MEMILIKIMU ADALAH TAKDIRKU

MEMILIKIMU ADALAH TAKDIRKU
Perbuatan Siapa Ini?


__ADS_3

Rasanya Reo bagaikan tak memiliki kekuatan apa-apa lagi saat menerima telepon dari pihak polisi. Ia segera masuk ke dalam mobil dan meninggalkan Mark yang belum sempat ikut masuk ke sana. Akhirnya Mark memesan taxi setelah mengunci kembali rumah itu.


Sepanjang perjalanan Reo memanjatkan doa agar istrinya itu tak mengalami sesuatu yang serius.


Untung saja rumah sakit tempat Edewina di bawa adalah rumah sakit yang tak jauh dari kampusnya sehingga tak sampai 15 menit, Reo sudah tiba di sana.


Ia segera masuk dan berlari memasuki rumah sakit dan langsung menuju ke ruang gawat darurat.


"Di mana istriku? Edewina Almond!" ujar Reo dengan tak sabaran saat tak menemukan istrinya ada di sana.


"Nyonya Almond sedang ada di ruang intensif karena sedang dalam pemeriksaan khusus oleh tim dokter." kata salah satu suster.


"Memangnya apa yang terjadi dengannya?"


"Nyonya Edewina mengalami benturan yang keras di bagian perut dan beberapa bagian tubuhnya yang lain memar. Dan saat diperiksa ia ternyata sedang hamil."


"Ha...mil?" Reo terkejut.


"Ya."


Reo senang mendengarnya. Edewina hamil? Bukankah ini kabar yang akan membahagiakan seluruh keluarganya? Tapi, bukankah Indira juga sedang hamil anaknya?


"Di mana ruangan itu?" tanya Reo.


"Di lantai dua, ruangan pertama sesudah keluar dari lift."


Reo pun segera naik ke atas, dan kebetulan Mark sudah datang juga dan ikut bersamanya.


Ruang insentif itu masih tertutup rapat dan Reo di buat gelisah karena tak seorang pun mengijinkan dia masuk.


"Kata suster, Edewina sedang hamil." ujar Reo pada Mark.


"Tuan akan memiliki dua anak sekaligus di waktu yang hampir bersamaan."


"Diam, Mark!" sentak Reo walaupun ia tahu apa yang Mark katakan adalah sebuah kebenaran.


Tak lama kemudian, ponsel Reo berbunyi. Ternyata itu adalah telpon dari mommy Riani. "Apakah mommy tahu apa yang Edewina alami?" tanya Reo pada Mark. Pria itu menggeleng.


"Hallo mommy!" sapa Reo setelah menarik napas panjang beberapa kali.


"Reo......!" terdengar suara tangis mommy Riani.


"Ada apa, mom?"


"Daddy mengalami kecelakaan dengan helikopter."


"Apa?"


"Mommy mohon datanglah ke Manchester. Tim SAR sedang mencari keberadaan helikopter itu, nak. Mommy bisa gila sendirian di sini. Mommy juga sudah telepon Arma dan memintanya untuk datang ke sini. Cassie dan keluarganya baru tiba di Belanda beberapa jam yang lalu. Namun Cassie akan segera datang."


"Tapi mom..., Wina....Wina...."

__ADS_1


"Ajak saja Wina sekalian ke sini. Mommy tutup dulu ya?"


"Mommy....!" Reo menatap Mark dengan mata yang berkaca-kaca. "Daddy mengalami kecelakaan helikopter. Aku diminta mommy untuk segera ke sana. Namun bagaimana dengan Edewina?"


Dokter akhirnya keluar. Reo langsung menyerbunya dengan berbagai pertanyaan.


"Istri tuan sepertinya mengalami kekerasan fisik. Tangannya diikat dan wajah serta tangannya memar. Ada juga bekas pukulan di perutnya."


"Siapa yang berani menganggu istriku?" Reo mengepalkan tangannya.


"Ada kabar buruk juga yang harus kami katakan tuan. Kemungkinan terbesar, istri anda akan mengalami keguguran. Benturan di perutnya sangat keras dan usia kandungannya masih 5 minggu. Kami akan melihat perkembangannya ketika istri tuan siuman nanti." Kata dokter Hardi yang menangani Edewina.


"Tolong lakukan semua yang terbaik, dok." mohon Reo.


"Kami akan berusaha, tuan. Sekarang ini istri anda sedang tertidur karena pengaruh obat. Dia mungkin akan sadar beberapa jam lagi. Kami tak bisa memberikan dosis obat pereda rasa sakit dalam ukuran yang tepat karena itu akan mengganggu kehamilannya."


"Boleh aku melihatnya?"


"Maaf, tuan. Anda hanya bisa melihatnya dari kaca karena kami takut emosi nyonya akan memuncak saat mendengarkan suara tuan dan itu akan tak baik padanya. Sedikit saja ia menangis dan stresnya muncul, maka itu bisa berakibat fatal pada kandungannya."


"Baiklah." Reo mengalah dan hanya diijinkan melihat Edewina dari kaca yang ada. Setelah itu, ia meminta Mark untuk menjaga Edewina dan menelepon bibi Adeline untuk datang ke London. Namun bibi Adeline tak diijinkan untuk mengatakan keadaan Edewina yang sebenarnya. Reo pun segera terbang dengan jet pribadinya ke Manchester.


**********


Saat Edewina membuka matanya, ia merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Perlahan ia mulai mengingat apa yang terjadi dan air matanya langsung mengalir.


"Nyonya, jangan terlalu stres ya? Itu tak baik untuk kandunganmu. Kandunganmu baru saja mengalami benturan yang sangat keras karena itu dokter tak mengijinkan anda banyak bergerak." kata suster yang sedang berjaga di sana.


"Ya. Walaupun harus dikatakan bahwa keadaannya cukup kritis."


Edewina tersenyum walaupun tubuhnya masih merasakan sakit. Tangannya secara refleks mengusap perutnya, perasaanya menjadi lega.


"Pihak kepolisian sebenarnya sudah datang pagi ini. Namun dokter belum mengijinkan untuk ada wawancara karena mengingat kondisi anda, nyonya."


"Ini sudah jam berapa?"


"Jam 10 pagi."


"Oh......!" Edewina ingin bertanya siapa yang menjaganya namun ia tak mau ambil pusing. "Suster, aku tak ingin menemui siapapun."


"Di luar ada asisten suami anda dan seorang pelayan. Nama mereka Mark dan Adeline."


"Aku tak mau bertemu dengan siapapun termasuk suami ku juga."


"Baiklah."


"Terima kasih."


"Nyonya, anda mungkin akan merasakan sakit di sekujur tubuh anda. Dokter belum bisa memberikan obat pereda rasa sakit dalam dosis yang banyak karena mengingat kandunganmu."


"Baiklah. Aku masih bisa menahan rasa sakit ini."

__ADS_1


Suster itu tersenyum lalu meninggalkan Edewina sendiri.


Edewina ingin sendiri dulu. Ia sekarang akan fokus pada kandungannya. Ia tak mau ambil pusing dengan keberadaan Indira yang juga sedang hamil. Edewina sungguh ingin menjadi wanita kuat demi anaknya.


"Anakku, mami mohon padamu, tetap kuat di dalam sini ya, nak. Jangan tinggalkan mommy!" kata Edewina sambil mengusap perutnya perlahan. Rasa sakit di sekujur tubuhnya ia tahan.


*********


Setelah pencarian yang panjang selama 1 hari 1 malam, lokasi jatunya helikopter yang ditumpangi Jack pun di temukan.


Sang pilot meninggal dan Jack bersama 2 penumpang lainnya terluka cukup parah karena juga cuacana yang sangat dingin.


Riani nampak bernapas lega walaupun harus berhadapan dengan kondisi Jack yang sudah memang sangat parah.


Reo beralasan pada mommy nya kalau Edewina sakit jadi tak bisa ikut. Makanya Adeline di kirim untuk menemani Edewina.


"Bagaimana keadaan istriku, Mark?" tanya Reo dari sambungan telepon.


"Nyonya sudah agak membaik walaupun dokter belum mengijinkannya untuk turun dari ranjangnya. Kandungannya masih kritis. Namun nyonya tak mau bertemu dengan siapapun, tuan."


"Bagaimana dengan orang yang menyerangnya."


"Dokter juga belum bisa mengijinkan polisi mengambil keterangan dari nyonya. Hanya saja dari pantai CCTV di lokasi, nyonya di dorong keluar dari sebuah mobil Hammer berwarna hitam. Sayangnya pelat nomor mobil itu tak ada."


"Sial! Siapa itu Mark? Tak dapatkah kamu masuk dan bertanya pada istriku. Aku belum bisa meninggalkan daddy di sini karena keadaan daddy juga masih kritis. Aku kasihan pada mommy. Nantikan kalau kak Arma dan Kak Cassie sudah tiba, aku akan segera ke sana."


"Aku sementara menyelidikinya, tuan. Beberapa CCTV jalan juga sementara aku periksa. Tuan tenang saja di sana."


"Baiklah." Reo yang sementara mendonorkan darahnya untuk ayahnya pun hanya bisa tertunduk dengan lesu. Ia tak bisa membiarkan mamanya sediri. Perjalanan Cassie tertunda karena ada badai salju. Sementara Arma nanti akan tiba besok siang. Tak mungkin Reo membiarkan mamanya yang masih dalam keadaan terpuruk karena kondisinya papanya yang bisa saja berubah sewaktu-waktu.


***********


"Bagaimana kandungan saya, dok?" tanya Edewina setelah 3 hari ia menjalani perawatan.


"Masih belum membaik, nyonya. Karena itu kami berharap nyonya tetap ada di tempat tidur." kata Dokter Hardi saat memeriksa Edewina sore ini.


"Saya siap melakukan apa saja, dokter. Asalkan kandungan saya baik-baik saja."


"Kalau begitu, apakah nyonya sudah siap di wawancara oleh pihak kepolisian?"


"Iya. Saya siap."


Edewina memejamkan matanya sejenak. Mengingat kembali apa yang sudah dialaminya 3 hari yang lalu. Edewina harus berusaha kuat agar anaknya tak mengalami gangguan.


Pada saat yang sama, Mark mendapatkan kabar dari kantor kalau Indira sudah memberikan surat pengunduran dirinya. Mark pun langsung menghubungi Reo yang ternyata sudah tiba di kota London.


**********


Apa yang akan terjadi selanjutnya?


Menurut kalian adakah musuh dalam selimut?

__ADS_1


Siapa yang terlibat diantara Justin dan Ken?


__ADS_2