
Sedang sibuk membereskan baju, datanglah suara nenek gambreng.
"Ayu ! Bagas !"
Niatnya mau pulang ke Jakarta selepas isya, eh, magrib-magrib kedatangan Mbak Dita. Bisa-bisa ribet urusannya.
"Mas, jagain Kiara dulu, biar aku yang ngadepin Mbakmu."
Aku keluar kamar, Mbak Dita ada di kamar ibu. Wajah ibu sangat cerah kedatangan anak kesayangannya.
"Ngapain manggil-manggil, Mbak ?" tanyaku masuk ke kamar.
"Nah, mendekat juga kamu."
"Kenapa, Mbak ?"
"Kalian gak usah ke Jakarta, jaga ibu disini. Kalau gak punya duit tinggal disini, nanti Mbak yang kasih."
Ya elah, sama ibunya saja cuma ngasih lima ratus ribu, gaya-gayaan mau menjamin aku da suami.
"Kamu mau berangkat isya, kalau Mbak Dita mau ngomong gak jelas, sana ngomong sama panci."
"Mbak serius, Ayu ! Mana Si Bagas ?"
"Bagas !!!" teriak Mbak Dita.
"Bagas, kesini dulu !"
"Ada apa, Mbak ?" tanya suamiku menghampiri sambil menggendong Kiara.
"Kamu butuh duit berapa buat pengeluaran sebulan ? Biar Mbak yang tanggung, asal jaga ibu disini. Ibu maunya tinggal di rumah ini."
"Gak usah, Mbak, aku mampu biayain hidup sendiri. Mbak urus ibu disini, aku mau balik ke Jakarta."
"Terus yang ngurus ibu siapa ? Ibu mana mau diajak ke Jakarta. Malas sama istrimu itu, bisa darah tinggi tinggal sama Si Ayu."
"Eh, enak aja kalau ngomong. Coba aja kalau ibu tinggal sama kami. Pasti damai, tenang, nyaman, makin subur dan makmur. Jangan samakan tinggal sama Mbak, emang sih, gak darah tinggi, tapi dibuat tipes karena disuruh kerja rodi, hahaha."
"Banyak omong kamu !"
"Ayo, Mas, kita tetap otw. Buang waktu ngomong sama Mbakmu."
"Dasar durhaka, kalian ?"
Bodoamat, emang aku peduli Mbak Dita mau ngomong apa ?
"Bagas !" teriak Mbak Dita mencengkram lengan suamiku, menghalangi kami keluar.
"Ibu siapa yang ngurus, Gas ? Ibu gak mau tinggal di rumah kalian. Mending kalian tinggal disini, jaga ibu."
__ADS_1
"Gak usah atur-atur Bagas !" tegas suamiku. Keluar sudah taring macannya. Mbak Dita diam, seperti orang ketakutan.
"Bawa saja ibu ke rumah Mbak Dita lagi."
"Gak bisa, ibunya juga gak mau !" bentak Mbak Dita.
Dia kemudian masuk ke kamar ibu. Tak tahu apa yang mereka omongkan, aku dan suami sibuk memasukkan barang-barang ke mobil.
"Ibu ikut !"
Ibu keluar membawa tasnya. Aku tatap Mbak Dita, dia tersenyum tipis. Aneh, kenapa Mbak Dita mempengaruhi ibu ikut dengan kami.
"Katanya gak mau ?"
"Terpaksa ! Nih, masukin tas ibu."
Aku dan suami saling pandang.bYa sudah, kami ajak saja ibu ikut ke Jakarta. Walaupun agak aneh, katanya gak mau tapi ikut juga. Mungkin dipaksa Mbak Dita.
***
Kurang dari satu Minggu disini, ibu rewel sekali. Tingkahnya mirip anak kecil. Bukan soal mau beli ini itu, tapi setiap hari minta pulang kayak anak kecil. Ditambah lagi nangis-nangis tak jelas.
"Ibu mau pulang, Gas. Anterin ibu !"
"Kemarin kenapa ikut kalau gak mau disini, Bu ?"
"Kalian yang maksa ! Sekarang ibu sudah sehat, mau pulang saja."
"Tega banget kamu, Ayu ! Ibu mau dianterin, kalau bisa kalian nginap juga."
Bugh !
Mas Bagas menutup pintu sangat kencang. Maklum dia emosi, baru pulang kerja diganggu terus. Direcoki dengan kata-kata yang membuat darah tinggi. Ditambah lagi, kondisi pabrik sedang tidak baik-baik saja. Kami kekurangan dana dan kesulitan membayar hutang bank. Dulu pernah hutang untuk tambahan modal. Kamu kenapa marah, Bagas, hiks, hiks."
"Aargghh, ibu selalu bikin kesala ! Ibu pikir aku anak sultan, bisa pulang pergi dengan mudah."
Praang !
Mas Bagas melempar vas bunga. Astaghfirullah, aku kaget luar biasa. Apa masalah pabrik semakin besar sampai suamiku tidak bisa mengontrol emosinya ?
"Kamu jadi kasar, Bagas. Kalau gini ibu nyesel kesini. Mending ibu tinggal sama Dita." ujar ibu masuk ke kamarnya.
Aku usap punggung suamiku agar dia tenang. Aku paham betul, suamiku bukan pria kasar, pasti saat ini dia sedang dalam kondisi tertekan.
"Mas, tenang, istighfar."
"Bisa gila aku, di kerjaan banyak tekanan, di rumah sama saja. Ibu selalu buat emosi."
"Namanya juga orang tua, Mas. Nanti soal ibu biar aku yang urus. Mas tenang saja, berpikir jernih, urus usaha kita."
__ADS_1
"Maaf, sayang..."
"Jangan banting-banting vas bunga gitu, Mas. Emang sih, harganya murahan, tapi bikin kaget tahu. Bahaya lagi kalau kena tubuh kita atau orang lain."
"Iya, sayang, maaf. Mas mau istirahat dulu, pikiran pusing banget."
Kasihan sekali suamiku, biar nanti aku tanyakan apa yang sudah terjadi di pabrik. Setelah itu baru memikirkan solusinya.
Sementara suami tidur, aku titip Kiara dulu di rumah Mama, biar dia tenang dan damai di rumah neneknya. Aku mau menghadapi ibu mertuaku dulu.
...
"Bu, Ayu masuk, yah."
"Mau ngapain kamu kesini ?"
"Ibu mau pulang kan ?" ibu mertua langsung mengangguk.
"Besok pagi ibu pulang, yah."
"Serius ? Kalian mau anterin ibu pulang ?"
"Pulang sendirian, Bu."
"Dih, ogah ! Kalau ibu nyasar gimana ? Apa kamu memang sengaja, biar ibu hilang supaya gak ganggu kalian lagi ?"
"Hadehh, tenang aja, Bu, ibu gak bakal hilang. Udah gede gini. Ibu nanti aku titipkan di travel. Dijamin aman dan damai sampai rumah."
"Kalian ini, apa susahnya sih anterin ibu pulang doang ? Kalian ini kan punya mobil, cuma anter orang tua saja susah banget !"
"Gini aja, bu. Coba ibu telepon Mbak Dita. Anak kesayangan ibu itu kan kaya, banyak mobilnya lagi, masa gak sanggup jemput ?" Ibu malah diam dengan muka cemberut.
"Anak kesayangan ibu gak bisa jemput kan ? Nah, harusnya dari situ ibu tahu, anak kesayangan ibu saja belum tentu peduli. Sementara aku dan Mas Bagas sangat peduli sama ibu. Kami gak maksa ibu disini terus. Dari pada kena darah tinggi karena banyak pikiran, mending ibu pulang. Nanti ibu tinggal saja di rumah kami di kampung. Tapi, ingat syaratnya jangan bawa Mbak Dita tinggal disitu. Dan ibu jangan mau jadi babunya Mbak Dita lagi."
"Banyak aturan banget sih kamu, Ayu ! Orang tua kok diatur-atur."
"Ini bukan ngatur, Bu. Tapi kita buat kesepakatan, gimana ?"
Ibu memang harus dipaksa membuat komitmen. Kalau tidak dia bisa terus bersikap keras kepala dan dimanfaatkan Mbak Dita. Meski aku kelihatan sebagai menantu yang durhaka, aku tetap sayang sama ibu. Mana tega melihat perempuan paruh baya harus kerja keras, dan tenaganya diperas.
"Hhhmm,"
"Kalau gak setuju, ya udah, ibu disini saja. Atau aku minta jemput Mbak Dita, terus ibu tinggal lagi di rumah dia. Ibu tahu dong mantu ibu yang cerdas ini, aku bisa maksa Mbak Dita kesini, dengan sukarela, hehehe. Tapi ya, siap-siap aja abis itu jadi babu lagi. Gimana, Bu ?"
"Hhmm,"
"Jangan lama-lama mikirnya, Bu. Waktu ibu gak banyak, kalau aku berubah pikiran repot, nih."
"Heran, punya mantu ribet banget. Ya sudah, ibu setuju !"
__ADS_1
Aku paksa ibu bersalaman, tanda setuju. Satu masalah teratasi. Aku telepon travel langganan sewaktu aku masih gadis. Biasanya sering bolak balik ke rumah bapak menggunakan travel Jaya Indah.