Melawan Mertua Julid

Melawan Mertua Julid
Penjara rumah mertua


__ADS_3

"Dit, katanya kamu mau belikan ibu emas. Tadi kamu ngajakin ibu ke ATM, kirain mau langsung ke toko emas."


"Kapan-kapan aja, Bu. Mas Adit cuma ngirimin uang satu juta. Mana cukup buat foya-foya."


Seperti biasa, saat mertua dan kakak ipar terdengar membuka pintu, aku langsung menajamkan telinga untuk mengetahui kemana langkah kaki mereka. Sekarang mereka sedang duduk santai di dapur.


"Itu kamu beli baju, masa ibu cuma di beliin ayam doang. Minimal beliin ibu daleman kek gitu."


"Kapan-kapan lagi aja, Bu. Dita beli baju juga karena disini Dita gak punya baju bagus. Kalau Dita banyak duit juga Dita kasih."


"Kapan ?"


"Ya gak tahu. Mas Adit sekarang berubah, Bu. Masa setiap bulan Dita di kasih satu juta doang. Mana cukup buat sehari-hari."


"Coba kamu selidiki. Jangan-jangan ada janda yang gangguin suami kamu.


"Ih, ibu kalau ngomong jangan nakut-nakutin gitu ah."


"Ya, waspada itu penting, Dit."


Bruak !


"Aw !"


"Ayu ?!"


Aduh, mode apes hari ini. Sedang asik nguping malah jatuh karena ceroboh. Niat hati mau sembunyi di gorden, malah ketarik sampai jatuh semuanya.


"Hehehe, mau ambil jajan, Bu. Gordennya udah rapuh, Bu. Masa kesenggol aja langsung jatuh semua."


"Kamu pasti nguping ya ?"


"Nguping apa, Bu ? Orang aku mau ambil buah."


Dengan percaya dirinya aku berjalan melewati dua orang ini. Mencoba mencari buah kesukaan ku. dikobok-kobok kulkasnya, tetap gak ada.


"Bu, alpukat Ayu mana ?"


"Udah Mbak makan. NuGet, kentang sama jajanan kamu juga habis."

__ADS_1


Benar saja. Aku cek setiap laci dalam kulkas, bersih tak ada makanan milikku.


Hanya ada sayuran yang baru ibu masukkan tadi.


"Lho, kok di habisin ? Izin dulu dong, Mbak."


"Kenapa harus izin ? Ini kan kulkas bersama, ya, siapa aja boleh makan."


Astoge, jantungku kembang kempis mendengar ucapan Mbak Dita. Lama-lama ****** ku juga lebar karena terlalu sabar.


"Udahlah, Ayu. Cuma jajanan doang, jangan pelit. Ini juga karma buat kamu yang suka nguping. Gak sopan banget jadi menantu."


Aku pergi dengan perasaan kesal meninggalkan dua orang itu menuju kamar. Baru aja kemarin beli jajan, udah ludes gak bersisa. Nasib tinggalnya numpang di mertua ya begini. Harus di terima dengan lapang dada.


Mulai sekarang aku mau fokus aja cari uang, bisa bisa segera bebas dari penjara rumah mertua.


***


Dua bulan berlalu. Berdasar tekad dan keinginan yang membara, perlahan konten-konten yutub dan Tik Tak kami mulai banyak penontonnya. Penghasilan kemarin menyentuh angka lima juta. Gak nyangka, buah dari kesabaran begitu manis.


Namun, cobaan juga rasanya makin kencang saja. Keberadaan Mbak Dita di rumah ini rasanya membuat hari-hari ku naik darah melulu. Aneh sebenarnya, kenapa dia masih ada disini. Seperti ada yang di sembunyikan. Tak mau tinggal di rumahnya, tak mau balik ke Jakarta. Kerjaannya bikin keributan setiap hari.


"Mas, kamu kirim aku lima ratus ribu doang ? Kalau begini mana bisa aku balik ke Jakarta ? Atau kamu sengaja biar aku lama di kampung."


"Jangan-jangan firasatku benar kalau kamu selingkuh, Mas ?"


"Terus kenapa jatah bulananku semakin sedikit ?"


"Kok malah kamu yang marah sih, Mas ?"


"Mas !" Teriak Mbak Dita kesal karena sambungan telepon di putus secara sepihak oleh suaminya.


Takut ketahuan, aku berjalan mengendap-endap menjauhi kamarnya. Kalau dia tahu aku nguping, bisa-bisa mulutnya mengomel seperti petasan malam tahun baru, lama baru selesai.


Aku kembali ke kamar. Tiduran di samping suamiku yang kembali tidur setelah salat subuh. Badannya demam. Sepertinya dia terlalu kecapean karena sering begadang. Pekerjaan kami akhir-akhir ini memang terasa padat.


"Nyantai dulu, ah."


Buka HP, scroll sosial media. Hari Minggu, aku mau libur dulu dari membuat konten. Agenda hari ini, mau rebahan aja sambil memanjakan suami.

__ADS_1


Ada video Tik Tak yang fyp di beranda. Seorang wanita dengan busana seksi mengunggah video dengan pacarnya. Meski hanya bagian punggung dan samping yang terlihat, aku yakin kalau pria dalam video itu sangat mirip dengan Mas Adit.


"Mas Bagas, bangun dulu, Mas. Coba lihat ini, penting." Aku coba bangunkan suamiku. Mau minta pendapatnya. Apakah juga sama denganku atau mataku yang mulai rabun.


"Coba lihat deh, Mas. Kayaknya Mas Adit selingkuh."


Suamiku perlahan membuka mata, kemudian ikut duduk dan mengambil ponselku. Matanya langsung melotot.


"Iya sayang, ini kayak Mas Adit."


"Jangan-jangan kakak ipar kamu selingkuh, Mas. Aduh, kacau, bisa perang dunia ketiga kalau kayak gini."


"Biarin aja, sayang."


"Kok di biarin, Mas ?" Suamiku malah tidur lagi. Seperti orang yang tak peduli.


"Mas, malah tidur. Kita harus kasih tahu berita ini ke kakak kamu. Biar dia cepet nyamperin suaminya ke Jakarta."


"Biarin aja, Sayang."


"Lah, kalau kakak kamu benar di selingkuhin gimana ?"


"Derita dia."


Astaga, suamiku sangat seram jika sudah hilang simpati dengan orang lain. Tentu sikapnya ini didasari banyak hal. Aku jadi ingat, dulu Mas Bagas melarang kakaknya menikah dengan Mas Adit karena merasa pria itu bukan orang baik. Tapi, kakaknya bersikeras menikah dengan pria yang baru satu bulan dia kenal.


"Mas, beneran kita gak usah kasih tahu, nih ?"


"Iya. Percuma di kasih tahu juga. Mbak Dita itu keras kepala. Mana percaya dia sama kita. Yang ada nanti dia malah marah-marah karena menganggap kita fitnah."


"Benar juga sih, kakak kamu mana terima suami tercintanya kita tuduh selingkuh. Bisa meletus gunung Merapi kalau kita senggol amarah Mbak Dita. Ya udahlah, bodoh amat."


"Bagus. Mending kamu peluk Mas. Dingin banget, sayang."


Aku buka selimut, lalu memeluk suamiku. Bukan ikut tidur, aku malah terperanjat kaget. Badan Mas Bagas panas banget. Mirip panasnya telor ceplok yang baru di goreng.


"Mas, kamu panas banget udah kayak air termos. Kita berobat aja yah."


"Gak usah sayang, nanti juga turun demamnya. Aku cuma butuh istirahat."

__ADS_1


"Ih, dasar orok besar. Pokoknya harus berobat. Kamu nih, udah kurus kering, disuruh berobat susah banget."


Suamiku tak menggubris ucapanku. Dia malah menutup mata pura-pura tidur. Buat emosi naik saja. Inilah salah satu sifat yang aku benci. Dia tipe orang yang tidak peduli diri sendiri. Kerja banting tulang demi istri dan orang tua, sampai sakit pun tak dirasa. Kalau bukan aku yang mengomel menyuruhnya untuk istirahat, pasti dia sudah kabur ke pangkalan ojek.


__ADS_2