
Hari menjelang malam saat Edewina bangun dan menemukan dirinya ada di atas ranjang. Rumah yang baru. Walaupun kamar ini terlihat belum terisi interior yang lain namun Edewina merasa cukup senang ada di sini.
Ia pun perlahan bangun dan turun dari ranjang. Ada suara air dari kamar mandi. Mungkin Reo yang sedang mandi.
Edewina berdiri di depan meja rias yang ada kaca besarnya. Ia memperbaiki rambutnya yang agak acak-acakan, menyisir sebentar dengan jari-jari tangannya lalu ia menggulungnya ke atas secara asal-asalan. Kemudian Edewina keluar kamar. Perutnya mulai terasa perih dan Edewina tahu kalau ia sudah lapar.
Ketika ia tiba di ruang makan, ia terkejut melihat sudah ada makanan di sana. Edewina pun tersenyum saat ia meyakini kalau semua ini disiapkan oleh Reo.
Ada beberapa botol minuman air mineral. Mungkin karena rumah ini masih kosong sehingga Reo membelinya untuk air minum mereka.
Sepasang tangan tiba-tiba memeluk Edewina dari belakang. Ada aroma sabun mandi yang perempuan itu cium saat sang pemilik tangan mencium tengkuknya yang terbuka.
"Kak....!" Edewina berusaha menggoyangkan kepalanya karena ia merasa geli dengan ciuman Reo.
Perlahan Reo membalikan tubuh Edewina. Keduanya kini saling berpandangan. "Kamu sudah lapar?" tanya Reo sambil membelai wajah istrinya.
"Iya." jawab Edewina sambil mengusap perutnya.
Reo terkekeh. "Caramu mengusap perutmu membuat aku tak sabar ingin segera membuatmu hamil."
Wajah Edewina langsung panas. "Kakak ...!"
"Dan aku paling suka melihat kau tersipu seperti sekarang ini."
Edewina mencubit dada Reo untuk menghilangkan rasa malunya.
Reo langsung membawa Edewina ke dalam pelukannya. "Aku bahagia sayang. Kita jadi mesra seperti ini." Lalu ia melepaskan pelukannya dan mengecup bibir Edewina. "Aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu, kak."
Reo mencium dahi Edewina lalu melepaskan pelukannya. "Ayo kita makan. Tadi aku meminta Mark untuk memesan makanan. Di dapur belum ada apa-apa. Rencananya nanti mulai besok desain interior nya datang untuk melengkapi segala sesuatu di rumah ini. Mungkin satu minggu lagi baru kita bisa pindah ke sini."
"Ok."
Reo menarik kursi makan yang ada di belakangnya lalu menyuruh istrinya itu duduk. Mereka berdua pun makan malam bersama dengan lahap.
Selesai makan malam, Edewina membersihkan meja.
"Sayang, memangnya kamu sudah sehat? Biar aku saja yang membersihkan mejanya." ujar Reo sedikit khawatir.
"Aku baik-baik saja, kak. Ini kan memang sudah tugasku sebagai istrimu."
Hati Reo bahagia saat Edewina menyebut kalimat itu. Ada rasa kepemilikan yang membuat Reo merasa bangga saat Edewina menjadikannya bagian dalam hidupnya.
"I love you." ujar Reo membuat Edewina meliriknya sambil tersenyum. "Nggak bosan ya mengucapkan kalimat itu terus?"
"Nggak akan pernah bosan, sayang. Aku bantu kamu ya? Aku menyapu lantai saja."
"Memangnya bisa?"
__ADS_1
"Ini sih tugas menyapu aku yang pertama."
"Ya lakukan saja, deh."
Reo pun mengambil sapu dan mulai melaksanakan tugasnya. Edewina pun melanjutkan mencuci piring. Setelah keduanya sama-sama selesai, Edewina mengeringkan tangannya dan memeriksa hasil pekerjaan Reo. "Kayaknya bersih juga."
"Aku mau minta bibi Adeline untuk datang." kata Reo.
"Eh, kak, boleh nggak kita saja yang tinggal di rumah ini?"
Reo mendekati istrinya. "Ada apa? Kamu nggak suka dengan bibi Adeline?"
"Bukan. Aku suka kok. Hanya saja aku ingin melakukan tugasku sebagai istri dengan tanganku sendiri. Aku ingin belajar masak, membuat kue kesukaanmu, menyiapkan pakaianmu. Selama kita menikah kan selalu bibi yang menyiapkan makanan, dan kamu sendiri yang menyiapkan bajumu."
Reo tersenyum senang. Ia meraih kedua tangan Edewina dan menyatukan nya dalam genggamannya. "Sayang, aku nggak ingin kamu capek. Kamu kan harus kuliah, ditambah lagi dengan bekerja."
"Kalau aku capek, aku pasti akan bilang. Kita bisa minta pelayan di rumah utama untuk datang setiap seminggu sekali untuk membersihkan rumah."
Reo mencium kedua tangan Edewina yang ada dalam genggamannya. "Baiklah. Yang penting kamu jangan sampai kecapean. Sekarang kita pulang ke apartemen dulu ya? Kita akan lihat barang-barang apa yang bisa kita bawa untuk dipindahkan ke sini. Selebihnya barang-barang itu kita tinggalkan saja untuk pembeli apartemennya."
"Kamu ingin menjualnya?"
"Kamu ingin mempertahankannya?" tanya Reo balik.
Edewina menggeleng. "Nggak juga. Kita pernah punya kenangan manis sekaligus kenangan buruk di sana. Memang sebaiknya apartemen itu kita jual. Kita akan memulai hidup baru di tempat ini. Aku suka tempat ini."
************
Selama satu minggu, Reo mengerjakan para ahli bangunan untuk menyiapkan rumah itu dan desain interior yang mengerjakan bagian dalam rumahnya. Reo juga meminta mereka memasang pagar keliling yang cukup tinggi di bagian belakang dan samping rumah itu namun di depannya, pagar yang tak terlalu tinggi karena Edewina tak ingin pemandangan rumah itu terhalang dari luar.
Edewina sendiri membagi waktunya antara kuliah, bekerja dan juga datang memeriksa setiap hari apa yang telah dilakukan oleh semua pekerja yang dikerahkan oleh suaminya dengan jumlah yang lumayan banyak. Tak lupa juga Reo memasang CCTV demi keamanan rumah itu karena jarak rumah mereka dengan tetangga cukup jauh.
"Selamat siang cantik." Sapa Justin saat ia memasuki ruangan tempat Edewina dan para kru nya bekerja.
"Selamat siang, Justin." Sapa Edewina diikuti pandangan beberapa temannya yang tersenyum penuh arti saat Justin memanggilnya dengan sapaan cantik.
"Bagaimana kesehatanmu ?" tanya Justin lalu menarik kursi dan duduk di depan meja kerja Edewina.
"Aku sudah membaik. Namun seperti inilah, kemana-mana harus membawa bekal makanan." Kata Edewina sambil menunjuk kotak makanan yang ada di atas mejanya.
"Baguslah. Kau memang harus menjaga kesehatan usus mu dengan baik. Oh ya, aku ke apartemen mu namun katanya kamu sudah pindah?"
Edewina mengangguk. "Aku kembali berdamai dengan suamiku." kata Edewina agak pelan karena memang ia tak mau urusan pribadinya diketahui oleh orang lain.
"Baguslah. Itu memang lebih baik. Walaupun sebenarnya aku sedikit patah hati."
"Kok gitu sih?"
Justin tertawa. "Aku hanya bercanda. Silahkan lanjutkan kerjanya. Jangan lupa minggu depan kita ada rapat evaluasi tahap 1. Aku berharap kerja kalian semakin baik sehingga kontraknya akan terus di perpanjang."
__ADS_1
"Ok siap....!"
Setelah Justin meninggalkan ruang kerja Edewina cs, Sandra mendekatinya.
"Win, si bos kayaknya tertarik denganmu, ya?"
"Nggak mungkin. Dia tahu kalau aku sudah menikah."
"Oh gitu ya? Yang aku dengar kalau si bos orangnya agak play boy. Banyak cewek yang patah hati karena dia."
"Oh ya?"
"Aku pikir kalau dia akan menggoda kamu. Makanya sebaiknya kamu tahu tentang masa lalunya."
"Aku nggak mungkin tertarik dengan pria lain. Aku mencintai suamiku."
"Suamimu yang mana sih? Kok aku nggak pernah lihat dia menjemputmu?"
"Dia....."
"Hi everybody!" Secara mengejutkan Reo muncul di ruangan kerja Edewina. Semua teman-temannya langsung menatap Edewina sambil tersenyum menggoda.
"Perkenalkan ini suamiku." kata Edewina sambil berdiri dan langsung menggandeng tangan suaminya.
"Christensen Haireo Almond ini adalah suamimu? Wah....wah...beruntung sekali kamu, Wina." ujar Tirsa sambil mengangkat kedua jempolnya.
"Ini memang suamiku." Edewina jadi agak tersipu namun Reo segera melingkarkan tangannya di bahu sang istri. "Aku menjemput istriku untuk makan siang."
"Wah....wah....romantis banget."
Edewina langsung mengambil tasnya. Sebelum ia digoda habisan-habisan oleh teman-temannya, ia.segera mengajak Reo pergi.
"Kenapa tak memberi tahu kalau kamu akan datang?" tanya Edewina saat keduanya melangkah ke tempat parkir.
"Sengaja. Aku hanya ingin melihat apakah saat istriku bekerja, bos nya si Justin itu sedang ada bersamanya atau tidak?"
"Memangnya kenapa kalau dia ada bersamaku?"
"Aku akan menjaga istriku dari tatapan menggodanya. Aku tahu siapa Justin."
"Seribu Justin pun nggak akan pernah menggoyahkan hatiku yang sudah dimiliki oleh kamu, sayang."
Reo mengentikan langkahnya. Ia menatap istrinya. "Ini bukan kata-kata rayuan kan?"
"Aku nggak merayu, kak."
Reo menatap mata Edewina. Ia menemukan tatapan mata yang selama ini ia cari. Tatapan mata yang penuh cinta. Tak sabar Reo langsung mencium istrinya. Keduanya seakan tak peduli dengan waktu dan tempat. Mereka berciuman dengan begitu panasnya.
Tak jauh dari situ, ada mobil Hammer yang berhenti. Kacanya terbuka. Ada pria yang menatap mereka sambil tersenyum sinis.
__ADS_1