Melawan Mertua Julid

Melawan Mertua Julid
Gosip Terbaru


__ADS_3

Sudah dua hari aku menunggu ibu di rumah sakit. Cukup melelahkan karena aku juga membawa Kiara, tapi syukurlah kali ini ibu tak rewel.


"Makan dulu, Bu."


"Iya, Yu."


"Makannya sambil nonton Mas Bagas, yah. Hari ini dia masuk tv."


"Beneran, Yu ?"


"Iya, Bu, nih."


Aku ganti siaran tv untuk masuk ke siaran langsung suami. Mas Bagas terlihat begitu keren di dalam layar kaca. Bukan hanya aku yang bangga, kali ini ibu mertua juga sangat bangga. Senyuman tak henti tergambar di wajahnya.


"Mas Bagas, apa sih rahasianya Mas Bagas bisa sukses kayak gini. Padahal katanya Mas Bagas ini bukan mahasiswa jurusan bisnis atau lainnya. Tapi, kok bisa gitu, punya usaha yang meledak ?" tanya presenter.


"Alhamdulillah, setiap usaha itu pasti ada cara jitu untuk menggaet rezeki. Disini saya mau berbagi tips biar teman-teman semua mudah menggaet rezeki."


"Wah, seru nih, pembahasannya. Pemirsa semua harus dicatat."


"Ada dua tips dari saya, yang pertama tentunya ibadah sesuai kepercayaan masing-masing. Karena sehebat apapun kita, kalau tidak minta bantuan pada sang kuasa, tetap seret jalannya."


"Betul banget itu, lalu yang kedua apa ?"


"Yang kedua ini, yang jarang diingat, dan bahkan sering disepelekan, yakni bahagiakan istri dan orang tua. Karena doa mereka itu sangat ampuh dan mujarab."


"Luar biasa, tepuk tangannya dulu." Penonton riuh memberikan tepuk tangan. Presenter perempuan yang membawakan acara, tersenyum antusias.


Acara terus berlanjut, sekitar tiga puluh menit siaran baru selesai. Aku langsung mengirim pesan semangat untuk suami.


"Ayu..."


"Eh, Mbak Intan, udah datang."


"Iya. Eh, Yu, kamu lihat suami kamu masuk tv ?" tanya Mbak Intan yang baru datang.


"Iya Mbak, barusan nonton sama ibu."


"Bagas keren banget, deh, udah setara kayak artis dia masuk tv. Nanti aku mau minta tanda tangan, ah. Suruh balik yah, Yu, mau minta foto bareng."


"Hahaha, ada-ada aja, Mbak."


"Beneran loh, Bagas itu emang layak jadi anak kebanggaan Bu Ratih, gak kayak Si Dita. Oh iya, ngomong-ngomong soal Dita, ada gosip baru, nih, tentang Dita." lirih Mbak Intan. Sepertinya dia tak mau ibu dengar.


"Apa, Mbak ?"


"Pabrik rokok bapaknya Si Aldi itu ilegal, gak bayar pajak. Terus, tadi aku lihat ada polisi datang ke pabriknya."

__ADS_1


"Hah, serius, Mbak ?" Mbak Intan mengangguk pasti. Sepertinya Mbak Dita dalam masalah besar.


"Astaghfirullah, serem !" teriakku kaget.


Ibu yang sedang istirahat langsung melirik ke arah kami. Mbak Intan melotot tanda agar volume suaraku dikecilkan.


"Jangan berisik, nanti ibu mertua kamu makin parah."


"Hehehe, iya, Mbak. Maaf, aku beneran kaget."


Aku izin pulang dulu ke rumah, mau ganti pakaian, sekalian bawa Kiara pulang. Kasihan sudah terlalu lama di rumah sakit. Yah, walaupun aku memesan kamar VIP khusus satu pasien, tetap saja ini rumah sakit. Besok aku minta pulang saja, atau dipindahkan ke rumah saja rawat inapnya.


...


"Ayu, ibu mertua kamu gimana ?" tanya Bu Ijah mencegat mobilku.


Aku turun dulu, sekalian menyapa. Ada Inem juga disana, tahu aja ada gosip terkini tentang Mbak Dita. Maklum, aku ini golongan ibu-ibu juga, ya, sedikit suka gosip. Tapi, gosip tertentu saja, tentang Mbak Dita misalnya.


"Masih dirawat, Bu. Doakan semoga besok sudah bisa pulang."


"Amin. Si Ratih itu kayaknya banyak pikiran, jadi sering sakit-sakitan kayak gitu."


"Pikiran apa toh, Bu. Makan tinggal makan, aku dan Mas Bagas selalu ngirim uang bulanan."


"Itu kan kalian, tapi anak Ratih kan ada dua. Si Dita ini loh, yang tukang buat rusuh. Kalau aku jadi emaknya, kepalaku bisa botak punya anak kayak gitu."


"Bener tuh, Bu Ijah, amit-amit jabang bayi punya anak modelan kayak Dita." ujar ibu-ibu yang sedang membeli sayur juga.


"Masa sih, Nem ?"


"Serius !"


"Sekarang ada kabar lebih hot lagi." ujar ibu-ibu yang punya orang tua satu kampung dengan Mas Aldi.


"Apa tuh ?" tanya ibu-ibu tukang gosip dengan sangat kompak.


"Juragan Warso masuk penjara, Si Aldi juga terancam masuk penjara, karena pabriknya ilegal. Sekarang pabriknya disita polisi, urusannya ribet."


"Ih, serem banget !" sorak riuh para ibu.


"Mbak Dita nya, gimana ?" tanyaku.


"Mana aku tahu, katanya pas suaminya dibawa ke polisi Dita sempat pingsan, dia lagi hamil muda, makin stres aja."


"Hamil ?"


Anaknya bahkan masih kurang dari dua tahun, bahkan lebih tua anakku, sudah mau punya anak lagi. Aku buru-buru pamit saja, karena Kiara yang tidur di mobil sudah terbangun. Aku segera pulang, sarapan dan memandikan Kiara.

__ADS_1


Soal gosip tadi, mau aku ceritakan sama Mas Bagas, tapi suamiku sibuk sekali. Ya sudah, akhirnya aku tidur saja dulu, mumpung anakku juga tidur lagi.


...


"Ayu, bangun, Yu !"


"Ayu !"


"Mbak Intan ? Aduh, aku kelamaan tidur yah, Mbak. Maaf, Mbak pasti kelamaan nunggu di rumah sakit."


"Bukan itu masalahnya."


"Terus ?"


"Si Dita jenguk ibunya."


"Oh, bagus dong."


"Bagus dari Hongkong, kondisi ibu mertua kamu bisa-bisa makin parah, Si Dita datang nangis-nangis. Ini aku disuruh Bagas kesini, dia nelpon kamu gak diangkat."


"Nangis kenapa, Mbak ?"


"Suaminya masuk penjara."


"Bukannya juragan Warso doang ?"


"Si Aldi juga masuk penjara."


"Astaghfirullah,"


"Sana kamu ke rumah sakit, lama-lama Si Dita bisa bikin Bu Ratih serangan jantung."


"Jangan sampai dong, Mbak."


"Iyalah, makanya cepetan sana kamu ke rumah sakit. Urusin tuh kakak ipar kamu."


"Kiara gimana, Mbak ? Kasihan kalau dibangunkan."


"Kiara biar aku yang jaga disini. Susunya ada kan ?"


"Ada Mbak, di dapur."


Aku langsung meluncur ke rumah sakit. Benar saja, Mbak Dita sedang menangis sesenggukan di samping ibu. Wajah ibu makin pucat dan tak karuan. Mbak Dita memang bikin pusing, sudah tahu ibunya sedang sakit malah dibawakan kabar buruk.


"Ayu datang, Dit. Ayu, kamu kan biasanya pintar, tolong Dita, yah." tumben aku disebut pintar.


"Dit, sana kamu ke kantor polisi bawa Ayu."

__ADS_1


"Ayo, Mbak."


Wajah Mbak Dita tetap tak bersahabat, tapi dia tak menolak bantuan ku. Aku kasihan pada ibu, sekaligus kepo. Bukan niat mau membebaskan Aldi, aku mana paham soal kayak gitu. Aku menemani Mbak Dita saja.


__ADS_2