Melawan Mertua Julid

Melawan Mertua Julid
Maaf, Nak


__ADS_3

"Bagas... Ayu..."


Sudah dari satu jam yang lalu aku sampai di rumah Bagas, tapi tak kunjung ada yang membukakan pintu. Apa mereka sangat membenciku ?


"Ayu... Bagas... hiks, hiks."


Aku terduduk di lantai sambil menangis. Merasa sangat menyesal sudah melukai anak yang sangat berbakti.


"Uhuk ... uhuk... uhuk..."


"Da-rah ? Bagas..."


Dadaku rasanya sesak sekali. Hanya bisa bersandar pasrah. Aku berusaha mengetuk pintu, tapi tak ada jawaban. Suara perlahan melemah, karena terhalang batuk-batuk yang terus mengganggu. Tenggorokan juga terasa sangat perih.


"Bu, astaghfirullah."


Ayu berlari dari mobil. Dia merangkulku untuk masuk ke dalam rumah. Wajahnya sangat panik melihat darah di tanganku.


"Bagas... Ayu..."


Bagas menatap sendu, tanpa banyak bicara dia menggendongku menuju mobil. Ayu tak ikut, dia menggendong anak-anaknya keluar dari mobil.


"Mas, bawa ke klinik terdekat dulu, nanti aku nyusul kalau gimana-gimana. Mau nitipin anak-anak dulu." ujar Ayu. Bagas mengangguk.


Posisiku duduk di bangku depan, di sampingku ada Bagas yang sedang menyetir. Dia tak mau bicara, tapi raut wajahnya sangat khawatir. Bibirku pun terkunci rapat, tak bisa berkata-kata. Hanya ada rasa haru, menyadari kasih sayang Bagas yang sangat besar. Mesk dia sedang sakit hati padaku, tapi tak segan menolong, dan mengkhawatirkan keadaanku.


"Ma-maaf, Nak."


Air mata Bagas runtuh bagai hujan di malam hari. Begitupun dengan rintikan hujan di pipiku, sudah sedari tadi tidak mau berhenti. Badanku lemas, hatiku menangis, aku genggam erat lengan Bagas.


"Maafkan ibu, Nak."


Bagas masih bergeming, bibirnya terkunci. Hanya ekspresi wajah dan air mata yang mewakili isi hati. Aku menangis sesenggukan, tak kuat menahan penyesalan.


"Uhuk... uhuk..."


"Astaghfirullah, Bu, darahnya semakin banyak." ujar Bagas baru mau bicara. Bibirku tersenyum mendengar suaranya yang sangat aku rindukan.


"Ibu baik-baik saja, Bagas. Tapi... hati ibu yang tidak baik-baik saja. Maafkan ibu, Nak. Selama ini ibu kurang perhatian sama kamu. Tapi satu hal yang harus kamu tahu, kamu anak kandung ibu, ibu juga menyayangi kamu, Nak."


Mobil tiba-tiba berhenti. Bagas menenggelamkan wajahnya disetir mobil. Dia menangis sesenggukan. Aku paham rasa sakit yang dia rasakan. Bukan benci, tapi merindukan kasih sayang seorang ibu. Aku memang ibu yang pilih kasih, tapi aku bisa merasakan Bagas tetap sangat mencintaiku.


"Bagas... Maafkan ibu, Nak."


Aku usap kepalanya persis saat dia kecil ketika sedang menangis. Aku belai rambutnya agar dia tenang.


"Bu, Bagas rindu ibu yang seperti ini." Ujar Bagas memelukku erat. Kehangatan pelukan Bagas sangat menyejukkan hatiku. Tak mau aku lepaskan lagi. Selama ini, aku sudah terlalu kejam melupakan perasaannya. Entah sejak kapan aku mengabaikan putraku ini.

__ADS_1


"Bu... da-ri dulu Bagas cu-ma ma-u dipeluk seperti i-ni. Bagas rindu pe-lukan i-bu, hiks, hiks."


"Maafkan ibu, Nak."


Hatiku perih, ngilu, mendengar kata rindu yang menusuk jantung ini. Jahat sekali diriku ini, Ya Allah, kemana saja aku sampai Setega ini mengabaikan anakku sendiri.


Mungkin, aku berpikir kalau anak lelaki itu harus kuat tanpa dimanjakan. Padahal, menyayangi dan mendukung anak adalah keharusan, mau laki-laki atau perempuan.


"Kita harus ke dokter, Bu." Bagas tersadar dari tangisannya, dia segera menggenggam setir.


"Maafkan ibu dulu, Nak, ibu mohon." Bagas mengangguk sambil tersenyum. Beban di hati ini seketika sirna. Sepanjang jalan menuju rumah sakit hanya rasa bahagia yang menyelubungi perasaanku.


...


"Sus, tolong tangani ibu saya segera."


"Antri dulu, Mas."


"Ibu saya kondisinya buruk, Sus. Dia batuk darah. Masa harus menunggu."


"Ya sudah, masuk UGD saja."


Bagas membawaku ke UGD. Dia setia menunggu sampai dokter datang, lalu dokter menyuruhnya keluar. Dokter memeriksaku dan memberi infusan karena kondisiku lemah.


"Ibu punya riwayat paru-paru ?"


"Iya, Dok, lagi berobat udah mau enam bulan."


"Astaga, Bu, bahaya yah, jangan begitu. Nanti kita Rontgen lagi agar tahu seberapa parah pertumbuhan bakteri tbc-nya. Ini dampak minum obatnya tidak sesuai anjuran dokter, jadi semakin parah dan penyakitnya semakin kuat."


"Sus, nanti ibunya suruh tes dahak, yah. Pakaikan dulu selang infus."


"Siap, Dok."


Dokter meninggalkanku dengan wajah masam. Beberapa menit kemudian Bagas masuk lagi ke ruang UGD.


"Bu, dokter udah kasih tahu Bagas tentang penyakit ibu, nanti ibu harus minum obat secara rutin dan teratur, jangan kayak gini lagi."


"Iya, Gas, maafkan ibu. Ibu terlalu sibuk mengurus anak kurang ajar seperti Dita, sampai ibu lupa kesehatan diri sendiri." Bagas menatapku datar, tanpa merespon ucapanku.


Mungkin Bagas tak mau membahas soal Dita, malah mengalihkan pembicaraan. Dia keluar mengurus pendaftaran. Sementara suster memindahkanku ke ruang rawat. Aku hembuskan nafas kasar. Rasanya muak berkali-kali masuk rumah sakit. Mungkin ini karma, sehingga masa tuaku dipenuhi rasa sakit menanggung penyakit.


***


"Bu, makan dulu, yah." ujar Ayu.


"Boleh tidak, ibu disuapi Bagas ?"

__ADS_1


"Ya boleh dong, Bu. Bagus malah, jadi so sweet, semanis gula Jawa. Moment langkah nih." Ayu menyodorkan piring berisi makanan dari rumah sakit.


Aku tersenyum lebar saat Bagas menyuapiku. Rasanya tentram dan bahagia sekali. Begini rasanya bersyukur dengan kehadiran seorang anak yang sangat berbakti.


"Mas, kamu juga makan, yah. Nih, aku udah masakin. Gas lah kita makan, hehehe."


"Masak apa, sayang ?"


"Perkedel sama capcay kesukaan kamu."


"Capcay tanpa kol ?"


"Betul, Bu. Ibu tahu juga makanan kesukaan Mas Bagas."


"Iya, dulu pas SD, Bagas sampai nambah dua piring karena makan capcay."


"Eh, serius, Mas ? Kok kamu gak pernah nambah pas aku yang masakin capcay ? Pantas aja pas SD badan kamu kayak boneka Doraemon, hahaha."


"Hust, nakal kamu, sayang."


"Bu, nanti kalau udah sehat masakin capcay, yah. Aku mau lihat suamiku gendut, nih."


"Siap, Ayu. Sama ayam geprek kesukaan kamu."


"Kok ibu tahu ?"


"Dulu kamu sering sekali bikin sambal geprek. Ibu yang suka ngambilin ayam gorengnya, maaf yah."


"Hehehe, santai, Bu. Aku seneng loh, sekarang ibu nyaman sama kami. Nanti ibu tinggal saja sama kami, kalau ibu gak betah, setidaknya tinggal di Jakarta sampai bertobat jalannya beres."


"Gak papa ibu tinggal sama kalian ?"


"Ya, gak papa, Bu. Aku serius, masa bohongan."


"Tapi, ibu gak pantas diurus kalian. Ibu selalu merepotkan kalian, tapi tidak pernah bisa bantu apapun."


"Ngomong apa sih, Bu. Gak usah diingat soal masa lalu, yang penting sekarang ibu sudah sadar. Kita perbaiki hubungan kita ke depannya."


Mataku berkaca-kaca mendengar ucapan Ayu. Meskipun dia tipe perempuan blak-blakan kalau ngomong, tapi hatinya sangat baik. Dengan suka rela menerima mertua sepertiku tinggal bersamanya.


"Makasih Ayu, Bagas. Ibu pasti betah. Ibu suapin yah."


Ayu dan Bagas mengangguk. Aku suapi mereka menggunakan sendok. Ayu dan Bagas tersenyum bahagia. Sesederhana ini menciptakan rasa bahagia. Cukup memberi kasih sayang pada anak dan mantu.


Drrttt drrttt


"Ponsel ibu ada yang telepon." Aku tengok ponselku, ternyata Dita yang menghubungiku. Segera aku matikan.

__ADS_1


"Siapa, Bu ?"


"Gak tahu, orang salah sambung." Aku simpan lagi ponselnya. Nanti nomornya minta diganti saja. Atau aku gak usah memegang ponsel. Aku mau menikmati hidup bahagia bersama Bagas dan Ayu. Aku mau membantu mereka, sebelum Tuhan memanggilku menemui suamiku.


__ADS_2