
"Baru gajian, Gas ?"
"Iya, Mbak."
"Mbak pinjam dong lima ratus ribu, buat benerin lampu dirumah Mbak."
"Ngapain dibenerin Mbak, lampunya. Kan udah lama pulkam, rumahnya gak di tempati juga. Kapan-kapan aja di benerin nya, kalau mau di tempati."
"Suka-suka Mbak dong. Rumah, rumah Mbak
Jangan pelit kamu, Ayu."
"Bukannya pelit, Mbak."
"Udah, diam, berisik aja kamu. Mbak gak ngomong sama kamu. Bagas, mana uangnya, Mbak pinjam dulu."
"Iya, Bagas bakal minjemin, Mbak."
Mataku langsung melotot mendengar ucapan suamiku. Tapi suamiku malah santai saja melihat ekspresi istrinya yang sudah kayak balon mau meleduk. Tentu saja aku tidak akan setuju jika suamiku meminjamkan uang pada kakaknya. Apa Mas Bagas lupa, hutangnya saja belum ada di kembalikan sama sekali. Awas saja kalau sampai suamiku nekat kasih pinjaman, gak bakal aku kasih jatah ranjang. Biar dia tahu aku juga bisa ngamuk.
"Beneran ? Buruan mana ?" Mbak Dita terlihat sangat bersemangat.
"Kalau Mbak udah balikin uang Bagas yang sepuluh juta. Yang lima ratus bolehlah di pinjam."
"Hahaha... upss."
Aku tak kuat menahan tawa. Cerdas juga suamiku. Pasti dia banyak belajar dari istrinya yang manis ini. Bagus, gitu dong, Mas. Jangan mau di manfaatkan terus. Kakak ipar ku memang muka tembok. Hutang aja belum dibayar, mau minjem lagi.
"Ayu !"
"Maaf, Mbak. Keceplosan. Lagian Mbak ini ada-ada aja. Sarjana kok minjem duit sama pengangguran kayak kami. Mbak kan pinter, kebanggaan keluarga, carilah cara biar dapat uang tanpa harus hutang sana sini, sama secepatnya balikin uang Mas Bagas."
"Tau ah !"
Mbak Dita menghentakkan kaki dengan kesal dan segera berlalu. Aku dan suami terkekeh. Ada-ada saja tingkahnya. Untung aku dan suami baik hati, kalau tidak sudah kami teror karena tak mau bayar hutang.
__ADS_1
"Mas, besok antar yah ke pasar."
"Mau beli sayuran, sayang ?"
"Gak dong. Mau beli emas. Hihihi."
"Emang uangnya cukup ? Mas kan kasihnya cuma sedikit. Nanti buat kebutuhan kamu gimana ?"
"Cukup, Mas, tenang aja. Nanti kan kita mau mendalami Tik Tak, aku bakal jualan produk juga disana, biar dapat komisi."
"Semoga rezeki kita lancar yah, sayang."
"Amin, Mas. Asal kamu gak berpaling sama janda yang rambutnya merah, kuning, hijau, kayak pelangi, ya, insyaallah rezeki melimpah ruah."
"Hahaha, kamu ini ada-ada aja. Kamu aja udah cukup buat Mas bersyukur, ngapain cari yang lain. Nambah urusan aja."
"Awas yah jelalatan."
"Mana bisa hatiku jelalatan, sayang."
Suamiku malah memelukku dan mencium keningku. Pipi ini langsung merah merona tersipu malu karena mendengar gombalan suami.
Setiap suami yang rezeki nya lancar, sejatinya ada doa tulus dari istri yang selalu ada disampingnya.
Keberkahan rezeki terletak pada kebahagiaan istri. Apabila suami bisa meratuka istrinya, berusaha memberikan kebahagiaan lahir batin, maka insyaallah Allah bukakan banyak pintu rezekinya.
***
Hari ini sesuai rencana, aku ke pasar di antarkan suamiku untuk membeli emas. Setelah lelah muter-muter, akhirnya aku memutuskan untuk membeli sebuah cincin yang menarik perhatian ku.
Pukul sepuluh kami sudah kembali. Sejenak duduk di ruang tamu, melepas lelah.
"Bagus gak Mas, cincinnya ?" Tanyaku sambil mengangkat jemariku sedikit ke atas dan memperlihatkan cincin yang melingkar indah di jari manis ku.
"Bagus, sayang. Kamu kulitnya putih, pakai apa aja pasti teelihat bagus."
__ADS_1
"Pakai kalung batok kelapa juga bagus gitu ?"
"Hahaha, ya gak gitu juga. Pokoknya istri Mas paling cantik di semesta ini."
"Huu, gombal aja kamu Mas." Aku cubit pelan perut suamiku. Dia mengaduh sambil cekikikan.
"Hebat banget bisa beli emas." Ujar Mbak Dita yang tiba-tiba saja muncul. Entahlah, mungkin sudah dari tadi dia memperhatikan kami.
"Emas ?" Tanya ibu mertua bergegas menghampiri kami dari arah dapur.
"Iya, Bu. Nih, Ayu habis di beliin cincin sama anak ibu. Bagus gak ?"
"Pamer !" Celetuk Mbak Dita sinis.
"Bukan pamer, Mbak. Tadi nanya, ya udah aku tunjukkin, nih." Aku pamerkan saja cincin yang melingkar indah di jari manis ku. Wajah kakak ipar dan ibu mertua malah berubah masam.
"Buat ibu mana, Gas ?"
"Nanti Bu. Kalau ada rezeki, insyaallah Bagas belikan juga cincin buat ibu."
"Itu bisa beliin si Ayu, pasti kamu dapat uang banyak dong. Jangan pelit sama keluarga, Bagas. Dulu kamu dari orok sampai gede gini ibu, bapak sama Mbak mu ini yang ngurusin. Mana nikah muda lagi, belum puas bahagiain orang tua. Harusnya kamu dahulukan orang tua kamu dulu."
"Ibu udah Bagas kasih uang. Bagas nikah juga gak nyusahin Mbak sama ibu. Malah Mbak yang punya hutang sama Bagas. Dalam rumah tangga, Bagas memang punya kewajiban ngasih sama orang tua walaupun udah nikah. Dan itu udah Bagas lakukan dengan setiap bulan kasih uang ke ibu. Kalau soal cincin, Ayu beli pakai uang jatah bulanannya, bukan pemberian khusus dari Bagas. Harusnya ibu gak iri. Kalaupun itu uang khusus buat beli cincin, Ayu istri Bagas, wajar kalau Bagas bahagiakan istri dulu."
Sepertinya suasana mulai memanas. Suamiku bisa makin terpancing emosinya kalau dibiarkan menghadapi mulut mertua sama iparku yang julidnya minta ampun.
"Gini aja Bu, uang bulanan yang di kasih Mas Bagas, ibu beliin cincin juga, beres deh. Biar sama, kita." Ucapku menengahi.
"Terus buat makan ?"
"Ibu ikut ngonten tik tak sama Ayu, atau jualan kerupuk gitu deh. Ya, kayak Ayu, coba cari usaha sampingan buat bantu suami. Bukan cuma jadi beban, hehehe."
Mbak Dita dan ibu mertua langsung membisu saat aku balas dengan perkataan mengandung sindiran. Ih, ingin rasanya aku garuk kepala mereka berdua, agar mereka lebih bisa menggunakan isi kepala dengan benar.
"Yang benar aja kamu, Yu. Kamu suruh ibuku joget-joget kayak ulet keket di sosmed ? Benar-benar gak waras kamu. Bagas, harusnya kamu kembalikan saja istri kayak gini ke pabriknya. Ayo, Bu, biar nanti Dita yang beliin ibu cincin."
__ADS_1
Mbak Dita menarik tangan ibunya keluar rumah. Entah mau kemana mereka. Baguslah kalau Mbak Dita benar-benar mau membelikan ibunya cincin. Biar ucapannya selama ini tak hanya menjadi baskom tanpa isi. Dia selalu saja mengajarkan adiknya untuk berbakti, tapi sendirinya masih suka membebani.
Sebaik-baiknya nasihat orang, itu lewat perilaku. Contohkan dulu perbuatan yang baik, agar orang juga memperhatikan kita dan bisa mengambil kebaikan dari sikap kita.