanya membusung ke depan. Sementara Mas Aldi kelihatan sok keren, bagaikan pangeran dari negeri seberang. Hanya ibu mertua yang memasang buka datar.


"Langsung saja, kami kesini mau membantu kamu, Ayu !" ujar Mas Aldi.


"Bantu apa ? Emang aku lagi hajatan ?"


"Ih, dodol banget sih, kamu. Maksud suamiku, kami mau meminjamkan kamu uang buat usaha kalian yang bangkrut itu."


"Serius ? Tumben, perasaan di telepon Mbak malah julid tingkat tinggi, kok bisa berubah pikiran ? Ketempelan jin baik ?"


"Songong kalau ngomong. Kami kasihan sama ibu, masa kamu sama Bagas mau ngusir ibu dari rumah lamanya. Awalnya kami mau membeli rumah itu, tapi males, rumahnya jelek. Jadi, kami mau investasi saja sama kalian."


"Oh, gitu, bagus dong. Investasi berapa ?"


"Sebutkan saja kamu mau berapa ?" tanya Mas Aldi.


Wah, aku mengendus sesuatu yang kurang baik. Maklum, apa saja yang bersangkutan dengan Mbak Dita memang biasanya kurang baik. Tapi, mari kita coba.


"Seratus juta, bisa ?"


"Tentu bisa !" jawab Mas Aldi.


"Hahaha, segitu doang, kecil ! Kapan butuh uangnya, pasti kami berikan secepatnya. Tapi ada syaratnya."


"Syarat apa ?"

__ADS_1


"Syaratnya, pabrik kamu balik nama atas namaku." ujar Mbak Dita.


Bola mata hampir jatuh, melirik sinis ke arah Mbak Dita dan Mas Aldi. Mereka berbicara dengan sangat percaya diri. Aduh, benar-benar pasangan konslet, hahaha.


"Hahaha, kalian kalau ngelindur jangan aneh-aneh dong, Mas, Mbak."


"Kami serius, Ayu. Stres kamu kambuh, hah ?"


"Hahaha, penyakit stres Mbak yang kambuh. Ada-ada aja, itu suami Mbak kan pengusaha, masa gak paham sistem pembelian sebuah perusahaan. Enak aja digadaikan karena hutang. Dipikir harga perusahaan dan seisinya kayak harga minyak goreng ?"


"Jaga bicara kamu, Ayu !"


"Santai dong kakak ipar. Makanya Mas Aldi, kalau punya pabrik itu dipelajari, jangan numpang nama sama orang tua doang. Aduh, malu aku tuh, hahaha."


Bugh !


Mas Aldi menggebrak meja. Untung meja ruang tamuku terbuat dari kayu, kalau dari kaca bisa pecah. Tapi, ya, kalau rusak aku tinggal minta ganti rugilah.


"Eh, santai dong, Mas. Mau ngajak perang di Rusia sana, malah disini."


"Ayo kita pulang !" bentak Mas Aldi.


"Sialan kamu, Ayu ! Beraninya ngomong kayak gitu di depan suamiku. Dasar gak ada pikirannya. Harusnya kamu bersyukur aku mau bantu kamu. Lihat saja, aku gak Sudi bantu kamu lagi."


"Hahaha, Mbak itu bukan bantu, tapi mau nipu. Dipikir otakku selebar daun kelor ? Enak aja, gak bakal aku bisa dibodohi. Asal Mbak tahu, aku jual aset saja masih bisa menutupi kekurangan-kekurangan uang yang kami butuhkan."


"Jangan jual rumah ibu. Mau jadi anak durhaka kalian ? Tega kamu mau membiarkan ibu luntang Lantung di jalanan."


"Rumah ibu ? Rumah kami, Bu. Lagian, tuh, ibu punya anak kaya raya, aku sama Mas Bagas kan lagi susah. Jadi, Mbak Dita aja yang beliin rumah baru buat ibu."


"Dit, lebih baik rumah itu kamu beli saja."


"Ogah, Bu ! Rumah jelek kayak gitu. Mas Aldi maunya pabrik Si Bagas, bukan rumah itu. Udah, ayo kita balik ! Nginep dulu di hotel, gak level nginep di rumah kayak gini."


Mbak Dita menampakkan ekspresi jijik. Dia pikir rumahku kandang kambing ? Dasar, Mbak gambreng. Aku persilahkan mereka pulang dengan damai. Aku hanya berdoa, semoga saja ibu nyaman dan damai dengan anak dan mantu modelan Mbak Dita dan Mas Aldi.


...

__ADS_1


Saat Mas Bagas pulang, aku ceritakan kejadian tadi. Mas Bagas geleng-geleng, tapi dia tak kaget lagi dengan tingkah Mbak Dita dan suaminya. Kami tak mau ambil pusing, fokus mencari jalan untuk memecahkan masalah di pabrik. Aku selalu memanjatkan doa agar semesta mempermudah jalan suamiku menghadapi segala rintangan.


***


"Cendol, tumben kesini sama Dimas ?"


"Iya dong, suamiku masu ngasih kabar gembira."


"Kabar apa, Dim ?"


"Suruh kita duduk dulu Napa, encok nih, kakiku."


"Masuk, masuk..."


Aku panggil Mas Bagas yang ada di kamar. Hari libur seperti ini kedatangan Dimas, pasti ada informasi terkini terkait bisnis kami. Soalnya, Dimas tipe pria super sibuk, tak mungkin hanya menyempatkan datang untuk main-main saja.


"Dim, ada apa ? Tumben kesini ?" tanya Mas Bagas.


Aku sodorkan es teh manis dan kue-kue kering di meja. Seperti biasa, Cendol langsung menyerbunya. Sudah seperti di rumah sendiri. Berbeda jauh dengan suaminya, sangat kalem dan berwibawa. Mungkin golongan orang-orang pebisnis gayanya seperti itu, agar terlihat meyakinkan dan membranding nama di depan rekan bisnisnya.


"Aku punya solusi untuk masalah keuangan pabrik kamu, Gas."


"Solusi gimana ?"


"Ada rekan bisnis yang mau investasi di pabrik kamu. Dia suka dengan ide bisnis jajanan kering yang diolah dari produk Frozen food kamu."


"Hah, serius ?" Mataku membulat mendengar kabar demikian.


"Iya, Yu, nanti orangnya mau bertemu besok di kafe sekitar pabrik. Dia ini pebisnis blasteran Malaysia. Dia mau menjual produk kamu di Malaysia juga."


"Masya Allah, ini gak mimpi ? Ah, jangan bikin kami kegeeran tingkat tinggi, dong, Dim."


"Hust, kamu pikir suamiku pebisnis abal-abal. Ini semua request aku loh, biar Mas Dimas mau mencari penanam modal, ya, biar usaha kalian semakin besar."


"Betul itu, aku pastikan 70% goal, kerja samanya. Pak Abdullah, pernah kerja sama dengan temanku yang lain, terjamin pasti dan jujur."


"Alhamdulillah,"

__ADS_1


Sekilas aku peluk suami saking senangnya. Tak menyangka, sahabat malah rasa keluarga.


Buah sabar dan ikhlas ternyata manis, lebih manis dari senyumanku. Pasti ada jalan, ketika kita berserah dan berpasrah. Kuncinya terus usaha dan Doa.


__ADS_2