Melawan Mertua Julid

Melawan Mertua Julid
Gangguan Sang Mantan


__ADS_3

"Dita, maafkan aku, Dit. Aku masih sangat mencintaimu. Aku menyesal pasrah memilih bersama Bella, Dit."


"Ih, lepas !"


Emosi juga mendengar nam perempuan itu. Aku jadi ingat kisah pahit dulu saat dibuat bagai sendal bekas yang kotor dan tak berguna. Enak saja datang-datang malah peluk-peluk. Aku celingukan ke kiri dan ke kanan, takut ada yang lihat. Bahaya kalau Mas Aldi tahu, bisa bonyok mukaku ini.


"Dit, aku menyesal, Dit. Hidupku hampir gila bersama Bella. Ditambah lagi bapaknya bangkrut, aku hidup kayak gembel. Harus kerja sendiri, mengurus istri gila, bisa mati berdiri aku, Dit."


"Dih, terus masalah buat aku ? Syukurin ! Itu namanya karma buat kamu, Mas. Sana pergi, ngapain sih disini. Sorry yah, Mas, aku udah jadi orang kaya, punya harta banyak, dan hidup bahagia. Jangan ganggu-ganggu aku lagi. Nikmati saja hidupmu jadi gembel, hahaha."


"Dit, Mas tahu kau sangat mencintai Mas. Mas dengar suamimu jelek dan tukang mabuk kan ? Pasti kamu tidak bahagia walaupun punya banyak uang."


Sialan, kenapa dia tahu. Ih, menyebalkan, aku tak boleh kelihatan menderita. Aku percaya kalau uang bisa membeli segalanya, termasuk kebahagiaan. Meski sikap Mas Aldi kurang ajar, tapi uangnya selalu bisa membahagiakan aku.


"Halah, sok tahu kamu, Mas ! Sana, keluar dari sini !"


"Dita, aku mohon, maafkan aku. Ceraikan saja suamimu itu."


"Apa ??? Kamu minta aku menceraikan suamiku yang kaya raya ini lalu kembali hidup miskin sama kamu ??? Hahaha, bangun Mas, kayaknya kamu masih mimpi deh. Sana pergi !"


Aku panggil pak satpam yang berjaga untuk mengusir Mas Adit.


Dasar pria kurang sekilo, bisa-bisanya dia datang dan mengajakku pergi bersamanya. Najis, ogah aku hidup susah. Meskipun Mas Adit lebih tampan dari Mas Aldi, tapi aku sudah gak Sudi diajak melarat.


"Waktunya istirahat..."


Aku rebahan di kamar sambil maskeran. Enak sekali hidup seperti ini, tak usah masak, makan tinggal makan, tugasku hanya mengurus bayi besar, yakni Ma Aldi.


"Dita !!!" teriak Mas Aldi. Aku langsung bangun dan cuci muka. Suara Mas Aldi sangat menggelegar, itu pertanda dia sedang marah. Aduh, apalagi salahku. Tangan jadi gemetar karen ketakutan.


"Dita !"


Bugh !


Pintu kamar di buka secara kasar. Mata Mas Aldi melotot mirip genderuwo. Jantungku hampir copot melihat tingkahnya. Apa kesalahan yang sudah aku perbuat sampai dia bersikap seperti ini ?


"Aw, sakit, Mas. Aku salah apa , Mas ?"


Mas Aldi menjambak rambutku. Perih sekali, rasanya mirip dicabut sehelai demi sehelai. Sialan, laki turunan Dajjal.


"Arrghh, lepas, Mas. Atau aku teriak dan kamu bakal masuk penjara, hah !"

__ADS_1


Mas Aldi langsung melepaskan cengkeramannya, ternyata dia punya rasa takut juga. Dia masih menatap tajam dengan suara nafas tersengal-sengal.


"Siapa pria itu ? Kamu selingkuh ?!"


"Hah ? Maksud kamu, Mas Adit ?"


"Oh, pria itu bernama Adit. Kamu main gila sama dia, hah ?"


"Apaan sih, Mas. Dia itu Mas Adit mantan suamiku. Dia gila, tiba-tiba datang kesini. Harusnya kamu marah sama dia, bukan sama aku."


"Awas saja kalau kamu berani main gila."


"Dih, stres kali, ngapain aku sama pria miskin kayak dia, aku ini sudah senang jadi istrimu, Mas."


"Bagus, awas kamu berani macam-macam, orang-orang kepercayaanku akan mengawasi."


"Iya, silahkan awasi saja, bukan aku yang aneh-aneh tapi Si Adit yang stres, sana usir dia, aku udah berusaha usir dia. Lagian, satpam kamu gak becus, bukannya jaga rumah, malah leha-leha. Jadinya pria gila itu masuk ke teras rumah kita."


"Nanti aku urus, kamu diam dirumah, jangan banyak tingkah. Kalau sampai kamu main gila, aku usir kamu ke neraka !" bentaknya menggelegar.


Dia pergi sambil menutup pintu sangat kencang. Dadaku bergetar ketakutan. Aku duduk mendekap dengkul sambil nangis sesenggukan. Dita, kamu harus kuat, jangan sampai kalah dengan keadaan. Hidupmu sudah enak, kamu harus bertahan.


.


.


"Bu, berisik banget sih, urus Lea dengan benar, Bu."


"Ibu pusing, Dit."


"Pusing kenapa lagi, Bu ? Minum obatlah. Urus Lea yang benar, pusing kepalaku. Pusing ngadepin Mas Aldi yang kayak monster, ditambah lagi anak ini nangis terus. Bisa stres aku, Bu !"


"Ibu harus gimana, Dit ? Kepala ibu pusing banget."


"Minum obat sama, bu. Bangun makanya, jangan tiduran terus."


Aku tarik tangan ibu agar dia bangun. Mukanya pucat, tangan juga panas. Harusnya kalau sudah tua paham dengan diri sendiri. Bukan menunggu penyakit semakin parah. Apa susahnya minum obat.


"Ibu !!!" teriakku panik. Ibu pingsan di sampingku. Ditambah suara tangisan Lea yang tak mau berhenti.


"Tolong... Mbok !" Aku panggil pembantu.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian Mbok dan Pak satpam datang. Aku panik luar biasa melihat kondisi ibu yang lemas tak berdaya.


Segera aku bawa ibu ke klinik terdekat. Sementara Lea dititipkan ke Mbok.


...


"Ibu saya sakit apa, Dok ?"


"Bu Ratih cuma kelelahan, jadi darahnya rendah, dan itu yang menyebabkan beliau pingsan. Tolong, ibunya jangan sampai kecapean terus, yah, Mbak. Bahaya, takutnya gejala tipes, nantinya malah semakin parah sakitnya."


"Kasih obat yang mahal dan bagus, Dok. Biar ibu saya cepat sembuh."


"Baik, Bu. Semoga ibunya cepat sembuh."


Kami pulang setelah mendapatkan obat. Aku kesal sendiri, lagian kenapa ibu bisa kecapean, hanya mengurus bayi satu saja sampai sakit begini. Perasaan dulu, ibu kuat mengasuh aku dan Bagas.


"Bu, dijaga dong makannya. Pasti ibu salah makan, masa kecapean, orang kerjanya cuma jaga Lea."


"Lea itu aktif banget, Dit. Ibu kecapean, namanya juga sudah tua. Beda pas ngurus kamu sama Bagas dulu, ibu masih muda. Harusnya di masa tua, ibu hidup tenang dan nyaman tanpa capek bekerja."


"Heran deh, ibu ini, gak ada bersyukurnya sama sekali. Cuma jagain anak satu aja, udah kayak babu di istana negara."


Ibu terdiam dengan mata berkaca-kaca. Bukannya didengarkan baik-baik, malah mewek. Heran, apa ada yang salah dengan ucapanku ?


"Minum obatnya, Bu, jangan manja kayak bocil. Pusing aku, jangan nambah pikiran makin ruwet."


Lagi-lagi ibu hanya diam dengan mata berkaca-kaca. Terserahlah, sensitif sekali ibuku. Dia pikir jadi aku juga gak capek, hah ?


"Dit, sebentar, ibu mau bicara." panggil ibu ketika aku mau keluar dari kamarnya.


"Apalagi Bu ? Tinggal ngomong aja, apa ? Jangan lama-lama, aku masih banyak urusan."


"Ibu mau ikut Bagas saja, biar ibu gak merepotkan kamu."


"Ngomong apa sih, Bu ? Nanti Si Ayu malah menghina aku. Udah, tinggal disini aja. Ibu ini gak bersyukur banget !" bentakku emosi.


"Mbak, kasihan Bu Ratih lagi sakit, jangan dibentak-bentak."


"Gak usah ikut campur, Mbok ! Sana beli bubur suruh pak supir, terus Mbok jaga Lea."


Mbok pamit keluar, sementara ibu menunduk sambil menangis. Aku tinggalkan saja, tak ada waktu mengurusnya. Susah tua masih saja manja.

__ADS_1


__ADS_2