
POV Ayu
Aku menahan tawa melihat ekspresi Mbak Dita yang kebakaran jenggot. Moment langkah sedang berlangsung. Baru pertama kali seumur hidup Mbak Dita ditampar ibunya. Padahal, kata Mas Bagas, Mbak Dita selalu disayang sejak kecil.
"Tamparan itu tidak sebanding dengan rasa sakit yang dirasakan Bagas selama ini. Ibu selalu membela dan lebih menyayangi kamu, sampai kamu lupa caranya menghormati ibu dan adikmu."
Syukurin, Mbak Dita gak ada yang mendukung lagi. Makanya, sudah disayang malah kurang ajar. Aku tahu semua sikap buruknya, kalau Mbak Dita sudah menampar ibu mertuaku. Maklum, mata-mataku banyak di kampung.
Aku senang ibu ditampar Mbak Dita, karena tamparannya bisa membuat ibu sadar dan bersikap baik padaku dan juga Mas Bagas. Selama satu bulan ini Mas Bagas terlihat sangat bahagia, baru bisa merasakan kasih sayang yang utuh dari ibunya. Selama ini, kasih sayang untuknya habis terbagi kepada Mbak Dita.
"Lihat aja, Bu, ibu bakal nyesel tinggal dan belain Si Bagas. Ayu itu menantu bermuka dua, dia sengaja memanfaatkan ibu biar bisa dijadikan pembantu gratisan."
"Hahaha, lagi ngomongin diri sendiri yah, Mbak ? Ya ampun, urat malunya udah diganti sama bakso urat sapi yah, Mbak."
Bukan emosi, diriku malah ngakak. Ada-ada saja dia mau memfitnahku. Ibu mertua tentu sudah tahu bagaimana sikapku padanya, dan sikap Mbak Dita sama ibu. Percuma mau dihasut, ibu sudah membuktikan sendiri kalau anaknya memang tak layak dibela.
"Pergi dari sini, Dita ! Mulai saat ini ibu gak bakal bantu kamu, biar kamu sadar dan tahu bagaimana rasanya hidup mandiri."
"Oke, awas aja ibu butuh aku, gak Sudi aku bantu ibu atau rawat ibu ! Sana, sama anak kesayangan ibu ! Urus tuh Si Bagas, nanti juga ibu bakal sadar kalau dia anak durhaka !"
Mbak Dita melotot ke arahku. Dia emosi luar biasa. Aku tersenyum puas diatas kesusahannya. Ya maaf, bukan bermaksud mencetak dosa, kali-kali sedikit jahat sama orang seperti Mbak Dita gak apa-apalah.
...
"Gimana, Dit ?" tanya Mas Aldi dengan santai sambil menyembulkan asal rokok.
"Kamu kenapa gak masuk sih, Mas ?"
"Maaf, Dit, aku emang suami kamu, tapi aku gak mau ikut campur sama masalah kamu. Uruslah sendiri, itu akibatnya jadi manusia neko-neko."
"Dasar suami jelek gak guna !" Mbak Dita menghentakkan kaki lalu pergi.
"Sialan, dia juga jelek. Perempuan gak sadar diri !"
"Hati-hati Mas Aldi dan Mbak Dita !"
Aku lambaikan tangan, mengiringi kepergian mereka kembali ke kampung halaman. Semoga saja setelah ini Mbak Dita sadar diri dan kapok. Aku juga sudah muak dengan tingkahnya, mau hidup damai disini, fokus dengan keluarga kecilku.
"Maafkan kakakmu, Gas. Hiks, hiks."
Ibu menangis sesenggukan. Dia selalu merasa bersalah karena tak bisa mendidik Mbak Dita dengan baik. Aku dan Mas Bagas berusaha membesarkan hati ibu agar dia tenang.
"Gak usah dipikirin, Bu. Nanti malah bikin kepala kutuan mikirin Mbak Dita. Sekarang ibu udah mau tinggal disini, fokus saja menikmati masa tua, dan jaga kesehatan."
"Ibu gak tahu caranya balas kebaikan kalian, Ayu, Bagas."
"Jangan mikir gitu, Bu. Justru Bagas yang gak bakal bisa balas pengorbanan ibu."
Aku peluk ibu mertua. Luar biasa kekuatan doa, tak sia-sia aku selalu mendoakan agar Allah melembutkan hatinya. Sekarang, terasa sekali kelembutan hati ibu.
***
"Bu, mau baju yang mana ?"
"Yang mana aja, Yu."
"Yang ini bagu. Ini yah, buat ibu."
__ADS_1
"Ayu, baju ibu masih banyak dan bagus-bagus, gak usah beli juga gak papa."
"Yaelah, Bu, dasternya udah bolong-bolong. Gak papa beli aja, tenang uangnya Mas Bagas berdigit-digit, hehehe." ibu tersenyum tipis.
Dia kelihatan senang dan antusias diajak belanja di mall. Ya, walaupun agak kebingungan karena harganya mahal-mahal.
"Ini bagus, Yu."
"Astaghfirullah, harganya lima ratus ribu. Gak usah, Yu. Nanti ibu beli di pasar aja."
"Hehehe, santai Bu, kita angkut."
Aku senang sekali bisa membelanjakan ibu mertua. Selama ini hanya Mama ku saja yang bisa merasakan belanja di mall. Aku jadi merasa tak enak, karena ini uang Ma Bagas. Bukan hanya Mamaku saja yang seharusnya merasakan, ibu pun harus menikmati uang anaknya.
"Kita makan disini dulu, yah, Bu. Sini Kiara nya, Bu, takut ibu capek gendongnya."
"Gak papa, Yu. Ibu seneng gendong Ara. Toh, anak Segede ini gak berat."
"Oke deh, aku pesankan makanan dulu, yah, Bu." Aku pesankan chicken di restoran So Merah yang terkenal.
"Ayunan..."
"Eh, Cendol ! Wah, jodoh kita, yah, Ndol ! Bisa-bisanya ketemu disini."
"Hahaha, jodohku ya suamiku, ogah jodoh sama kamu."
"Ya, maksudnya jodoh jadi besti, hehehe."
"Huuhh... Eh, Yu, ini mertua kamu ?" tanya Cendol bisik-bisik. Dia duduk di sampingku dengan tatapan heran. Aku lupa belum menceritakan apa yang sudah terjadi sebulan ini.
"Eh, sembarangan ! Kamu gak salah sedekat ini sama dia ?"
"Yang sopan ngomongnya, Cendol." aku cubit paha Cendol.
"Aw, maaf-maaf, aku kan ngomongnya pelan."
"Takut kedengaran." ujarku setengah menggerutu.
"Gimana ceritanya ?"
"Udah tobat. Cerita selengkapnya nanti yah, lewat VN, hehehe."
"Alhamdulillah."
"Bu, salaman dulu, Bu. Aku Cindy Bu, temannya Ayu."
"Iya, Nak Cindy."
"Huuh, telat salamannya."
"Hehehe, maaf."
"Ayu, ibu kayak pernah lihat mukanya Nak Cindy."
Aku dan Cindy saling bertatapan, lalu cekikikan. Ibu mertua tampak kebingungan. Lalu aku ceritakan semuanya. Ibu ikut tertawa, dan malah memuji kecerdasanku. Iya dong, baru sadar dia kalau menantunya pintar sekelas Albert Einstein, hihi.
Selesai belanja dan mengobrol kami pulang ke rumah. Aku ambil Kiara yang sudah pulas di tangan ibu.
__ADS_1
"Uhuk... uhuk..."
"Bu, batuk lagi ?"
Ibu langsung ke kamarnya. Dia memang paling penjaga kebersihan, tak mau batuk-batuk dekat Kiara. Bahkan saat dekat Kiara, dia selalu memakai masker. Tempat makan minumnya pun dia pisahkan agar tak bercampur dengan kami.
"Bu, minum dulu." Aku sodorkan air hangat agar batuknya reda.
"Obatnya sudah diminum, Bu ?"
"Udah, Yu. Tapi masih kerasa aja batuk sama sesak."
"Kita ganti dokter aja, Bu. Sudah sebulan gak ada perubahan. Masih ngeluarin darah ?" ibu mengangguk.
Aku tak tega dengan kondisinya yang gak kunjung membaik. Biar nanti dibicarakan dengan Mas Bagas, terkait rumah sakit yang bagus untuk pengobatan ibu. Kami akan mengusahakan pengobatan yang terbaik untuk ibu.
***
[Ayu, lagi ada gosip hot. Kamu yang jadi buah bibirnya.]
Mbak Intan mengirim pesan yang membuatku memicingkan mata. Dia berusaha menelpon, tapi aku reject.
[Chat aja, Mbak. Soalnya lagi dijalan.]
Aku dan Mas Bagas sedang menuju rumah sakit besar di Jakarta. Sebelumnya kami sudah pergi ke rumah sakit besar yang tak jauh dari rumah, tapi dirujuk lagi.
"Ibu sakit apa, Bagas ? kenapa diajak ke rumah sakit yang jauh ?" tanya ibu malah membuat Mas Bagas sendu. Memang aneh suamiku, setiap ditanya sakit ibu apa, dia selalu diam, kadang memberi jawaban yang aneh.
"Ibu sakit paru-paru, Bu. Ibu dirujuk karena Bagas pengen ibu cepat sembuh. Jadi, kita cari dokter yang hebat disini."
Ibu diam, mungkin sama denganku antara percaya atau tidak. Aku kembali fokus dengan ponselku.
[Dita fitnah kamu, katanya kamu jadiin ibunya babu, terus kasih jampi-jampi biar ibunya nurut.]
[Ya ampun, Mbak Dita gak ada kapok-kapoknya, masih aja fitnah yang gak jelas. Terus Mbak percaya ?]
[Gak lah ! Malahan Si Dita banyak yang hujat.]
Aku tersenyum miring membaca pesannya. Tak mau menanggapi lagi, nanti tabungan dosaku semakin menggunung. Toh, aku sudah tak peduli sama Mbak Dita.
...
"Ibu boleh minta sesuatu ?" tanya ibu saat kami sedang menunggu giliran diperiksa.
"Apa, Bu ?" tanya Mas Bagas.
"Rumah yang di Jawa jangan dijual yah, Gas, Ayu. Kalau kalian tak mau menempati, kontrakan saja."
"Tenang Bu, soal rumah itu memang mau kami kontrakan. Biar kami juga punya tempat singgah kalau nengok kuburan bapak. Males kalau nginap di rumah bapakku, banyak suara-suara naga api, hehehe." ibu tersenyum tipis. Dia menggenggam tanganku.
"Boleh ini minta satu permintaan lagi ?"
"Apa, Bu ?"
"Ibu mau dikubur di dekat bapakmu, Gas. Ibu minta, minimal setahun sekali kalian jenguk makam ibu dan bapak, yah."
Hatiku jadi tak karuan mendengar permintaan ibu, seolah-olah mendapat sinyal tak mengenakan.
__ADS_1