
Setelah meyakinkan papi dan mami nya bahwa ia hanya akan pergi dengan Clara dan Sinta, akhirnya Edewina diijinkan untuk hadir di pameran itu. Ia tahu kalau anak buah papinya pasti mengawasi dia. Edewina tak mau membuat masalah dan akhirnya rencana pernikahannya dengan Ken akan batal.
Benar saja, suasana hati Edewina yang tegang menjadi menyenangkan saat ia melihat sederet mobil Ferrari klasik. Namun tentu saja tak seindah yang Edewina miliki karena Ferrari jenis seperti itu sangat langkah dan hanya ada 5 di dunia.
Clara dan Sinta sebenarnya tak begitu tertarik dengan mobil. Mereka ikut denga. Edewina karena tahu di pameran ini banyak cowok ganteng dan tajir yang pasti hadir.
Benar saja, baru 10 menit Edewina ada di sana, kedua sahabatnya itu sudah menghilang.
"Wina?"
Edewina membalikan badannya. "Kak Indira kan?"
Indira tersenyum. Ia dan Edewina hanya sekali bertemu namun ingatan gadis itu cukup kuat.
"Ya. Apa kabar?" tanya Indira sambil memeluk Wina dan mencium pipi kiri dan kanan gadis itu.
"Baik. Kak Reo kemana ya?"
"Reo sedang ada tamu. Mungkin sedikit lagi ia akan datang. Mau minum?"
"Boleh juga. Tapi non alkohol kan?"
"Alkoholnya ada namun hanya sedikit. Nggak apa-apa kan?"
"Ok."
"Ayo kita cari tempat duduk!" ajak Indira lalu memanggil pelayan yang membawa minuman kepada para tamu.
Indira mengambil satu gelas dan tanpa disadari Edewina, ia menuangkan serbuk putih dari balik kuku panjangnya. Gelas itu ia berikan pada Wina sementara ia mengambil gelas yang lain.
Mereka pun asyik bercerita sementara beberapa anak buah Reo yang tampan, mengalihkan perhatian Sinta dan Clara.
Satu gelas dihabiskan oleh Edewina dan Indira meminta satu gelas lagi.
"Hallo....!" Reo akhirnya datang.
"Kak Reo.., terima kasih sudah mengundang aku untuk datang ke pameran ini." ujar Edewina.
"Bagaimana pamerannya? Baguskan?" tanya Reo.
"Bagus kak." Edewina melepaskan gelas yang ada di tangannya. Ia merasa tubuhnya agak panas.
"Aku ke toilet dulu ya?" pamit Edewina.
"Ya." ujar Reo sambil menatap Indira yang nampak sedikit khawatir.
"Bagaimana?" tanya Reo setelah Edewina pergi.
"Aman. Obatnya sudah bereaksi. Lalu, bagaimana ini?"
"Kau tahan saja teman-temannya, selebihnya serahkan padaku." Reo segera menyusul Edewina yang ada di toilet.
Di dalam toilet, Edewina mencuci wajahnya. Ada apa dengan aku ya? Apakah aku mabuk? Kenapa badanku rasanya panas sekali? Ada apa dengan aku?
Edewina bahkan merasa kalau ia sedikit pusing. Sebaiknya aku pulang saja.
Saat Edewina membuka pintu toilet, ia melihat Reo yang juga baru keluar dari toilet pria.
"Kak Reo...!"
"Wina? Ada apa?" tanya Reo sambil mendekati gadis itu.
Ketika Reo menyentuh tangan Edewina, gadis itu merasakan ada senyar aneh yang membuat kulitnya terasa panas.
"Aku...., aku....!" Edewina tiba-tiba saja memeluk pinggang Reo karena ia hampir jatuh. Entah mengapa ia ingin agar Reo menciumnya.
__ADS_1
*********
Reo menyelimuti tubuh polos Edewina. Tubuhnya berkeringat dingin. Ia duduk di tepi ranjang sambil mengusap wajahnya kasar.
Maafkan aku, Wina. Maafkan aku harus melakukan ini. Aku tak punya cara lain untuk membuat mu berpisah dengan saudara sepupumu. Dan aku tak punya cara lain untuk menjadikan mu sebagai milik ku.
Reo mengusap keringat di wajah Edewina. Ia mencium dahi perempuan yang sangat dicintainya itu. Ia kemudian kembali berbaring dan memeluk tubuh Edewina.
*********
Mahira mendapat kabar kalau anaknya ada di hotel tempat ia pamit untuk datang ke pameran. kedua teman Edewina tak tahu dimana temannya itu berada.
Yang membuat Mahira takut adalah ia tak menemukan pasport dan surat-surat penting milik Edewina di lemarinya.
Bagaimana kalau Edewina melarikan diri dengan Ken?
Pertanyaan itu yang semalaman berkecamuk di pikiran Mahira.
Apalagi saat ia mendapatkan SMS dari nomor yang tak dikenal yang memberitahukan kalau Edewina ada di kamar itu dengan seorang laki-laki.
Pihak hotel sebenarnya tak mau memberi tahu dimana keberadaan Edewina. Namun Clark yang datang dan melihat keributan itu jadi terkejut saat manager hotel mengatakan kalau Reo yang ada di kamar khusus itu.
Clark bingung karena setahu dia Reo bukan tipe pria yang suka main wanita. Clark tahu dari Jack kalau Reo sudah memiliki wanita impiannya.
"Saya pemilik hotel ini. Ayo saya antarkan!" Clark membawa kunci cadangan.
Clark yang membukakan pintu dan Mahira serta Edmond langsung masuk ke dalam.
"Edewina....!" teriak Mahira sambil menyalahkan lampu kamar. Perempuan itu langsung memalingkan wajahnya dan memeluk Edmond. Ia tak sanggup melihat Edewina yang tidur bersama Ken.
Edewina yang tidur menghadap ke arah tempat orang tuanya dan Clark berdiri, segera membuka matanya perlahan saat mendengar suara maminya. Ia terkejut saat merasakan ada tangan yang memeluknya dan langsung bersentuhan dengan kulit tubuh nya.
"Apa yang...." Edewina membalikan tubuhnya dan langsung berteriak histeris saat melihat kalau seseorang yang memeluknya itu adalah Reo.
"Ah...kak Reo...!" teriak histeris Edewina sambil menangis apalagi saat selimut yang menutupi tubuhnya melorot dan Edewina menyadari bahwa ia tak menggunakan sehelai benang pun di tubuhnya. Dengan cepat ia segera menarik kembali selimut itu.
"Wina, aku bisa jelaskan...!" ujar Reo dengan wajah menyesal.
Clark menatap Reo tak percaya. Sungguhkah keponakannya itu sudah memiliki kehidupan malam yang liar?
Edmond menatap ke arah Reo. "Bukan, Ken." bisik Edmond pada Mahira.
Mahira membalikan badannya. Ia pernah melihat Reo di galeri foto Edewina. Reo adalah lelaki yang membantu Edewina saat datang ke Inggris.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Mahira.
"Sebaiknya kalian berpakaian dulu dan kita bicara setelah itu." Clark memanggil Mahira dan Edmond untuk menunggu di bagian ruang tamu kamar itu.
"Aku adalah Clark. Pria yang bersama anak kalian adalah keponakanku. Namanya Christensen Haireo Almond." Ujar Clark.
Sementara itu di kamar, Reo sudah turun dari ranjang dan menggunakan pakaiannya kembali. Sedangkan Edewina masih menangis histeris. Ia masih bingung dengan apa yang terjadi dengan dirinya.
"Wina, pakailah dulu bajumu. Setelah itu kita akan bicara." ujar Reo.
Reo langsung pergi ke ruangan tamu dan duduk di sana.
Edmond memandang Reo sambil menahan amarahnya. Tangan lelaki itu ingin segera melayang dan menghajar wajah pria yang seenaknya saja sudah tidur dengan putrinya. Namun Edmond berusaha membuat pikirannya waras karena bisa saja ini terjadi bukan karena Reo adalah pria brengsek. Bisa saja atas dasar suka sama suka. Edmond masih menunggu penjelasan.
Sementara itu, Edewina yang sudah turun dari ranjang terkejut melihat ada bercak-bercak merah di seprei putih. Air matanya semakin deras mengalir.
Ken, maafkan aku...., maafkan aku Ken....Apa yang sudah terjadi semalam?
Edewina memungut bajunya satu persatu. Memakainya dengan hati yang berat. Apalagi saat ia melihat ke arah cermin dan melihat ada beberapa kissmark di lehernya.
Ia segera ke kamar mandi. Mencuci wajahnya dengan kasar sambil terus menangis. Setelah itu ia pun melangkah ke ruang tamu. Menatap wajah kedua orang tuanya yang nampak kecewa.
__ADS_1
"Sekarang jelaskan mengapa kalian bisa ada di kamar yang sama dalam keadaan tanpa busana?" tanya Mahira terlihat tak sabar.
"Aku tak tahu....!" Ujar Edewina sambil menggelengkan kepalanya.
Edmond menatap Reo. "Kamu memperkosa anakku?"
"Edewina sedikit mabuk. Ia bilang agak pusing. Jadi aku membawanya ke kamarku. Aku juga sudah minum semalam. Dan kami...., aku..., aku tak bisa menahan diriku saat Edewina..., dia...." Reo terlihat enggan menceritakannya.
Edewina mencoba mencermati kalimat Reo. Dia ingat semalam ketika Reo menyentuh tangannya, entah kenapa dia justru ingin agar Reo menciumnya. Gadis itu terpana. Ya Tuhan, apakah aku yang menggodanya? Tapi, bagaimana mungkin?
"Wina, cepat katakan yang sebenarnya!" teriak Mahira sambil menarik tangan Edewina yang menutupi wajahnya.
"Wina...., nggak ingat mami."
"Ah.....!" Mahira dengan cepat menampar putrinya. Edmond sendiri menjadi terkejut karena ia tak pernah melihat Mahira memukul anaknya.
"Sayang, kendalikan dirimu!" Edmond langsung memeluk Mahira.
"Om, tante, saya akan bertanggungjawab!" ujar Reo. Ia merasa tak tega melihat Mahira menampar Edewina.
"Aku tidak mau!" seru Edewina sambil menatap Reo dengan tajam.
Mahira langsung berdiri dan keluar dari kamar itu. Edmond menyusulnya demikian juga dengan Edewina.
"Reo....!" Clark menahan tangan Reo saat ponakannya itu ingin pergi juga.
"Uncle aku....!"
"Sabar. Jangan bertindak gegabah. Tunggu di sini, aku telepon Daddy mu dulu." ujar Clark.
Tak sampai 30 menit, Jack sudah tiba di hotel.
"Kau sudah memperkosa anak orang?"tanya Jack kaget.
"Bukan memperkosa, Jack. Tahulah mereka sama-sama mabuk. Kayak nggak pernah aja ." protes Clark membuat Jack menatapnya tajam.
"Siapa perempuan itu? Kamu ingin ada skandal, Reo? Mommy mu bisa mati berdiri. Ia begitu bangga denganmu karena selama ini kamu tak pernah membuat skandal apapun. Dari keluarga mana dia? Biar kita bicara baik-baik."
"Aku akan bertanggungjawab, dad."
"Pada wanita yang tak kau cintai? Kamu pikir enak menikah tanpa cinta?"
"Namanya Edewina Carensia Moreno."
Jack terpana. "Dia? Gadis yang kau sukai itu? Waw..., kau menjebaknya?"
"Jebakan apa ini?" tanya Clark penasaran.
"Diam, Clark. Yang pasti nggak beda-beda jauh dengan caramu menjebak Camila." sindir Jack membuat Clark langsung terkekeh.
"Aku terpaksa melakukan ini, dad. Dia berencana menikah secara diam-diam dengan pacarnya."
Clark mengangguk. "Bagus, nak! Kita memang harus berjuang dengan apa yang menurut kita pantas untuk kita miliki. Kau sungguh pemaksa. Kayak bapakmu dan juga pamanmu! Hidup Almond!"
"Diam Clark! Kau kan tak membawa nama Almond. Tinggalkan aku dengan anakku."
Clark mengangguk. Ia melangkah pergi namun sampai di depan pintu ia berbalik. "Tak butuh ide dariku? Kamu kan tahu kalau aku lebih licik dari dirimu."
"Out...!" Jack membuka sepatunya dan siap melemparkannya pada Clark namun saudaranya itu sudah lebih dulu pergi.
*********
Hallo semua.....
semoga suka dengan kisah ini.
__ADS_1
jangan lupa tinggalkan jejak ya