
"Wow, ini tas merek terkenal. Edan, ini kan harganya mahal banget. Kok bisa dia beliin tas ini buat aku."
Pokoknya aku harus izin dulu sama Mas Bagas. Kalau dia tak mengizinkan lebih baik aku berikan saja tas ini pada cendol, atau dijual saja lalu uangnya buat bagi-bagi ke pengemis agar lebih bermanfaat.
Menurutku, membeli barang terlalu mahal seperti ini sangat berlebihan. Mungkin, karena aku aslinya bukan anak konglomerat. Maklum, dari dulu biasa belanja di pasar tradisional, dengan harga-harga lima puluh ribu paling mahal lima ratus ribu. Walaupun produk pasar, tapi kualitasnya juga bagus.
"Mas, aku dikasih tas ini sama Abdullah. Kamu jangan marah yah, nanti aku kasih Cindy deh, atau gak jual aja. Tapi jangan dibuang, Mas, mubasir."
"Oh, tas itu, pakai saja, sayang. Abdullah sudah izin sama Mas."
"Hah, serius, Mas ?"
"Iya, sayang, dia sudah izin, malah sebum membelinya. Hanya sebagai ucapan terima kasih atas kerja keras kamu, dan hadiah untuk pencapaian tim marketing kamu. Bukan cuma kamu, nih, Mas juga dibeliin dompet branded sama Abdullah.
Mas Bagas mengeluarkan dompet pemberian Abdullah, katanya kembaran mereka berdua. Dimas juga bilang kalau Abdullah ini memang sangat baik terhadap rekan bisnisnya. Ya, walaupun agak aneh sih menurutku. Mungkin karena dia sudah tak beristri, jadi suka membelikan hadiah untuk rekan bisnis, bisa jadi begitu.
"Aneh, yah, Mas."
"Jangan berpikir macam-macam, sayang. Kalau udah gak wajar, baru deh, Mas lawan."
"Hehehe, iya juga sih."
Kami kembali fokus makan siang. Syukurlah kalau suami tak salah paham. Untung aku jujur, kalau tidak bisa kacau.
Disela makan siang, ponsel Mas Bagas berdering.
"Siapa yang telepon, Mas ?"
"Ibu, sayang. Tumben ibu nelpon."
"Angkat saja, Mas."
"Hallo Bu, ada apa ?" tanya Mas Bagas begitu panggilan terhubung.
"Gas, usaha kamu lagi maju, kenapa gak kasih kabar ?"
"Maaf, Bu, Bagas sibuk banget akhir-akhir ini."
"Ibu minta uang yah, Gas. Kan kamu sudah banyak duit lagi."
"Iya, Bu. Bagas makan dulu, nanti dikirim bukti transfernya." sambungan telepon dimatikan.
Heran, ibu segala minta uang, padahal kami selalu memberi jatah bulanan. Apa uang bulanannya gak cukup ? Kami memang masih memperbolehkan ibu tinggal di rumah lama. Mbak Intan yang mengawasi, katanya ibu sudah tak dijadikan babu lagi sama Mbak Dita. Makanya dengan senang hati kami memberi uang pada ibu.
"Mas transfer berapa yah, sayang ?"
"Kasih lima juta, Mas. Biar ibu kamu shoping."
__ADS_1
"Gak kebanyakan ? Uang bulanan baru Mas kirim kemarin tiga juta."
"Gak dong, Mas. Kita harus memuliakan ibu kamu, apalagi mode banyak duit kayak sekarang, hehehe. Biar berkah, tanpa mempedulikan sikap ibu yang kayak gitu."
"Terima kasih, sayang. Mas belajar banyak ilmu ikhlas sama kamu."
"Iya dong, istri siapa dulu, hehehe."
Mas Bagas mengirimkan bukti transfer, ibu sangat senang membalasnya dengan emoticon love sambil mendoakan anaknya. Perlahan hati ibu mulai melembut. Mungkin, dia malu sendiri dengan sikap baik kami. Ya, walaupun masih sedikit berpihak pada Mbak Dita.
***
"Sayang !" teriak Mas Bagas kegirangan.
"Apa, Mas ?"
"Mas dapat undangan jadi narasumber di televisi, sayang."
"Serius ?"
"Iya, pentol kita viral, sayang."
"Yeahh... Alhamdulillah."
Kami berdua joget kegirangan. Masya Allah, nikmat mana lagi yang didustakan. Diberi ujian sedikit ternyata mau diangkat derajat kesuksesan kami. Luar biasa, memang tak ada ruginya untuk bersabar menghadapi masalah. Di setiap cobaan akan datang kebahagiaan. Sebuah hadiah indah yang telah dipersiapkan.
"Siap, sayang."
Suamiku mencium Kiara yang sedang tertidur pulas. Lalu, giliran keningku yang dicium penuh cinta. Di tengah kesibukan kami merayakan kebahagiaan ini, nomer ibu memenuhi layar ponsel Mas Bagas.
"Angkat, Mas."
"Assalamualaikum, Hallo, Bu, ada apa ?"
"Ini aku Intan, Gas. Ibu kamu demam. Aku mau bawa dia ke rumah sakit."
"Ibu sakit, Mbak ?"
"Iya, Yu. Aku kan mau ngecek ibu kamu kayak biasa, soalnya dari kemarin gak kelihatan keluar. Eh, ternyata sakit, Yu. Mana belum makan lagi, gak ada yang ngurus.
"Mbak Dita gak kesitu ?"
"Boro-boro, dia sibuk ngurusin usaha barunya yang gak laku-laku."
"Usaha baru ?"
"Iya, nanti deh, bahasnya. Aku bawa ibu kalian ke rumah sakit dulu, yah."
__ADS_1
"Iya, Mbak. Kabarin terus, yah."
Ada-ada saja, seni hidup memang begini. Rasa manis dan pahit diaduk-aduk, seperti keadaan. Dapat kabar bahagia, datang juga kabar sedih.
Suamiku mendadak cemas. Aku berusaha menelepon Mbak Dita, tapi tak kunjung dijawab.
"Hallo Mbak Dita, ditelepon susah banget, sih."
"Dih, emangnya kenapa ? Usaha kamu pasti bangkrut yah ?"
"Enak saja, ini soal ibu. Dia sakit, tengok dulu, Mbak."
"Aku sibuk ! Kalian aja yang urus. Makanya jangan sibuk cari duit terus !"
"Mbak !" teriakku kesal. Dia malah sengaja mematikan sambungan telepon.
"Udah, gak papa, sayang, paling ibu sakit biasa." ujar suamiku menenangkan hatiku, tetapi wajahnya tak bisa berbohong. Dia sangat khawatir.
"Hhmmm."
Kami masih menunggu kabar dari Mbak Intan. Aku juga mengirim uang untuk biaya transport dan uang pegangan untuk Mbak Intan, kalau-kalau ada yang harus dibayar. Awalnya suami juga mau menunggu kabar di rumah, tapi ada kerjaan yang tidak bisa ditinggal. Jadi, aku suruh saja suami tetap kerja.
"Hallo, gimana, Mbak ?"
"Ibu mertua kamu dirawat, Yu."
"Astaghfirullah, kok bisa dirawat ?"
"Pas di cek ada kemungkinan kena paru-paru, terus demam tinggi, jadi harus dirawat."
"Ya Allah, Mbak, titip ibu dulu, yah. Aku mau ngomong dulu sama Ma Bagas buat kesana."
"Suruh Si Dita aja kesini, Yu."
"Udah di telepon, Mbak. Tapi dia gak mau. Sibuk katanya."
"Emang titisan Malin kutang dia itu, yah, udh kamu atur aja kesini, sementara biar aku yang jaga ibu."
"Makasih yah, Mbak. Maaf loh ngerepotin."
"Santai, Yu. Ya udah, aku urus administrasi dulu. Ibu kamu mau dipindah ke ruang rawat."
"Iya, Mbak. Nanti Mbak chat aja berapa biayanya yah, Mbak."
"Siap."
Sambungan telepon terputus. Aku datangi suami ke kantor, karena sulit dihubungi. Kami berdiskusi, aku putuskan untuk pergi ke kampung menggunakan sopir pribadi. Mas Bagas tak bisa ke kampung dulu, banyak urusan kerjaan mendesak, ditambah lagi ada undangan menjadi narasumber.
__ADS_1
Akhirnya, kami setuju, nanti malam aku pulang ke Jawa. Kasihan ibu, sudah tua tak ada yang merawat. Hanya punya dua anak, tapi anak kesayangannya sama sekali tak bisa di andalkan. Aneh juga, tak biasanya Mbak Dita sangat tak peduli pada ibu, apalagi dia tahu kondisi ibu sedang sakit seperti ini.