Melawan Mertua Julid

Melawan Mertua Julid
Rencana Merantau


__ADS_3

Aku segera kembali ke rumah. Ku simpan dulu elpijinya dirumah, izin sama suami, lalu langsung pergi ke kontrakan Pak Rusli. Gak boleh dibiarkan, nanti malah kebangetan. Ya ampun, ini mertuaku yang pinter bohong apa aku yang bodoh, yah ? Bisa-bisanya ketipu sama mertua.


Aku sampai di kontrakan Pak Rusli. Benar, kakak iparku sedang berada disana. Dia sedang beres-beres membawa barang-barangnya.


"Ibu, kok ada disini ?"


Ibu mertua menoleh ke arahku. Jelas sekali ibu kaget dan tampak gugup.


"A-Ayu ?"


"Mana uang enam ratus ribunya ?"


"U-uangnya gak ada."


"Astaghfirullah, Mbak Dita, udah janji yah, gak bakal manfaatin ibu lagi. Kok bisa-bisanya kayak gini lagi, gak kapok-kapok, heran deh."


"Apaan sih, Ayu ? Sana kamu pergi ! Kamu gak ada urusan disini." Usir Mbak Dita.


"Bu, mana uangnya ? Buruan. Mereka bukan anak kecil lagi, Bu. Biar aja mereka mikir sendiri dan usaha sendiri."


"Tapi, Yu... uangnya... uangnya gak ada. Sudah ibu bayarkan kontrakan sama Pak Rusli."


"Ya ampun, ibu ! Ya sudah, sesuai kesepakatan awal, emas ibu Ayu ambil lagi. Ini konsekuensi karena ibu sudah bohong da ingkar, sesuai perjanjian."


"Ayu, tunggu !"


Aku pulang duluan. Malas lama-lama menghadapi Mbak Dita.


"Ayu, jangan diambil dong emas ibu." Ucap Ibu mertua sesampainya dirumah.


"Bukan Ayu tega, Bu. Tapi ini sudah kesepakatan."


Emas sudah di tanganku. Lumayan, harga emas ini gak seberapa dengan uang enam ratus ribu yang ibu pakai untuk bayar kontrakan Mbak Dita. Kasihan deh Lo, ibu mertua, rugi bandar.


"Ada apa, sayang ?" Tanya Mas Bagas yang baru saja keluar dari kamar.


"Itu lho, Mas, uang enam ratus ribunya yang kata ibu mau bayar baju pengajian, ternyata dipake buat bayar kontrakan Mbak Dita."


"Bu ! Kenapa sih, selalu saja seperti itu. Kapan ibu sadar kalau Mbak Dita bukan anak kecil lagi ? Biarkan dia mandiri, jangan jadi benalu terus menerus. Capek aku dengan sikap ibu, lebih baik aku tinggal dengan Mamanya Ayu."


"Bagas, jangan marah, Gas. Ibu hanya gak tega sama kakakmu."


Ibu mertua mulai terisak. Andalan, pasti Ibu selalu menangis setiap kami beri tahu hal yang benar.


"Kalau kasihan, biarin aja, Bu. Biar Mbak Dita belajar mandiri. Ingat Bu, anak perempuan yang sudah menikah, sudah menjadi tanggung jawab suaminya. Biarin aja mereka mandiri. Keenakan tuh Mas Adit."


"Ayu, Bagas, kalian itu sudah punya anak, sudah jadi orang tua. Harusnya kalian paham. Kalau nanti Kiara sudah besar dan dia kesusahan, kalian pasti juga gak akan tinggal diam."


"Ya udah, gini aja, Bu. Silahkan ibu bantu Mbak Dita, tapi jangan pakai uang Mas Bagas." Ucapku memberi solusi mengambil jalan tengah.

__ADS_1


"Betul kata Ayu. Karena Bagas gak Sudi lagi bantu Mbak Dita. sepeserpun gak Sudi, Bu."


Mas Bagas masuk ke kamar karena mendengar anak kami menangis. Ibu juga terdiam sambil menangis. Awalnya aku juga gak tega sama Ibu, tapi kalau sikapnya terus seperti ini, hilang sudah empatiku. Biarkan saja, aku mau bersikap tega sama Ibu. Hal terpenting, aku dan Mas Bagas masih memberikan uang bulanan sama Ibu. Tapi kami memberinya dengan jumlah yang pas, agar tak ada kemungkinan Ibu memberikan uangnya pada Mbak Dita.


.


.


"Sayang, kamu sudah hubungi Mama ? Kapan kita cari tanah buat bangun rumah ?" Tanya Mas Bagas.


"Udah, Mas. Tapi katanya belum ada. Tapi gak apa-apa, kita bisa tinggal dirumah Mama sementara waktu."


"Nanti aja sayang, kalau sudah ada tanah yang mau dijual. Biar kita gak terlalu lama ngerepotin Mama."


Aku paham, suamiku gak mau merepotkan Mamaku yang sudah lama menjanda. Apalagi Mama tak pernah mau menerima uang dari kami. Begitulah Mamaku, dia terlalu mandiri sehingga tak mau merepotkan anak dan menantunya.


"Ya sudah, aku buatin teh hangat, yah. Mas pasti capek habis mantau produksi pentol."


"Boleh, sayang." Jawab Mas Bagas sambil rebahan di samping Kiara.


"Tunggu yah, raja di hatiku."


"Hahaha, bidadari bisa gombal juga ternyata."


"Iya dong. Cuma Mas doang yang bisa mendengar gombalan eksklusif ku. Mantan-mantan ku saja, gak ada yang pernah mendengar seorang Ayu semanis ini."


"Iya, pahamlah yang banyak mantannya. Ara, tuh, Bunda kamu buaya betina. Mantannya lebih dari selusin. Ara jangan ikutin Bunda, yah."


"Gak apa-apa, biar Ara tahu kalau Ayahnya sering disakiti waktu ngejar-ngejar Bundanya dulu."


"Ih, Ayah Nakal."


Aku kelitiki perut suamiku hingga dia berteriak geli. Setelah puas, aku pun menghentikan aksiku, meminta suamiku menjaga Ara, sementara aku mau membuat teh hangat dan juga cemilan untukku dan juga suami untuk bersantai sore ini.


Sambil cengar-cengir aku berjalan menuju dapur. Bahagia sekali rasanya punya suami yang romantis dan bisa mengimbangi selera humorku. Alhamdulillah, meski banyak cobaan dari luar, tapi di dalam keluargaku, terasa penuh cinta.


"Ayu, kamu mau beli tanah di Jakarta ?" Tanya Ibu menghampiri ku di dapur.


"Ibu nguping pembicaraan ku dengan Mas Bagas, yah ?!"


"Dikit. Udah, tinggal jawab aja, susah banget."


"Iya, Bu, kami mau merantau."


"Kenapa harus jauh-jauh sih ? Tinggal beli aja tanah atau rumah daerah sini atau yang dekat dengan tempat usaha kalian. Kamu jangan hasut Bagas, dong, Ayu."


"Tanpa dihasut, Mas Bagas yang gak betah tinggal disini."


"Lho, kenapa gak betah ?" Tanya Ibu mertua dengan polosnya.

__ADS_1


"Aduh, ibu gak sadar kalau ibu sendiri yang bikin Mas Bagas kesal. Makanya Bu, jangan pilih kasih."


"Pilin kasih gimana sih, pikiran kamu itu kotor, Ayu. Makanya anak ibu jadi kayak gitu. Harusnya dulu Ibu gak merestui Bagas nikah sama kamu."


"Kalau Mas Bagas gak nikah sama aku, belum tentu rezekinya bakal sebagus sekarang. Bisa-bisa ibu dapat mantu pelit, gak mau ngasih bulanan. Masih mending aku, dong."


"Sok bener kalau ngomong !"


Aku cengengesan menanggapi ucapan mertuaku. Ada-ada saja, harusnya aku yang menyesal punya mertua kayak gitu. Tapi, namanya juga hidup, ya jalani saja.


Tok... Tok


Terdengar pintu depan diketuk. Ibu mertua langsung berlalu untuk membukakan pintu. Aku lanjutkan menggoreng cemilan sambil menyanyi riang. Beberapa menit kemudian ibu kembali ke dapur, mengambil piring dan makanan dimeja.


"Buat siapa, Bu ? Bukannya Ibu sudah makan ?"


"Kepo."


Dih, Ibu mertua aneh. Ditanya malah jawab kepo. Tinggal jawab sesuai kenyataan aja susah.


"Bu, makanannya dibawain rantangan juga, buat siapa ?"


"Kepo."


Ih, aku jadi kepo beneran. Langsung matikan kompor, dan berjalan menuju ruang tamu. Oh, ternyata putri kesayangan Ibu yang datang. Makan habis satu piring porsi kuli. Ditambah lagi dikasih makanan di rantang.


"Wah, ada princessnya Ibu, nih. Kesini cuma numpang makan, ya ampun kasihan amat."


'Ayu, berisik kamu ! Jangan bilang ibu gak boleh ngasih makanan juga. Keterlaluan kamu !"


"Silahkan aja, Bu. Tapi makanan Ibu, yah. Jangan ambil dari kulkas aku."


"Dasar pelit !"


"Gak apa-apa pelit, biar cepat kaya. Yang penting bukan golongan gaya elit, ekonomi sulit."


"Kamu hina aku ???"


"Santai, Mbak... Makanya suaminya disuruh kerja. Atau jangan-jangan, meskipun kerja, Mbak tetap gak dikasih uang. Wah, harus diawasi tuh, Mbak, jangan-jangan bener punya istri dua."


"Ayu ! Jaga mulut rombeng kamu ! Dita ini lagi hamil, jangan buat dia banyak pikiran !" Sentak Ibu mertua.


"Ayu cuma ngingetin, Bu. Harusnya Ibu selidiki tuh, Mas Adit. Jadi laki kok gak becus cari uang."


"Heh, jangan hina suamiku !!! Dia sudah kerja, bukan pengangguran."


"Lho, kalau udah kerja, kenapa Mbak segala minta makan disini ?"


"Ibu yang suruh ! Sudahlah, Bu, aku pergi aja. Malas disini, ada orang gak waras. Harusnya Ibu Carikan istri lain buat Bagas, biar waras, gak kurang ajar kayak gini."

__ADS_1


"Huhh, lagi hamil, Mbak. Harusnya amit-amit jabang bayi sama kelakuan sendiri."


"Berisik banget kamu, Ayu ! Lama-lama Ibu ganti mantu juga, nih." Aku melotot mendengar ucapan mertua, sampai bibir manyun lima senti.


__ADS_2