MEMILIKIMU ADALAH TAKDIRKU

MEMILIKIMU ADALAH TAKDIRKU
Hadiah Yang Reo Inginkan


__ADS_3

Edewina sebenarnya ingin jalan-jalan setelah ganti baju dan membuang kue ulang tahunnya ke tempat sampah. Entah mengapa perasaannya jadi galau.


Namun saat mobil sudah berjalan mengitari areal apartemen untuk keluar di gerbang belakang, Edewina justru jadi malas. Dan matanya menatap lapangan basket. Gadis itu turun. Ia langsung tersenyum melihat di sana ada bola basket yang tergeletak begitu saja. Ia pun segera mengambil bola itu dan memainkannya. Bermain basket ternyata membuat hatinya sedikit terhibur.


Puas bermain basket, Edewina pun merasa lelah dan mengantuk. Ia melirik jam tangannya yang sudah menunjukan pukul setengah tiga lewat.


Ia mulai merasa kedinginan. Makanya gadis itu pun kembali ke apartemen. Ia membuka pintu belakang dan itu berarti untuk bisa naik ke atas Edewina harus menggunakan tangga.


Apartemen milik Reo ini memang tangganya terpisah dengan tangga unit yang lain. Membuka pintu tangga saja, Edewina harus menekan kode khusus yang hanya dia dan Reo yang tahu.


Saat Edewina sampai di tangga terakhir. Ia pun duduk sejenak di sana. Menetralkan napasnya kembali, lalu segera menuju ke pintu masuk apartemen.


Edewina tersenyum masam saat menyadari kalau Reo tak ada di kamar. Apakah ia masih bersama Indira? Ah masa bodoh.


Setelah ganti baju dan mencuci mukanya, Edewina langsung tidur karena ia benar-benar sangat lelah.


*********


Reo merasa kesal karena tak tahu di mana harus mencari Edewina. Matanya terbelalak melihat mobil Edewina sedang parkir di dekat lapangan basket. Pada hal Reo sudah mengitari kompleks untuk mencari di mana keberadaan istrinya itu. Ia turun namun tak menemukan Edewina. Matanya kemudian menatap pintu masuk ke arah tangga. Apakah mungkin Edewina tadi masuk lewat tangga sehingga tak bertemu dengannya?


Reo mengambil ponselnya dan memeriksa CCTV yang terhubung dengan kontaknya. Ia langsung mendengus kesal saat melihat Edewina yang keluar lewat pintu dari tangga tepat di saat Reo masuk ke dalam lift. Pria itu segera masuk ke dalam apartemen nya dan menemukan Edewina yang sudah tertidur nyenyak.


Ia mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur, menatap Edewina yang sedang tidur sambil memeluk guling. Nampak kalau istrinya itu tak terganggu sama sekali saat Reo membelai wajah Edewina.


Kau selalu membuat hatiku sakit dengan sikap mu. Namun entah mengapa aku selalu mencintaimu. Apa yang sebenarnya ada dalam hatimu, Win? Kau mengatakan kalau Ken kini menjadi sepupu mu. Namun perhatian dan waktumu selalu ada untuknya.


Perlahan Reo mengecup dahi Edewina lalu berdiri dan berjalan menuju ke kamar mandi. Reo membuka bajunya dan ingin cuci muka untuk sekedar menghilangkan kepenatan jiwanya.


Saat ia membuka keranjang tempat baju kotor, di lihatnya baju olahraga Wina ada di sana. Apakah tadi dia main basket sendirian? Dasar bocil! Seenak jidatnya saja mau melakukan apa pun sendirian.


Selesai ganti baju, Reo pun merangkak naik ke atas ranjang. Ia tadi mengirim pesan pada Mark dan meminta pria itu meretas CCTV yang ada di restoran. Tak lama kemudian Mark mengirim rekaman CCTV yang menunjukan bahwa Edewina memang datang ke sana dan langsung pergi saat melihat Reo dan Indira yang berdansa.


Setelah melihat rekaman CCTV itu Reo langsung tersenyum. Ia menatap punggung Edewina lalu membelainya perlahan. Apa sih yang kau rasakan cantik? Perlahan Reo membaringkan tubuhnya sambil memeluk Edewina dari belakang. Ada perasaan lega dalam dirinya karena ternyata Edewina hadir di sana.


**********


Keduanya masih sama-sama terlelap karena lelah dan tidur sudah menjelang pagi. Namun bunyi ponsel Reo membuat keduanya sama-sama terbangun dan mendapati diri mereka saling berpelukan sambil berhadapan.


Edewina perlahan menarik diri dari pelukan Reo dan segera membalikan badannya.


Reo meraih ponselnya dari atas nakas. "Mommy yang menelepon. Wina ke sini, ini panggilan Videocall."


Edewina dengan cepat membaringkan kepalanya di dada Reo.


"Good morning....!" Sapa Riani dari seberang. Ia tersenyum manis melihat anak dan menantunya masih ada di tempat tidur. "Apakah mommy membangunkan kalian? Tapi di sana sekarang sudah jam 9 pagi kan?"


"Good morning mommy." jawab Reo dengan wajah yang memang masih terlihat mengantuk.


"Selamat ulang tahun sayang...!" ujar Riani. Di belakangnya ada Jack yang sedang memeluknya. Nampaknya keduanya sedang berdiri di balkon kamar.


"Terima kasih dad, terima kasih mom." ujar Reo dengan perasaan bahagia.


"Maaf ya, tahun ini kamu ulang tahun namun mommy dan daddy nggak ada. Kata daddy, kamu sudah ada yang mengurus. Pasti kamu lebih suka merayakan ulang tahun bersama Edewina." kata Riani sambil menatap anaknya dengan mata berseri-seri. "Bagaimana, sudah ada kabar baik belum?"


Reo tersenyum. Ia menatap istrinya sekilas lalu kembali melihat layar ponselnya. "Mom, dad. Sabar ya? Kami masih menikmati masa-masa berdua. Pasti akan ada saatnya Tuhan memberikan yang kita inginkan bersama. Iya akan sayang?" Reo melirik ke arah Edewina. Gadis itu mengangguk sambil tersenyum.


"Ok deh. Nikmati saja waktu kalian berdua. Selamat bersenang-senang ya?" Riani dan Jack melambaikan tangan lalu menutup percakapan.


Edewina langsung menarik dirinya dari pelukan Reo dan segera turun dari ranjang. Ia bermaksud akan ke kamar mandi.

__ADS_1


"Mengapa semalam kamu tak masuk ke restoran dan langsung pulang?"


Pertanyaan Reo menghentikan langkah gadis itu. Edewina menjadi gugup.


Reo berjalan mendekati Edewina dan berhenti di belakang istrinya itu. Perlahan tangan Reo melingkar di pinggang Edewina.


"Mengapa tak masuk? Pada hal kamu sudah membawa kue dan hadiah untukku." Reo mengusap perut Edewina dengan sangat lembut.


"A...aku mau ke toilet...!" Edewina mau melarikan diri namun Reo dengan cepat menahan tubuh istrinya itu dengan mengeratkan pelukan di pinggangnya.


"Sayang, kamu kan pernah bilang, jika ada masalah harus diselesaikan. Mengapa kini kamu mau melarikan diri?" tanya Reo lalu perlahan membalikan tubuh Edewina agar mereka kini saling berhadapan.


"A...aku...."Edewina tertunduk. Ia selalu merasa gugup ditatap Reo seperti ini. Tatapan yang mengintimidasi sehingga bukan hanya jantungnya yang berdebar, seluruh tubuhnya pun bergetar.


Reo melepaskan satu tangannya dari pinggang Edewina lalu memegang dagu istrinya dan memaksa Edewina untuk menatapnya. "Kenapa pergi? Kamu cemburu melihat aku bersama Indira?"


"Bu...bukan!" Edewina menggeleng cepat. "Aku hanya tak ingin menganggu."


"Dia sahabatku. Namun kamu istriku. Seharusnya kamu yang ada di sana dan bukan Indira. Aku lelah menunggumu, makanya aku menelepon Indira. Aku sungguh sedih saat itu, Win."


"Aku ingin datang sebelum jam 12. Namun taxi yang aku tumpangi tiba-tiba saja bannya kempes. Aku lupa membawa hp ku. Agak lama menunggu sampai akhirnya datang taxi yang lain. Namun aku terlambat. Aku juga nggak tahu kalau kamu ulang tahun. Untung mommy Riani telepon. Kalau aku tahu, pasti aku akan pulang lebih cepat saat mengantar Ken." Edewina akhirnya mengungkapkan apa yang ada di hatinya.


Reo menatap Edewina. Kekecewaannya tadi malam, seakan meluap begitu menatap menatap wajah Edewina yang terlihat menyesal (bucin kayak gini kan? Cepat luluh).


"Seharusnya kamu masuk, Win." Reo membelai wajah Edewina. "Aku sangat berharap kamu ada di sisiku. Aku telanjur kecewa sehingga meminta Indira datang."


"Salah kakak sendiri nggak memberitahu kan ulang tahunnya. Semalam aku seperti orang gila. Mencari toko kue yang buka jam 11 malam lalu mencari mall yang masih buka untuk membelikan hadiah."


"Lalu kenapa kuenya di buang."


"Kesal saja."


"Enggak." Edewina menggeleng namun wajahnya menjadi merah.


"Jujur saja." Reo menarik tubuh Edewina agar semakin dekat padanya.


"Kak Sen, aku mau ke toilet."


"Bohong."


"Kak....!"


"Kamu belum mengucapkan selamat ulang tahun untukku."


"Selamat ulang tahun, kak."


"Kurang mesra. Kita ini pacaran kan?"


Edewina yang memberontak ingin lepas dari Reo, menghentikan gerakan tubuhnya. Ia menatap Reo. "Selamat ulang tahun, kak. Maaf karena kemarin aku membuatmu kecewa. Aku tak bermaksud untuk mengabaikan mu."


Reo membelai wajah Edewina. "Terima kasih, sayang. Walaupun aku kecewa namun aku senang karena kamu ada usaha untuk datang dan memberikan kejutan untukku. Sayang ya, kita melewatkan momen manis itu."


"Kakak sih nggak sabar menunggu dan langsung menelepon kak Indira."


Reo tersenyum nakal. "Tuh kan, kamu memang cemburu."


"Kak Sen!" Edewina memukul dada Reo.


"Aow ...sakit, sayang."

__ADS_1


"Masa sih segitu aja sakit?" Edewina jadi khawatir.


"Cium!" ujar Reo sambil menunjuk dadanya.


"Cium dadanya?"


"Iyalah. Supaya sakitnya hilang."


Edewina mencium dada Reo. "Sudahkan?"


"Aku mau hadiahnya."


"Sebentar aku ambilkan hadiahnya."


"Aku nggak mau hadiah itu." Reo menahan tangan Edewina yang mau pergi.


"Kakak mau hadiah apa? Aku membelikan dasi untuk kakak. Aku nggak tahu kakak sukanya apa."


"Sekarang aku beri tahu hadiah apa yang ku inginkan."


"Apa? Akan ku usahakan mendapatkannya."


"Aku ingin bercinta denganmu."


Edewina terbelalak. Jantungnya seakan berhenti berdetak.


"Permintaan aku tak salah kan?"


"Ta...tapi, Ki...kita kan pacaran."


"Pacaran seperti orang barat kan? Jadi wajarlah jika aku minta yang ini."


Edewina masih terpana. Ia bingung harus menjawab apa.


"Kau mau memberikannya?" tanya Reo penuh harap.


"Aku.....!" Edewina bingung.


Reo tersenyum walaupun nampak kecewa. Ia mencium dahi Edewina. "Aku buatkan sarapan. Kau mandilah." Lalu ia segera membalikan tubuhnya hendak meninggalkan kamar.


Edewina merasa sangat tak enak. Reo terlihat sangat kecewa. "Kak.....!" panggil Edewina.


Reo membalikan badannya. "Ada apa?"


Edewina merasakan kalau tangannya berkeringat dingin. "Aku...., aku....."


Reo menatap Edewina. "Kenapa?"


"Aku siap memberikan hadiah yang kau inginkan."


Deg!


Reo terpana. Benarkah apa yang ia dengarkan?


********


Hallo semua .......


Reo dapat hadiah nggak ya?

__ADS_1


Ayo komennya mana? Kalau komennya banyak, aku up dua kali deh


__ADS_2