Melawan Mertua Julid

Melawan Mertua Julid
Calon penghuni Rumah Sakit Jiwa


__ADS_3

"Mas, kamu di penjara, terus anak dalam kandungan aku ini gimana, Mas ?"


"Berisik kamu Dita ! Jangan buat aku tambah pusing. Tenang saja, nanti pengacara bapak datang."


"Tuh, dengerin suaminya, Mbak. Tenang, jangan panik."


"Mending kamu pulang saja, jaga anak sana !"


"Tapi, tadi ada polisi ke rumah, Mas. Aku tinggal kabur saja."


"Bodoh ! Gak usah takut, rumah tetap aman. Tapi pabrik memang pasti disita."


"Maksudnya kita bakal jatuh miskin, Mas ? Aku gak Sudi jadi orang miskin, Mas."


"Berisik, bodoh !" teriak Mas Aldi. Dia menyuruh kami pulang. Mas Aldi menendang Mbak Dita. Aku tarik saja, gila tuh laki. Kalau anaknya keguguran gimana ?


Aku antar Mbak Dita menuju rumahnya. Sepanjang jalan dia diam, mirip orang stres. Buat aku jadi was-was aja, takut Mbak Dita kenapa-kenapa.


Mau tak mau aku hubungi Mas Bagas, agar bisa pulang kesini sebentar. Jujur, aku kewalahan kalau harus mengurus ibu sekaligus menenangkan Mbak Dita. Sebenarnya, malas sih, menolong Mbak Dita. Tapi, kemauan ibu kalau tak dituruti, takut kepikiran, namanya juga orang tua. Kalau ibu makin parah, tambah bahaya.


.


.


"Gas, bagaimana Aldi ?"


"Bagas gak tahu, Bu. Bagas kesana bukan mU membebaskan Mas Aldi, tapi cuma lihat kondisi dong, sesuai kemauan ibu."


"Bagas, ibu suruh kamu kesan biar bisa membebaskan Aldi. Kamu sama Ayu kan pintar dan cerdik, pasti kalian punya cara."


"Itu bukan ranah dan wewenang kami, Bu."


"Terus, Dita bagaimana ?"


"Biarkan saja, dia sudah dewasa."


"Bagas, hiks, hiks."


"Kau sikap ibu kayak gini, Bagas malas ngurus ibu. Sekali-kali biarkan Mbak Dita mandiri."


Ibu diam, tak berani bertingkah lagi. Mbak Dita saja tak peduli sama ibunya, harusnya sekali-sekali ibu bersikap keras juga. Kami juga sama, bersikap tegas, tak mau membantu.


Mas Bagas pulang bukan mau menyelesaikan masalah Mbak Dita dan suaminya. Hanya ingin menjenguk ibu.


"Besok malam Mas harus pulang lagi ke Jakarta, sayang. Kamu bersiap, yah."


"Aku disini dulu, Mas."


"Kamu serius ?"


"Iya, Mas. Kasihan ibu kamu."


"Ya sudah."


Mas Bagas sangat sibuk dengan kerjaannya, sementara aku tak tega kalau harus meninggalkan ibu dengan kondisi begini. Bukan hanya kesehatannya yang terguncang, pikirannya pun sama. Aku mau disini, agar jadwal makan ibu teratur, dan membiasakan minum obat sesuai jadwal. Ibu harus berobat paru-paru selama enam bulan. Kalau tak diingatkan, dia bisa lupa minum obatnya, dan harus kembali ke pengobatan dari awal.


"Gas, Mbakmu sakit, antar ibu ke rumahnya."


"Sakit apa, Bu ?"


"Ibu gak tahu."

__ADS_1


"Bagas sibuk, mau siap-siap balik ke Jakarta."


"Sebentar saja, Gas."


"Mas..."


"Ya sudah."


Kami sekeluarga mengunjungi Mbak Dita di desa sebelah. Benar saja, kondisinya sangat buruk. Mungkin karena kehamilannya yang baru menginjak trimester pertama, ditambah lagi kondisinya sangat sulit.


"Mau apa kalian kesini ?"


"Mau jenguk Mbak lah, masa mau main sirkus."


"Kalian mau menertawakan aku, hah ?"


"Hilangkan pikiran negatifmu, Mbak." jawab suamiku.


"Bener tuh, Mbak. Nanti isi kepalanya banyak kotoran membandel kalau suudzon terus."


"Dita, berdamai saja dengan Bagas dan Ayu. Hanya mereka yang bisa bantu kamu."


"Ibu sekarang di pihak mereka ? Oh iya, udah kelihatan. Semenjak suka dikasih duit banyak, jadi pilih kasih."


"Dit, ini demi kebaikan kamu."


"Berisik, Bu, kepalaku pusing !"


Mbak Dita bangkit dari posisi rebahan


 Dengan langkah tertatih dia berusaha pergi sendiri ke kamar mandi.


"Aargghh !"


"Aduh, Bu, sakit..."


"Bagas, ayo bawa Mbakmu."


Asli, kami panik luar biasa. Apalagi kalau lihat darah, pikiran langsung was-was. Posisinya Mbak Dita sedang mengandung, khawatir terjadi apa-apa dengan kandungannya.


Kamu bawa Mbak Dita ke bidan terdekat. Bidan bilang, Mbak Dita hanya kelelahan dan terlalu banyak pikiran. Tidak sampai menghilangkan nyawa janin dalam kandungannya.


"Dita, diminum obatnya, kamu harus tenang, agar anak kamu gak kenapa-kenapa." ujar ibu menasihati saat di mobil menuju arah pulang.


"Harusnya anak ini mati saja, bawa sial !"


"Hust, Mbak !" bentakku emosi.


Mbak Dita diam dengan wajah sensi. Aku dan suami hanya geleng-geleng kepala, sementara ibu menatap dengan mata berkaca-kaca.


Kami mengantar Mbak Dita ke rumahnya. Disana masih ada Si Mbok, pembantunya. Jadi kami tak terlalu khawatir. Dia sendiri yang gak mau diajak ke rumah ibu dulu.


***


"Ayu, ibu mau ke rumah Dita."


"Iya, Bu."


Aku sedang menidurkan Kiara, jadi aku biarkan saja ibu pergi naik ojek. Mau bagaimana lagi, aku tak bisa mengantarkannya karena ada Kiara, sementara Mas Bagas sudah di Jakarta.


Drrttt drrttt

__ADS_1


"Hallo, Cendol..."


"Yu, kamu masih di Jawa ?"


"Iya dong, masa di planet Mars."


"Heran, betah banget kamu. Jangan terlalu baik sama mertua. Padahal sering sakit hati, tapi gak kapok-kapoknya."


"Kasihan, Cin. Kondisinya sekarang sakit-sakitan, anak kesayangannya banyak masalah. Aduh, kalau gua di posisi dia, pasti isi kepala pengen meledak rasanya."


"Hhh, susah ngomong sama orang terlalu baik. Intinya aku mau undang kamu ke acara ulang tahun anakku


Pokoknya harus datang, awas aja gak datang !"


"Kapan ?"


"Seminggu lagi."


"Oke deh, nanti diusahakan."


"Harus balik ! Lagian ngapain sih lama-lama sama mertua ?"


"Iya-iya, besti tercinta. Jangan marah-marah, bikin sepaneng aja nih kepala, agak pusing nih, kurang shoping."


"Balik makanya !"


"Otw, hahaha."


"Huuh, ya udah, nanti kita sambung lagi."


Telepon dari Cindy berakhir, tak lama kemudian ada panggilan dari ibu.


"Iya, Bu, kenapa ?"


"Yu, dompet ibu ketinggalan, bawa kesini, penting."


"Ibu emang mau beli apa disitu ? Pakai uang Mbak Dita dulu aja."


"Dita gak punya uang sepeser pun. Makanya ibu mau belikan dia makanan."


"Astaga, kok bisa. Masa gak punya simpanan sama sekali."


"Gak ada, buruan kesini, ibu tunggu."


Panggilan diputuskan sepihak. Untung aku sedang mode baik. Ya sudah, aku antarkan saj menggunakan motor yang ada disini. Kiara aku titipkan sebentar sama Mbak Intan.


...


"Bu... ibu..."


"Masuk, Yu."


Ibu ada di ruang televisi. Mbak Dita sedang terduduk melamun dengan wajah frustasi.


"Mas Aldi ? Udah bebas ?"


Pria itu melewatiku dari dapur, lalu masuk kamar.


"Bu, ada apa sih ? Auranya gelap banget, aduh, serem."


"Aldi bebas, tapi semua hartanya disita untuk menebus dia."

__ADS_1


Aku melongo, pantas saja tak ada mobil. Pasti banyak sekali uang yang dikeluarkan untuk menebus kebebasan Mas Aldi. Lihat saja, Mbak Dita termenung sangat frustasi, sampai tak menghiraukan keberadaanku. Biasanya dia senang mengajakku debat.


"Arrghh!" Teriak Mbak Dita sambil melempar gelas. Tiba-tiba saja sikapnya mirip orang kerasukan. Aduh, bahaya kalau kakak iparku jadi calon penghuni rumah sakit jiwa.


__ADS_2