Melawan Mertua Julid

Melawan Mertua Julid
Janda Girang


__ADS_3

Ditengah pembicaraan kami tentang kondisi bapak, aku dan suami dikejutkan dengan suara benda jatuh dari kamar bapak.


Prang !


Segera aku dan suami berlari ke kamar bapak.


"Mbak, Bapak kenapa ?"


"Dita, Bapakmu kenapa ?"


"Itu Bu, Bapak ribet banget ! Aku suruh dia minum obat, malah dihempas gelasnya !"


"Ya Allah, kenapa Pak ?"


"Keluar ! Bapak tidak Sudi punya anak seperti Dita !"


"Ih, Bapak ini kenapa sih ? Aneh banget !"


"Emang kamu ngapain Bapak, Dita ?" Tanya Ibu mertua.


"Gak ngapa-ngapain. Cuma lagi ingetin bapak aja biar gak belain Si Bagas sama Ayu, karena mereka memang salah. Bener dong Bu, masa Bapak malah nyalahin aku."


"Keluar !" Sentak Bapak.


"Mbak, mending keluar aja deh. Maklum yah, kehadiran Mbak kayaknya bawa aura-aura neraka deh, hehehe."


"Diam kamu !"


Aku terkekeh lirih.


"Dit, udah... jangan bikin huru hara. Ayo keluar, ke kamar kamu saja. Mending kamu jagain Lea, nih." Ibu memberikan Lea kepada Mbak Dita. Dengan kesal Mbak Dita mengambil Lea dan pergi ke kamarnya.


Aku dan suami hanya bisa saling pandang.


"Pak, minum obat sama Bagas yah. Biar Bagas ambil minum lagi." bujuk suamiku.


"Iya, Gas. Maafkan Mbakmu, dia tidak pernah dewasa. Sulit sekali untuk sadar diri."


"Sudah, Pak, gak usah dipikirin. Bapak fokus pada kesehatan Bapak aja. Soal Mbak Dita, biar Ayu yang lawan, hehehe."


***


"Owekk ... owekk"


"Aduh, kamu rewel banget sih, Lea ! Mbah pusing..."


"Bu, Lea kenapa ? Kiara jadi ikutan nangis juga, nih."


"Gak tahu Ayu, namanya juga bayi, ya pasti sering nangis."


"Tapi kasihan Kiara, lagi tidur siang pulas, malah keganggu."


"Tinggal disusuin lagi nanti juga tidur. Jangan salahkan Lea, suruh siapa anakmu tidur gak pulas."


"Idih, ibu aneh banget ! Emang aku dukun, bisa tahu bayi tidur pulas atau gak."


Bahaya nih, ibu mertuaku sudah mulai menampakkan karakter aslinya. Kelihatan sekali, dia lebih mengutamakan Lea. Ya, memang hal kecil, tapi bikin kesel !


"Mamak moyangnya kemana sih, Bu ?"


"Gak tahu, Dita lagi bisnis !"

__ADS_1


"Bisnis apaan ?"


"Mana ibu tahu ! Udah, jangan banyak tanya, bikin Lea makin rewel aja !"


Mataku melotot mendengar ucapan ibu mertua. Bodoamat, kalau dilayani malah makin menjadi. Aku fokus saja menidurkan Kiara lagi, kasihan anakku belum lama tidur sudah kebangun.


"Bu... Ibu !" Kudengar suara Mbak Dita. Dia baru pulang, panjang umur yah, baru diomongin sudah datang.


"Dita, akhirnya pulang juga kamu. Nih, gendong anak kamu !"


Aku yang tadinya mau ke kamar langsung mutar balik ke ruang tamu. Tadi kayak dengar suara cowok. Jangan-jangan....


"Ih, pegang dulu Bu. Nih, Dita mau kenalin cowok baru. Kenalin Bu, Mas Reza."


Seorang pria yang kelihatan lebih tua dari Mbak Dita mencium tangan ibu. Dia juga menyerahkan beberapa bingkisan. Pria itu berbadan kurus, dengan kulit sawo matang, alias hampir gosong. Cokelat-cokelat gula Jawa.


"Siapa, Mbak ?" tanyaku.


"Kenalin nih, Yu, calon Mbak. Seorang pengusaha hebat, tentunya banyak duit."


Wah-wah, dulu aja nangis-nangis ditinggal suaminya, sekarang udah banyak tingkah. Semoga saja Mbak Dita gak berulah yang aneh-aneh.


"Beneran pengusaha, Dita ?" tanya ibu dengan mata berbinar.


"Iya dong, Bu. Masa aku bohong. Memangnya Bagas doang yang bisa jadi pengusaha sukses ? Calon aku ini juga hebat."


"Usaha apa, Mas ?" tanyaku penasaran.


"Sayuran."


"Oh, petani."


"Eh, asal jeplak aja ! Bukan petani, tapi juragan, alias bos sayur. Lihat tuh, mobilnya aja mentereng."


"Duduk dulu Nak Reza. Mau minum apa, es teh manis atau kopi ?"


"Jus Buah Naga ada, Bu ?"


"Gak ada naganya, Mas. Yang ada jus cabe setan, hehehe."


"Berisik, Ayu ! Sayang, minum es teh manis aja dulu yah. Nanti minum jusnya kapan-kapan."


"Iya, kalau begitu air putih saja."


"Dalgona Coffe mau, Mas ? Nanti aku buatkan spesial ala-ala kafe di Jakarta. Maklum, aku ini biasa icip-icip kafe di Jakarta."


"Halah, sombong !"


"Dragon kopi ? Kopi naga maksudnya ?" Tanya pria itu dengan polos.


"Hahaha, bukanlah Mas. Dipikir ini kopi dari serbuk naga gitu. Itu minuman kekinian, manyos pokoknya."


"Maaf Mbak, gak suka saya. Lebih suka air putih saja."


"Wah, sederhana sekali yah calon Mbak Dita ini."


"Berisik kamu Ayu ! Mas, gak usah ditanggapi. Si Ayu ini emang dari dulu sirik sama aku, stres pula !"


Sialan, aku dibilang stres. Padahal Mbak Dita yang ketua geng penghuni rumah sakit jiwa. Tapi ya sudahlah, aku tak mau menambah keributan, aku berikan senyum termanis versi Ayu saja dan memilih masuk ke kamar.


***

__ADS_1


"Dita, itu Lea nangis ! Kamu lagi ngapain sih ?"


"Tunggu, Bu... lagi seru chatingan. Tahu aja dapat bapak baru buat Lea."


Itulah percakapan ibu dan anak setiap sore. Bukannya bantu-bantu, kerjaan Mbak Dita malah santai-santai sambil chattingan. Tingkahnya sudah mirip ABG labil yang lagi puber. Mana dandannya ala-ala anak muda yang sedang jatuh cinta. Mungkin ini yang dinamakan janda girang.


"Dita, susuin dulu !"


"Pakai susu formula aja, Bu. Itu masih ada di dapur."


Aku hanya memperhatikan dari teras depan. Momen menikmati senja terganggu dengan kebisingan Mbak Dita dan Ibu.


"Sayang, ayo keluar, Mas mau ajak Ara jalan-jalan sore."


"Mas aja deh, aku mau bantuin ibu."


"Udah, biarin aja, ada Mbak Dita !"


"Justru itu, aku mau suruh dia kerja."


"Ya sudah, terserah kamu aja. Mas pergi dulu yah."


"Ok sayang."


Setelah suamiku keluar gerbang, aku masuk ke dalam, duduk sambil memperhatikan Mbak Dita yang sedang duduk santai sambil selonjoran di atas meja. Matanya fokus melihat ponsel.


"Enak yah, Mbak, makan tinggal makan, anak dijagain ibu."


"Hhmm, iya," jawabnya cuek mengabaikanku.


"Kupingnya lagi digadaikan di kandang sapi, yah, Mbak ?"


"Hhmm."


"Beli... beli..."


"Aduh, Dita ini anak kamu, udah ibu buatin susu. Ibu mau melayani orang beli dulu."


"Bawa aja, Bu. Masa gak bisa jualan sambil pegang Lea doang."


"Sini Bu, anaknya !"


Dengan wajah terpaksa ibu menyerahkan Lea padaku. Ibu bergegas ke warung, lalu aku langsung serahkan Lea di atas pangkuan ibunya, dan merebut ponsel Mbak Dita.


"Ih, apaan sih, Ayu ! Ganggu aja !"


"Urus anaknya, Mbak ! Ingat, Mbak punya anak, jangan bergaya perawan dong !"


"Apaan sih, gak bisa lihat orang seneng aja !"


"Seneng ya seneng, tapi jangan sendiri aja ! Nih, anaknya juga dibuat seneng !"


"Bodoamat, balikin ponselku !"


"Nyapu sama masak dulu, baru aku balikin ponselnya. Sekalian urus Lea dulu, mandiin dulu sana."


"Apaan sih ngatur-ngatur ? Emang aku anakmu, hah ? Jangan kurang aja. Mentang-mentang kamu yang punya rumah."


"Nah, itu paham ! Kalau numpang ya sadar diri yah, Mbak cantik."


"Dasar ipar Julid, tukang sirik, muka mirip nenek gerondong, gak bisa lihat orang senang ! Awas aja kalau aku sudah dapat pria kaya, aku balas kamu !"

__ADS_1


"Aku sih bodoamat, Mbak. Sudah, buruan mandiin Lea, abis itu masak, nyuci piring, sama nyapu."


Muka Mbak Dita kesal luar biasa. Aku terkekeh dengan tingkahnya. Mbak Dita memang harus disuruh-suruh biar sadar. Kalau dibiarkan, malah keenakan.


__ADS_2