Melawan Mertua Julid

Melawan Mertua Julid
Suka dan Duka


__ADS_3

Sebentar lagi Mbak Dita mau menikah dengan pria yang bernama Aldi. Aku dan Mas Bagas hanya mengikuti saja kemauannya. Kami tak mau banyak terlibat, hanya berperan seperlunya saja. Tak mau dibilang terlalu mencampuri urusan orang lain.


"Dita, buruan ke depan, udah ada penghulunya."


"Iya, Bu."


Acara akad nikah pun dimulai. Memang hanya akad saja tapi cukup mewah. Mbak Dita memesan katering dan juga fotografer untuk foto-foto. Padahal tidak banyak yang diundang.


"Saya terima nikahnya Dita binti Ramli dengan mas kawin satu unit mobil Fortuner dibayar tunai."


"Bagaimana saksi ?"


"Sah !"


"Alhamdulillah,"


Kebahagiaan terpancar terang benderang dari wajah Mbak Dita, begitu pula dengan ibu mertuaku. Sementara bapak, terakhir aku lihat di kamar, wajah pucatnya begitu murung, bahkan air mata malah sempat menetes.


Setelah akad nikah, kami sekeluarga makan-makan, sementara Mbak Dita sibuk berfoto-foto dengan suami barunya.


"Mas, mau makan ?" tanyaku menghampiri Mas Bagas.


"Mas masih kenyang."


"Lah, Mas kan belum makan malam."


"Nanti saja."


Suamiku malah mengasingkan diri ke kamar. Dia memang kelihatan tidak setuju dengan pernikahan kedua Mbak Dita ini, tapi dia juga tak mau banyak ikut campur. Aku juga mendengar bapak sempat curhat pada Mas Bagas. Bapak tidak setuju, bahkan sampai menangis di depan suamiku karena Mbak Dita sama sekali tidak mau mendengarkan ucapan bapak.


"Mas, mau kemana ?"


"Ke kamar bapak."


"Mau ngapain ?"


"Bapak belum minum obat."


"Ikut !"


Kami masuk ke kamar bapak. Mata langsung terbuka lebar saat melihat kondisi bapak sedang memegang dada dengan nafas tersengal-sengal.


"Pak, bapak kenapa ?"

__ADS_1


"Ba... Bagas, ba-bapak titip i-ibumu. Ma-maafkan juga M-mbakmu."


"Bapak ngomong apa sih ? Apa yang dirasa, Pak ? Apa yang sakit ?"


"Mas, badan bapak dingin. Mukanya juga pucat banget. Kayaknya bapak sesak nafas. Ayo kita bawa bapak ke rumah sakit, Mas !"


Aku keluar kamar bapak dengan panik. Kondisi rumah yang memang sedang ramai, langsung riuh seketika. Beberapa orang membantu bapak masuk ke mobil, sementara Mbak Dita tak mau ikut. Dia malah menampakkan wajah kesal, mungkin karena acara pernikahannya jadi kacau.


...


"Pak, bangun Pak..." Ucap Mas Bagas memegangi tangan bapak saat mau masuk ke UGD. Mata bapak sudah tertutup, nafasnya juga mulai melemah.


"Dokter, tolong bapak saya !"


"Iya, Pak. Harap tenang dulu."


"Pak...."


"Maaf, keluarga harap tunggu dulu di luar."


Aku tarik suamiku agar tak menghalangi suster menutup pintu UGD. Aku peluk dia sambil mengelus pundaknya, berharap itu bisa menjadi sedikit kekuatan untuknya.


"Bagas, bagaimana bapak kamu ?" Tanya ibu. Beberapa menit kemudian mereka baru datang. Ternyata dia menyusul juga bersama Mbak Dita dan suami barunya.


Pintu UGD terbuka, Mas Bagas dengan cepat menghampiri dokter yang menangani bapak.


"Iya, Dok, suami saya bagaimana kondisinya ?"


Dokter menghembuskan nafas, dia menggeleng halus. Kami semua kaget. Seketika tubuh Mas Bagas lemas. Aku peluk dia erat-erat.


"Maksud dokter, suami saya meninggal ?"


"Maaf, Bu, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi yang di atas lebih sayang dengan suami Anda."


"Bapak !!!"


Suamiku lari menuju UGD. Dia buka kain yang menutupi bapaknya, mengusap lembut sambil mencium kening. Air mata belum jatuh, dia berusaha tegar.


"Mas..."


Air mataku sudah mengucur. Aku peluk Mas Bagas, barulah dia menangis sesenggukan dalam dekapanku.


Pak, terima kasih, sebelum pergi bapak sudah membesarkan hati suamiku, sampai Mas Bagas lebih tegar dan kebencian di hatinya perlahan terkikis.

__ADS_1


"Kuat, sayang. Kita tunaikan kewajiban terakhir kita sama bapak, yah."


Suamiku tak bisa berkata-kata, hanya anggukan kepala tanda dia pasrah. Kami bereskan semuanya, membawa jenazah bapak ke rumah. Warga berbondong-bondong datang, mengiringi kepergian bapak dengan lantunan ayat suci.


Kematian memang datang tanpa undangan. Hanya menunggu waktunya, ketika sudah datang maka nyawa akan terlepas dari raga. Apa yang sudah ditakdirkan, tak bisa dilawan. Sebagai keluarga yang ditinggalkan, berusaha ikhlas dan menyerahkan semuanya pada pemilik kehidupan.


"Pak, maafkan semua kesalahan Bagas." lirih suamiku memegangi nisan bapak.


"Emang bener kamu banyak salah, Bagas !" jawab Mbak Dita.


Mataku melirik sinis ke arahnya. Dasar anak aneh, bapaknya meninggal tapi dia kelihatan biasa saja. Malah nempel terus dengan suami barunya.


"Bu, ayo pulang. Lama-lama panas nih."


"Ibu gak mau pulang, hiks, hiks. Pak... Pak, kenapa ninggalin ibu secepat ini."


"Udah Bu, yang udah gak ada biarkan saja. Namanya juga takdir. Lagian kasian kalau bapak hidup tapi gak bisa apa-apa. Ini udah jalan terbaik."


"Dijaga Mbak, ngomongnya !"


"Heh, bener dong. Dari pada nyusahin mending mati aja."


"Mbak Dita !" bentak suamiku. Dia berdiri berhadapan dengan Mbak Dita. Matanya menatap tajam. Jarak diantara mereka sangat dekat.


"Kapan Mbak sadar ? Aku muak sekali dengan sikap Mbak. Silahkan Mbak pergi dari rumahku !"


"Hahaha, tenang saja, aku pasti keluar dari rumah butut mu itu. Lihat nih, aku nikah sama orang kaya, jadi kamu gak usah sombong. Harta kamu kalau dibandingkan dengan Mas Aldi, tidak ada apa-apanya. Pria di samping Mbak Dita tersenyum sinis. Sepertinya mereka memang cocok, sama-sama manusia sombong dan banyak gaya. Padahal aku juga tahu, yang kaya itu bukan Si Aldi, tapi orang tuanya.


"Sudah, kenapa kalian ribut di makam bapak ?"


"Tuh, Si Bagas yang ngajak ribut. Ibu pilih deh, mau ikut aku atau Bagas."


Ibu tampak berpikir sejenak. Dia sedang mempertimbangkan mau ikut anak yang mana. Aku sih tak masalah ibu ikut dengan kami atau Mbak Dita. Tapi, kalau benar ibu ikut Mbak Dita, firasatku mengatakan ibu belum tentu nyaman dan bahagia dengan anak modelan Mbak Dita. Apalagi, sekilas aku perhatikan ekspresi Aldi seolah-olah tak suka ibu ikut dengan mereka.


"Kalau ibu ikut Bagas, setelah acara tahlilan, kita pergi ke Jakarta. Atau ibu bisa tinggal dirumah yang sekarang."


"Hhmmm, ibu mau tetap tinggal di rumah itu. Banyak kenangannya, sulit dilupakan."


"Ikut aku aja, Bu. Ngapain sih, numpang sama Bagas. Lagian kalau ibu gak ikut, anakku siapa yang jaga ?"


"Keterlaluan kalian, mau menjadikan ibumu babu, hah ?" sentak Mas Bagas.


"Sembarangan kalau ngomong ! Bukan jadi babu, masa ngurusin cucunya sendiri di bilang babu. Tenang aja, Mbakmu yang kaya ini bakal memenuhi semua kemauan ibu."

__ADS_1


"Mas, kita pulang dulu. Gak enak ribut di makam."


Aku tarik suamiku menuju mobil. Bapak pasti menangis melihat anak-anaknya bertengkar seperti ini. Aku tak mau keributan semakin menjadi, lebih baik pergi membawa suamiku menjauh dari Mbak Dita untuk sementara, biar masalah ibu ikut siapa bisa dibicarakan lagi nanti.


__ADS_2