MEMILIKIMU ADALAH TAKDIRKU

MEMILIKIMU ADALAH TAKDIRKU
Menyimpan Bara Api


__ADS_3

Ingat nggak di awal pertemuan Justine dan Edewina, dibilangnya Justine itu keturunan Korea-Inggris kan? Lalu suami Cecilia yang sekarang kan, lelaki berwajah Spanyol, jadi ada hubungan apa antara mereka?


*********


Jarum jam sudah menunjukan pukul 20.22. Bibi Adeline sudah sejak 2 jam yang lalu menuju ke apartemen Indira namun Reo belum juga tiba di rumah. Edewina merasa kesepian.


Ia keluar kamar dan mendengar suara para bodyguard yang ada di teras depan. Keduanya pasti sedang bermain game online.


Edewina pun menuju ke dapur. Ia ingin minum segelas coklat hangat sambil makan kue kering yang dikirimkan mami Mahira padanya. Kue nastar kesukaan Edewina.


Ia senang karena orang tuanya akan datang. Apalagi mertuanya, keluarga Cassie dan juga keluarga Arma, semuanya akan terkumpul di London.


Setelah membuat coklat manis, Edewina mengambil toples yang berisi kue nastar lalu ia melangkah ke ruang tengah untuk menonton TV.


Namun, sekalipun mulutnya menguyah kue itu, hatinya kembali merasa galau. Bagaimana jika anak kami sudah lahir? Bagaimana jika anak itu sama-sama sakit? Bagaimana jika akhirnya kak Sen mengajar Indira untuk tinggal bersama kami? Ya Tuhan, kok hanya membayangkan saja hatiku sudah sesakit ini, ya?


Edewina meletakan kembali toples berisi kue itu di atas meja. Pikirannya menjadi kacau. Jujur saja saat ini ia sedang cemburu. Hati kecilnya meminta dia untuk segera menelepon suaminya. Namun ia juga memikirkan Indira yang sedang sakit dan sendirian.


Akhirnya Edewina segera kembali ke kamar tanpa menghabiskan coklat panasnya. Ia ingin bermain hp saja. Apalagi perutnya tiba-tiba merasa mual. Dan akhirnya Edewina pun masuk ke kamar mandi. Namun alangkah terkejutnya dia saat melihat di atas kasurnya ada bekas tapak kaki yang membuat seprei putihnya menjadi kotor.


"Joe...! Rusel.....!" Edewina berlari keluar dan memanggil bodyguard nya. Kamar ini memang kedap suara sehingga Edewina perlu keluar untuk memanggil mereka.


Saat Edewina membuka pintu depan, kedua bodyguard itu tak ada di sana. "Kemana mereka?" Edewina menjadi kesal sekaligus ketakutan.


"Joe...., Rusel....!" Teriak Edewina.


Akhirnya terlihat kedua bodyguard itu masuk dari arah pagar depan. Di tangan mereka ada pistol.


"Maaf nyonya, kami melihat ada sebuah mobil yang mencurigakan jadi kami mengejarnya." kata Joe.


"To....tolong lihat kamarku!" kata Edewina dengan napas yang terasa sesak.


Kedua bodyguard itu langsung berlari ke arah kamar Edewina. Mereka melihat tak ada yang aneh dengan kamar itu.


"Tidak ada yang aneh, nyonya." kata Rusel setelah memeriksa seisi kamar termasuk juga kamar mandi.


"Di atas ranjang!" kata Edewina sambil menunjuk ranjangnya.

__ADS_1


"Tempat tidur ini juga rapi."


Edewina mendekat. Tak ada jejak kaki seperti yang dilihatnya tadi. Seprei putih itu masih nampak bersih dan teratur dengan sangat rapi.


"Tadi....tadi....ah, sudahlah! Kalian boleh keluar." Edewina merasa pusing sendiri. Ia semakin kesal karena Reo belum juga datang. Makanya ia pun ke kamar mandi. Rasa muntah itu tiba-tiba saja menyerangnya dan Edewina tak bisa menahan lagi.


Setelah mengeluarkan isi perutnya, Edewina pun segera mencuci mulutnya, lalu mengambil handuk kecil untuk mengeringkan wajahnya. Begitu ia keluar dari kamar mandi, nampak Reo baru masuk.


"Sayang.....!" Reo mendekat dan bermaksud akan memeluk Edewina namun perempuan itu justru menghindar.


"Hei, ada apa?" tanya Reo bingung.


"Nggak." jawab Edewina lalu segera menuju ke lemari pakaian. Ia mengambil piyama. Tak peduli dengan Reo yang melihatnya, ia membuka pakaiannya dan menggantinya dengan piyama. Edewina memang merasa lebih enak memakai piyama dengan celana panjang dari pada harus memakai gaun. Karena sekarang sedang musim dingin.


Reo menelan salivanya saat melihat tubuh istrinya yang hampir polos. Sudah hampir sebulan lebih mereka tak berhubungan intim dan itu memang sangat menyiksa Reo. Namun saat mengingat keselamatan anak didalam kandungannya, Reo memilih menahan semuanya itu.


"Sayang, kamu marah karena aku nggak membeli ikan asin yang kami inginkan ya?" tanya Reo. Ia kelihatan sangat menyesal.


"Nggak. Pokoknya aku nggak marah. Aku hanya ingin tidur." Ujar Edewina ketus sambil naik ke atas ranjang. Kalau sudah tahu kenapa tanya? Ngapain juga harus lama-lama ada di sana?


Reo menarik napas panjang. Ia sebenarnya sangat lelah. Berharap mendapatkan senyum dari istrinya untuk menghapus rasa lelahnya. Namun sepertinya Edewina sedang bad mood saat ini. Ia pun segera ke kamar mandi untuk mencuci tubuhnya dan berganti pakaian.


Reo pun menggunakan celana rumahan dan kaos oblong lalu ikut naik ke atas tempat tidur. Ia memeluk Edewina dari belakang. Ia dapat merasakan punggung Edewina menegang seolah tak mau dipeluknya.


"Sayang, tadi saat bibi Adeline tiba, Indira ingin makan sesuatu yang terbuat dari mie. Karena nggak ada bahan itu di kulkas, makanya aku pergi membeli di supermarket terdekat. Pada saat yang sama, dokter Hardi akhirnya datang. Ia memeriksa Indira dan memberikan resep. Bodyguard yang biasa berkaha di sana sedang ijin pulang karena anaknya sakit. Mark ada acara keluarga. Jadi aku balik lagi untuk menebus obat bagi Indira. Makanya aku sampai di rumah agak terlambat." Kata Reo. Ia tahu kalau Edewina pasti masih mendengarkannya.


"Aku bukannya mendahulukan dia, sayang. Hanya saja dia nggak ada siapapun di sana." Reo melanjutkan sambil mengusap perut Edewina.


Edewina memejamkan matanya. Ia yakin apa yang Reo katakan benar. Ia percaya Reo tak akan membohonginya. Namun ia tak ingin menanggapinya sekarang.


Reo mengecup punggung Edewina. " I love you."


Edewina semakin kuat memejamkan matanya. Rasa cemburu sudah menguasainya sehingga ia ingin menunjukan sikap cueknya.


"Have a nice dream, my wife." bisik Reo lalu memejamkan matanya. Ia merasa nyaman memeluk dan mencium aroma tubuh istrinya.


*********

__ADS_1


"Jangan habisi Edewina. Aku ingin bersenang-senang dengan dia sebentar." kata seorang pria tampan.


"Aku ingin menghabisi semua keturunan Moreno."


"Dan aku ingin menghabisi keturunan Almond." ujar Cecilia.


"Apa yang harus kita lakukan?"


"Untuk sementara, biarlah kita jangan menganggu mereka dulu. Biar saja mereka berpikir kalau kita sudah menyerah. Dan saat mereka lengah, maka kita akan menghancurkan mereka." kata seorang pria dengan senyum misteriusnya.


************


Reo bangun pagi dan tak menemukan istrinya ada di sisinya. Ia segera keluar kamar dan tak juga mencari Edewina di manapun.


"Nyonya belum keluar rumah." ujar Joe yang berjaga di teras.


"Kemana istriku?" tanya Reo bingung. Ia kembali masuk ke dalam rumah. Saat akan kembali ke kamar, ia melihat pintu kamar tamu tak tertutup semua. Dan alangkah terkejutnya Reo saat melihat Edewina sedang tidur di sana.


"Sayang, kenapa kamu tidur di sini? Apakah karena kamu marah padaku?" tanya Reo sambil duduk di pinggir tempat tidur.


Edewina membuka matanya perlahan. Ia terkejut mendoakan dirinya ada di kamar tamu.


"Apa yang kulakukan di sini?" tanya Edewina bingung lalu perlahan bangun.


"Win, kamu beradarah?" tanya Reo sambil menunjuk ke seprei.


Edewina terkejut. Ia menunduk dan melihat bahwa celana yang dikenakannya sudah penuh darah.


"Ah....tidak.....! Tidak.....!" teriak Wina panik. Ia takut kehilangan bayinya. Dan sepertinya ia sudah kehilangannya sekarang karena begitu banyak darah yang ada di ranjang dan di bajunya.


"Kak Sen...., anak kita....anak kita....!" Edewina tak bisa menahan kesedihannya.


Reo berlari ke kamar mereka untuk mencari ponselnya. Ia langsung menelpon ambulance.


*********


Selamat malam....

__ADS_1


bagaimana kisah ini berlanjut?


Dukung emak terus ya guys


__ADS_2