Melawan Mertua Julid

Melawan Mertua Julid
Kedatangan Dita


__ADS_3

"Bagas, Ayu, nih, ibu buatkan makanan kesukaan kalian."


"Yeah.. aco...aco..." teriak cucuku dengan girang karena bakso adalah makanan kesukaan Kiara, cucuku.


Aku menghidangkan capcay kesukaan Bagas, ayam geprek serta sambal kesukaan Ayu, dan bakso goreng kesukaan Kiara.


"Ibu, kenapa banyak banget masaknya. Jangan sampai ibu kecapean, loh. Harusnya kan ibu istirahat."


"Tenang aja, Ayu, ibu senang bisa masak makanan kesukaan kalian. Lagian, ini tak seberapa, ibu gak capek kok, ibu baik-baik aja."


Sudah satu bulan lebih aku tinggal disini, bersama anak, menantu dan cucuku, sambil menjalani pengobatan ulang dari awal. Ternyata tentram dan bahagia juga. Mungkin, dulu aku selalu merasa tidak nyaman bersama mereka, karena pikiranku yang sulit saat itu. Selalu saja berpikir negatif pada Ayu, tapi nyatanya menantuku lebih baik dari pada anak kandungku sendiri.


"Enak gak, Gas ?"


"Enak banget, Bu. Capcay buatan ibu rasanya gak pernah berubah dari dulu. Selalu enak."


"Huuh, kalau masakan ibu aja, lahap banget Mas, makannya. Jangan-jangan selama ini masakan aku gak enak yah ?"


"Hehehe, masakan kamu enak kok, sayang. Tapi masakan ibu lebih enak."


"Huu, nakal !"


"Hehehe, ampun."


Ayu mencubit perut Bagas, dan mereka saling melempar candaan. Sementara aku sibuk menyuapi Kiara sambil tersenyum memperhatikan betapa harmonisnya keluarga mereka. Rasanya rumah ini hangat sekali, keluarga yang bahagia. Sangat berbeda dengan kondisi dalam rumah Dita. Mungkin, karena Dita tak mampu menghidupkan kebahagiaan di rumahnya, berbeda dengan Ayu.


Tok... tok... tok...


Terdengar pintu depan di ketuk.


"Ada tamu, Mas."

__ADS_1


"Siang-siang gini, siapa yang bertamu ? Gak mungkin juga rekan kerja, ini kan hari libur." ucap Bagas menghentikan sejenak kegiatan makannya.


"Apa mungkin Si Cendol, yah yang datang ? Soalnya kemarin katanya dia mau kesini, Mas."


"Ya, mungkin saja, sayang. Kamu lihat dulu deh."


"Iya, aku ke depan, buka pintu dulu yah."


Ayu meninggalkan makanannya menuju ke depan untuk melihat siapa yang datang, sementara kami masih melanjutkan makan.


"Gas, ini capcay nya, nambah yah. Ibu senang lihat kamu makannya lahap kayak gini."


"Makasih, Bu. Kalau ibu merasa enakan, nanti buatin pepes ikan mas yah, Bu. Bagas kangen pengen makan masakan ibu yang itu. Udah lama banget gak pernah makan itu, Bu."


"Iya, Gas. Kamu mau makan apa aja, ibu pasti masakin buat kamu." Bagas tersenyum lebar, lalu dia melanjutkan makan.


...


"Mbak Dita, ngapain kesini ?" tanya Bagas langsung meletakkan sendok nya dan langsung berdiri. Dia menatap kesal ke arah Dita, kemudian beralih melirikku.


"Bukan ibu yang ngundang Dita kesini, Gas. Ibu bahkan udah gak ada komunikasi lagi sama Dita." ucapku tak mau Bagas berpikir kalau aku yang menyuruh Dita datang kesini.


"Mbak Dita ini emang kayak jelangkung, tamu yang yg tak diundang. Orang ibu aja sengaja ganti nomor ponselnya karena malas berhubungan sama Mbak Dita, eh malah nongol sendiri."


"Jaga mulut kamu, Ayu !" bentak Dita.


"Ayo kita pulang, Bu ! Ngapain sih disini. Heran deh, kok ibu mau aja dijadiin pembantu sama Ayu. Tuh, pakai nyuapin Si Ara segala lagi ! Katanya mereka orang kaya, masa gak mampu sewa pembantu atau baby sitter buat Kiara. Harusnya ibu bantu aku di kampung, bukan malah disini. Ayo buruan pulang, Bu !"


"Ibu gak mau pulang, ibu sudah nyaman disini sama Ayu dan Bagas. Kamu pulang saja, urus suami dan anak-anak kamu."


"Tuh, Mbak Dita dengar sendiri kan apa kata ibu ? Udahlah Mbak, gak usah ganggu hidup kami lagi. Ibu sudah bahagia sama kamu disini. Sana, Mbak urus sendiri hidup Mbak. Setidaknya sadar dikit, Mbak. Udah mukanya jadi buruk rupa kayak ditato gitu, masih aja gak sadar-sadar, malah makin banyak bertingkah aja."

__ADS_1


"Sialan ! Jaga mulutmu, Ayu ! Makin kurang ajar kamu yah ! Harus dikasih pelajaran kamu !"


Aku tarik Ayu yang hampir mau ditampar oleh Dita. Aku maju menjadi tameng, agar Dita tak berbuat kasar pada menantuku.


"Dita !!! Jangan pernah kamu menyakiti Ayu. Mending kamu pergi dari sini."


"Mbak Dita, silahkan Mbak pergi dari sini atau Bagas panggil polisi kesini. Bagas bisa melaporkan Mbak karena sudah membuat kekacauan di rumah Bagas, dan mengganggu kenyamanan kami. Mbak ini, jauh-jauh dari kampung kesini, hanya bikin rusuh saja !" sentak Bagas terlihat kesal. Wajahnya mulai merah seperti sedang menahan sesuatu.


"Heh ! Dasar adik durhaka kamu, Bagas ! Udah kaya masih saja suka buat kakaknya susah ! Harusnya kamu suruh ibu bantu aku di kampung, bukan malah memanfaatkan ibu dan menjadikan ibu babu kamu disini !"


"Jangan asal bicara yah, Mbak. Ibu disini aku rawat, karena dia harus berobat ulang. Bukan dijadikan pembantu, seperti yang Mbak lakukan pada ibu di kampung. Ini semua juga gara-gara Mbak, ibu harus berobat dari awal lagi."


"Halah, alasan ! Ngomong aja kamu sengaja menghasut ibu biar ibu benci sama Mbak, terus kamu bisa punya pembantu gratisan. Dasar orang kaya baru, pelitnya minta ampun. Otak kamu ini jahat banget, Bagas !"


"Eh, eh, Mbak, kalau ngomong gak ada lurus-lurusnya yah, tajem banget tuh mulut kayak pisau blender. Aku jejelin sambel cabe setan juga, Mbak, biar mulut Mbak bisa sedikit merasakan panas, sebelum merasakan panasnya dibakar di neraka. Ampun deh, mulutnya, udah kayak bom atom !"


"Heh, Ayu, diam kamu ! Gak usah ikut campur, ini urusan antara adik sama kakak. Kamu bukan siapa-siapa di keluarga ini, jadi gak usah ikut campur ! Dasar perempuan gila urusan, suka morotin suami ! Aku yakin Bagas jadi keras kepala begini juga gara-gara hasutan kamu ! Munafik kamu, Ayu !"


"Stop, Mbak ! Jangan berani-beraninya menghina istri Bagas ! Istri Bagas gak seperti Mbak Dita yang hanya tergila-gila dengan materi sampai melupakan hati ! Sekali lagi Mbak menghina istri Bagas, Bagas gak segan-segan berbuat tegas sama Mbak biar Mbak kapok. Silahkan pergi dari sini, Mbak ! Jangan buat kesabaran Bagas habis. Bagas gak main-main !"


"Adik durhaka, sialan !"


Plak


Plak


"Arghh ! sakit, bu !"


Dengan sorot mata penuh api, aku tampar kedua pipi Dita sekuat tenaga. Dia tampak syok dengan perlakuan ku barusan, karena sejak kecil sampai sekarang aku tak pernah berbuat kasar padanya. Jangankan menamparnya, mencubit bahkan membentaknya pun tak pernah.


"Kamu memang harus ditampar, Dita. Biar sadar ! Kamu sudah sangat keterlaluan ! Cepat pergi dari sini, atau ibu yang akan menyeret kamu pergi dari sini !"

__ADS_1


__ADS_2