Melawan Mertua Julid

Melawan Mertua Julid
Sertifikat Rumah


__ADS_3

Waktu berjalan dengan semestinya. Dan saat ini, aku tengah mengandung buah cintaku dengan Mas Bagas.


Bulan ini, usia kandunganku menginjak empat bulan. Dan selama kehamilanku, Alhamdulillah, rezeki melimpah terus mengalir.


Hampir delapan bulan memulai usaha pentol, sekarang kami sudah membuka banyak cabang di kota ini. Rencananya, mau buka cabang di tempat bestiku, Cindy. Tapi belum ada kelanjutannya karena sejak hamil aku sangat sibuk. Dan sekarang, aku hanya bisa fokus untuk video yutub. Urusan pentol, sudah ada karyawan yang melakukan produksi di ruko yang kami sewa.


"Oh iya, besok itu cicilan terakhir bank. Aku harus ke bank untuk mengambil sertifikatnya"


Semenjak kejadian huru hara gara-gara cicilan rumah, hubungan ku dengan mertua semakin renggang. Bahkan saat acara empat bulanan, dia telat datang. Alasannya ada urusan.


Mas Bagas datang membawa kresek di tangannya.


"Ini sayang, telur kembarnya. Sesuai permintaan kamu."


"Yes, akhirnya ! Lama banget sih, Mas."


Tadi aku nitip belikan martabak telor, yang telornya kuningnya dua.


"Maaf, sayang. Tadi Mas mampir dulu ke rumah ibu."


"Ngapain ?" Tanyaku sambil membuka kresek berisi martabak telor pesananku.


"Ngasih uang buat bayar cicilan rumah."


"Ih, selalu aja gak ngomong. Besok tuh cicilan terakhir di bank. Kita harus ikut urus, karena perjanjiannya sertifikat akan dibalik nama atas nama kita."


"Iya, besok yah, sayang. Udah, jangan emosi. Ingat, kamu lagi hamil. Harus tenang."


"Mana bisa tenang ? Pokoknya besok kita ke bank."


"Siap, sayang."


Aku melotot sambil makan martabak telur kembar. Rasanya nikmat sekali. Janin di kandungan ku bersorak bahagia karena terpenuhi keinginannya.


"Sayangnya Ayah, sehat-sehat yah."


Mas Bagas mengusap perutku. Bukan senang, aku malah kesal. Aku hempaskan tangannya dengan bibir manyun.


"Kenapa, sayang ?"


"Bayinya kesal sama kamu."


"Bayinya atau ibunya ?"


"Dua-duanya ! Selalu saja soal duit gak bilang dulu. Mentang-mentang kita udah berkecukupan, tapi tolong jujur."

__ADS_1


"Iya, sayang, maaf..."


"Maaf-maaf, makan tuh maaf."


Mas Bagas memelukku dari belakang dan mengusap punggungku.


"Jangan marah yah, bidadariku. Kamu gak boleh banyak pikiran, kasihan anak kita."


Mendadak hati ini meleleh. Kayaknya bayiku bucin. Baru dipeluk dan digombali suami saja sudah luluh, seperti ibunya sih, hehehe.


"Tidur, Mas."


Waktunya berpelukan dan menyelami kenikmatan surga dunia. Saling menghangatkan dalam dekapan cinta. Berdoa, semoga cinta kami bisa Sekokoh karang di lautan, meski perekonomian kami beranjak naik.


   ***


"Maaf, Bu. Setoran atas nama Bu Ratih sudah lunas. Sertifikatnya juga sudah diambil dari kemarin.


"Apa ? Mas, kok gini sih ?"


"Mas gak tahu, sayang."


"Lho, kok gak tahu, sih. Mas harusnya tahu. Jangan-jangan Mbak Dita ada di rumah ibu kamu ?"


"Emang dua bulan ini, Mbak Dita di rumah ibu."


"Kamu gak nanya, sayang."


"Ih, ngeselin ! Ayo kita ke rumah ibu sekarang."


Kami naik motor menuju rumah ibu mertua. Untung surat perjanjiannya aku bawa. Kemungkinan kayak gini memang bisa saja terjadi. Apalagi melihat karakter kakak iparku yang suka sirik dan gak mau kalah. Pasti dia takut aku menguasai harta orang tua nya. Harusnya dia mikir, uang yang aku dan suami keluarkan untuk bayar cicilan rumah selama delapan bulan ini sudah mendekati harga tanah dan rumah di kampung ini. Wajar kalau aku meminta sertifikatnya di balik nama. Toh, aku juga tak akan mengusir mertuaku dari rumah itu. Hanya langkah antisipasi agar Mbak Dita tidak menjaminkan rumah itu lagi.


"Assalamualaikum, Bu..."


Sudah lima menit di depan rumah mertua, tak ada seorang pun yang membuka pintu. Kemana semua penghuni rumah ? Jangan-jangan sengaja menghindar, mau lari dari kenyataan.


Seorang Ayu tak akan kehabisan akal. Pintu depan ditutup, masih ada pintu belakang. Aku ajak Mas Bagas memutar menuju pintu belakang. Untungnya pintu belakang tidak dikunci. Kami masuk, di dapur tak ada orang begitu juga di kamar. Sekilas aku intip, ternyata Mbak Dita dan ibu ada di ruang tamu. Wah, parah ! Mereka ada disana tapi sama sekali tak berniat membukakan pintu untuk kami.


"Kayaknya Si Ayu udah pulang, Bu." Ucap Mbak Dita.


"Syukurlah. Suaranya udah kayak kaleng rombeng, bikin pusing."


Mereka berdua duduk, namun sedetik kemudian mata mereka bertemu pandang denganku yang semakin mendekat ke arah mereka. Dengan senyum miring aku ikut duduk di sofa.


"Kalau mau menghindar, pintu belakang juga ditutup, Mbak Dita."

__ADS_1


"Ayu, kamu ngapain sih kesini ?" Ucap Mbak Dita dengan wajah juteknya.


"Mana surat sertifikat rumahnya."


"Mana aku tahu."


"Bu, suratnya mana ?"


"Ibu juga gak tahu. Kamu tanya pihak bank sana. Bagas, bawa saja istrimu pulang. Ibu lagi pusing."


Mas Bagas hanya diam, tak berani dia melirik tatapan maut ku.


"Mas, cari !" Perintahku tanpa melepas pandangan dari ibu dan Mbak Dita.


"Bu, kasih yang Ayu mau. Itu sudah hak kami." Ucap Mas Bagas.


"Hak dari Hongkong ? Rumah ini masuknya harta warisan, enak aja mau dikuasai sepihak." Sentak Mbak Dita tak terima.


"Mbak nanya hak dari mana ? Yang bayar cicilan, kami. Kenapa habis lunas Mbak yang menguasai ? Malu dong, Mbak. Rumah ini hampir disita gara-gara ulah Mbak. Untung kami mau bantu bayar. Tapi, di dunia gak ada yang gratis. Secara gak langsung, kami sudah membeli rumah ini."


"Kamu ini rakus, Ayu ! Harta mertua mau dikuasai juga. Ingat dosa, Ayu !"


"Siapa yang rakus, Bu ? Nih, surat perjanjiannya ada. Ini sama dengan surat jual beli rumah ini." Aku mengibaskan map berisi surat perjanjian itu di hadapan mereka.


"Bu, berikan saja sertifikatnya. Bagas dan Ayu gak akan mengusir ibu dan bapak dari rumah ini. Kalian tetap tinggal disini, tapi sertifikatnya atas nama kami dan kami yang simpan."


"Enak saja kamu, Bagas ! Mbak sudah bilang rumah ini masuknya harta warisan. Kalau mau dibagi ya bagi rata dong. Enak saja main balik nama seenaknya."


"Hahaha, ya ampun, Mbak Dita ini S1 dimana sih ? Ya Allah, lucu banget tingkahnya, gemes aku Mbak. Aku jadi ngidam pengen gigit tangan Mbak, deh."


"Kurang ajar kamu, Ayu !!"


"Lagian Mbak ada-ada aja. Jelas-jelas uang hasil pinjaman Mbak yang makan. Kami gak kebagian sama sekali. Hitungannya Mbak yang sudah menguasai rumah ini. Sementara kami, minta sertifikat karena kami sudah bayar."


"Halah, itu akal-akalan kalian saja. Sok-sokan jadi pahlawan kesiangan, padahal mau merampok ibu, bapak dan hak aku."


"Ya sudah, kita berdebat di pengadilan saja. Aku punya surat perjanjian ini, siap-siap kalah di persidangan. Atau aku tuntut saja Mbak Dita mengembalikan uang yang sudah kami keluarkan. Kalau tidak bisa bayar, aku bawa ke polisi."


"Astaghfirullah... Bagas, istri kamu keterlaluan." Ibu mertua kaget dan juga terlihat takut.


"Sayang..."


"Kenapa, Mas ? Apa aku salah ?" Tanyaku sambil mendelik. Suamiku tertunduk dan pasrah. Dia tak punya alibi menyalahkan perbuatanku. Apa yang aku lakukan sesuai perjanjian di awal. Aku hanya ingin melindungi rumah ini dari Mbak Dita. Toh, aku juga gak akan tega mengusir mertuaku dari rumah ini.


"Kamu pamit, Bu, Mbak. Nanti tunggu saja surat penangkapannya atas tuduhan penipuan, karena jatuhnya kalian sudah menipuku."

__ADS_1


Aku buka kunci pintu depan. Suamiku mengekor di belakangku. Ibu mertua berusaha meminta bantuan suamiku, tapi suamiku juga hanya bisa pasrah.


"Ayu, tunggu !!!"


__ADS_2