MEMILIKIMU ADALAH TAKDIRKU

MEMILIKIMU ADALAH TAKDIRKU
Tak Akan Pernah Ku lepaskan


__ADS_3

Kennard meluapkan kemarahannya dengan membanting barang apa saja yang ada di dekatnya. Keduanya ada di dalam kelas yang kosong.


Edewina yang ada di depannya hanya bisa menangis. Namun ia lega karena sudah menceritakan pada Ken apa yang terjadi kemarin malam.


"Maafkan aku, Ken!"


Ken menatap Edewina. "Kamu nggak salah, Win. Aku yang salah. Seharusnya aku menikah denganmu lebih cepat lagi." Ken menarik napas panjang. Berusaha menenangkan hatinya yang marah. "Apapun adanya dirimu, aku akan tetap menyayangimu. Aku tak peduli dengan semua yang terjadi antara kamu dan Reo. Aku tahu kalau kamu tak sengaja melakukan itu." Ken memegang kedua tangan Edewina. "Kita akan menikah besok. Orang tua kita setuju atau nggak, kita akan tetap menikah besok. Aku mencintaimu, dan aku tak akan melepaskan mu atas alasan apapun juga."


Edewina memeluk Ken sambil terus menangis.


"Sudahlah, sayang. Ayo sekarang kita pergi ke apartemen mu dan bicara dengan kedua orang tuamu. Aku akan menelepon orang tuaku dan meminta mereka juga ke apartemen mu."


Edewina mengangguk. Ia menerima uluran tangan Ken dan keduanya keluar kelas dengan penuh keyakinan.


********


Di apartemen Edewina....


Plak!


Satu tamparan keras Edmond berikan pada Reo dan satu pukulan tinju di perutnya.


Mahira terkejut saat melihat suaminya memukul Reo. Jack yang datang bersama Reo pun nampak tak sanggup melihat anaknya di pukul. Jack yang selama ini sangat memanjakan Reo tentu saja tak terima. Ia ingin balik memukul Edmond namun Reo menatap papanya sambil menggelengkan kepalanya. Terpaksa Jack duduk lagi.


"Aku tahu kalau aku salah. Seharusnya aku menghindar malam itu. Namun karena sebenarnya aku juga menyukai Edewina sejak lama, aku begitu larut dengan perasaanku. Aku ingin menikah dengan Edewina." kata Reo sambil menahan sakit di wajah dan perutnya.


"Kalau kamu memang mencintai anak kami, seharusnya kamu tak merusaknya." ujar Mahira.


"Aku tahu. Tapi...." Kalimat Reo terhenti karena pintu apartemen dibuka dari luar dan masuklah Ken dan Edewina sambil berpegangan tangan. Belum sempat Mahira bicara, Orang tua Ken bersama Teddy juga datang.


"Apa-apaan ini?" tanya Mahira sambil menatap tangan anaknya yang ada dalam genggaman Ken.


"Aku akan menikahi Edewina. Kalian setuju atau tidak, kami tetap anak menikah." ujar Ken.


"Kalian sudah gila ya? Kalian tidak boleh menikah!" Mahira mulai histeris.


"Aku akan bertanggungjawab, Wina." ujar Reo menahan cemburu di hatinya melihat kedatangan Ken dan Wina.


"Aku akan menerima Edewina apa adanya!" kata Ken sambil menatap Reo dengan tatapan tak suka.


" Edewina bisa saja hamil karena malam itu aku tak menggunakan pengaman." ujar Reo.

__ADS_1


Mahira yang mendengar itu menjadi panik. Bagaimana jika Edewina seperti dirinya? Langsung hamil setelah pertama kali bersentuhan dengan Teddy.


"Aku akan menerima anak itu seperti anakku sendiri." ujar Ken sangat yakin.


"Kami akan menikah mommy." kata Edewina sambil menggenggam tangan Ken


lebih erat lagi.


Mahira berdiri dari tempat duduknya. "Kalian tidak boleh menikah."


"Tapi kenapa? Apakah hanya karena masa lalu keluarga ini? Apa yang salah dengan cinta kami?" tanya Edewina semakin dalam.


"Cinta kalian salah karena kalian adalah saudara sepupu." Mahira tak tahan lagi. Ia tahu kalau Edewina akan semakin kuat memperjuangkan cintanya.


Suasana di ruang tamu itu seketika menjadi hening. Pegangan tangan Edewina dan Ken perlahan terlepas.


"Se...pu....pu?" tanya Edewina terbata.


"Teddy adalah papa kandungmu, Wina." ujar Edmond dengan pelan karena ia sendiri merasakan sakit yang paling dalam ketika harus mengatakan itu.


Edewina terkejut. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Matanya kini menatap Teddy.


"Bohong....! Ini pasti bohong kan? Ini pasti akal-akalan kalian untuk memisahkan kami kan?" tanya Edewina terlihat mulai frustasi.


Edewina membuang foto-foto itu ke lantai. Ia langsung berlari dan masuk ke dalam kamarnya.


Kennard menatap pamannya. "Paman, benarkah Wina adalah anak mu?" tanya Ken.


"Iya, Ken. Wina adalah anak paman dan Mahira."


Ken memejamkan matanya. Ia menangis dalam rasa sakit yang tak bisa dikatakan lagi. Ia segera pergi meninggalkan apartemen itu diikuti oleh kedua orang tuanya.


Jack berdiri. Ia mengajak anaknya juga untuk pergi. "Biarkan mereka menyelesaikan masalah ini, Reo. Nanti kita akan datang kembali." ujar Jack. Ia menatap Edmond. Lelaki itu mengangguk. Lalu mereka pun pergi.


*********


Sudah satu jam Edmond, Mahira dan Teddy duduk di ruang tamu apartemen Edewina. Kopi yang Edmond buat bahkan sudah habis. Namun mereka tak juga memulai percakapan.


"Aku akan ke kamar Wina." Edmond akhirnya berdiri.


"Aku yang harus bicara dengannya, Ed. Aku ingin Wina tetap menyayangi kalian berdua." Kata Mahira lalu segera menuju ke kamar Edewina. Ia bersyukur karena kamar itu tak dikunci dari dalam sehingga ia bisa langsung masuk.

__ADS_1


Edewina sedang duduk di depan jendela kamarnya. Sesekali tangisnya masih terdengar.


"Wina....!" panggil Mahira lalu menarik kursi dan duduk di samping anaknya. Edewina masih diam. Menoleh ke arah mamanya pun dia seakan enggan.


"Sesuatu terjadi di masa lalu mami dan papa Teddy yang menyebabkan kami harus berpisah. Mami tak tahu kalau saat itu kamu sudah tumbuh di perut mami. Papi Edmond datang menyelamatkan nama baik mami dan mencintaimu layaknya anak kandungnya sendiri semenjak kamu masih ada di perut mami. Kelahiran mu membawa sukacita di keluarga Almond. Mereka sangat menyayangimu. Kau memiliki semua sifat yang dimiliki juga oleh keluarga Moreno. Sampai akhirnya papa Teddy datang. Ia menyelamatkanmu dari peristiwa penculikan itu. Dia awalnya ingin merebut kamu dari sisi mami. Namun, saat tahu bagaimana papi Edmond sangat menyayangimu, dia pun akhirnya mengalah. Dia tahu kalau kamu adalah segalanya bagi papi Edmond. Kami pun sepakat menyimpan rahasia ini. Setiap kali mami mencoba mengatakan kebenaran tentang jati dirimu, mami begitu takut papi Edmond akan terluka. Sampai akhirnya Tuhan membuka identitas dirimu menurut cara Tuhan. Kau dipertemukan dengan Ken. Maafkan mami, papi dan juga papa Teddy. Kami tak bermaksud menyimpan ini semua darimu. Kami justru takut jika mengatakan yang sejujurnya maka kamu akan terluka. Sekarang, mami menyerahkan semuanya ke dalam tanganmu. Apakah kau akan membenci kami, atau tetap menyayangi kami. Yang pasti kami sangat menyayangimu." Mahira mencium kepala putrinya lalu ia keluar kamar.


Air mata Edewina kembali mengalir. Ia mengingat masa kecilnya yang sangat bahagia. Bagaimana ia sangat disayang oleh opa dan omanya. Bagaimana ia sangat dimanja oleh papa Edmond. Bagaimana papa Teddy yang tak pernah berhenti memperhatikannya walaupun sudah tinggal di Singapura. Papa Teddy juga selalu ada untuk Edewina. Bukankah ia tak pernah kekurangan dan perhatian? Bahkan Edewina pernah merasa bahwa papi Edmond lebih menyayanginya dibandingkan dengan kedua adiknya. Bagaimana mungkin Edewina akan marah pada mereka?


Kini persoalannya adalah kenyataan bahwa ia dan Ken adalah saudara sepupu. Bagaimana dengan cinta mereka yang kuat? Bagaimana dengan impian mereka untuk hidup bersama sampai maut memisahkan?


Perlahan Edewina membuka pintu kamarnya. Di lihatnya 3 orang terkasihnya sedang ada di sana. Masih duduk tanpa saling bicara.


"Sayang.....!" Edmond langsung berdiri melihat Edewina keluar dari kamar. Edewina langsung berlari dan memeluk Edmond sambil menangis. "Aku tetap mencintaimu, papi. Walaupun dalam tubuhku ternyata tidak mengalir darah Moreno, namun aku tetap bangga menjadi anakmu, papi."


"Siapa bilang dalam tubuhmu tak ada darah Moreno? Kamu lupa dulu saat kamu tertembak, darah siapa yang masuk ke tubuhmu? Darah papi kan? Kamu adalah anakku. Anak kesayanganku. Putri pertamaku." Edmond melepaskan pelukannya. "Kau adalah cucu pertama Moreno. Ingat itu! Kedua adikmu, opa bahkan paman dan bibi mu tak ada yang boleh tahu tentang rahasia ini. Mengerti?"


Edewina mengangguk. Ia kembali memeluk Edmond lalu ia mendekati Teddy.


"Papa Teddy, sejak dulu aku juga sudah sayang sama papa. Mungkin tak seperti sayangku pada papi Edmond. Namun tetap saja aku selalu menyayangi papa."


Air mata Teddy mengalir. Ia sudah memiliki 2 anak dari istrinya. Namun Edewina memiliki tempat khusus di hatinya. "Wina adalah anak istimewa bagi papa."


Edewina pun memeluk Teddy. Ia merasa bahagia. Kenyataan yang baru diketahuinya sekarang, tak akan mengubah cintanya untuk 3 orang terkasihnya ini.


"Sekarang, Wina sudah tahu kan? Mengapa kami tak ingin. Wina dekat dengan Ken. Hubungan kalian terlarang. Dan Edewina pun sudah tidur dengan Reo. Reo ingin bertanggungjawab." Kata Edmond.


"Aku nggak mau, pa. Aku membenci kak Reo. Bagaimana mungkin aku bisa menikah dengan dia?"


"Tapi Edewina, bagaimana kalau kamu ternyata hamil? Reo mengatakan kalau dia tak memakai pengaman. Bisa saja ini tanggal subur mu kan? Jangan sampai cerita yang lalu terulang kembali. Mami nggak mau." Mahira menggelengkan kepalanya.


"Reo dari keluarga yang baik. Saya sudah memeriksa profilnya semalam. Sekalipun dia seorang CEO namun ia tak pernah dekat dengan gadis manapun juga selain Indira yang selalu dianggap Reo sebagai adiknya. Mereka sahabat semenjak kecil." Kata Teddy.


"Kemungkinan aku hamil sangat kecil." bantah Edewina.


"Kapan kamu terakhir haid?" tanya Mahira.


"Kira-kira 5 hari yang lalu."


"Tuh kan. Ini memang masa subur mu, Edewina." Mahira terlihat sangat khawatir. Edmond menenangkan istrinya. Sedangkan Teddy terlihat khawatir juga.


***********

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca part ini. Dukung emak terus ya guys


__ADS_2