
Mereka berempat kini duduk di ruang tamu. Rumah keluarga Almond yang ada di kota London. Rumah bergaya klasik yang merupakan warisan ibunya Jack.
Reo baru saja menceritakan tentang kejadian malam itu. Mengapa ia harus menjebak Edewina melalui minuman yang dicampurkan dengan sedikit obat perangsang dan juga obat tidur. Namun Reo sama sekali tak menyebutkan nama Indira karena ia tak mau melibatkan gadis itu.
"Kamu licik, Reo. Apapun alasanmu itu adalah sesuatu yang licik. Bagaimana mungkin kamu begitu mudahnya berbohong di hadapan orang tua Wina, di hadapan mommy hanya karena kamu ingin sekali mendapatkan Wina?" Riani menatap tajam ke arah putranya.
"Aku memang mencintai Wina, mom. Wina adalah gadis yang kuinginkan sejak dulu. Wina-lah alasannya mengapa aku tak pernah ingin bersama dengan gadis lain."
"Tapi kan mommy pernah ingatkan kamu, Reo. Jangan sampai rasa sukamu itu menjadi sebuah obsesi."
"Ini bukan obsesi, mommy. Kalau aku sungguh terobsesi dengan Wina, maka aku dengan mudah dapat menyingkirkan Ken semenjak mereka dekat. Bahkan dengan cara yang sangat licin sehingga tak ada satu pun yang tahu. Aku sungguh-sungguh mencintai Edewina, mom." Kata Reo dengan penuh kesungguhan hati.
"Dan Wina, apakah setelah sekian lama kalian menikah, kamu sudah mulai menyukai Reo?" tanya Riani.
"Tidak!" jawab Edewina.
Riani mengangguk. "Mommy nggak mau memisahkan apa yang sudah dipersatukan Tuhan melalui pernikahan. Mommy serahkan semuanya pada kalian berdua. Yang pasti, mau bagaimana pun kalian ini sudah menikah. Karena itu untuk sementara, Wina akan tetap tinggal di apartemen karena itu dekat dengan jarak kampusnya dan Reo tinggal di sini."
"Aku nggak mau berpisah dengan Wina." kata Reo tegas.
"Reo, ini cara terbaik untuk menghukum mu karena sudah membohongi kami. Dan cara terbaik untuk menenangkan Edewina atas rasa sakit yang dialaminya atas penipuan mu."
Reo sebenarnya tak mau berpisah dengan Edewina. Namun membantah mommy Riani rasanya tak mungkin.
"Mommy akan tinggal di sini untuk sementara." kata Edewina.
"Terus aku gimana sayang?" tanya Jack.
"Kamu kembali ke Manchester sendiri. Aku juga harus menghukum mu karena sudah menyembunyikan ini dariku." jawab Riani tegas dan tak ingin terbantahkan.
"Tapi sayang....." rengek Jack.
"Nggak ada tapi-tapian. Ayo Wina. Sekarang kembali ke apartemen." Riani berdiri dan segera mengulurkan tangannya pada Wina. Gadis itu menyambutnya dan segera pergi dengan ibu mertuanya.
Sepanjang perjalanan mereka hanya diam. Mark yang mengantarkan mereka. Sesampainya di apartemen, Riani langsung pamit pulang karena sebenarnya ia sudah tak tahan ingin menghajar suami dan anaknya.
*********
__ADS_1
"Aku menelepon mu kemarin namun kamu sedang di kamar mandi." ujar Ken saat ia ketemu dengan Edewina di cafe kampus tempat mereka biasa nongkrong.
"Maaf tak menelepon mu balik soalnya ibu mertuaku datang." Edewina tak mau membicarakan tentang apa yang terjadi.
"Oh gitu ya?" Ken tersenyum.
"Ada apa memangnya?"
"Aku mau memberitahukan padamu bahwa pendaftaran bagi mahasiswa jurusan arsitek yang mau terlibat dalam proyek pembangunan mall yang pernah kita lihat waktu itu akhirnya di buka. Aku sudah memasukan namamu. Maaf ya, aku nggak tanya persetujuan mu. Tes nya akan dilaksanakan mulai lusa."
Edewina tersenyum senang. Ini adalah impiannya. Rencana sang pemilik proyek yang hendak melibatkan beberapa mahasiswa arsitek dalam rancangan mall terbesar yang akan dibuat di London. Edewina dan Ken pernah melihat wacana ini beberapa bulan yang lalu. Akhirnya setelah menunggu hampir satu tahun, mall itu akan mulai dikerjakan.
"Terima kasih, Ken. Aku pasti akan ikut tes nya. Ini akan jadi pengalaman luar biasa jika memang aku bisa lolos. Pasti yang mendaftar banyak ya?"
"Banyak. Sampai kemarin sudah 432 orang. Yang akan diterima hanya 10 mahasiswa saja."
"Wah, kemungkinan untuk bisa masuk sangat kecil ya?"
"Nggak juga. Kamu kan orangnya selalu optimis dalam hal apa saja. Semangatmu itu yang akan membuat kamu berhasil. Kalaupun belum bisa masuk, berarti belum rejeki mu."
Edewina mengangguk. Ken memang sangat tahu bagaimana pribadinya.
"Eh, ya. Aku 2 malam ini banyak membaca buku untuk penelitian ku."
Ken mengangguk walaupun ia tahu kalau Edewina berbohong.
Dari jauh, Reo memperhatikan dua orang itu yang duduk sambil tertawa. Entah apa yang mereka bicarakan namun Edewina nampak bahagia.
Reo pun meninggalkan kompleks itu lalu segera kembali ke mobilnya. Ia sebenarnya sangat rindu dengan Edewina. Semalam saja ia tak tidur karena memikirkan istrinya itu. Selama ini, mereka telah tidur di kamar yang sama. Reo bahkan sudah terbiasa memeluk Edewina. Rasanya ia tak sanggup satu bulan harus berpisah dengan Wina.
**********
Adeline mengatur makan malam untuk Edewina.
"Bibi, bukankah waktu libur mu adalah hari sabtu dan minggu? Kenapa belum pergi?" tanya Edewina saat ia sudah duduk di depan meja makan.
"Tuan Reo meminta saya untuk ada di sini. Tuan takut nanti nyonya kesepian."
__ADS_1
"Aku sudah biasa tinggal sendiri di apartemenku yang lama. Jika bibi mau pergi, pergi saja."
Adeline duduk di hadapan Edewina. "Boleh aku duduk di sini?"
"Boleh. Ayo temani aku makan." ujar Wina.
"Aku sudah makan, nyonya. Aku hanya ingin bercerita dengan nyonya."
"Silahkan."
"Kira-kira 10? tahun yang lalu, tuan Reo baru saja kembali dari Indonesia. Ia dengan senangnya bercerita tentang seorang gadis kecil yang ditemuinya di pesawat. Gadis yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama. Waktu itu, aku tertawa mendengar cerita tuan Reo. Memangnya ada gadis kecil yang bisa membuat pria berusia 19 tahun jatuh cinta? Namun ternyata dari tahun ke tahun, kisah tentang gadis kecil itu tak pernah hilang. Tuan Reo selalu menceritakannya pada ayahku, bagaimana ia melihat gadis kecil itu tumbuh dari jauh. San bagaimana cintanya kepada gadis itu semakin besar saja." Adeline tersenyum mengingat hal itu. "Tuan Reo selalu bersemangat setiap kali ia bercerita tentang perkembangan gadis itu. Jika dia baru saja kembali dari Indonesia, maka dia akan menghabiskan waktu berjam-jam lamanya duduk di taman belakang bersama ayahku dan Mark. Aku tak pernah melihat tuan Reo mencintai gadis lain. Semua model, bintang film bahkan beberapa putri bangsawan yang secara terang-terangan mengatakan bahwa mereka mencintai tuan Reo tapi hati tuan Reo hanya untuk gadis kecil yang ditemuinya di pesawat itu."
Edewina mulai mencermati cerita Adeline. Apakah Reo patah hati karena gadis itu?
"Lalu apa yang terjadi dengan gadis itu?"
"Tuan Reo berhasil berkenalan dengannya. Foto pertama mereka ada di ruang kerja tuan Reo dan juga di kamar pribadinya. Aku tahu, jika tuan Reo mau, ia dapat membuat gadis itu menjadi miliknya. Namun dia ingin semuanya berjalan alami. Sampai akhirnya ia mendengar kalau gadis itu sudah memiliki pacar. Tuan Reo sangat kecewa. Ia bahkan menangis di hadapan ayah dan Mark. Ia bilang, kalau pacarnya itu baik, tuan Reo akan rela melepaskan perasaan cintanya."
"Dan di mana gadis itu sekarang?"
"Gadis itu bernama Edewina Carensia Moreno."
Edewina terpana. "A...aku?"
"Ya, nyonya. Tuan sudah mencintai Nyonya sejak usia Nyonya masih 10 tahun. Dia menunggu nyonya dengan setia. Aku pernah bilang pada ayahku, supaya tuan Reo melupakan gadis itu namun tuan Reo tak pernah mau."
"Mengapa?"
"Cinta sejati tak akan pernah mati dan sangat sulit untuk digantikan. Aku bukannya mau ikut campur masalah tuan dan nyonya, hanya saja aku merasa kasihan jika impian tuan Reo selama 10 tahun ini menjadi sia-sia. Pasti tuan tak akan pernah mau menikah lagi jika nyonya meminta cerai darinya."
Edewina terdiam. Cerita Adeline sungguh mengejutkan bagi Edewina. Tentang Reo dan cintanya pada Edewina semenjak Wina masih kecil.
*********
Ayo....
Apa yang akan Edewina lakukan saat tahu yang sebenarnya?
__ADS_1
Maaf ya bab ini pendek.
Aku masih stay at hospital