
Susah payah Edewina menahan air matanya, namun ia tak bisa. Air bening yang agak hangat itu jatuh membasahi pipinya yang polos tanpa sentuhan make up sedikit pun.
"Kak Sen...., kakak tak bercanda kan?"
"Aku tak pernah main-main dengan apa yang kukatakan. Aku menyerah Edewina. Aku memang mengejar mu seperti orang gila selama ini sampai tak menggunakan logikaku untuk berpikir bahwa cinta itu tak bisa dipaksakan. Aku hanya berharap agar kau tak kembali pada Ken karena memang kalian bersaudara. Kamu cantik, pintar, dan sangat gaul orangnya. Pasti akan ada banyak pria yang mencintaimu."
Perkataan Reo sangat menyakitkan hati Edewina. Namun gadis itu akhirnya mengangguk. Ia berdiri dan menghapus air matanya dengan kasar. "Sebelum kakak mengurus perceraiannya, tolong sampaikan pada mommy Riani." Edewina meraih tasnya dan melangkah pergi. Namun di depan pintu ia berhenti lalu membalikan tubuhnya. Reo masih menatapnya.
"Aku minta maaf untuk semua yang telah kulakukan. Memang sangat sulit melupakan cinta pertama dalam hidupku. Namun bukan berarti aku tak berusaha melakukannya. Aku tahu bahwa antara aku dan Ken adalah sesuatu yang tak mungkin. Selama satu bulan perpisahan ini, aku banyak merenung. Namun akhirnya, aku melakukan kesalahan di ujung waktu yang kamu berikan padaku. Maafkan aku." Edewina membuka pintu ruangan Reo lalu segera pergi meninggalkan ruangan itu. Sedikit berlari perempuan itu memasuki lift namun sempat dilihat oleh Indira. Perempuan itu segera ke ruangan Reo.
"Re, kenapa Wina pergi sambil menangis?"
"Aku menyerah."
"Menyerah karena apa? Apakah tentang malam itu?"
"Bukan hanya tentang malam itu tapi juga mengenai malam-malam sebelumnya."
"Bagaimana jika Edewina justru mulai sayang denganmu?"
Reo tersenyum tipis. "Itu tak mungkin. Bahkan di depan mamaku ia sendiri mengakui bahwa ia tak mencintaiku. Jadi sudahlah."
"Jangan sampai kau menyesal, Re."
Reo menatap Indira. "Seumur hidupku, aku memang akan menyesali diriku karena terlalu lama memandang Edewina tanpa sadar bahwa ia tak pernah balas memandangku."
Sementara itu, Edewina sedang berhenti di sebuah taman. Ia menangis di sana. Hatinya hancur. Edewina merasa ingin berteriak sangat keras.
Setelah puas menangis di taman, gadis itu pun pulang ke apartemen. Ia segera membereskan pakaiannya.
"Nyonya, mau kemana?" tanya Adeline.
"Kak Sen sudah menyerah dengan aku, bi. Untuk apa lagi aku di sini? Tadi aku ke kantornya. Namun dia bersikap sangat dingin kepadaku. Aku harus bagaimana?"
"Nyonya, bersabarlah. Bibi mengerti kalau tuan Reo sedang berada di puncak kemarahannya. Namun jika dia melihat kalau nyonya ingin berubah dan memperbaiki hubungan kalian, ia pasti luluh."
"Dia mengatakan jika aku ingin, maka dia akan menceraikan aku besok. Itu artinya bahwa ia tak menginginkan aku lagi. Ya sudah. Kalau memang dia maunya begitu aku mau bagaimana lagi? Aku nggak mau mengemis padanya untuk melanjutkan hubungan ini, bi." Edewina duduk di tepi ranjang sambil menangis sedih. Tangan nya bahkan meremas seprei dengan sangat kuat.
"Ok. Bibi mengerti. Namun setidaknya, jangan asal langsung pergi saja. Tinggallah dulu di sini. Merenungkan selama beberapa hari. Bagaimana jika perasaan tuan Reo ternyata berubah?" Adeline berusaha sabar membujuk Edewina. Ia tahu, usia Edewina yang muda membuatnya masih labil.
"Buat apa aku tinggal di sini sementara yang punya apartemen tak menginginkan aku lagi?"
"Siapa bilang apartemen ini milik tuan Reo? Apartemen ini tercatat milik Edewina Carensia Almond."
"Apa?"
Adeline membuka laci tempat penyimpanan beberapa dokumen. "Waktu bibi sementara membersihkan apartemen ini sebelum tuan dan nyonya kembali dari bulan madu, bibi menemukan dokumen ini di atas meja. Lalu tuan meminta bibi mendiamkannya dalam kemari. Itulah sebabnya bibi tahu kalau apartemen ini dibeli atas nama nyonya."
"Reo tak pernah mengatakan apapun padaku."
"Nyonya Riani tahu. Dia senang karena Reo kayak papanya. Segala sesuatu yang berhubungan dengan rumah dan tanah dibeli atas nama Nyonya Riani. Karena itu nyonya jangan pergi. Jika nyonya pergi, bibi pasti harus kembali ke Manchester. Pada hal bibi senang tinggal di sini. Kan anak bibi kuliah juga di sini."
Edewina menatap Adeline. "Bibi, aku jadi berat meninggalkan apartemen ini."
"Biar saja Nyonya tinggal di sini. Kalau memang harus berpisah, dan tak mungkin bersama lagi, bibi rela kembali ke Manchester."
__ADS_1
Edewina langsung menjatuhkan dirinya di atas ranjang. Ia bingung dengan apa yang harus dilakukannya.
*********
Pekerjaan di proyek pembangunan mall, cukup menyita waktu Edewina. Ia berusaha keras untuk melupakan Reo walaupun sebenarnya ia tersiksa.
"Sandra? Kamu kenapa?" tanya Edewina. Sandra adalah mahasiswa asal Philipina yang juga menjadi 10 mahasiswa yang beruntung. Mereka berdualah yang menjadi wakil dari negara Asia.
Sandra tersenyum. "Aku harus memperjuangkan cintaku, Win."
"Maksudnya?"
"Aku dan pacarku sudah 2 minggu ini putus. Tepatnya, ia yang meninggalkan aku karena aku yang belum bisa move on dari pacar pertamaku. Namun, sekarang aku sadar bahwa aku mencintainya. Aku juga sangat yakin kalau dia mencintaiku. Makanya selesai pekerjaan di sini, aku akan ke apartemennya. Aku akan memperjuangkan cinta kami."
"Kamu mengemis cinta dong?"
"Bukan mengemis. Tapi aku ingin membuktikan padanya bahwa aku mencintainya. Selama ini dia kan meragukan cintaku. Dia yang selalu berjuang untuk cinta kami. Makanya aku akan berjuang untuk mendapatkan cintanya. Aku yakin aku bisa."
"Bagaimana jika dia terlanjur kecewa."
"Yang penting aku sudah berusaha. Setidaknya dia tahu kalau aku juga berjuang untuk hubungan kami." Kata Sandra dengan penuh keyakinan.
Edewina terpana mendengar kata-kata Sandra. Temannya itu masih dalam taraf pacaran. Namun ia tak malu memperjuangkan cinta mereka. Bagaimana dengan aku? Bukankah selama 10 tahun ini kak Sen sudah menunggu aku dengan setia? Ia bahkan tak pernah mencintai gadis lain. Ia bahkan tak pernah mendekati gadis lain. Aku adakah cinta pertama, gadis pertama dan orang pertama yang dicintai dan disentuhnya. Lalu apa yang sudah aku perjuangkan untuknya? Aku memang belum mengerti dengan semua perasaanku pada kak Sen. Namun aku yakin kalau aku pasti bisa mencintainya.
"Win, kamu kenapa?" tanya Sandra melihat Edewina yang nampak melamun.
Edewina dengan cepat memeluk Sandra. "Terima kasih ya? Kau sangat membantu aku. Kini aku mau pergi dulu. Aku doakan agar apa yang kau inginkan bisa tercapai dan kalian akan bahagia."
Sandra menjadi heran dengan reaksi Edewina. Memangnya apa yang sudah ia lakukan sampai temannya itu merasa sudah dibantu oleh Sandra?
*********
Ia kangen, ingin melihat Edewina, ingin memeluk Edewina namun jika mengingat semua kekecewaan yang sudah mereka alami bersama rasanya Reo tak sanggup lagi untuk sakit hati.
Ia membuka pintu rumah dengan kunci yang ada padanya. Mark tak ikut pulang bersamanya karena ada urusan keluarga. Adik Mark datang ke London.
Begitu pintu terbuka, Reo membuka sepatunya dan menggantinya dengan sandal rumahan. Ia melonggarkan dasinya sambil melangkah melewati ruang tamu.
Hanya ada dua pelayan di rumah ini. Penjaga pintu dan istrinya yang bertugas menyiapkan makanan. Pelayan yang lain hanya datang membersihkan rumah setiap 2 hari sekali. Kecuali seluruh keluarga lengkap ada di rumah ini, maka mommy Riani akan mengajak pelayan kepercayaannya dari Manchester.
Reo melangkah ke arah dapur. Ia memang merasa sedikit lapar dan juga harus. Tadi, Indira mengajaknya untuk makan malam namun Reo menolaknya karena ia memang merasa lelah.
Begitu ia memasuki dapur, ia terkejut melihat Edewina ada di sana. Sedang mengatur makanan di atas piring.
"Kak, sudah pulang? Kok aku nggak mendengar suara pintu? Kakak mau makan? Makanannya sudah siap, kok." kata Edewina dengan senyum manisnya. Ia menunjukan makanan yang sudah tersaji di atas piring. Sangat rapi dan membangkitkan selera untuk makan.
"Siapa yang menyuruh kamu untuk memasak?" tanya Reo sedikit ketus. Ia sengaja bersikap seperti itu untuk menghilangkan keinginan hatinya yang ingin memeluk Edewina.
"Aku sendiri yang ingin. Lagi pula tadi aku telepon Mark, kata Mark kakak belum makan. Aku siapkan mejanya ya?"
Edewina segera membawa makanan itu ke ruang makan.
Reo ingin pergi namun rasanya tak tega. Ia pun mengikuti langkah Edewina ke ruang makan.
"Ayo makan!" kata Edewina setelah selesai meletakan makanan di atas piring Reo.
__ADS_1
Secara pelan, Reo meraih pisau dan garpu. Ia memasukan suapan pertama ke mulutnya. Edewina langsung tersenyum senang. Namun baru beberapa suapan, Reo sudah berhenti.
"Kenapa berhenti, kak? Baru juga beberapa suapan."
"Aku sebenarnya nggak lapar. Lagi pula, masakan mu tak enak."
Edewina berusaha menerima kritikan Reo dengan lapang dada. "Ok. Aku memang nggak pintar masak."
Reo menghabiskan air putih dari gelas air minumnya. Ia mengambil serbet lalu membersihkan pinggiran bibirnya. "Aku mau ke kamar. Aku capek sekali. Selamat malam." Reo langsung melangkah.
"Kak....!" panggil Edewina.
Reo membalikan badannya. "Ada apa?"
"Aku mau tidur di sini."
"Nanti aku sampaikan pada bibi untuk menyiapkan kamar tamu."
"Aku ingin tidur di kamarmu."
Deg!
Reo terkejut mendengar perkataan Edewina.
"Apa?"
"Kita kan pacaran. Boleh kan tidur di kamarmu."
Reo menarik napas panjang. Ia tahu ini kedengarannya agak kasar. Namun ini harus dilakukan agar ia tak merasa sakit hati lagi.
"Aku tak ingin kamu ada di kamarku, Wina. Sebaiknya kamu kembali ke apartemen." Reo membalikan badannya dan langsung melangkah namun baru beberapa langkah ia sudah berbalik.
"Berkas perceraian kita mungkin akan selesai minggu ini."
Edewina merasakan jantungnya bagaikan berhenti berdetak mendengar perkataan Reo.
Namun lelaki itu telah menghilang di ujung paling atas tangga.
Perempuan cantik itu menangis. Ia terluka. Dan ia akhirnya memilih meninggalkan rumah itu.
Saat Reo mendengar bunyi suara mobil Edewina yang meninggalkan halaman rumah, ia kembali turun ke bawah. Biarlah saat ini Edewina merasa terluka. Namun lukanya pasti akan cepat sembuh karena ia tak memiliki cinta sebesar aku mencintainya.
Reo duduk kembali di ruang makan. Menikmati makanan yang Edewina siapkan padanya. Ia tahu kalau Edewina memang tak pintar memasak. Namun Reo harus akui bahwa masakannya malam ini cukup enak.
************
Kayaknya Reo serius mau pisah.
Reo sudah berada di ujung kejenuhan hatinya atas sikap Edewina.
Namun jangan salahkan Edewina juga. Karena ia memang masih labil. Edewina belum mengerti apa yang dirasakannya sekarang. Yang ia tahu, kalau ia terluka atas sikap Reo yang tak biasa.
Emak buat mereka pisah aja ya guys....?
Apa tanggapannya?
__ADS_1