
Edewina duduk di sofa yang ada di ruangan Reo.
"Mau minum apa? Atau kamu ingin makan? Mau aku pesankan makanan?" tanya Reo sambil duduk di samping Edewina.
Perlahan Edewina menggeser posisi duduknya agar menjauh dari Reo.
"Batalkan pernikahan ini kak Reo. Kamu kan tahu kalau aku mencintai orang lain."
Reo berusaha menekan perasaannya. Ia bersikap sabar pada Edewina. "Wina sayang, Ken itu kan adalah sepupumu."
"Ok. Walaupun sulit aku menerima kenyataan bahwa Ken adalah sepupuku, namun bukan berarti kita harus menikah."
"Aku sudah merusak mu, Wina."
"Aku tak peduli. Bukankah banyak gadis di dunia ini yang sudah tak perawan lagi? Aku masih ingin kuliah. Aku belum mau menikah diusia ku yang masih muda ini."
Reo mengangguk. "Aku tahu. Tapi bagaimana jika kamu hamil? Sudah ku katakan kalau aku tak menggunakan pengaman malam itu."
"Tapi kan belum tentu aku hamil?"
"Bagaimana kalau memang hamil?"
"Kita akan pikirkan nanti. Tapi aku belum ingin menikah dalam jangka waktu sedekat ini."
"Wina, kamu masih boleh terus kuliah. Aku tak akan melarang mu."
Edewina menggeleng. "Aku tak mau menikah dengan orang yang tak kucintai. Aku hanya menganggap kamu sebagai kakak bagiku. Usia kita terpaut terlalu jauh menurutku. Ayolah kak Reo, batalkan lamaran itu. Bilang pada opa ku kalau kau akhirnya belum siap menikah." Mohon Edewina sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dadanya.
"Aku sudah siap menikah, Wina."
"Kak Reo, jangan sampai aku membencimu! Aku sudah memaafkan apa yang terjadi di kamar itu. Mungkin aku juga yang salah. Namun, aku belum mau menikah. Kamu juga kan tidak mencintai aku. Jangan menikah denganku karena merasa bersalah dengan apa yang terjadi di kamar hotel itu. Menikah itu bukan karena tanggungjawab saja. Harus ada rasa cinta."
"Aku mencintai kamu, Edewina!"
Edwina terkejut mendengar pengakuan Reo. Namun beberapa detik kemudian ia tertawa. "Sejak kapan? Sejak malam itu?"
Aku mencintai kamu sejak kamu belum berusia 10 tahun . Aku sudah menunggu untuk menyatakan cinta padamu selama 10 tahun ini. Ingin rasanya Reo mengucapkan itu namun ia tahu justru itu akan membuat Edewina merasa kalau Reo memang sudah merencanakan ini. "Entahlah. Aku tak tahu sejak kapan aku menyukai mu. Hanya saja kamu harus tahu kalau aku serius akan menikah denganmu. Aku sangat yakin kalau aku bisa membuatmu bahagia. Cinta akan tumbuh jika kita saling membuka hati."
Edewina berdiri. "Ternyata, percuma saja aku berbicara denganmu. Jangan memaksakan pernikahan ini kak Reo, karena kamu tak akan pernah mendapatkan cinta dariku. Hanya ada kebencian." Edewina akan pergi namun Reo menahan tangannya. "Wina...!"
"Lepaskan !" Edewina menarik tangannya dengan kasar. "Aku benci kamu Christensen Haireo Almond!" ucap Edewina pelan namun sangat menusuk di hati Reo.
Edewina sudah pergi. Menurut anak buah Reo, gadis itu datang hanya menggunakan taxi. Dan ia langsung pulang ke apartemen tanpa mampir lagi di kampus.
************
Ruang makan sudah tertata dengan rapi. Riani menyiapkan semuanya dengan istimewa. Ada makanan khas Indonesia, ada makanan khas Inggris dan ada makanan khas Spanyol.
__ADS_1
Reo sudah menjemput Edewina dan keluarganya. Ada juga satu mobil yang dibawa oleh sopir.
Sebelumnya, Reo sudah meminta pada Edmond dan Mahira agar tak mengatakan pada mamanya alasan dia dan Edewina akan menikah cepat. Karena mamanya belum tahu kejadian di hotel itu. Edmond dan Mahira setuju sambil mereka mengingatkan juga pada Edewina.
Edmond, Mahira dan opa Edriges di mobil yang sama sedangkan Edewina di minta naik ke mobil Reo. Gadis itu berusaha menurut karena tak ingin membuat opanya kecewa.
Begitu mereka tiba di kediaman keluarga Almond, Jack dan Riani sudah menunggu mereka di depan pintu.
Riani dan Mahira sama-sama tersenyum dan langsung saling memeluk seolah sudah lama saling kenal.
"Selamat datang di rumah kami." Ujar Riani lalu ia menatap Edewina. Dalam hati perempuan itu mengangumi kecantikan Edewina. Pantas saja Reo sangat menyukai Edewina.
"Edewina sayang, selamat datang di rumah ini." Riani memeluk Edewina dengan penuh sayang. Tiba-tiba ia merindukan Arma dan juga Cassie.
Edewina tersenyum melihat bagaimana lembutnya mama Reo.
Acara makan malam pun berlangsung penuh dengan suasana keakraban. Edmond dan Mahira nampak senang karena keluarga Reo terlihat baik dan juga berasal dari keluarga yang beragama. Itu terlihat jelas saat sebelum makan, Reo diminta oleh papanya untuk memimpin doa.
"Wina sayang, kita akan pergi ke butik untuk pembuatan gaun pengantin mu." ujar Riani.
"Baik, tante." Jawab Edewina pasrah. Ia melihat bagaimana bahagianya sang opa malam ini.
"Jangan panggil tante, nak. Panggil mommy. Kan sebentar lagi jadi mommy kamu juga." ujar Edriges diikuti anggukan kepala Riani.
"Benar sayang. Tak lama lagi kau akan menikah dengan Reo. Berarti akan menjadi anak di keluarga Almond. Mommy senang akhirnya Reo akan menikah. Selama ini Reo nggak pernah memiliki pacar. Mommy khawatir kalau dia tak akan menikah." ujar Riani membuat Edewina sedikit terkejut mendengar kalau Reo yang belum pernah pacaran.
**********
"Ken masuk rumah sakit." Kata Clara membuat Edewina terkejut. Pacar Clara juga sama-sama mahasiswa kedokteran S2.
"Ken sakit? Kenapa?"
"Katanya ia tak makan secara teratur. Asam lambungnya kambuh bahkan dia sempat tak sadarkan diri."
"Astaga, La. Gue harus melihatnya."
"Untuk apa? Lu kan yang sudah memutuskan hubungan kalian?"
Teman-teman Edewina tak tahu kejadian di hotel itu. Ia terpaksa berbohong dengan mengatakan kalau keluarganya ternyata sudah menjodohkan dia dengan Reo. Edewina juga tak mungkin mengatakan kalau dia dan Ken saudara sepupu. Mereka sudah sepakat tak akan membuka rahasia ini pada siapapun juga.
"Gue sudah dijodohkan, La."
"Gue tahu kalau lu sangat taat pada orang tua lu. Reo juga lelaki mapan, tampan dan terkenal. Siapa sih yang nggak mau sama dia? Tapi hubungan lu dengan Ken begitu manis."
Edewina menarik napas panjang. Ia melepaskan pulpen yang ada di tangannya. "Gue masih cinta sama Ken. Namun Gue tak boleh bersamanya. Itu nggak mungkin."
"Kalau begitu, jangan sok peduli dengannya. Biarkan Ken menyembuhkan luka hatinya. Gue juga sudah bicara dengan Ken. Dia bilang kalau dia menghormati keputusan lu."
__ADS_1
"Oh ya, Sinta mana?" Edewina langsung mengalihkan pembicaraan. Sinta adalah sahabat Edewina sejak SMA sedangkan Clara adalah mahasiswa Indonesia asal Jakarta. mereka bertiga menjadi akrab di kampus ini karena mengambil jurusan yang sama.
"Sinta sedang ada ujian susulan . Lu kan tahu dia sakit beberapa hari ini."
Edewina hanya mengangguk. Sejujurnya ia sangat gelisah saat tahu Ken masuk rumah sakit. Namun ia juga sudah berjanji tak akan menemui Ken. Ia harus belajar melupakan Ken walaupun ia tahu kalau itu pasti sangat sulit.
Selesai kuliah, Edewina memutuskan untuk ke rumah sakit. Tanpa ia sadari kalau anak buah Reo mengikutinya.
Saat Edewina akan masuk ke ruang perawatan Ken, langkahnya terhenti mendengar percakapan Ken dengan mamanya.
"Ma, aku mencintai Wina. Rasanya tak sanggup harus berpisah dengannya. Apalagi mendengar Wina harus menikah dengan pria yang bersamanya di kamar itu."
"Nak, kalian memang nggak boleh bersama karena kalian sedarah. Itu dosa. Bersyukurlah karena hubungan kalian belum begitu dalam dan semuanya sudah terbongkar. Bagaimana jika kalian sudah terlanjur nikah diam-diam? Lupakan Edewina, nak. Lagi pula opa mu pernah ada hubungan dengan bibinya Edewina. Itu adalah cerita kelam diantara keluarga kita."
"Rasanya sulit sekali, ma. Memangnya nggak boleh ya aku dan Wina menjalin hubungan?"
"Kamu calon dokter, nak. Kamu sudah tahu resikonya apa. Lagi pula agama kita melarangnya. Lupakan Wina. Lebih baik kalau kalian tak saling bertemu. Sebentar lagi kuliahmu selesai kan? Kembali ke Seoul dan jalani tugasmu sebagai seorang dokter."
Edewina memejamkan matanya. Perlahan ia mundur dan meninggalkan ruangan itu. Memang sebaiknya ia dan Ken tak saling bertemu.
Saat Edewina tiba di lobby rumah sakit, ia terkejut melihat Reo sudah ada di sana.
"Ngapain kamu di sini?" tanya Edewina kesal. "Kamu mengikuti aku ya?"
"Tidak. Aku baru saja mengunjungi salah satu karyawan ku yang melahirkan. Tuh beberapa staf yang lain." Reo menunjukan beberapa orang yang baru saja akan masuk ke mini bus yang berlogo perusahaan Almond.
"Ayo ku antar pulang. Kamu nggak membawa kendaraan kan?"
"Aku akan naik taxi!" Edewina melangkah namun Reo menahan lengannya.
"Wina, ayo masuk!" Reo menarik tangan Wina untuk masuk ke dalam mobilnya yang sudah terparkir di depan lobby.
"Wina, jarak rumah sakit ini ke apartemen mu cukup jauh. Ayo, ku antar." kata Reo sambil membuka pintu mobilnya.
Edewina tak punya pilihan. Ia langsung masuk ke dalam mobil walaupun tak duduk di depan. Ia lebih memilih duduk di belakang dan tak menghiraukan pintu yang sudah Reo buka.
"Kok duduk di belakang sih? Nanti aku dikira sopir mu."
"Masa bodoh!" ujar Edewina ketus lalu melipat kedua tangannya di dadanya.
Reo pun mengalah. Yang penting Edewina sudah masuk ke dalam mobil.
Sepanjang perjalanan gadis itu diam dengan menekuk wajahnya. Sedangkan Reo hanya tersenyum sambil melihat gadis itu dari kaca spion yang ada. Hatinya bahagia karena tak lama lagi ia akan menikah dengan gadis pujaannya.
**********
Hallo semua
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca part ini. Jangan lupa dukung emak ya guys