
"Sayang, maafin Mbak Dita yah." Ucap Mas Bagas sendu.
Kamu sedang berduaan di kamar. Suamiku terlihat merasa sangat bersalah dengan kelakuan kakaknya.
"Gak apa-apa, Mas. Yang penting cincin aku udah balik. Ya, meskipun gak muat lagi karena udah beda model sama ukuran."
"Besok kita tukar lagi ke pasar yah."
"Gak usah, Mas. Nanti aja kalau gaji yutub kita udah cair, biar sekalian nambah beli lagi emasnya. Hehehe"
"Siap, sayang. Mas bangga punya istri pintar, baik, dan lucu begini."
"Cium dong..."
Mas Bagas langsung merangkulku dan mencium keningku, diiringi senyum manisnya yang sukses membuat hati melayang-layang.
Meskipun mertua dan iparku selalu bikin emosi tingkat nasional, tapi suamiku baik seperti ini. Rasanya bisa membuatku melupakan kekesalanku.
Fondasi rumah tangga adalah cinta. Suami istri harus saling memahami dan saling percaya. Jangan mudah terhasut, hingga membuat salah satu menelan pil pahit.
***
"Ayu ! Keluar kamu Ayu !!!"
"Kenapa lagi sih, Mbak ? Masih subuh begini udah teriak-teriak kayak orang kemalingan aja. Kutang Mbak di maling ? Mau pinjam punyaku ?"
"Sontoloyo ! Asal jeplak aja kalau ngomong. Mbak gak terima yah sama mulut ember kamu."
"Emang mulut aku kayak ember ? Enak aja kalau ngomong, Mbak. Lihat nih, bibir merah kayak ceri. Mbak pasti habis mimpi yah ?" Sengaja aku monyongkan bibirku ke arah Mbak Dita. Kesel juga, masih subuh udah bikin kepala cenat cenut.
"Gak usah kebanyakan ngeles kayak bajai kamu ! Gak lucu lawakan kamu ! Kamu kan yang ngadu sama Mas Adit, dan jelek-jelekin Mbak, ngaku kamu ! Gara-gara kamu Mas Adit marah-marah sampai ngomong kasar sama Mbak !"
"Jangan asal nuduh, Mbak. Aku gak pernah ngadu sama suami Mbak. Lagian apa untungnya ?"
"Jangan bohong kamu !"
Suara Mbak Dita Sukes membuat suamiku terbangun dari tidurnya.
"Ada apa sih ini ribut-ribut ?"
"Ini Mas, kakak kamu. Masa dia nuduh aku ngadu yang gak-gak sama suaminya."
"Mbak ini apa-apaan sih ? Mbak yang salah, harusnya minta maaf. Bagas sama Ayu udah berusaha bersikap baik sama Mbak. Bukannya sadar, malah nuduh istri Bagas gak jelas."
"Mbak gak nuduh yah, emang kenyataannya begitu."
"Tunggu !"
Aku beranjak ke kamar mengambil ponsel milikku dan suami. Aku tunjukkan riwayat pesan dan panggilan kami bahwa benar kami tidak ada menghubungi suaminya. Tapi Mbak Dita tetap gak percaya.
__ADS_1
Tiba-tiba ibu dan bapak mertuaku datang.
"Aduh, kalian ini ribut-ribut terus ada apa sih ?"
"Ini Bu, si Ayu ngadu-ngadu ke Mas Adit kalau Dita yang ambil cincinnya, tapi dia gak mau ngaku."
"Owalah, soal itu ? Ibu yang bilang ke Adit. Sengaja biar Adit juga beliin kamu cincin."
"Astaga, ibu..." Rengek Mbak Dita, frustasi. Dia pasti malu karena sudah nuduh tapi salah sasaran.
"Memangnya kenapa Dita ? Malah bagus kalau Adit tahu. Kamu mencuri karena gak pernah ngasih kamu cincin. Biar suamimu juga beliin kamu cincin yang banyak."
"Tau ah, Bu !" Mbak Dita terlihat sangat kesal. Dia menghentakkan kakinya dan berlalu masuk ke kamar.
Pasti dia sengaja kabur karena sudah tak punya muka bicara denganku.
Itulah akibatnya kalau orang suka iri dan benci.
***
[Jalan-jalan bersama ayahnya Revan cek.]
Lagi-lagi aku tercengang melihat postingan salah satu tiktakers yang memposting video pria mirip Mas Adit.
Bagaimana caranya bilang ke Mbak Dita ? Kasihan juga dia kalau benar di selingkuhin. Meskipun julid dan mulutnya pedas, sepedaan pentol dower level 10, tetap saja dia kakak iparku. Dan sebagai sesama wanita, aku tak terima jika ada wanita lain yang disakiti laki-laki.
"Ayu."
Tapi, ada yang aneh dengan Mbak Dita. Tumben sekali dia memanggil namaku lembut.
"Ada apa, Mbak ? Jangan ngajak ribut dulu, yah. Ini hari Minggu, libur dulu aja. Capek."
"Pede banget ! Siapa juga yang mau ngajak ribut."
"Terus kenapa Mbak deket-deket ?"
"Aku mau minta nomor Bunda Loren."
"Buat apa ?"
"Kepo ! Udah buruan, mana !"
"Buat apa dulu ? Bunda Loren itu bukan orang sembarangan. Konsultasi sama dia juga tarifnya mahal dan hanya orang-orang terpilih aja. Gak bisa sembarangan."
"Ribet banget. Ya udah, kamu aja yang ngomong sama Bunda Loren."
"Oke, aku bantu. Mbak tinggal bilang apa maksud dan tujuannya."
"Tapi jangan sampai bocor, yah. Ini rahasia. Awas sampai bocor, aku ulek mulutmu pakai cabe sekilo."
__ADS_1
"Santuy, Mbak. Aman..."
"Mbak mau dibukakan aura cantiknya buat suami Mbak makin lengket."
"Astoge, Mbak ! Kalau itu sih tinggal pakai baju haram aja. Di jamin Mas Adit langsung klepek-klepek."
"Percuma, gak bakal berhasil. Udah sana, buruan."
Akhirnya aku meminta Cindy untuk kembali berakting.
Setelah menceritakan semuanya pada Cindy di dalam kamar, aku keluar dan memberikan ponselku pada Mbak Dita, sesuai perintah Cindy.
"Ini, Mbak. Tapi di loud speaker kata Bunda Lorennya."
Tanpa banyak bicara Mbak Dita pun mengikuti perkataan ku.
"Berdasarkan hasil penerawangan saya lewat bantuan teman-teman dari alam yang berbeda, suamimu ini tengah dekat dengan wanita lain hingga membuat kalian menjadi jauh."
"Terus aku harus gimana, Bunda ?" Tanya Mbak Dita dengan wajah yang terlihat biasa saja.
Dia seperti tidak kaget sama sekali. Apa jangan-jangan dia memang sudah tahu kelakuan suaminya ? Tapi kenapa dia diam saja ? Rasanya tak mungkin, karena Mbak Dita ini tipe wanita pemberani. Kalau memang benar seperti itu, Mas Adit pasti sudah habis ditonjok.
"Pertama, pulanglah kembali ke suami kamu. Semakin dekat, semakin rekat. Kedua, saya akan memberimu mantra ampuh. Baca mantra ini saat bercermin, baru setelah itu pakai pedak, lipstik dan lainnya biar wajahmu terlihat kinclong."
Aku terkekeh dalam hati saat mendengar mantra yang di ucapkan Cindy. Entah Mbak Dita ini kurang paham agama, sampai tidak tahu jika yang di ucapkan Cindy itu adalah doa saat bercermin.
Panggilan pun terputus. Tanpa banyak bicara Mbak Dita mengembalikan ponselku.
"Nih, hape kamu. Gitu dong jadi adik ipar. Mbak mau menghafal dulu."
"Oke, Mbak."
Aku acungkan dua jempol. Mantap sekali bestiku itu. Semoga saja mantranya sukses membuat Mbak Dita kembali ke habitatnya. Eh, maksudnya ke rumah suaminya di Jakarta.
***
"Mau kemana, Mbak ?"
"Baliklah."
"Kemana ?"
"Ke Jakarta lah. Kenapa, iri ?"
"Hahaha, iya Mbak. Enak yah, bisa jalan-jalan pulang pergi Jakarta - Jawa."
"Iya dong, gak kudet kayak kamu."
Aku hanya cengengesan tak mau banyak berkomentar. Biar saja Mbak Dita senang, biar cepat pulang.
__ADS_1
Tak lama kemudian travel datang. Akhirnya Mbak Dita pun pulang diiringi drama tangis dari ibu mertua.