Melawan Mertua Julid

Melawan Mertua Julid
Mertua Sakit


__ADS_3

Dengan wajah syok, Ibu mertua terus berusaha menahan aku dan Mas Bagas.


"Bagas, tapi Bapakmu kan gak setuju kamu ke Jakarta. Masih aja bantah. Jangan jadi anak durhaka kamu, Gas !" Teriak Ibu mertua.


"Bagas udah gede, Bu !"


"Kalian keterlaluan ! Pindahan gak pamit dulu sama Bapak dan Ibu."


"Kami pamit yah, mertuaku yang cantik dan lucu mirip itik. Hehehe, becanda, Bu."


"Tunggu Bapak pulang dulu, Bagas !"


"Tolong sampaikan saja kami mau ke Jakarta, Bu."


Kami masuk ke mobil. Ibu mertua terus memanggil. Aku dada-dada saja sambil tersenyum lebar. Mobil bergerak meninggalkan pekarangan rumah. Dari kaca spion terlihat wajah Ibu mertua sangat kesal.


***


Hampir enam jam perjalanan, akhirnya kami sampai juga di rumah Mamaku. Disambut ramah oleh Mama dan saudara-saudara Mama. Kami langsung disuruh makan dan istirahat, sedangkan Kiara, full dijagain Mama. Beginilah nasib anak perempuan kalau pulang ke rumah ibunya. Jadi ratu yang paling disayangi. Beda kalau di rumah mertua, malah jadi pembantu.


"Ayu, mertuamu telepon ke Mama, tapi gak sempat Mama angkat. Ada apa yah ?"


"Gak usah di angkat, Ma." Sahutku.


"Lho, kenapa, Nak ?"


"Gini, Ma... Kayaknya Ayu memang harus cerita, deh."


Mumpung Mas Bagas sedang tidur, aku ceritakan saja kondisi sebenarnya yang aku rasakan selama ini di rumah mertua. Bukan untuk menambah beban pikiran Mamaku, atau apapun. hanya saja agar Mamaku juga paham, biar tak ada salah paham nanti kedepannya.


"Astaghfirullah, kenapa baru cerita, Yu ? Ya Allah, kasihan sekali Bagas. Udah bener kalian keluar dari rumah mertua kamu itu. Tinggal disini saja. Soal usaha pentol, rumah Mama cukup luas, disini saja dulu. Kalau kalian sudah punya uang, kalian bisa buat pabriknya."


"Amin, Ma. Doakan kami, yah."


"Iya, sayang, pasti. Jangan sedih, kamu harus semangat, dukung suami kamu. Doa yang banyak biar kamu kuat. Kasihan suami kamu, dia butuh sandaran."


"Siap, Mamaku yang cantik tak terkira."

__ADS_1


"Bisa aja kamu ini. Sudah, kamu istirahat. Kiara biar Mama yang urus."


Aku tersenyum lebar. Nikmatnya tinggal di rumah orang tua sendiri. Waktunya rebahan di samping suami. Baru saja mau menutup mata, kupingku terganggu dengan suara-suara dari ponselku dan juga ponsel suami. Nada deringnya saling bersahutan, macam lomba saja. Ku lihat, ternyata panggilan dari Bapak mertua, ibu, dan Mbak Dita. Karena tak kunjun dijawab, mereka bergantian menghubungi aku dan Mas Bagas.


Ih, berisik banget. Untung suamiku tidurnya kayak kebo. Gak bangun dia dengar hp rusuh kayak gini. Oke deh, aku angkat dulu. Daripada darah rendah di teror terus sama mereka.


"Hallo, Bu, kenapa ?"


"Kamu dimana ? Kenapa gak ngabarin ? Jangan durhaka jadi anak mantu !"


"Tenang, Bu... Ngomongnya udah kayak Valentino Rossi lagi balap aja. Ngegas ! Aku dirumah Mamaku. Kami lagi survei cari tanah sama mau buka usaha disini. Tenang, aku dan Mas Bagas nanti balik lagi. Pindahannya masih satu atau dua bulan lagi. Tergantung situasi dan kondisi."


"Pulang !!! Jangan main pindah aja. Gak sopan kalian sama orang tua."


"Hah... apa, Bu ? Aduh, Bu.. sinyal nya jelek, nih. Hallo, Bu..."


"Ayu, masa gak ada sinyal, sih ? Kamu denger gak ?"


"Bu, mana suaranya, Bu ? Bu..."


Tuuttt !


Sudah yah, Bu. Jangan ganggu dulu. Biarkan anak, menantu sama cucu ibu ini menikmati liburan disini. Aku mau jalan-jalan di Jakarta, sambil nostalgia waktu pacaran dulu sama suami. Tempat pertama yang mau dikunjungi adalah kota tua. Tempat kami pacaran dulu, banyak kenangan dan nuansanya romantis. Sekarang kami kesana lagi membawa personil baru. Buah cinta kami yang imut nan lucu.


***


[Hei, anak durhaka ! Cepat pulang, ibu sakit ! Mentang-mentang banyak duit, seenak kepala !]


Pas banget minjem ponsel suami, dapat pesan tak enak dari Mbak Dita. Aku abaikan saja. Begitu pula dengan Mas Bagas saat ku beritahu tentang pesan ini, dia bilang abaikan saja. Ya sudah, lanjut makan-makan.


Selesai mengecek lahan, kami sekeluarga pergi makan ke sebuah restoran. Soal tanah, aku dan suami sudah setuju. Lokasinya strategis dan penjualnya juga jelas. Masih ada hubungan keluarga dengan Mamaku.


"Mas, Bapak telepon." Ucapku memberitahu saat kontak Bapak mertua tertulis di layar ponselku.


"Biarkan saja. Tidak usah diangkat." Jawab suamiku singkat.


"Bagas, angkat. Takutnya ada yang penting. Mau bagaimanapun, kalian tetap harus hormat pada orang tua." Ujar Mamaku.

__ADS_1


Ya sudah, angkat saja.


"Hallo, Pak, ada apa ?" Tanya suamiku.


"Pulang ke rumah, Bagas ! Ibu dirawat, kena sakit tipes."


Hah, dirawat ? Perasaan baru ditinggalkan satu Minggu, mendadak sakit. Aduh, makan apa sih, ibu mertua sampai sakit dan harus dirawat. Yah, terpaksa harus segera pulang. Padahal aku masih ingin menikmati kedamaian disini.


"Jangan bohong, Pak. Kemarin Ibu baik-baik saja."


"Kamu gak percaya sama Bapak ?"


"Kalau gak ada buktinya, Bagas gak percaya."


"Dasar anak durhaka !" Umpat Mbak Dita. Suaranya terdengar sangat kencang. Sepertinya dia ada di samping Bapak.


"Dita, kirimkan foto Ibumu !"


Panggilan diputuskan begitu saja. Tak lama kemudian, Mbak Dita mengirim foto Ibu mertua yang sedang berbaring di ranjang rumah sakit.


Wah, ibu mertua beneran sakit. Aku pikir orang Julid tak bisa sakit, karena biasanya bikin sakit orang. Ternyata Ibu mertuaku tumbang juga.


Raut wajah Mas Bagas mulai berubah. Awalnya tak acuh saat melihat buktinya, sekarang tampak gusar. Wajar saja, Mas Bagas ini termasuk anak yang berbakti. Meski kesal dengan sikap dan perlakuan mertua, mana tega dia melihat kondisi ibunya yang terbaring lemah di rumah sakit begitu.


"Ayu, Bagas, sudah... sebaiknya kalian secepatnya pulang. Bu Ratih butuh perhatian kalian." Ucap Mama.


"Mas, gimana ?"


"Menurut kamu, Ibu beneran sakit ?" Tanya Mas Bagas.


"Ya, mana aku tahu. Tapi kelihatannya beneran. Ya udah, besok kita pulang ke kampung halaman kamu."


"Gak apa-apa, sayang ?"


"Ya, gak apa-apa lah suamiku. Meskipun ibu kamu suka banget nguji mental dan iman, tapi sebagai anak harus tetap berbakti."


Mas Bagas hanya diam. Sepertinya dia sedang berpikir keras.

__ADS_1


Kami lanjut makan dulu. Meski wajah gusar, gelisah dan lelah Mas Bagas tak bisa dikondisikan. Mungkin hatinya mendadak tak enak dengan kabar Ibunya sakit.


Aku sudah memberitahu Bapak mertua, kalau besok kami pulang. Jadi, pulang dari restoran langsung bergegas beres-beres. Toh, survei tanah juga sudah beres. Soal pembayaran bisa di omongkan lagi. Sekarang kesehatan ibu mertua nomor satu. Meski model mertua cerewet, tapi kalau dia sakit, aku pasti bakal rindu juga dengan tingkah anehnya yang selalu mengundang prahara.


__ADS_2