
"Tolong !!!"
"Ya Allah, kemana sih, penghuni bumi. Tolong ... perutku sakit banget. Arrghh ... Ibu ..."
"Dita, kamu beneran mau melahirkan ?"
"Ibu pikir aku akting ? Buruan, Bu... cari bantuan !"
"Aduh, bapakmu juga sakit di kamar, badannya panas dingin sampai gak kuat pegang gelas."
"Ya udah, makanya ibu cepat cari bantuan, astaga..."
"Iya, tunggu."
Padahal ibu sudah pengalaman lahiran, tapi kenapa loadingnya lama sekali. Aku sudah mules tak karuan, entah kemana Ibu mencari bantuan.
...
"Pak RT, tolong, Pak !"
Aku dan bapak langsung dipapah menuju mobil. Kami naik mobil tetangga. Saat diperjalanan, ibu terus menghubungi Mas Adit. Sekian puluh panggilan, baru diangkat. Katanya, Mas Adit akan menyusul.
"Aduh, Dita, Bapak, kenapa kalian kompak sekali, ibu harus jagain dua-duanya di rumah sakit, gimana ini ?" ibu mengoceh tak karuan. Dia takut bapak dirawat karena kondisinya sangat drop.
...
"Suster, tolong bantu anak dan suami saya."
Aku dan bapak dilarikan ke UGD. Hanya disekat saja, aku di bagian ruangan persalinan.
"Dok, buruan keluarin anak saya, Dok ! aduh, sakit..."
"Tenang, Bu. Kita cek dulu, yah."
Lama sekali Dokter bergerak, tinggal suruh aku mengejan saja, malah harus dicek ini itu. Aku sudah tak kuat, sakitnya luar biasa. Kemana lagi Mas Adit, istrinya sedang berjuang hidup dan mati, dia malah tak sampai-sampai.
"Dit, gimana perut kamu ?"
"Ya, sakitlah, Bu ! Keman Mas Adit, Bu ? Tega banget dia gak datang-datang."
"Katanya tunggu sebentar, tanggung lagi nganter penumpang."
"Suami sialan ! Malah urusin penumpang. Gak paham banget istrinya udah kesakitan kayak gini."
"Sabar, Dit, Pasti Si Adit kesini. Ibu ke ruang bapak kamu dulu, yah. Bentar lagi mau dipindahin ke ruang rawat. Kepala ibu pusing banget, kenapa kamu sama bapak kompak kayak gini, gimana cara ibu jagain kalian."
"Disini dulu, Bu. Aku takut sendirian."
"Sebentar saja, kasihan bapak kamu."
"Bu .... arrghh !"
Kenapa sih, hidupku tak seberuntung Si Ayu. Mulai dari hamil muda sampai mau melahirkan tetap saja tak dipedulikan, apalagi diperlakukan spesial. Semesta memang tidak adil.
"Bu, suaminya mana, yah ? Saya harus bicara sama suami ibu."
"Gak tahu, Dok. Suami kurang ajar yah, kayak gitu. Udah Dok, gak usah nunggu suami saya, keluarin dulu anak saya ini. Udah gak tahan mulesnya."
"Tenang, yah, Bu, saya Carikan wali ibu dulu. Kami harus minta persetujuan suami ibu, atau wali yang bertanggung jawab atas ibu. Sus, tolong cari keluarga Bu Dita."
__ADS_1
"Baik, Dok."
Ah, ribet sekali ! Apa susahnya bayi ini tinggal dikeluarkan, sudah tak tahan mau brojol.
"Saya suaminya, Dok." Akhirnya Mas Adit datang.
"Kita bicara sebentar, yah, Pak."
"Bicara disini saja, Dok. Buruan keluarin anak ini, aku udah gak tahan sakit banget !"
"Bicara saja, Dok. Kasihan istri saya, biar cepat ditangani."
"Jadi begini, Pak, ketubannya sudah pecah, tapi pembukaannya sangat lambat. Kalau terus dibiarkan, anak dalam kandungan istri anda bisa meninggal. Jadi, mau tak mau kita harus melakukan operasi Caesar.
"Apa, operasi ?"
"Betul, Pak, gak ada jalan lain. Silahkan putuskan, kita tidak punya banyak waktu."
"Aduh, biayanya pasti mahal kan, Dok ?"
"Sekitar tujuh sampai sepuluh juta."
"Hah ? Mahal banget."
"Udah Mas, tanda tangan aja ! Cari sana duitnya, aku udah gak tahan. Kamu mau anak kita kenapa-kenapa, hah ?"
Mas Adit terlihat berpikir cukup lama, gundah gulana memutuskan pilihan. Dasar suami tega, tinggal tanda tangan saja apa susahnya. Soal uang, dia bisa pinjam atau jual apa saja yang bisa dijual.
"Ya sudah, Dok, lakukan saja operasinya."
***
Setelah beberap jam penanganan, aku berangsur pulih. Namun, tentunya harus dirawat dulu beberapa hari. Ibu dan Mas Adit minta ruangan ku dan bapak disatukan, jadi kami dirawat dalam satu ruangan. Aku tengok kondisi bapak, sangat memprihatinkan. Kata Dokter, penyakit bapak merupakan gejala penyakit jantung.
"Nanti dibawa kesini kalau usah waktunya menyusui, Dit. Kamu makan dulu aja."
"Mas Adit kemana sih, Bu ? Udah tahu istrinya dirawat habis operasi tapi dari semalam dia gak kelihatan."
"Bilangnya sih, mau cari duit pinjaman. Kalau dia gak cari duit, bisa-bisa kamu gak boleh keluar dari sini, Dita."
"Terus, kalau bapak, pengobatannya bayar pakai apa, Bu ?"
"Gak tahu, ibu juga pusing. Ibu mau coba jual kulkas Si Ayu sama punya ibu."
"Astaga, nelangsa banget kita, Bu. Coba telepon bapaknya Si Ayu, Bu. Suruh bilangin sama Ayu dan Bagas kalau bapak sakit. Keterlaluan kalau mereka gak peduli."
"Ya sudah, nanti ibu pulang ambil baju kamu sama bapak, sekalian mampir kerumah bapaknya Ayu, sekalian minjem duit kalau ada. Ibu udah pusing banget."
Raut wajah ibuku sangat menderita. Mukanya suram, baju kusut, penampilan ala kadarnya, kantong mata menghitam. Kasihan sekali, sudah tua harus merasakan kesusahan seperti ini. Ini semua karena ulah Si Bagas. Anak durhaka, nanti di akhirat, aku sebagai Mbaknya yang akan jadi saksi kalau dia itu anak durhaka level tinggi.
Sebelum ibu pergi, Mas Adit datang. Tapi dia malah membawa serta Si pelakor yang tak tahu malu itu.
"Mas, kamu udah dapat uangnya ?"
"Udah, hasil pinjam."
"Pinjam sama siapa ?"
"Gak usah banyak nanya, Dita, yang penting kamu bisa keluar dari sini."
__ADS_1
Aku terdiam sejenak, mencurigakan sekali Mas Adit ini.
"Adit, sekalian bayarin uang rawat bapak mertuamu."
"Enak banget kalau ngomong, Bu. Dapat uang buat Dita saja aku setengah gila carinya. Ibu cari saja sendiri. Punya anak bungsu kaya, malah minta sama menantu dengan penghasilan pas-pasan kayak aku."
"Sudah, Bu, tidak usah minta bantuan sama mereka. Kita jual kulkas saja " Lirih bapak.
"Sana, Mas buruan bayar " ujar Bella. Mas Adit pun keluar dari ruang rawat. Dan beberapa saat kemudian kembali lagi.
"Semua biaya rumah sakit kamu sudah Mas bayar, besok kamu bisa pulang."
"Iya, Mas. Tolong panggil suster, aku mau ketemu anak kita."
"Iya, nanti aku panggilkan, sekalian Mas mau pamit kerja lagi."
"Dih, kamu gak mau nunggui aku sama anak kamu, Mas ?"
"Kalau aku disini terus, bisa-bisa kita kelaparan. Udah, jangan manja ! Tuh, ada ibu, kalau ada apa-apa telepon saja. Nanti malam baru aku kesini lagi."
Dasar suami otaknya kurang sekilo. Sama sekali tidak ada empati pada anak dan istrinya. Kesal, kalau bukan karena takut jahitanku buka, sudah aku kejar dan Jambak Si Bella. Dialah pembawa kerusuhan dalam rumah tanggaku.
***
"Gimana, Bu ? Udah dapat uang buat biaya rumah sakit bapak ?" Tanyaku setelah ibu kembali.
"Ibu dapat satu juta hasil jual kulkasnya Si Ayu. Kulkas ibu udah jelek, gak ada yang mau beli."
"Terus, bapknya Ayu gimana ?"
"Dia bilang Ayu sama Bagas belum menghubunginya. Gak tahu benar atau bohong, tapi ibu dikasih lima ratus ribu. Lumayan buat biaya makan."
"Pasti bohong tuh, bapak-bapak. Masa sih, Si Ayu gak pernah hubungi bapaknya. Terus gimana tagihan rumah sakit, Bu ?"
Perbincangan ku dengan ibu harus terpotong karena dokter dan suster datang. Kata dokter yang menangani aku dan dokter yang menangani bapak, besok kami sudah boleh pulang.
"Bu, silahkan diurus administrasinya, biar besok bisa langsung pulang setelah diperiksa ulang."
"Iya, Sus. Kalau minta tagihannya dulu, bayarnya besok, bisa gak, Sus ?"
"Bisa, Bu."
Suster dan Dokter keluar ruangan. Ibu pun izin ke bagian administrasi untuk mengecek tagihan. Beberap menit kemudian ibu datang dengan mata berkaca-kaca, dan tertunduk lesu.
"Kamu kenapa, Bu ?"
"Biaya rumah sakit, Pak... gede banget !"
"Berapa, Bu ?" Tanyaku cepat.
"Empat juta. Obat-obatan bapak cukup banyak dan mahal. Belum lagi satu Minggu sekali harus berobat jalan. Ya Allah, gimana ini ?"
Astaga, ada lagi kesusahan yang menerpa. Aku bisa apa, uang saja tak pegang. Mas Adit hanya bayar biaya rumah sakit, tapi aku tak diberi pegangan uang jajan, apalagi untuk bantu ibu dan bapak.
"Biar kami bantu, Bu." ujar seorang pria dan seorang perempuan seumuranku. Mereka masuk dan bersalaman.
"Nak Joni ?"
"Iya Bu, Ini istri Joni, Rina."
__ADS_1
"Siapa mereka, Bu ?"
"Temannya Bagas dan Ayu, Dit."