
Edewina berdiri di depan pintu apartemen Ken. Ia membunyikan bel namun tak ada yang membukanya. Edewina pun mencoba memasukan kode pada pintu. Entah nomornya masih sama ataukah telah berbeda. Ternyata password pintunya masih sama.
"Ken.....!" Edewina mendorong pintu apartemen itu. Ruang tamu nampak sepi. Ruangan ini masih seperti dulu. Ken orangnya sangat rapi dan bersih.
Perlahan Edewina mengintip dari pintu kamar yang memang terbuka setengah. Ia hampir saja memanggil namun ia menahan mulutnya. Ken nampak berdiri membelakangi pintu. Ia menghadap ke jendela. Ia hanya menggunakan celana pendek dan bagian atas yang polos. Edewina terkejut melihat tato naga yang ada di punggung Ken. Bukankah dulu tato itu tak ada?
Edewina juga semakin terkejut mendengar Ken berbicara dalam bahasa Spanyol.
"Aku tidak mau tahu! Jika kalian tidak bisa melakukannya, maka aku akan menghabisi kalian semua!"
Deg!
Apakah benar Ken terlibat dengan gank mafia? Benarkah dia sudah berubah?
Wajah Edewina tiba-tiba menjadi pucat. Ia merasa takut dengan Ken. Edewina memutuskan untuk pergi secara diam-diam namun sialnya, kaki Edewina justru tersandung pada guci yang di ada di dekat pintu kamar.
Prang!
Penutup guci itu jatuh.
Ken keluar sambil menodongkan pistol. Ia terkejut melihat Edewina ada di sana.
"Wina?"
Edewina merasakan jantungnya berdetak sangat kencang. Baru kali ini ia merasa takut berhadapan dengan Ken. Terbayang kata-kata Reo tentang kecurigaannya pada Ken.
"Ada apa?" tanya Ken bingung melihat Edewina yang nampak pucat.
"Wina, kamu sakit?"
Edewina langsung mundur beberapa langkah saat Ken akan menyentuh wajahnya.
"Eh, aku mau pulang. Maaf sudah masuk tanpa permisi. Sebaiknya kamu menggantikan password pintumu." Edewina langsung membalikan badannya dan hendak pergi namun Ken menahan tangannya.
"Win, pasti ada sesuatu sampai kamu datang ke sini."
Edewina menarik napas panjang. Ia kemudian menarik tangannya dari genggaman Ken dan berbalik. Ia memberanikan diri menatap pria itu.
"Ken, siapa kamu? Aku merasa ada yang berbeda dengan dirimu."
Ken tersenyum. "Aku masih Kennard Lim."
"Kamu bukan Kennard Lim yang aku kenal dulu. Kamu sudah berubah."
"Aku tidak berubah, Win. Kan yang berubah itu adalah kamu. Aku masih Kennard Lim yang belum bisa menghilangkan semua perasaan sayangku padamu."
"Aku pergi.....!" Edewina langsung melangkah. Ia tak tahan lagi melihat cara Ken menatapnya. Sangat jauh berbeda. Seolah Ken menyimpan dendam untuknya.
__ADS_1
Saat mobil yang membawa Edewina keluar dari gerbang apartemen, Edewina melihat Justin yang baru masuk dengan mobil yang terbuka kap nya.
Ada hubungan apa Justin dengan Ken?
Ponsel Edewina berbunyi. Ternyata Reo yang menghubunginya. "Sayang, kenapa juga kamu menemui Ken?"
"Nanti aku jelaskan di rumah, kak. Sampai jumpa di rumah."
Kepala Edewina tiba-tiba saja merasa pusing. Ia tahu bukan karena perasaan nya masih ada untuk Ken. Namun ia sungguh tak ingin cowok itu menjadi jahat. Ken bukan orang seperti itu.
*********
Tak sampai 1 jam, Reo sudah menyusul Edewina di rumah. Di lihatnya Edewina sedang duduk di ruang tamu sambil memijat kepalanya.
"Ada apa, sayang?"
Edewina langsung memeluk Reo begitu suaminya itu duduk di sampingnya. "Aku takut, kak. Aku takut melihat Ken."
"Sudah ku katakan kalau aku curiga dengannya. Makanya kamu jangan dekat lagi dengannya." Reo melepaskan pelukannya. Ia memegang wajah istrinya.
"Sayang, aku dan Mark sudah menyelidiki kalau Ken ada hubungannya dengan Justin. Justin itu adalah anak sambung dari Cecilia. Cecilia itu adalah bibinya Cassie. Ia sebenarnya mantan kekasih daddy Jack. Dia pernah menculik mommy Riani dan membuat daddy menceraikan mommy. Sepertinya dia masih dendam dengan keluarga kami. Aku memang belum tahu apakah mereka yang terlibat dengan semua teror ini. Termasuk juga yang membuat daddy kecelakaan. Sebenarnya aku tak mau menceritakan ini padamu. Namun aku ingin kamu mulai sekarang lebih hati-hati lagi."
Edewina mengangguk.
"Justin adalah anak angkat dari suami Cecilia. Orang tua Justin meninggal dan ia dipelihara seorang mafia dari Spanyol. Mafia itu memiliki adik. Namanya Monalisa. Monalisa itu adalah mantan kekasih papi Edmond."
"Apa?"
"Monalisa itu yang menembak aku dan membuat aku hidup dalam trauma yang berkepanjangan."
"Jika memang mereka yang membuat kita seperti ini, maka aku tak akan tinggal diam, sayang. Aku sebenarnya juga sudah keluar dari dunia mafia. Sebelum kita menikah, aku sudah membereskan semuanya."
Edewina memeluk Reo sekali lagi. "Kak Sen, lebih baik kita pindah ke Indonesia saja."
Reo membelai rambut Edewina. "Mau di manapun, mereka akan menemukan kita. Karena itu sebaiknya kita tuntaskan semuanya. Agar kita bisa hidup dengan tentram."
Edewina mengangguk. "Aku mempercayakan semua padamu, kak."
********
Memasuki bulan ketujuh, Edewina memilih berhenti dari proyek. Ia bahkan sudah menyelesaikan studinya lebih cepat dari yang diperkirakan. Ia tinggal menunggu waktu untuk ujian saja. 3 tahun lebih Edewina sudah meraih gelar sarjana tehniknya.
Hari ini papi Edmond datang dengan mami Mahira. Mereka memutuskan akan tinggal di London sampai Edewina melahirkan.
Sambil menunggu kedua orang tuanya, Edewina pun memutuskan untuk pergi berbelanja di temani oleh Adeline. Riani sedang ke acara amal bersama Jack. Sedangkan Reo ke bandara untuk menjemput mertuanya.
Mereka berbelanja di toko Asia.
__ADS_1
"Bi, aku mau ke toilet dulu,ya. Entah mengapa selalu pingin buang air kecil."
"Begitulah kalau kandungan sudah memasuki usia 7 bulan, nyonya."
Edewina melangkah ke arah toilet. Pengunjung toko Asia lumayan banyak hari ini.
Toilet yang Edewina masuki ternyata banyak yang mengantri. Ia pun bertanya pada salah satu penjaga toko dan mereka menyarankan dia untuk pergi ke toilet yang ada di bagian belakang.
*********
Edmond dan Mahira tiba di rumah keluarga Almond. Jack dan Riani kebetulan baru pulang dari acara amal.
"Apakah istriku masih berbelanja?" tanya Reo melalui sambungan telepon kepada bodyguard nya.
"Iya, tuan."
"Apakah mereka tak terlalu lama belanjanya? Ini sudah jam 5 sore."
"Kami akan masuk ke dalam, tuan."
"Baiklah. Soalnya aku menelepon istriku namun tak diangkat."
"Baik, tuan."
Reo menutup teleponnya. Namun ponselnya kembali berbunyi.
"Tuan, nona Indira di culik."
"Apa?"
"Kami sedang mengikuti nona yang sedang mengikuti senam hamil di club'. Saat keluar dari sana, mobil Hammer hitam tiba-tiba berhenti dan menariknya masuk. Kami sudah mencoba mengikuti mobil itu namun kami terhalangi."
Jantung Reo bagaikan ditarik keluar. "Indira di culik."
Semua yang ada di ruang makan terkejut.
"Mereka membiarkan kita tenang beberapa bulan ini dan mereka akhirnya beraksi." Jack nampak kesal. Begitu juga dengan Edmond.
Ponsel Reo berbunyi lagi. Kali ini ada pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Reo langsung berteriak histeris saat melihat di foto itu mereka mengikat Edewina di sebuah tiang.
"Ah.....ah.....!" Air mata Reo mengalir. Ia sangat takut membayangkan Edewina akan dibunuh.
********
Sanggupkah opa Jack dan opa Edmond beraksi?
Tunggu besok lagi ya guys
__ADS_1