MEMILIKIMU ADALAH TAKDIRKU

MEMILIKIMU ADALAH TAKDIRKU
Memulai Hidup Baru


__ADS_3

Perlahan Edewina membuka matanya. Ia mencoba mengenali langit-langit kamar ini dan ia kembali pada kesadarannya bahwa ia berada di kamar sebuah hotel.


Bukankah semalam aku tidur di sofa? Kenapa sekarang bisa ada di atas ranjang?


Secara cepat gadis itu bangun dan membuatnya kembali berteriak histeris saat menyadari bahwa ada tangan yang memeluk pinggangnya.


"Ah.....!" Edewina dengan cepat melemparkan tangan Reo dari perutnya.


Reo terbangun dan langsung meringis saat tangannya di geser secara kasar oleh Edewina.


"Sayang, tanganku sakit."


Edewina langsung melompat turun dari tempat tidur. "Apa yang kamu lakukan semalam? Aku kan tidur di sofa, kenapa bisa pindah ke ranjang dan dipeluk olehmu?"


Reo tersenyum. Ia bangun dan menyandarkan punggungnya di kepala ranjang, memandang istrinya yang tetap terlihat cantik walaupun dengan rambut yang acak-acakan dan wajah yang ditekuk. "Tidur di sofa nggak nyaman. Nanti badanmu sakit semua. Jadi aku pindahkan ke ranjang. Memang salah jika aku memelukmu? Kita kan sudah sah menjadi suami dan istri."


"Reo, aku ingatkan padamu, ya? Jangan pernah berharap kalau aku akan bersikap layaknya seorang istri yang baik. Kamu kan tahu kalau aku tak menginginkan pernikahan ini! Pernikahan ini hanya di atas kertas karena aku tak mau mengecewakan orang tuaku dan juga opa ku."


Hati Reo kembali sakit mendengar kata-kata pedas istrinya. Namun sekali lagi ia hanya tersenyum. "Aku tahu. Namun aku tak akan pernah lelah berjuang untuk mendapatkan hatimu."


Edewina memalingkan wajahnya mendengar kata-kata Reo. Ia akan melangkah pergi namun secara tiba-tiba ia merasa perutnya sakit. Edewina baru ingat kalau semalam ia tak makan. Ia hanya makan waktu pagi hari sebelum di hias.


"Ada apa, sayang?" Reo turun dari ranjang melihat istrinya itu memegang perutnya.


"Bukan urusanmu."


"Kamu merasa sakit?" Reo dengan penuh perhatian mendekati istrinya namun Edewina justru mundur 3 langkah.


"Aku mau mandi." ia segera membalikan badannya lalu melangkah ke arah kopernya berada dan segera mengambil baju supaya sekalian ia akan ganti baju di kamar mandi.


Reo menatap kepergian Edewina dengan hati yang sedih. Ia kemudian menyiapkan pakaiannya juga karena setelah itu ia juga akan mandi.


Edewina keluar dari kamar mandi dengan langkah pelan sambil memegang perutnya. Ia tahu kalau sakit maag sudah menyerangnya. Salahnya sendiri karena stres kemarin, ia justru tak makan.


"Kamu sakit maag?"tanya Reo.


"Jangan hiraukan aku!"


"Sayang, wajahmu pucat dan nampaknya berkeringat." Reo ingin menyentuh wajah Edewina namun perempuan itu dengan cepat memalingkan wajahnya. Pada saat yang sama, Edewina tiba-tiba merasa pusing.


"Sayang .....!" Reo dengan cepat memeluk tubuh Wina sebelum jatuh ke lantai.


Edewina merasakan kalau kepalanya berputar-putar. "Aku.....!"


"Sebaiknya kamu berbaring di ranjang." Reo langsung mengangkat tubuh Edewina lalu membaringkan perempuan itu di atas ranjang. Ia segera menghubungi layanan kamar dan meminta agar mereka mendatangkan dokter yang memang bekerja sama dengan pihak hotel.


10 menit kemudian, Clark yang datang.

__ADS_1


"Uncle? Belum pergi kembali ke kota?" tanya Reo saat membuka pintu.


"Belum. Aunty Camila masih suka berada di sini. Memangnya Edewina kenapa?" tanya Reo sambil nyelonong masuk.


"Ia pusing, uncle."


"Pusing? Memangnya berapa ronde semalam? Kau sudah membuat istrimu kelelahan ya?" bisik Clark sambil melirik ke arah Edewina yang tidur membelakangi mereka.


"Bukan seperti itu uncle." Reo malu untuk mengatakan kalau semalam tak terjadi apa-apa antara dirinya dan Edewina.


"Sudahlah, nggak usah malu. Wajarlah kalau kamu ingin terus dan terus menyatu dengan istrimu. Kalian kan pengantin baru. Uncle mengerti, kok. Tapi, siang ini biarkan istrimu beristirahat ya? Nanti malam baru lanjut lagi."


"Uncle, Wina bisa mendengarnya."


Clark terkekeh. "Kalau ada sesuatu yang kalian butuhkan telepon uncle saja, ya? Uncle sampai besok ada di sini. Kalian berangkat bulan madunya kapan?"


"Mungkin lusa. Tinggal menunggu Mark yang mengatur semuanya."


"Baguslah. Bibi Camila sedang membuat bubur untuk Wina. Sebentar lagi nanti pelayan yang akan mengantarnya. Dokter juga akan segera datang." ujar Clark lalu segera pamit meninggalkan Edewina dan Reo.


Tak selang beberapa lama, dokter datang. Namanya dokter Jay. Masih muda. Reo sedikit jengkel karena mereka mengirim dokter yang justru bermata sipit. Pasti Edewina akan ingat Ken.


"Sayang, dokternya datang." Reo mengusap tangan Edewina untuk membangunkannya.


Edewina membuka matanya. Ia ingin protes dengan mengatakan bahwa ia tak butuh dokter. Namun Saat melihat wajah dokter Jay, Edewina memang sekilas teringat pada Ken karena cowok itu berwajah oriental.


"Permisi nyonya, sekarang apa yang dirasakan?" tanya dokter itu dengan sopan sambil duduk di tepi ranjang.


"Lambungnya sedikit bermasalah karena tak makan kemarin. Atau juga stres yang berlebihan menjelang pernikahan. Namun nyonya tak perlu stres lagi. Pernikahannya sudah terlaksana dan suami nyonya nampaknya sangat mencintai nyonya. Saya akan meresepkan obat nanti pelayan hotel yang akan mengambilnya di klinik hotel." Jay memasukan lagi semua peralatannya ke dalam tas lalu ia pamit meninggalkan kamar.


Reo pun mendekati Edewina. "Masih merasa pusing?"


Edewina tak menjawab. Ia langsung memejamkan matanya.


Bel kamar berbunyi lagi. Ternyata Camila, istri Clark yang datang.


"Aunty? Kenapa nggak minta pihak hotel untuk mengantarnya saja?"


"Nggak masalah. Sekalian aunty ingin melihat Wina." Camila berjalan memasuki kamar.


"Wina sayang, ayo makan buburnya. Ini pakai ramuan khusus untuk obat lambung juga." kata Camila lalu duduk di tepi ranjang.


Edewina membuka matanya. "Aunty, kenapa repot-repot?"


"Sayang, bisa saja ini bukan asam lambung biasa melainkan seorang bayi yang mungkin sementara tumbuh di perutmu. Makanya aunty mau pastikan kalau kamu akan makan makanan yang bergizi. Ayo bangun, nanti aunty yang akan menyuapi mu."


Edewina tak enak untuk menolak. Ia bangun dibantu oleh Reo. Pikiran Edewina tertuju pada apa yang Camila katakan. Bagaimana kalau alasan pusingnya ini bukan karena ia tak makan kemarin? Bagaimana kalau memang dia hamil?

__ADS_1


"Bagaimana sayang? Enakkan bubur buatan aunty?" tanya Camila.


Edewina mengangguk jujur. Bubur ini memang sangat enak dan membuatnya hampir menghabiskan semua isi bubur yang ada di mangkok itu.


"Sudah aunty, aku sudah kenyang."


Camila tersenyum. Ia kemudian menatap Reo. "Aunty mengerti kalau kalian masih pengantin baru. Tentu ingin rasanya berdua terus. Reo, jangan terlalu menguras tenaga Wina. Sebaiknya sebelum kalian berangkat bulan madu, pastikan dulu Wina hamil atau tidak. Kalau memang sudah hamil, sebaiknya tunda dulu. Karena bisa membahayakan bayinya." pesan Camila sebelum akhirnya pamit dari kamar itu.


Tak lama kemudian, pegawai hotel membawakan obat yang dokter resep kan tadi.


"Minumlah obat ini, sayang."


Edewina meminumnya setelah itu ia kembali membaringkan tubuhnya.


Reo tersenyum melihat Edewina yang tertidur. Ia mendekat dan membelai wajah gadis itu.


Rasa cinta yang mendalam pada Edewina membuat Reo tak bisa menahan dirinya untuk memiliki gadis itu. Dan Reo akan berjuang, apapun yang terjadi untuk bisa mendapatkan hati Edewina.


Ponsel Reo berbunyi. Ada pesan dari Mark. Reo langsung keluar kamar dan turun ke lobby hotel.


"Di mana dia?"


"Ada di cafe, tuan."


Reo melangkahkan kakinya menuju ke sana dan ia melihat Ken sedang duduk sambil menikmati sebotol bir.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Reo lalu duduk di depan Ken.


"Memangnya aku tak boleh di sini?"


"Kamu ingin mencari tahu tentang Edewina? Sekarang ia sedang tidur. Katakan saja apa yang ingin kau katakan pada istriku, nanti aku akan meneruskannya."


Ken menatap Reo dengan tajam. "Aku yakin kalau kamu menjebaknya, brengsek! Edewina bukan gadis gampangan yang akan pergi ke tempat tidur laki-laki. 3 tahun aku bersamanya, ia masih bisa menjaga dirinya dengan baik."


"Ken, terimalah kenyataan kalau kalian memang tak bisa bersama. Kalian bersaudara. Dan Edewina sudah menjadi milikku. Kamu tak mungkin akan bisa bersamanya lagi."


Ken memukul meja yang ada di depannya."Kau mungkin boleh memiliki tubuhnya. Namun percayalah, hati dan cintanya akan tetap menjadi milikku."


Reo tersenyum. "Apa kau lupa, antara cinta dan napsu batasnya hanya seperti kain tipis saja. Aku memang sekarang masih memiliki tubuhnya namun percayalah, aku pasti akan mendapatkan hatinya." Reo langsung berdiri dan meninggalkan Ken yang nampak menyimpan sejuta kebencian untuk pria yang telah merebut Edewina dari sisinya.


Jadi Edewina sudah tidur dengan Reo tadi malam? Dia akhirnya menyerahkan tubuhnya untuk disentuh oleh lelaki itu? Secepat itukah Edewina melupakan aku?


Ken meneguk minumannya sampai habis. Tanpa sadar air matanya mengalir. Ken menghapus nya dengan kasar.


Kau lihat saja Wina, apa yang akan ku lakukan. Kau pasti akan menyesal.


**********

__ADS_1


Hallo semua


terima kasih sudah membaca part ini. Semoga suka ya?


__ADS_2