
Hampir saja ibu memukul kepala Mas Adit kalau tidak dihalangi Mas Bagas. Suamiku menyuruh mereka untuk masuk.
"Heh, Adit ! Dasar pria tidak bertanggung jawab ! Ngapain kamu kesini lagi, hah ? Laki tak berguna ! Kamu ini diculik atau sengaja kabur, hah ?!" ibu tersulut emosi.
"Sudah, Bu. Lebih baik ibu panggilkan dulu Mbak Dita kesini." Mas Adit menengahi.
Aku pun langsung duduk di sofa, samping Mas Bagas, sementara ibu langsung memanggil Mbak Dita yang berada di kamar.
"Mas Adit ? Akhirnya kamu pulang, Mas. Kamu gak apa-apa kan ?" Tanya Mbak Dita dengan mata berbinar-binar. Tapi anehnya, sikap Mas Adit terlihat tak acuh, bahkan terkesan menghindari Mbak Dita.
"Mas, kamu kenapa ?"
"Kamu tanya kenapa, hah ? Ini semua karena ulah kamu, hampir gila aku karena videomu itu, Dita !" lirih Mas Adit tapi nada suaranya penuh penekanan.
"Maksudnya apa sih, Mas ?"
"Duduklah, Nak Dita. Kami kesini agar Nak Dita menandatangani surat perceraian ini." ujar bapaknya Bella sambil menyerahkan secarik kertas.
"Cerai ???? Gak ! Gak, aku gak mau cerai dari Mas Adit. Kamu ini apa-apaan sih, Mas ? Bukannya kamu gak mau sama pelakor gila tukang tipu itu ?"
Raut wajah Mas Adit tampak frustasi, seperti menyimpan beban berton-ton di pundaknya. Ah, aku paham, pasti dia hampir setengah gila dengan sikap Bella dan keluarganya. Lihat saja, kantong matanya menghitam, mukanya kusam bagai keset becek.
"Arghh... cepat tanda tangan ! Bisa gila hidupku kalau terus kayak gini. Kamu cuma nambah masalah makin runyam, Dita. Segala buat video-video gak jelas."
"Video gak jelas gimana sih, Mas ? Itu semua demi menyelamatkanmu."
"Menyelamatkan dari Hongkong ? Gara-gara ulahmu hidupku makin hancur. Bukan cuma aku yang dalam bahaya, kamu dan anak kita juga jadi taruhannya, gara-gara ulah gila kamu itu !"
"Lha, terus..."
"Silahkan tanda tangan, Nak Dita."
"Eh, bapak-bapak ! Harusnya anda nasehatin anak anda yang apemnya kegatelan itu. Ini malah didukung, aneh, orang tua stres !"
"Adit !" Tegas pria paruh baya itu.
__ADS_1
"Dita, cepat tanda tangan !" ujar Mas Adit terlihat sangat ketakutan. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Mas Adit ? Kenapa dia terlihat begitu takut pada bapaknya Bella ini.
"Gila yah kamu, Mas !"
"Sudah Dita, tanda tangan saja. Dari pada hidup kamu makin gak karuan, Nak. Tenang saja, nanti ibu Carikan pria kaya raya buat kamu."
Astaga, ucapan ibu mertua malah begitu. Pengen ngakak menyaksikan anak dan ibu yang sangat unik ini.
"Bagas, aku harus gimana ?"
"Terserah Mbak. Aku gak mau ikut campur." Jawab Mas Bagas enteng. Dia malah membawa putri kami masuk ke kamar.
"Huuuh, adik edan ! Bukannya kasih saran."
"Silahkan tanda tangan, atau hidup anda dan putri anda tidak akan tenang." Ancam bapaknya Bella dengan penuh ketegasan. Serem sekali ekspresi wajahnya, mirip preman tukang malak.
"Arghh... kalau bukan karena Lea, gak bakal mau aku cerai. Kamu sih, Mas, Nemu dimana sih, perempuan gila kayak Si Bella ? Jadi ruwet kan hidup kita."
"Jangan banyak omong, Dita ! Cepat tanda tangan. Urus anak kita baik-baik. Aku pasti akan memberi kalian nafkah. Dan satu lagi, hapus video gilamu itu !"
Dengan wajah ketakutan, akhirnya Mbak Dita menandatangani surat perceraian itu. Pasti dia sangat sulit melepas pangeran berkuda nya. Harusnya dia bersyukur bisa berpisah dengan laki modelan Mas Adit, tahu aja hidupnya membaik.
Mas Adit tak menjawab. Dia bahkan tak sempat melihat anaknya. Kasihan sekali, wajahnya mirip buronan ditangkap polisi. Benar-benar suram.
"Mas Adit !" Teriak Mbak Dita bercucuran air mata. Ibu berusaha menenangkan putri kesayangannya, dan aku hanya menonton saja pertunjukan ini.
"Sudah Dita, nanti kita cari duda kaya buat kamu. Jangan nangis, kayak orok saja."
Dengan wajah sinis ibu membawa anaknya ke kamar. Aku duduk sambil menyunggingkan senyum, sama sekali tak kasihan dengan Mbak Dita yang frustasi karena baru saja dicerai. Pasti suatu saat dia juga sadar, bahwa diceraikan Mas Adit merupakan takdir terbaik. Ya, tahu aja dia sadar.
.
.
Sudah berbulan-bulan aku dan Mas Bagas sering bolak-balik kesini dari Jakarta. Mau bagaimana lagi, kasihan Bapak, meski ada istri dan anak kesayangan, tapi tak diperhatikan. Maka demi kebaikan, aku mengajak Mas Bagas untuk bisa membagi waktu disini. Dan saat ini, sudah hampir satu bulan penuh kami disini, karena kondisi kesehatan bapak semakin hari makin memburuk.
__ADS_1
"Dit, lihat deh, ini anaknya juragan Warso, sudah tanpa anak, banyak duitnya." ujar ibu menunjukkan foto seorang pria di ponselnya.
Lihat tuh, awalnya saja galau minta ampun. Sekarang biasa saja, apalagi kalau tetap menerima transferan dari sang mantan suami.
"Anak bungsu juragan Warso, Bu ?"
Aku terus menguping pembicaraan mereka.
"Ih, kagak ganteng, Bu ! Cari yang bener, Napa, Bu ? Biar aku bisa panas-panasin Mas Adit. Dendam aku sama dia. Lihat saja, akan aku buktikan hidupku bahagia meski tanpa dia."
"Tumben mikirnya bener, Mbak." ujarku sambil menyendok makanan.
"Heh, makan, makan aja ! Gak usah ikut campur."
"Suka-suka aku dong, Mbak. Rumah-rumah aku. Mau diusir ?"
"Ayu, makan dengan tenang, yah. Dita, udah, jangan buat perkara."
"Lihat saja nanti kalau aku sudah punya pria kaya, ogah aku tinggal disini."
"Hust, Dita ! Sudah, ayo jaga warung sama ibu."
Aku nyengir saja dengan tingkah mereka. Ibu memang sudah tak sejulid dulu. Ya, meskipun dibelakang masih suka ngomong-ngomong julid tentangku didepan tetangga. Biarkan sajalah, asal jangan sampai dia fitnah aku dengan hal-hal keji.
...
"Mas, Kiara udah tidur ?"
"Iya sayang, makanya Mas mau makan malam dulu."
"Sini Mas, aku suapi."
Aku suapi suamiku. Dia tampak sangat lelah. Aku paham, dia pasti lelah dengan situasi saat ini.
"Sayang, kita pulang saja ke Jakarta. Jangan bolak balik terus kayak gini. Urusan pabrik jadi banyak yang terhambat."
__ADS_1
"Sabar, Mas, nunggu kondisi bapak agak sehat. Lihat tuh, bapak kamu masih dirawat jalan dirumah. Kalau gak dipaksa kamu juga gak mau dirawat apalagi dibawa ke rumah sakit. Aku khawatir Mas, bapak sering sesak nafas dan makannya juga udah susah."
Suamiku terdiam menyerap ucapanku. Memang berat untuk memilih dalam kondisi ini. Menjaga bapak dan mengurus bisnis, dua-duanya penting, tak bisa dipilih salah satu. Ya, solusinya harus pintar-pintar membagi waktu kesana kemari. Tak apa bagiku, asal suami bisa berbakti pada bapaknya. Jujur saja aku khawatir meninggalkan bapak mertua disini, meski ada perawat khusus, tapi anaknya yang Julid dan suka buat huru hara suka sekali membuat kondisi bapaknya jadi tak stabil.