Melawan Mertua Julid

Melawan Mertua Julid
Hari pertama tinggal bersama


__ADS_3

Tak mau membuang waktu, sore ini juga aku langsung pindahan.


"Kasurnya langsung dimasukkan ke kamar saja, Pak."


"Iya, Mbak."


Barang-barang yang lain udah di bawa masuk sama bapak-bapak yang membantu aku pindahan. Tinggal kasur dan beberapa barang lain yang nanti akan aku letakkan dalam kamar.


"Mbak, kamarnya di kunci. Gak bisa masuk kasurnya." Ucap bapak yang membantuku.


"Dikunci ? Mm, tunggu sebentar, Pak."


Kemana lagi mereka, aku pindahan bukannya bantuin malah menghilang. Penghuni tak tahu malu, padahal ini rumahku. Aku lupa meminta kuncinya. Ditambah lagi Mas Bagas masih di luar, tadi ada urusan dulu harus ke tempat produksi pentol. Sebentar lagi nanti menyusul kesini.


"Bu... Mbak Dita... !!! Kemana sih mereka ?"


Aku sudah cari mereka ke depan, ke belakang, ke samping, tetap aja gak kelihatan. Wah, pasti mereka sengaja mau berbuat jahil sama tuan rumah. Baiklah, awas saja kalau mereka sudah dirumah.


"Bapak-bapak, ini ada sedikit buat beli kopi. Terima kasih sudah membantu saya pindahan." Ucapku sambil memberikan beberapa lembar uang kepada mereka.


"Sama-sama, Mbak. Tapi kasurnya gimana, Mbak ?"


"Gak apa-apa disitu saja. Biar nanti suami saya yang gotong."


Mobil bak terbuka dan tiga orang bapak yang membantuku pun pergi. Aku sendirian dirumah ini. Dibawa santai saja dulu, menikmati rumah sendiri. Hebat juga yah, usia pernikahan belum ada lima tahun, sudah punya rumah sendiri, Alhamdulillah. Semoga bisa segera bangun satu lagi rumah yang nyaman. Disini sangat tidak nyaman. Rate bintang nol. Maklum, ada dua manusia dengan suara toa yang selalu mengganggu.


Kadang capek juga sih, punya mertua dan kakak ipar yang unik, spek ajaib. Tapi, mau bagaimana lagi. Bukannya hidup itu memang bervariasi ? Kalau dinikmati seru juga. Setiap harinya penuh dengan perdebatan. Tapi ya, tetap harus hati-hati, takut mental oleng.


...


"Ayu, kenapa belum diberesin ?"


Akhirnya pasangan ibu dan anak yang super kompak ini datang juga.


"Nunggu ibu sama Mbak Dita lah." Jawabku santai.


"Enak aja, gak Sudi aku jadi babu kamu."


"Oh... gitu, ya udah, aku mau tidur di kamar Mbak Dita. Toh, ini rumahku. Yang punya mah bebas."


"Enak aja, kurang ajar kamu, yah !"


"Hahaha, kayaknya Mbak deh yang kurang ajar. Numpang aja gayanya kayak tuan rumah. Masih mending lho aku mau nampung. Kalau Mbak gak suka, silahkan pergi."


"Bu... lihat tuh, mantu durhaka ibu. Masa Dita diusir dari sini." Mbak Dita persis anak TK yang sedang mengadu pada ibunya.


"Ya, gimana lagi, Dita. Ini emang rumahnya Si Ayu. Atas nama dia dan Bagas, jadi mau gimana lagi ?"


Aku tersenyum mendengar jawaban ibu mertua. Tumben dia tak membela Mbak Dita.


"Tuh, udah denger, kan ? Sekarang tolong beresin barang-barang aku yah, Mbak. Sama itu kasurnya juga tolong dibawa masuk. Lagian, segala pintu kamar di kunci. Tadi ada bapak-bapak yang bantu, tapi gak bisa langsung ke dalam gara-gara kamarnya dikunci."


"Kamu sih, Dit. Ibu bilang jangan aneh-aneh. Segala kuncinya dibawa, jadi senjata makan tuan, kan."


"Ihh, diem, Bu !" Ucap Mbak Dita kesal.


"Tolong buruan yah, Mbak. Udah pegel nih badan, pengen cepat-cepat rebahan. Maklum lah, ibu hamil."


Mbak Dita dan ibu berusaha mengatur barang-barang ku. Akhirnya, bisa ngerjain Mbak Dita juga. Ya, walaupun ibu juga ikut kena. Sebenarnya tak tega juga membuat orang tua kecapean. Meski gayaku kayak preman, aku juga masih punya hati, tak mau membuatnya menderita. Walaupun mertuaku sedikit berbeda, punya hobi unik, suka bikin mantu kena serangan mental.


"Aduh.... capek nih, Bu. Benar-benar kamu yah, Ayu !!!" Keluh Mbak Dita sambil memegangi pinggangnya.

__ADS_1


"Jangan ngeluh, Mbak. Di dunia ini gak ada yang gratisan." Ucapku dengan tenang dan mendapat tatapan tajam setajam silet dari kakak ipar.


Tak lama, suamiku pulang.


"Assalamualaikum,"


"Waalaikumsalam..."


"Udah beres, sayang ?" Tanya Mas Bagas sambil merangkul ku.


"Udah dong, Mas. Udah rapi semua."


"Bagas, istri kamu keterlaluan. Masa Mbak sama ibu disuruh angkat-angkat barang segala. Capek nih, badan rasanya mau rontok."


"Gak apa-apa, Mbak. Istriku sedang hamil, bahaya kalau dia angkat-angkat barang berat. Ayu cuma minta bantuan, bukan nyuruh Mbak kerja rodi, maklumin aja."


"Ihh, gak istrinya, gak suaminya, sama-sama stres. Gak punya empati sama sekali sama kakak sendiri."


Suamiku cuek saja dan malah menyuruhku untuk istirahat di kamar. Kalau soal melawan Mbak Dita kami memang kompak, tapi kalau sama ibunya, Mas Bagas suka luluh. Jadinya Mbak Dita suka memanfaatkan kelemahan suamiku untuk mendapatkan uang dari ibu.


Tapi tenang saja, kehadiranku disini untuk mengontrol keuangan suamiku. Mulai sekarang, ibu ataupun Mbak Dita tak bisa seenaknya menghabiskan uang suamiku.


.


.


"Mas Adit ? jadi beneran mau numpang disini juga ?"


"Sombong sekali kamu, Ayu ! Rumah hasil merampas hak orang lain saja, bangga ! Tak akan berkah !!!"


"Hahaha, Mas Adit ini baru datang sudah melawak."


Aku tertawa terbahak-bahak. Ya ampun, pantasan saja mereka berdua berjodoh, otaknya sama-sama eror.


"Hahaha, kapan banyak duitnya, Mbak ? Makanya, suaminya jangan punya istri dua. Gaji UMR, gaya DPR. Segala punya istri dua, seleb TikTak lagi. Ya, keteteran dong, Mas. Jadi bangkrut deh."


"Jaga mulut kamu, Ayu !!!" Bentak Mbak Dita.


"Idih, emang Mas Adit sendiri kok yang bilang kalau Si Bella itu istri keduanya. Aku masih ingat jelas. Sayang saja gak aku rekam."


"Makin kurang ajar kamu, yah ! Mulut sama otak kamu disekolahin yang bener !"


"Hahaha, Mbak tuh, sekolah jangan tidur. Katanya S1, tapi mau aja dibego-begoin sama suami. Mau-mau aja lagi ditipu sampai jual rumah."


"Ayu !!!" Bentak Mas Adit dengan tangan terangkat keatas hendak memukulku.


"Berani Mas mukul istriku, aku seret Mas ke kantor polisi !"


Untung saja Mas Bagas datang pada waktu yang tepat. Kalau tidak, pipiku yang mulus ini pasti sudah kena tampar. Aduh, aku harus hati-hati, ternyata Mas Adit punya bibir KDRT.


"Semua ini salah istri kamu, Gas ! Dia yang tukang fitnah, wajar suamiku marah." Mbak Dita membela suaminya.


"Apapun alasannya, tidak ada yang boleh menyentuh apalagi menyakiti istriku. Mas Adit ini bencong, berani main tangan sama perempuan hamil ?"


"Ajari istri kamu biar bener ! Mulutnya keterlaluan."


"Mas Adit yang harusnya jadi imam keluarga yang bener. Bukan cuma pintar menghabiskan uang."


"Ngajak ribut kamu, Bagas !" Sentak Mas Adit dengan wajah memerah.


"Sudah, Mas. Kita orang sibuk, tak ada waktu melayani orang tak tahu diri, benalu seperti mereka." Ucapku menenangkan suami. Aku tak mau suamiku sampai terpancing dan mengotori tangannya.

__ADS_1


"Mbak Dita, suruh suamimu keluar dari sini ! Aku tak sudi dia tinggal di rumahku." Ucap Mas Bagas dengan tegas.


"Sombong sekali kalian !!!"


"Pergi !!!" Teriak Mas Bagas sangat emosi. Matanya sampai membulat dengan wajah memerah.


"Ada apa ini ?" Tanya ibu yang baru saja keluar dari kamar.


Mbak Dita menceritakan titik permasalahannya, tapi versi dirinya. Aku ralat untuk memperjelas apa yang terjadi. Soalnya Mbak Dita itu kalau ngomong suka ditambah bumbu kebohongan, biar dia kelihatan paling tersakiti.


"Bagas, jangan usir Adit, yah." Bujuk ibu.


"Kalau kamu usir suamiku, sama saja kamu usir Mbakmu ini." Mbak Dita menambahkan.


"Ya sudah, biar adil kalian keluar aja berdua. Kembali ke Jakarta." Ucapku dengan enteng.


"Ayu !" Bentak ibu mertua. Baiklah, aku dia dulu.


"Gas, ayolah berdamai sama kakakmu. Malu didengar tetangga. Masa adik kakak ribut kayak gini."


"Bagas gak salah, Mas Adit yang mancing


Dia mau memukul Ayu duluan."


"Mulut istrimu yang jahat !" Sambung Mbak Dita lagi-lagi tak mau disalahkan.


"Mas Adit yang gak sopan !" Jawabku tak mau kalah.


"Sudah-sudah !!! Ayo, kalian minta maaf. Bagas, kamu yang lebih muda, ayo minta maaf duluan."


Mataku langsung mendelik bagai bolak basket. Melotot kesal. Tak salah dengar ? Masa suamiku yang disuruh minta maaf. Ihh, menggemaskan sekali ibu mertuaku ini. Aku dan suami sudah baik sekalipun, tetap saja Mbak Dita dan suaminya yang nomor satu.


"Enak aja kita yang disuruh minta maaf. Jangan mau, Mas. Gak rugi kita gak minta maaf. Kalau Mas Adit dan Mbak Dita gak mau minta maaf duluan, silahkan pergi, pintunya sebelah kanan, kami lepas dengan ikhlas."


"Aku gak bakal pergi dari rumah ini, dan gak mau minta maaf. Bagas adikku, harusnya kamu sama Bagas hormat sama aku dan suamiku !"


"Wah, ngelawak nih Mbak Dita. Cocok ikut stand up komedi."


"Silahkan keluar !" Ucap Mas Bagas menantak.


"Dita, Adit, sudah minta maaf saja."


"Tapi, Bu..."


"Minta maaf cepat !!!" Bentak ibu.


Terlihat Mas Adit dan Mbak Dita saling tatap.


"Bagas, Ayu, maaf !" Ucap Mbak Dita, ketus.


"Yang kompak dong minta maafnya. Kalau gak ikhlas mending keluar aja dari rumah ini."


"Astaga Ayu, kamu benar-benar yah !"


"Dita, Adit, cepat !" Desak ibu.


"Kami minta maaf, Bagas, Ayu." Ujar Mas Adit dengan wajah kesal.


"Aku juga minta maaf." Susul Mbak Dita.


"Bagus, gitu dong. Ayo Mas, kita ke kamar. Kelamaan disini hati bisa gosong."

__ADS_1


Hhh, baru hari pertama tinggal bersama, hampir mau habis stok sabar yang aku simpan. Tapi aku senang, aku bisa membuat mereka tampak lemah dan pasrah. Makanya jangan tingkah. Masih mending kami menerima kehadiran mereka. Kalau tak ingat rasa kemanusiaan dan menghargai ibu dan bapak, sudah aku usir mereka.


__ADS_2