Melawan Mertua Julid

Melawan Mertua Julid
Bidadari


__ADS_3

Aku segera dilarikan ke rumah sakit. Ibu juga sudah menghubungi Mas Bagas, memberitahu keadaanku dan meminta Mas Bagas untuk segera menyusul kami ke rumah sakit.


Sudah hampir setengah hari, tapi tak ada kemajuan. Pembukaan masih stuck di pembukaan tiga. Ah, rasanya tak karuan.


Semua keluarga sudah datang. Papa dan ibu tiri, bahkan mamaku yang dari Jakarta, sudah dalam perjalanan kesini.


Aku sudah guling kanan, guling kiri, menangis, berusaha tertawa, tapi tetap saja mulesnya tak hilang-hilang. Berpuluh-puluh kali lipat rasa sakit dan mules saat mencret. Ini benar-benar membuatku ingin menyerah. Namun, demi anak tercinta aku harus berjuang melawan rasa sakit ini. Jika ibu-ibu diluar sana bisa melahirkan anaknya dengan selamat dan sehat, maka aku juga pasti bisa demikian.


"Ma, Bu, ibu tiri, semuanya, aku minta maaf, hiks, hiks." Aku takut kalau aku tak sempat minta maaf, sekaligus meminta keikhlasan mereka agar proses bersalinnya lancar.


Setelah subuh, akhirnya ada kabar baik.


"Pembukaannya sudah lengkap. Mari kita mulai proses persalinannya." Ujar bidan yang akan membantu proses lahiran.


"Bismillah, sayang, kamu pasti bisa !" Ucap Mas Bagas menguatkan.


"Bu, tarik nafas.... lalu mengejan."


"Eeee... Argh"


Satu tanganku berpegang pada ranjang rumah sakit, dan satunya lagi mencengkram kuat lengan Mas Bagas. Suamiku tampak lemas duluan. Maklum, dia paling takut melihat darah.


"Sayang, Mas tunggu diluar saja yah, nanti ibu yang temenin disini. Asli, Mas gak kuat, lemes banget. Itu darah kok banyak banget."


"Gak ! Mas gak boleh keluar. Mas harus temenin aku disini. Ini sakit banget, Mas... Arrgh !"


"Ayo, Bu. Sedikit lagi... ini kepalanya sudah kelihatan."


Aku cengkram tangan Mas Bagas sekuat tenaga, tarik nafas dalam-dalam, melafalkan doa dalam hati, meminta pertolongan agar dimudahkan proses lahirannya.


"Mengedan, Bu !"


"Eeee.... Arghh!"


"Aduh... Sakit, sayang." Mas Bagas ikut berteriak. Aku Jambak rambutnya sekuat tenaga. Biar sekalian bagi-bagi rasa sakit. Bikinnya aja enak-enak berdua, sakitnya juga harus patungan.


"Owek... owek... owek..."

__ADS_1


"Alhamdulillah, bayinya perempuan, Bu. Lahir dengan sempurna dan sehat."


"Alhamdulillah,"


Tak terasa air mata menetes. Tadi seluruh badanku rasanya sakit luar biasa. Rasanya nyawa sudah di ujung tenggorokan. Tapi begitu mendengar suara tangisan bayiku, sirna semua rasa sakit itu. Benar-benar keajaiban.


"Alhamdulillah, terima kasih, sayang... Terima kasih, bidadariku."


Masa Bagas mencium keningku dan tak henti berterima kasih. Hatiku luluh dan merasa hangat dengan sikapnya. Bersyukur, suami selalu menemani meski dia tak kalah lemas karena begitu takut melihat darah.


"Pak, anaknya sudah dimandikan. Silahkan diazani."


Mas Bagas mengumandangkan adzan di telinga anak kami. Air mata bahagia begitu deras mengalir di pipi Mas Bagas. Suara adzan suamiku sungguh merdu dan merasuk ke jiwa. Aku juga tertular, ikut menangis haru bahagia.


Ya Allah, terima kasih atas rezeki dan amanah yang luar biasa ini. Semoga putri kami menjadi anak yang Soleha, berkontribusi baik pada agama dan negara. Dan semoga bidadari kecil ini menjadi pembawa kedamaian dalam keluarga kami.


Setelah selesai, aku diizinkan untuk memeluk putriku. Ku dekap tubuh mungilnya.


"Terima kasih sudah berjuang, sayang. Anak Ayah dan Bunda yang hebat." Tak henti aku mencium putriku. Kelopak matanya masih tertutup, dan bibirnya yang tipis, mirip sekali Ayahnya.


"Dua bidadari Ayah..." Kami saling tersenyum dan berpelukan seperti teletabis. Sungguh, ini kebahagiaan terbesar yang aku rasakan.


.


.


Satu Minggu sudah berlalu. Sangat menggembirakan sekaligus banyak drama sebagai orang tua baru. Tapi, beruntungnya, selama lahiran sikap ibu mertua berubah sangat hangat padaku. Biasanya dia rewel karena Julid, sekarang rewel demi kebaikanku. Mulai dari memandikan Kiara dan memasakkan makanan untukku.


Entah kenapa, ibu mertua mendadak perhatian. Mungkin dia sangat gembira karena sudah diberikan cucu pertama. Atau takut karena ada mamaku juga disini, jadi mode hati baik, deh. Ah, entahlah.


"Makasih, yah, Bu Ratih, baik sekali sama anak saya." Ucap Mamaku.


"Tenang aja besan, besan cukup duduk manis, biar saya yang urus cucu kita."


"Siap, Bu Ratih."


"Alhamdulillah, yah, Nak. Mertua kamu baik sama kamu." Ucap Mama beralih padaku.

__ADS_1


"Hehehe, yah, begitulah." Aku tampilkan cengiran kuda.


Mamaku memang tak tahu jika keluarga suamiku toxic. Tentu, anak mana yang mau membebani orang tuanya. Selama ini aku pura-pura baik-baik saja dihadapan Mama. Ya, walaupun seandainya nanti sudah sangat keterlaluan, aku pasti akan cerita ke Mama.


"Dukun beranaknya sudah datang, ayo, acara mau dimulai, besan." Panggil ibu mertua.


Hari ini ada acara Puputan. Acara adat Jawa saat pusar anak sudah mengering. Rangkaian acaranya meliputi syukuran, dilakukan beberapa tradisi-tradisi, sekaligus acara aqiqah.


"Duh, cantik sekali anakmu, Yu. Mirip kamu, tapi 70% mirip bapaknya, hihihi."


"Hahaha, gimana sih Mbak Intan ini. Gimana ceritanya, mirip aku tapi 70% nya mirip Mas Bagas."


"Hehehe... Ihh, gemes deh dedek bayinya. Semoga saja nular, yah." Ucap Mbak Intan sambil mengelus perutnya.


"Namanya siapa, Yu ?"


"Kiara Mubsira, Mbak."


"Wah, nama yang cantik. Secantik orangnya. Apa sih artinya ?"


"Artinya, seorang anak yang mempunyai cahaya kecerdasan."


"Amiin, duh... dedek, gemes deh. Pengen cubit. Oh iya, Yu, kakak ipar kamu yang tukang sirik, Julid, muka tembok itu kemana ?"


"Hahaha, Mbak Intan ini ada-ada aja bahasanya. Gak tahu tuh, Mbak, semenjak aku lahiran, Mbak Dita ngerem terus dikamar. Gak tahu, mungkin lagi bertelur."


Semenjak aku lahiran, sikap Mbak Dita memang jadi berubah. Dia lebih banyak mengurung diri dikamar. Mungkin saat ini dia sedang cuti dulu membuat huru-hara denganku, karena masih ada empati dengan keponakannya. Baguslah, setidaknya setelah baru-baru lahiran ini, aku bisa bersantai dulu. Fokus mengurus bayiku tanpa dipusingkan dengan sikap kakak iparku yang suka abstrak. Ya, anggap saja pertempuran antara aku dan kakak ipar libur untuk sementara waktu. Aku sih berharap dia tak buat kegaduhan lagi, walaupun aku tak yakin karena bibit-bibit kehebohan dan kerusuhan tampaknya sudah mendarah daging pada kakak iparku.


"Ayu, bawa Kiara ke depan, kita mulai prosesi adatnya."


Acara demi acara dilakukan. Aku tak tahu nama tahapan-tahapan acaranya, tapi selama baik yah, tak apa. Namanya juga budaya, dilestarikan karena mengandung unsur-unsur kebaikan.


Dari semua rangkaian acara, inilah acara yang paling ditunggu-tunggu, yaitu saweran. Waktunya buang-buang duit. Para tetangga sudah berkerumun, siap menampung hujan duit.


Wer!


"Sawer,"

__ADS_1


"Disini... disini..." Teriak para fans menunggu hujan duit. Dan aku bahagia bisa berbagi rezeki lewat syukuran ini.


Sorenya dilanjut acara pengajian aqiqah dan potong rambut. Acara pengajian lebih syahdu dan hikmat.


__ADS_2