
Hari ini, setelah mengantarkan Leon ke sekolah, Reo segera ke rumah sakit.
Semalam ia tak bisa tidur di rumah sakit karena Leon agak demam dan menangis ingin ditemani Reo. Sekalipun demikian, pagi ini Leon tetap ingin ke sekolah karena ada temannya yang akan ulang tahun.
Tak ada jadwal kerja yang padat di hari ini. Jika ada sesuatu yang penting, daddy Jack pasti akan menanganinya karena ia tahu kalau Reo ingin selalu menghabiskan waktunya di rumah sakit.
Sekarang sedang musim semi. Bunga-bunga bermekaran dengan sangat indah. Cuaca pagi ini pun cerah dan Reo ingin segera membuka tirai jendela kamar Edewina agar istrinya itu akan terkena sinar matahari.
Wajahnya langsung tersenyum begitu membuka pintu perawatan Edewina.
"Selamat pagi!" sapa Reo lalu mengecup dahi istrinya. Ia agak terkejut saat merasakan kalau suhu tubuh Edewina agak panas dari sebelumnya.
Reo memegang tangan dan kaki istrinya. Dan ia memang merasakan kalau tubuh istrinya lebih hangat.
"Sayang, apakah kamu sakit?" tanya Reo lalu membelai pipi Edewina. Reo berpikir untuk menanyakan lagi pada dokter saat dokter datang memeriksa Edewina. Pria itu kemudian membuka tirai jendela dan membuka jendelanya.
"Kamu tahu, pagi ini matahari bersinar dengan sangat indah. Aku suka hangatnya." kata Reo lalu membuka selimut yang menutupi badan Edewina agar istrinya itu bisa terkena sinar matahari.
"Sayang, semalam Leon agak demam. Dia cengeng dan minta aku menemaninya tidur. Makanya aku tak bisa ada di sini semalam. Dia mungkin kecapean karena di pesta pernikahan Mark, dia bermain sepuasnya. Akhirnya Mark menikah saat usianya hampir 40 tahun. Dan kamu tahu, siapa gadis itu? Sinta. Sahabatmu. Karena keseringan menjaga kamu di sini, Sinta dan Mark justru menjadi dekat. Kemarin juga Clara videocall. Dia sudah bekerja di salah satu perusahaan terbaik di Jakarta. Dan dia masih pacaran dengan pria bulenya itu. Oh ya, aku beli. kasih tahu ke kamu kan kalau Sinta sudah hamil 3 bulan saat menikah. Mark nekat juga ya? Kalau Sinta nggak hamil, bagaimana mungkin mereka akan menikah? Dan aku pikir kalau Sinta nekat juga. Dia akhirnya bisa memaksa Mark menikahinya karena kehamilannya itu. Namun yang aku lihat kalau mereka berdua saling mencintai. Walaupun perbedaan usia diantara mereka sangat jauh. 14 tahun lho sayang."
Begitulah Reo selalu bercerita panjang lebar. Karena ia yakin kalau Edewina pasti mendengarkan dia.
Reo memperhatikan wajah Edewina. Keringat? Ada keringat di wajah Edewina.
"Sayang, apakah kamu merasa kepanasan? Apakah sebaiknya aku tutup saja tirainya?" Reo menyeka keringat di dahi Edewina dengan punggung tangannya. Saat Reo akan berdiri, saat itulah ia melihat kalau jari kanan Edewina bergerak.
"Sayang.....!" Jantung Reo berdetak cepat. Jari itu terus bergerak dan diikuti oleh hari sebelah kiri.
"Wina...!"
Perlahan Edewina membuka matanya.
"Wina....sayang....!" Tubuh Reo bergetar. Ia segera menekan tombol merah yang ada di samping tempat tidur Edewina untuk memanggil perawat.
Tak lama kemudian, dokter jaga dan perawat langsung berlari ke ruangan Edewina.
Sudah sangat lama, alarm panggilan darurat di kamar Edewina tak berbunyi. Para dokter khawatir kalau pasien mengalami hal buruk.
"Dokter, istri saya membuka matanya." Terima Reo dengan perasaan gembira.
Dokter dan perawat langsung bekerja. Reo diminta keluar namun pria itu hanya mundur beberapa langkah.
"Nyonya Almond, apakah anda bisa mendengarkan saya?" tanya dokter Paul sambil menggerakkan senter kecil di depan wajah Edewina.
Edewina mengedipkan matanya karena merasa silau.
Dokter harus memeriksa semua fungsi vital di tubuh Edewina. Dokter itu pun akhirnya tersenyum. 3 tahun ia merawat Edewina dan akhirnya pasiennya itu bangkit dari masa komanya.
"Welcome back Mrs. Almond. You made it through your critical period."
Untuk sementara, oksigen masih di pasang di hidung Edewina. Yang hanya di buka adalah alat pendeteksi jantungnya.
__ADS_1
"Dokter....!" terdengar suara Edewina walaupun sangat pelan dan sangat serak.
"Pelan-pelan nyonya, Almond. Kau tidur dalam jangka waktu yang sangat panjang. Suster akan memberikan air sedikit untuk kau minum." ujar dokter Paul.
Sementara para medis mengerjakan banyak hal untuk Edewina, Reo langsung menelepon orang rumah untuk memberitahukan tentang keadaan Edewina.
Selama hampir satu jam mereka bekerja sampai akhirnya, mereka mengijinkan Reo untuk mendekat. Alat bantu pernapasan telah dilepaskan dari hidung Edewina.
"Sayang.....!" Reo menangis bahagia sambil memegang tangan kanan Edewina. "Akhirnya...akhirnya penantian ini tak sia-sia. Aku sangat yakin kalau kamu akan bangun. Kamu nggak mungkin meninggalkan aku dan Leon."
Edewina menatap Reo dengan tatapan kosong.
"Sabar, tuan Almond. Kesadaran nyonya Almond belum kembali seluruhnya. Dia masih seperti mimpi." kata dokter Paul saat Reo meminta penjelasan kepadanya. "Kita jangan memaksanya untuk langsung mengingat semuanya. Aku takut nanti yang diingatkannya adalah peristiwa penembakan itu."
"Baik, dokter." ujar Reo. Ia sebenarnya sudah tak sabar melihat respons istrinya saat tahu kalau anak mereka selamat.
Jack, Riani, Edmond dan Mahira datang ke rumah sakit. Mereka semuanya menangis haru saat melihat Edewina yang sudah membuka matanya. Reo langsung memberitahukan keadaan Edewina sehingga mereka pun tak mau banyak berbicara dengan Edewina.
"Mami....!" Edewina akhirnya memanggil Mahira setelah 4 jam ia membuka matanya.
"Ya, nak. Sayangku, mami di sini, nak." Mahira berdiri di dekat tempat tidur Edewina. Ia memegang tangan putrinya.
"Papi?" tanya Edewina suaranya masih pelan dan serak.
"Papi di sini, nak." Jack berdiri di samping istrinya.
Ada senyum di wajah Edewina melihat kedua orang tuanya yang berdiri di dekat tempat tidurnya.
"Si...siapa kamu?" tanya Edewina.
Deg!
"Sayang, aku kak Sen. Christen Haireo Almond. Aku suamimu."
Edewina menatap kedua orang tuanya. "Su...suami?" Edewina nampak bingung. Dokter Paul langsung menarik Reo untuk keluar dari ruangan itu.
"Jangan dulu dipaksa, tuan Almond. Biarkan nyonya Almond menemukan kesadaran dirinya sedikit demi sedikit."
Reo sebenarnya sedih karena Edewina tak mengenalinya. Namun ia pun berusaha sabar. Setidaknya Edewina sudah sadar dan keluar dari masa komanya.
***********
Wajah Leon terlihat sedih. Ia keluar dari ruangan perawatan Edewina dengan mata yang berkaca-kaca. "Papi, kenapa mami nggak mau bicara dengan Leon? Leon sedih."
"Sabar ya, nak. Mami kan baru saja sembuh. Mami masih kayak mimpi karena tidurnya terlalu lama. Nggak lama lagi mami akan mengingat Leon dan juga papi. Mami akan ingat opa Jack dan Oma Riani."
Leon masih cemberut. Jack langsung memeluk cucunya. "Bagaimana kalau Leon ikut papa dan oma ke kandang kuda. Kuda kesayangan Leon sudah beranak."
"Benarkah?" Leon nampak senang. Riani pun menarik napas lega melihat cucunya yang cerah lagi.
"Papi, Leon pergi dengan opa dan Oma ya? Tapi tolong bilang ke mami tentang Leon ya? Agar mami ingat Leon."
__ADS_1
Reo mengangguk. "Tentu sayang." Reo mengecup pipi putranya dan membiarkan Leon pergi bersama kedua orang tuanya.
Ini adalah hari ke-2 Edewina sadar. Dan yang ia kenali hanyalah Edmond dan Mahira. Menurut analisa dokter, Edewina terkena Amnesia traumatis karena cedera pada kepala saat Edewina dipukul di dalam toilet untuk membuatnya pingsan. Ingatan yang hilang akan bergantung pada bagaimana trauma atau kerusakan pada area otak yang dialami. Amnesia jenis ini dapat membuat seseorang kehilangan ingatan secara sementara atau permanen. Kalau sekarang Edewina hanya mengingat orang tuanya, itu karena selama ia koma, Edewina sebenarnya sedang berusaha melupakan peristiwa menakutkan yang menyebabkan dia koma. Selama koma juga, Edewina berusaha mengingat masa-masa kecilnya yang penuh dengan kasih sayang kedua orang tuanya.
Setelah Edmond dan Mahira pulang, Edewina sudah tertidur kembali. Ia kini sudah bisa duduk sambil bersandar di kepala ranjang walaupun tangan dan kakinya belum bisa digerakkan secara baik.
Dokter mengatakan kalau Edewina perlu terapi karena tubuhnya kaku selama 3 tahun hanya tidur saja. Walaupun sebenarnya para perawat dan Reo sendiri sering menggerakkan tangan dan kaki Edewina saat ia koma.
Reo duduk di samping istrinya. Menatap wajah Edewina yang tertidur nyenyak. "Jangan lupakan aku dan Leon, sayang. Cobalah mengingat kami." kata Reo pelan lalu mengecup dahi Edewina.
**********
6 hari kemudian, Edewina sudah diijinkan pulang ke rumah. Reo menyewa perawat untuk datang ke rumah mereka setiap pagi dan membantu Edewina agar melakukan terapi untuk kaki dan tangannya.
Untuk sementara, Mahira yang menemani Edewina tidur karena Edewina nampak kurang nyaman saat Reo tidur satu kamar dengannya.
"Selamat pagi mami......!" Leon datang ke kamar Edewina. Perempuan itu baru saja selesai dimandikan oleh mami Mahira setelah ia melakukan terapi.
Edewina menatap Leon. "Leon, kan?"
Leon mengangguk. Ini adalah kali pertama ia masuk ke kamar Edewina setelah sebelumnya Edewina sama sekali tak mau bicara padanya.
"Leon hari ini bolos sekolah."
"Kenapa bolos?"
"Malas saja ke sekolah." Leon duduk di samping Edewina.
"Leon harus rajin ke sekolah."
Leon hanya tersenyum. Ia menyentuh tangan Edewina dengan jari kecilnya. "Mami cantik."
Edewina tersenyum. Ia bingung saat semua orang mengatakan kalau dia sudah memiliki anak. Edewina merasa bahwa ia masih sekolah. Ia juga kaget saat tahu kalau mereka sekarang ada di Inggris dan bukan di Indonesia.
"Leon....!" Reo masuk. Ia langsung tersenyum melihat Leon yang duduk di sebelah Edewina.
Edewina menatap pria tampan yang berdiri di depan pintu kamarnya. Ia terlihat gagah dengan jas kerjanya. Edewina merasa pernah melihat pria itu. Namun ia lupa di mana.
"Selamat pagi, Wina." Reo menyapa Edewina tanpa ada embel-embel sayang di belakangnya agar Edewina tak menjauhinya.
"Selamat pagi juga." Edewina membalas sapaan Reo.
"Leon, papi mau berangkat kerja dulu ya? Jangan ganggu mami jika mami mau tidur." Reo mendekat dan mencium dahi anaknya. Sebenarnya dia juga ingin mencium Edewina. Namun Reo menahan keinginannya itu. Dia ingin Edewina merasa nyaman dengannya.
"Papi aku, tampan kan?" tanya Leon setelah Reo pergi.
"Iya. Dia tampan." ujar Edewina. Entah mengapa ia menjadi tersipu saat mengucapkan kata itu.
*********
Hallo semua, ada yang penasaran dengan kisah cinta Indira dan Ken. Ada yang mau nggak?
__ADS_1
Tapi jangan diminta dibuatkan novel sendiri ya?