
Tak tega rasanya Edewina harus membangunkan Ken. Namun taman ini akan ditutup dan mereka harus menggunakan sepeda sampai di depan pintu masuk yang jaraknya lumayan jauh.
"Ken, ayo bangun! Tamannya sudah mau tutup."
Ken perlahan membuka matanya. "Aku masih mengantuk."
"Ini sudah hampir jam setengah tujuh."
Ken perlahan berdiri. "Astaga, aku tidurnya sangat nyenyak ya?"
Edewina mengangguk.
"Aku jadi lapar."
"Kita akan cari makan."
Keduanya pun langsung naik ke atas sepeda masing-masing dan mengayuh sepedanya menuju ke pintu masuk taman.
"Ya, pintunya sudah di tutup." kata Edewina dengan wajah khawatir.
"Sebentar, itu ada nomor telepon penjaganya." Ken menunjuk secari kertas yang sepertinya sengaja ditempelkan di pintu pos penjagaan. Cowok itu langsung menelepon. "10 menit lagi ia akan datang."
"Baiklah." Edewina menatap jam tangannya. Pukul setengah tujuh. Jika dari taman ini ke rumah sakit, pasti akan memakan waktu 30 menit, dari rumah sakit ke apartemen, akan memakan waktu sekitar 40 menit. Edewina menjadi gelisah. Itu berarti jam 8 baru ia tiba di rumah. Ia pun mengirim pesan pada Reo.
kak Sen, maaf. Aku masih di taman. Aku akan mengantar Ken kembali ke rumah sakit baru pulang ke apartemen. Aku mungkin akan melewatkan jam makan malam. Besok saja ya?
Reo yang baru saja selesai meeting membaca pesan Edewina dengan hati yang sakit. Edewina masih memprioritaskan Ken dalam hidupnya. Tapi setidaknya Edewina jujur mengatakan kalau ia ada di mana. Reo tak ingin kelihatan momen bahagia ini.
Aku tunggu di restoran sebelum jam 12. Jam 10 aku sudah ada di sana. Aku harap kamu akan tetap datang.
Namun Edewina tak membaca pesan itu, ia sudah memasukan ponselnya ke dalam tas. Penjaga taman datang kembali dan membukakan pintu. Edewina pun membantu Ken masuk ke dalam mobilnya.
"Aku tak ingin kembali ke rumah sakit, Win. Please! Aku hanya ingin di apartemen saja."
"Tapi kamu masih lemah, Ken."
"Aku lemah karena dari pagi belum makan."
Edewina hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Baiklah. Kita akan pergi makan bersama dulu."
Edewina menghentikan mobilnya di sebuah restoran kecil yang ada di tepi jalan. Mereka pun memesan makanan.
"Terima kasih, Win. Kamu sudah menemani aku saat ini. Aku janji padamu, akan selalu memperhatikan kesehatanku. Aku kemarin agak lemah karena mengejar ketertinggakanku saat satu bulan tak masuk kuliah. Aku lupa makan dan minum obatku secara teratur."
Edewina mengangguk. Ia mengeluarkan hadiah yang dibelinya untuk Edewina. "Selamat ulang tahun."
__ADS_1
"Kamu masih menyediakan hadiah untukku?"
"Ken, dengan berubahnya status kita menjadi saudara, bukan berarti aku melupakan ulang tahunmu. Aku ingin kita menjadi sahabat. Kita dapat saling curhat walaupun mungkin tak sedekat dulu."
Ken mengangguk walau jujur saja hatinya masih sakit karena ia masih sangat mencintai Edewina.
Setelah selesai makan, Edewina pun mengantar Ken sampai ke apartemennya. Setelah itu ia melanjutkan perjalanan untuk kembali ke apartemen. Saat itu jam sudah menunjukan pukul setengah sepuluh malam. Dalam perjalanan ke apartemen, ponselnya berdering. Edewina berhenti sejenak saat melihat itu panggilan dari ibu mertuanya.
"Hallo mommy."
"Wina sayang, besok kan Reo ulang tahun. Mommy ingin kamu membuat perayaan kecil untuknya ya? Reo nggak suka dengan pesta besar. Mommy dan Daddy sekarang ada di Yunani. Tahulah Daddy belum ingin pulang."
Edewina terkejut saat tahu kalau Reo ulang tahun.
"Wina sayang, kamu masih mendengarkan mommy kan?"
"Eh ya. Aku dengar mommy."
"Baguslah. Mommy tutup dulu ya, nak."
"Ok mommy."
Edewina berpikir sejenak. Apakah kak Sen ingin makan malam bersama karena dia ingin melewati pukul 12 tengah malam bersama aku?
Untunglah ada mall yang bukanya 24 jam. Waktu sudah menunjukan hampir jam 11 malam. Edewina akhirnya menemukan sebuah dasi berwarna coklat tua dengan corak yang pas di matanya. Ia segera memesan dan membungkusnya.
Sesampai di apartemen, Adeline membantu Edewina berdandan dengan hati yang gembira. Edewina ingin membuat kejutan pada Reo dan memakai baju dan sepatu yang dulu di beli Reo namun belum sempat Edewina pakai.
"Tuan pasti sangat senang. Nyonya selamat bersenang-senang ya?"
Edewina memesan taxi karena ia belum terlalu mengenali restoran yang Reo maksudkan. Namun di tengah jalan, ban taxi itu kempes dan saat Edewina akan menelepon Reo untuk memberitahukan bahwa ia akan terlambat, ia justru melupakan ponselnya di dalam kamar.
Untungnya ia mendapatkan taxi yang lain.
Namun saat ia tiba di restoran, Edewina menemukan kalau Reo sedang bersama Indira. Di hadapan Reo sudah ada kue ulang tahun. Cowok itu nampak sedang berdoa sebelum akhirnya ia meniup lilin itu.
Entah mengapa Reo terlihat bahagia. Apalagi saat mereka berdansa, bahasa tubuh mereka seolah menunjukan bahwa mereka saling mencintai. Tatapan mata Reo dan Indira menunjukan perasaan mereka yang bahagia.
Sepertinya aku sudah terlambat. Kak Sen sudah bersama kak Indira. Mengapa hatiku rasanya sakit ya?
Edewina membalikan badannya. Ia menatap kue dan hadiah yang sudah di siapkannya. Sia-sia saja aku dengan lelahnya menyiapkan kue, cari hadiah. Namun kak Sen sudah bersama kak Indira. Aku memang bukan istri yang baik.
Dengan cepat Edewina meninggal restoran itu. Ia mencari taxi dan pergi dengan hati yang sedih.
************
__ADS_1
Pukul 2 lewat 30 menit, Reo tiba di apartemen. Ia sengaja pulang larut malam agar Edewina sudah benar-benar tertidur. Reo tak mau bertegur sapa dengan Edewina.
Ia meletakan kunci mobil di atas meja dekat pintu masuk lalu segera menuju ke dapur. Ia merasa haus. Tadi selesai makan bersama Indira, keduanya minum alkohol sedikit sebelum akhirnya berpisah.
Reo meminum habis satu gelas air es. Ia pun duduk di depan meja pantri. Merenungi tentang pernikahannya yang tak juga mengalami kemajuan apapun di 4 bulan lebih usia pernikahan mereka.
Pandangan pria itu tertuju pada tempat sampah yang penutupnya tak tertutup rapat. Ia pun bangun dan hendak menutup tempat sampah itu secara benar tapi saat ia mengangkat penutupnya untuk melihat apa yang menyebabkan penutonya tak bisa menutup dengan rapat, Edwina melihat sebuah kardus pembungkus kue. Ia mengambil kardus itu untuk melipatnya saja namun ternyata isinya malah ada. Reo membukanya. Sebuah kue tart berwarna biru. Masih ada tulisannya. Happy birthday kak Sen.
Reo mengerutkan dahinya. Kue untuknya? Lalu mengapa dibuang. Pasti kue ini dari Wina. Apakah ia tahu aku ulang tahun?
"Tuan?" Adeline menyalahkan lampu dapur dan terkejut melihat Reo ada di sana.
"Maafkan aku bibi jika membangunkanmu."
Adeline memandang kue yang dipegang Reo. "Kenapa kuenya mau di buang?"
"Aku justru mau bertanya kenapa kue ini dibuang."
"Lho, siapa yang membuangnya? Tadi nyonya menyusul tuan ke restoran. Ia mengenakan gaun merah maroon dan membawa kue serta hadiah. Kalian tidak bertemu?"
"Iya. Edewina tak sampai di restoran ."
"Apakah nyonya tersesat?"
"Wina sudah pulang?"
"Pastilah. Kalau tidak kuenya tak mungkin ada di sini."
Reo segera berlari ke arah tangga dan langsung naik untuk menuju ke kamarnya. Saat ia membuka pintu, ia melihat gaun merah maroon itu ada di atas sofa begitu juga dengan sepatu. Di dekat gaun ada sebuah paper bag bergambar buah hati.
"Wina....., sayang......!" Panggil Reo sambil membuka pintu kamar mandi. Namun Wina tak ada di sana. Reo menelepon ponsel Wina namun ponsel itu berbunyi di atas nakas. Reo kemudian mencarinya ke balkon, Wina tak ada.
Reo kembali turun ke bawah. Ia melihat kalau kunci mobil Edewina tak ada. Kemana dia pergi?
Reo kembali menyusuri apartemen namun tak melihat Edewina. Ia kemudian memutuskan mencari Edwina ke luar rumah.
Saat Reo masuk lift, Edewina muncul di dari tangga.
Entah siapa salah dalam hal ini
*
Selama siang
selamat beraktifitas
__ADS_1