Melawan Mertua Julid

Melawan Mertua Julid
Keberuntungan Datang


__ADS_3

Dua bulan dibukanya cabang usaha baru, yakni pentol kering, otak-otak, dan nugget kering, dengan variasi rasa sambal, asin, balado, pedas, daun jeruk, membuat usaha kam semakin berkembang pesat. Produksi cemilannya pun terus meningkat.


Penjualan dari aplikasi TikTak sangat memuaskan. Kami sampai punya tempat mirip studio khusus untuk live TikTak. Ditambah lagi iklan dengan cara menggunakan jasa seleb TikTak yang terkenal.


"Mas, nih, aku bawain makan siang. Sibuk banget sih."


"Hehehe, maaf, sayang. Kerjaan numpuk banget."


"Kayak mimpi yah, Mas."


"Iya, ide kamu luar biasa, sayang." Mas Bagas mencium keningku.


Aku suapi dia, kalau tak disuapi malah lupa makan siang. Selesai itu, aku berkeliling mengontrol produksi cemilan. Hatiku tak henti mengucap syukur. Hampir bangkrut, mendadak datang keberuntungan.


...


"Sayang, kenalkan ini Pak Abdullah, katanya kamu mau bertemu beliau."


"Pak Abdullah ? Ya ampun, ternyata masih muda, yah."


Wah, mujur sekali kedatanganku kesini. Selama ini hanya tahu tentang Pak Abdullah dari cerita suami, saking sibuknya beliau. Biasanya hanya bertemu sebentar dengan suami untuk membahas bisnis, lalu pergi ke tempat lainnya. Beliau memang sangat sibuk mengurus bisnisnya.


"Mbak Ayu istri Bagas ?"


"Iya, Pak Abdullah. Akhirnya kita bisa bertemu."


"Panggil saja Abdullah, atau Ilyas."


"Oh, namanya Abdullah Ilyas ?"


"Ilyas Abdullah."


"Oh, kebalik, hehehe."


Baru sekali bertemu kami langsung nyambung. Keren sekali Ilyas Abdullah ini, seumuran suamiku tapi sudah sukses. Ternyata, dia itu blasteran Jawa, Malaysia, dan Arab. Pantas saja, muka-muka tampan. Bibir, kumis dan janggutnya tipis. Hidung mancung, badannya kekar, aduh, Mas Bagas agak lewat sih sedikit, hehehe.


Astaghfirullah, mata emak-emak kalau lihat yang bening langsung lupa daratan.


"Kapan-kapan istrinya ajak kesini, Ab. Nanti aku ajakin makan bakso di tempat yang enak, langgananku, hehehe." ujarku sok asik dan sok akrab, wkwkwk.


Abdullah malah tersenyum tipis.


"Sayang, istri Abdullah sudah meninggal." ujar Mas Bagas lirih di kupingku.


"Eh, maaf, Ab, aku gak tahu. Aduh, jadi gak enak ini."

__ADS_1


"Tak apa."


"Sudah jam satu, saya izin pamit, ada urusan di luar. Bagas, soal perkembangan bisnis kirim laporannya lewat email saja."


"Siap."


Abdullah pamit, kami antar sampai naik mobil. Mirip sedang mengantar presiden, hehehe. Dia tampak berwibawa dan penuh aura-aura pemimpin, miriplah kayak presiden.


"Sayang, biasa aja liatinnya."


"Ini udah biasa, Mas."


"Hhmmm, jaga mata dan jaga hati, awas kecentilan. Dia itu duda anak satu, kaya raya lagi."


"Dih, terus ? Ngomong aja kalau Mas cemburu."


"Siapa yang cemburu. Cuman ngingetin aja sebagai suami yang baik, matanya jangan berbinar-binar gitu kalau ngomong sama cowok lain." Mas Bagas menekuk mukanya. Ciri-ciri pria cemburu, sok cuek, dan tetap bergaya kalem, padahal hatinya panas. Mirip kompor gas mau meleduk.


"Ya ampun, suamiku tampan yang kucinta dari zaman purba, tenang saja, hati istrimu ini hanya milikmu."


"Gombal."


Mas Bagas masuk ke dalam ruang kerjanya. Aku terkekeh dengan tingkah suami yang gengsi mengakui rasa cemburunya. Kalau sudah begini, harus diberi jurus monyet betina ketagelan, biar hatinya luluh lagi.


***


Inem mengirim pesan dan foto produk jajananku. Aku cengar-cengir mendapat berita ini. Sebagai rasa terima kasih atas nikmat-Nya, aku mengirimkan satu kilo jajan gratis untuk Inem dan beberapa followers Jajan Pentol lainnya yang beruntung.


Hampir beberapa bulan merintis usaha di jalur baru, membuahkan hasil yang cukup fantastis. Sekarang, pekerjaanku nambah, yakni memantau penjualan di aplikasi Oren dan Hitam. Abdullah yang menunjukku menjadi ketua tim marketing, sementara dia dan suamiku sibuk di bagian produksi dan distribusi.


"Bu, sold out di TikTak, Bu !" teriak bagian marketing.


"Serius ?"


"Iya, Bu, tuh, baru live lima belas menit. Teknik viral marketing kita sukses besar, Bu."


"Alhamdulillah..."


Ide Abdullah sangat luar biasa. Dia berani mengeluarkan dana besar untuk mengiklankan produk kami. Dia memilih artis TikTak yang sedang booming untuk memasarkan produk-produk cemilan dari pabrik kami.


"Bu, di Si Oren juga sold out, Bu !"


Kami jingkrak-jingkrak bahagia. Kiara sampai ku titipkan ke karyawanku. Saking bahagianya, aku sujud syukur, lalu berteriak kegirangan. Langsung menghubungi suami yang ada di bagian produksi.


Aku juga merekam momen pemesanan membludak dari Si Oren, dan membuat status di WA, mirip para pengusaha-pengusaha yang biasa jualan di TikTak.

__ADS_1


[Ayu dan tim marketing, terima kasih kerjasamanya. Kalian hebat.]


Abdullah mengirimkan pesan, sambil diberi emoticon jempol. Kami kadang berinteraksi lewat chat, untuk membahas marketing


Tapi, aku hapus saja setelah membalasnya dengan ucapan pujian juga. Takut Mas Bagas tahu, dia agak sensitif.


[Pakai pesugihan apa, sampai usahamu bisa meroket gitu ?]


Mbak Dita membalas statusku dengan nyinyiran. Astaghfirullah, tiada hari tanpa Julid dan sirik.


Profil WA Mbak Dita langsung melingkar harus hijau pertanda dia membuat status. Hatiku panas melihat statusnya. Ingin mencubit bulu hidungnya, karena emosi.


[Percuma kaya hasil pesugihan, gak bakal berkah. Dijamin bentar lagi bangkrut dan masuk neraka, hahaha]


Status Mak Gambreng yang julidnya level 10, memang bikin emosi tingkat tinggi. Tapi, aku harus sabar, semakin tinggi pohon maka semakin kencang anginnya. Cuma tiupan angin Julid dari Mbak Dita, abaikan saja.


Aku sibuk mengontrol bagian pengemasan, banyak karyawan yang cukup kewalahan, apalagi saat event diskon Si Oren seperti sekarang.


"Ayu..."


"Ab, kamu kesini ? Biasanya sibuk."


"Aku lihat pencapaian tim kamu yang sangat keren, jadi menyempatkan waktu kesini. Ini buat kamu, semoga kamu suka."


Abdullah menyodorkan sebuah totebag. Aku gugup mau mengambilnya. Bukan karena grogi atau menaruh hati padanya, tapi bingung diterima atau tidak. Kalau aku ambil, nanti Mas Bagas cemburu gak, yah ?


"Beneran buat aku ?"


"Iya."


"Serius ? Gak usah deh, mending buat saudara kamu. Masa buat aku, pasti mahal, nih. Wadahnya aja keren gini."


"Aku sengaja membelinya untuk kamu, Yu. Sebagai ucapan terima kasih, telah menjadi tim marketing yang hebat. Ide-ide selalu luar biasa."


"Aduh, bisa aja kalau muji. Nanti pipiku berubah kayak tomat lagi. Ini tuh, ide kamu tahu. Keren banget, aku banyak belajar sama bapak Ilyas Abdullah M.E, hehehe."


"Berlebihan kamu, Yu. Bukan aku yang hebat, tapi kamu."


Abdullah memandangku, sorot matanya memancarkan aura entah apa. Aku ambil saja hadiahnya, lalu izin mengambil Kiara, agar kami tak semakin lama terlibat kontak mata.


"Kamu mau disini atau mau ke Mas Bagas ? Soalnya aku mau makan siang sama suamiku."


"Tak usah, aku masih ada urusan. Aku pamit, nanti dipakai hadiahnya."


"I-iya, terima kasih."

__ADS_1


Abdullah pamit pulang. Aku langsung ke ruanganku, sebelumnya mengambil Kiara dulu yang tadi dititipkan. Aku suruh Kiara bermin di lantai, sementara aku membuka hadiah pemberian Abdullah.


__ADS_2