MEMILIKIMU ADALAH TAKDIRKU

MEMILIKIMU ADALAH TAKDIRKU
Perhatian Reo


__ADS_3

Berciuman di tepi danau, sambil menikmati indahnya sinar rembulan membuat dua insan itu terlihat begitu romantis.


Untuk sesaat, Edewina larut dalam suasana penuh keintiman itu. Karena cara berciuman Reo sangat berbeda dengan cara Ken menciumnya.


Edewina merasakan kalau tubuhnya panas. Ciuman ini sudah berubah ke sesuatu yang dapat menghanyutkannya. Namun ia tak juga ingin mengakhirinya sampai akhirnya ciuman itu harus berakhir karena keduanya memang membutuhkan pasokan oksigen untuk para-paru mereka.


Reo tak menjauhkan wajah mereka. Ia masih memegang pipi Edewina dan menatap mata istrinya itu dengan tatapan penuh cinta.


"Pacaran itu memang sangat indah ya?"


Edewina hanya terkekeh.


Reo mengajak Edewina duduk di bangku beton yang ada di sana. Keduanya duduk sambil tangan Reo melingkar di bahu Edewina.


"Sayang, kamu kedinginan?" tanya Reo saat ia merasakan kalau tubuh Edewina sedikit menggigil.


"Iya. Udaranya mulai dingin."


"Kita pulang saja?"


Edewina mengangguk.


Reo berdiri lalu berjongkok di depan Edewina. "Ayo naik!"


"Naik kemana?"


"Ke punggungku."


"Aku bisa jalan, kak."


"Pokoknya naik saja. Aku nggak mau kamu capek."


"Kak, aku biasa jalan kaki."


"Naik saja, jangan membantah."


"Kak....!"


"Wina!" Suara Reo berubah menjadi sedikit memerintah.


"Ih..., dasar tukang memaksa!" Edewina menggerutu namun ia naik juga ke punggung Reo.


Pria itu tersenyum lalu mulai mengangkat tubuhnya. "Kamu ringan sayang. Nggak berat."


"Aku makan banyak tadi." ujar Edewina sambil melingkarkan kakinya di pinggang Reo.


"Tetap saja masih ringan. Aku terbiasa menantang ombak yang besar dan membuat papan seluncur ku menjadi berat. Otot-otot ku terbiasa mengangkat beban berat saat aku gym."


"Sombongnya."


Reo hanya terkekeh. "Malam ini kencan kita ditutup dengan hal yang sangat indah dan romantis. Aku akan mengenang hari ini saat kita tua nanti. Pasti sangat indah menceritakannya pada anak cucu kita nanti. Di kencan pertama kita, saat kamu belum mencintaiku, namun cintaku padamu semakin besar saja."


Hati Edewina tersentuh mendengar perkataan Reo. Gadis itu menyandarkan kepalanya di punggung Reo.


Entah mengapa ia merasa hangat dengan semua perhatian Reo.


Sesampai di rumah, keduanya melangkah masuk tanpa membuat suara karena tak ingin menganggu yang lain.


Namun, Reo dan Edewina menemukan pemandangan romantis. Riani dan Jack sedang duduk bersama di sofa yang ada di ruang tamu. TV masih menyala dengan suara yang sangat pelan namun pasangan suami istri itu nampak sudah tertidur. Jack memeluk bahu Riani dengan sangat posesif sementara kepala Riani bersandar di bahu Jack.


"Mereka sangat mesra." ujar Edewina.


"Ya. Daddy walaupun sudah tua, pasti akan sangat cemburu bila ada pria yang menatap mommy dengan tatapan kagum."


"Kenapa mereka tidur di sini?"


"Pasti menunggu kita pulang. Begitulah mommy. Saat kak Cassie dan kak Arma belum nikah, dan mereka pergi keluar malam-malam, mommy akan menunggu di ruang tamu sampai ketiduran. Saat aku dewasa pun seperti itu."


Keduanya berjalan menyeberangi ruang tamu dan menuju ke kamar Reo yang ada di bagian belakang.


Saat memasuki kamar, Edewina segera menuju ke kamar mandi untuk mencuci wajah dan menggosok giginya. Setelah itu ia keluar dan gantian Reo yang masuk ke kamar mandi. Kesempatan itu digunakan Edewina untuk mengganti bajunya. Namun baru saja ia menjatuhkan gaunnya ke lantai, Reo keluar lagi membuat Edewina hampir menjerit dan langsung mengambil kembali gaunnya untuk menutupi tubuhnya.


"Kak Sen....!" Edewina melotot.


"Kenapa?" tanya Reo tanpa merasa bersalah.

__ADS_1


"Kamu kok keluarnya cepat sekali? Aku baru saja mau ganti baju."


"Aku melupakan odol ku. Kamu kan tahu kalau gigiku jenisnya sensitif jadi harus pakai odol khusus." Reo membuka tasnya lalu mengeluarkan odolnya. Saat ia akan kembali ke kamar mandi, ia membalikan badannya dan menatap Edewina. "Kenapa belum ganti pakaian?"


"Kakak masuk dulu ke kamar mandi."


"Kenapa memangnya kalau aku melihat? Kamu kan istriku" tanya Reo sambil menahan senyum nakalnya.


"Status kita kan masih pacaran."


"Pacaran ala orang Barat kan? Biasalah kalau saling melihat."


"Masuk sana ke kamar mandi. Aku kedinginan nih!"


"Ok baby!" Reo pun melangkah masuk ke kamar mandi. Sesungguhnya, saat melihat Edewina tadi, jantungnya berdetak cepat. Memang ini bukan kali pertama ia melihat Edewina tampil polos. Tapi tetap saja itu menggodanya. Reo harus menarik napas panjang, berusaha menetralkan gejolak dalam dirinya. Ia berusaha menahan hasratnya. Bagaimana pun, ia masih lelaki normal.


Edewina langsung naik ke atas tempat tidur. Ia berdoa sebentar, lalu membaringkan tubuhnya. Matanya menatap langit-langit kamar ini. Memang tak sebesar dan semewah kamar Reo di kota. Namun suasana di desa ini, membuat Edewina merasa tenang. Kamar ini pun rasanya sangat nyaman.


Reo keluar dari kamar mandi hanya menggunakan boxer. Edewina pura-pura memejamkan matanya melihat betapa atletisnya tubuh lelaki yang telah menjadi suaminya itu.


"Sayang, kamu sudah tidur?" hanya Reo sedikit heran karena rasanya ia tak lama berada di kamar mandi. Tak ada sahutan dari Edewina.


Selesai mengenakan kaos oblong dan celana rumahannya, Reo pun naik ke atas ranjang. Ia mencium puncak kepala Edewina lalu membaringkan tubuhnya di samping sang istri. "Good night, baby. Sweet dream." Ujar Reo lalu memeluk Edewina dan memejamkan matanya.


*********


4 Hari di Menchaster, akhirnya pasangan suami istri itu kembali ke London.


Pagi ini Edewina berangkat lebih dulu dari Reo karena ia ada kuliah pagi yaitu jam 7.


"Sayang, hati-hati menyetirnya." Reo mengingatkan.


"Baik, kak."


"Eh, mau kemana?"


"Mau pergi, kak. Ini sudah jam 6 lewat. Aku bisa terlambat." Ujar Edewina lalu mengambil tas dan kunci mobilnya.


"Sayang, ini sarapan mu. Makanlah jika kuliahnya sudah selesai." kata Reo sambil menyerahkan tas berisi kotak makanan.


"Jam 5. Aku hanya menyiapkan nasi goreng. Resep dari mommy Riani. Aku juga menyiapkan teh hangat untukmu. Semuanya ada dalam tas."


Edewina menerima tas makanan itu. "Terima kasih ya, kak."


"Kalau ada kesempatan, selesai kuliah, kamu mau nggak datang ke hotel paman Clark?"


"Memangnya ada apa?"


"Ada peluncuran produk olahraga terbaru. Acaranya jam 4 sore. Aku tahu kuliahmu selesainya jam 2 siang. Aku akan siapkan gaun di kantor. Kamu ganti pakaian saja di sana."


"Mommy dan daddy akan datang?"


"Mereka sudah berangkat ke Korea pagi ini. Menikmati liburan. Masih dalam rangka ulang tahun mommy. Begitulah mereka. Selalu mesra dan romantis."


Edewina tersenyum. "Aku senang mendengarnya. Oh ya, aku pergi ya kak. Aku akan datang ke acara itu."


"Eh....!"


Langkah Edewina terhenti. Ia membalikan tubuhnya. "Ada apa lagi?"


"Cium." kata Reo sambil menunjuk pipinya.


"Kakak...!" Edewina memutar matanya malas. Namun ia melangkah juga dan mencium pipi kanan Reo.


"Satunya lagi."


Wina pun mencium pipi kiri Reo.


"Have a bless day, baby." ujar Reo sebelum Edewina menghilang dibalik pintu. Gadis itu hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Entah mengapa hatinya jadi bahagia.


*********


Saat Edewina memarkir mobilnya di tempat biasa, ia terkejut melihat Ken juga baru turun dari mobil. Ia sudah ganti mobil.


"Ken? Kamu sudah masuk kuliah?" tanya Edewina.

__ADS_1


"Mulai hari ini. Hampir sebulan istirahat, rasanya bosan."


"Tapi wajahmu masih terlihat pucat."


"Mungkin karena selama ini aku diam di dalam apartemen saja."


"Aku dengar mama mu datang?"


"Ya. Sudah seminggu. Mama marah karena ia baru tahu. Kuliah pagi juga?" tanya Ken mengalihkan pembicaraan.


"Iya. Kamu juga?"


"Kuliahnya nanti jam 8. Namun ingin saja datang pagi. Kangen dengan kampus."


Edewina tersenyum. "Kalau begitu aku duluan ya? Sudah mau jam 7." ujar Wina lalu segera melangkah meninggalkan Ken.


Selesai kuliah jam setengah sembilan. Edewina dan kedua sahabatnya menuju cafe. Namun gadis itu tak memesan makanan. Ia membuka bekal makanan yang di masak Reo untuknya.


"Tumben bawa makanan." ujar Sinta.


"Kak Sen yang buatkan."


"Kak Sen? Reo kan? Kamu panggil dia dengan sebutan kak Sen lagi? Wah....wah...., sudah ada kemajuan nih!" Sinta dan Clara saling berpandangan sambil mengangkat alis mereka.


"Aku mencoba untuk membuka hati untuknya. Walaupun masih sulit melupakan kisah ku bersama Ken, namun aku juga tak bisa melupakan kenyataan kalau sekarang aku adalah istri orang."


"Nah, gitu dong. Jadi sudah sejauh mana urusan di ranjang?" tanya Clara penasaran.


"Kalian apaan sih? Kami sekarang statusnya pacaran dulu. Jadi nggak akan seperti yang kalian pikirkan."


Clara dan Sinta tertawa bersama. "Lugunya teman kita ini."


Mereka sarapan bersama. Edewina merasa kalau nasi goreng buatan Reo sungguh enak. Ia menghabiskan semua nasi goreng yang Reo siapkan itu.


Tak lama kemudian Brian dan Ken datang. Begitulah mereka dulu. Selalu berkumpul bersama. Sebenarnya mereka berenam dengan pacarnya Clara. Namun semenjak Clara menemukan pacarnya itu tidur dengan gadis lain, gadis itu memilih untuk sendiri dulu dan fokus dengan kuliahnya.


"Sebentar kita nonton yuk! Ada film bagus." ujar Brian.


"Boleh. Jam berapa?" tanya Clara.


"Jam 3 sore. kalian kan selesai kuliah jam 2. Kami juga selesainya jam 2." lanjut Brian.


"Aku nggak bisa. Ada acara." tolak Edewina pelan.


Ken nampak kecewa. Ia yakin itu acara bersama suaminya Edewina.


**********


Jam dua lewat 20 menit, Edewina sudah berjalan ke arah tempat parkir. Reo sudah menelepon nya dan Edwina mengatakan bahwa kuliahnya baru saja berakhir. Namun saat tiba di tempat parkir, ia terkejut melihat Ken yang nampak pucat bersandar di mobilnya.


"Ken, ada apa?"


Ken yang memegang perutnya menatap Edewina. "Bekas operasi ku rasanya sakit. Kaki ku agak kesemutan."


"Ya ampun. Mana Brian?"


"Masih ada di perpustakaan. Dia ada perbaikan nilai. Makanya acara nontonnya sudah dibatalkan."


"Duh, Ken. Aku harus apa?"


"Tolong antarkan aku ke apartemenku. Obatku ada di sana."


"Ok. Naik mobilmu atau mobilku?"


"Mobilku saja."


Edewina membantu Ken untuk masuk ke dalam mobil. Ia sangat takut melihat kondisi Ken yang nampak pucat dan berkeringat dingin.


***********


Hallo semuanya.....


Pasti gemes kan pada Edewina.


Batal nggak ya Edewina ke acaranya Reo?

__ADS_1


Jangan lupa dukung emak ya


__ADS_2