MEMILIKIMU ADALAH TAKDIRKU

MEMILIKIMU ADALAH TAKDIRKU
Pertengkaran


__ADS_3

"Reo....!"


"Aku akan melepaskan tanganmu jika kamu berjanji tak akan pergi ke rumah sakit."


"Kenapa sih kamu harus melarang aku?"


"Aku adalah suamimu, Edewina. Kamu suka atau tidak suka, aku adalah suamimu!" Reo berusaha agar suaranya tak sampai menjadi kuat karena ia tak mau Adeline mendengarkan pertengkaran mereka..


Edewina menahan emosinya. Ia juga sepertinya tak ingin Adeline mendengar pertengkaran mereka. Bisa runyam urusannya kalau mommy Riani datang kembali.


"Lepaskan tanganku. Aku tak akan pergi!"


Reo tersenyum senang mendengar perkataan Edewina. Ia melepaskan tangannya yang memegang pergelangan tangan Edewina. Kulit gadis itu yang putih membuat pergelangan tangannya menjadi merah. "Sayang, maafkan aku." Reo jadi tak enak melihat pergelangan tangan Edewina.


Dengan tatapan marahnya, Edewina segera membalikan badannya dan menaiki tangga. Ia sungguh ingin berteriak untuk meluapkan amarahnya namun ia tak bisa.


Ia masuk ke kamar sambil membanting pintu. Reo yang menyusulnya cukup terkejut mendengat bunyi pintu yang keras.


Perlahan Reo membuka pintu kamar. Ia melihat kalau Edewina ada di balkon.


"La, gue nggak bisa pergi. Reo melarang gue. Katanya jika gue pergi, gue akan membuat Ken berharap lagi dengan kisah kami. Pada hal gue jujur ingin ke sana atas dasar kemanusiaan."


"Memangnya ku beneran nggak cinta lagi sama Ken?"


"Gue belum bisa melupakan dia begitu saja, La. Namun gue sudah menerima kenyataan kalau kami memang nggak bisa bersama."


"Sebaiknya lu dengar apa kata Reo. Kan besok pagi juga lu ada presentasi. Kami juga semua nggak diijinkan masuk oleh Reo. Hanya Brian. Itu pun dengan pesan agar Brian tak mengabari kedua orang tuanya perihal kecelakaan itu. Ini, aku sama Sinta mau pulang aja."


"Ken, mengamuk ya?"


"Iya. Nggak tahu sebabnya apa."


"Ya sudah. Aku tutup saja. Bye..." Edewina mengahiri percakapannya dengan Clara. Hatinya nelangsa. Ia tahu apa penyebab Ken mengamuk. Ia sudah sangat mengenal karakter Ken. Pria itu pasti stres karena mengalami kecelakaan yang cukup parah.


Edewina belum juga masuk ke dalam. Ia masih berdiri di balkon sambil memegang pagar pembatas balkon.


"Sayang, ini sudah malam. Ayo masuk! Nanti kamu masuk angin! Malam ini cukup berangin."'Reo mendekati istrinya.


Edewina memang merasa agak dingin namun ia tak menghiraukan perkataan Reo Ia masih kesal karena Reo melarangnya ke rumah sakit.


"Win....!" Reo menyentuh pundak Edewina namun Edewina menepiskan nya. Ia langsung masuk ke dalam dengan wajah cemberutnya. Ia duduk di depan meja belajarnya dan mulai membuka laptopnya walaupun konsentrasinya tidak ada di sana.


Reo membiarkan Edewina. Ia tak ingin mengusiknya. Namun tak juga keluar dari kamar. Reo duduk di sofa sambil memegang tablet nya dan memeriksa beberapa laporan perusahaan.


Selama hampir 2 jam, keduanya saling diam dan tenggelam dengan kesibukan masing-masing. Sampai akhirnya, Edewina yang menyelesaikan pekerjaannya. Ia segera ke kamar mandi, untuk cuci muka dan menggosok giginya. Setelah itu Edewina ke walk in closet, ia segera mengganti bajunya dengan piyamanya, setelah itu ia segera naik ke atas ranjang setelah mengatur batas-batas tempat tidur antara dirinya dengan Reo.


Senyum Reo menghiasi wajah tampannya saat melihat kalau Edewina akhirnya tertidur dengan nyenyak. Reo kemudian meletakan tabletnya. Ia duduk di tepi ranjang sambil membelai wajah Edewina secara perlahan tanpa bermaksud membangunkan istrinya itu dari tidur nyenyak nya.


"Tidur yang nyenyak sayang. Terima kasih karena kamu mau menuruti aku hari ini. Sweet dream." bisik Reo lalu mencium pipi Edewina kemudian berbaring di samping Edewina.


*********


Reo memeluk Indira dengan penuh kasih sayang melihat sahabat sekaligus rekan kerjanya itu kembali dari Kanada dengan keberhasilan pekerjaan mereka.


"Selamat ya, Ra. Aku senang karena kamu berhasil dan pulang dengan selamat."

__ADS_1


Indira tersenyum senang. "Aku berhasil juga karena nama besar perusahaan Almond."


"Aku dengar kalau wakil direktur perusahaan itu mengejar-ngejar kamu ya?"


"Ah, itu hanya gosip."


"Kok gosip, sih? Beritanya sampai heboh di jagat maya."


Indira tertawa. "Dia bukan tipeku."


"Lalu tipe mu kayak apa? Usiamu sudah hampir 28 tahun."


"Aku masih ingin mengejar karirku. Lagi pula rencananya tahun ini aku mau menyelesaikan studi S3 ku."


"Kelamaan sekolah nanti kamu jadi perawan tua."


Indira hanya tertawa. Sangat sulit bagiku melupakan dirimu, Re. Terlalu sulit.


Ponsel Reo berbunyi. Ada pesan dari bodyguard nya yang selalu mengikuti Edewina.


Tuan, nyonya sekarang ada di rumah sakit tempat tuan Ken dirawat. Ia datang sendiri dengan taxi.


Rahang Reo mengeras. Emosinya tersulut saat mengetahui kalau Edewina ternyata pergi ke rumah sakit. Ia segera menelepon Edewina. Namun istrinya itu tak menerima panggilannya.


"Ada apa, Re?" tanya Indira.


"Wina, membuatku kesal. Ia masih saja menemui Ken."


"Kemarin kamu bilang kalau Ken kecelakaan kan? Mungkin Wina hanya ingin menjenguknya."


Reo mengusap wajahnya kasar. "Wina masih mencintainya. Aku melihat bagaimana Wina menangis putus asa saat Ken akan di operasi."


"Dulu aku mungkin akan sangat sabar saat Wina belum menjadi istriku. Namun sekarang aku rasanya tak bisa menahan rasa cemburuku. Kemarin aku hampir saja tak bisa menahan emosiku saat Wina memaksakan diri untuk ke rumah sakit."


Indira menepuk pundak sahabatnya. "Wina masih 19 tahun. Dia masih sangat muda. Aku tahu Wina juga seharusnya belajar. Mungkin kamu harus curhat ke mommy Riani sehingga mommy bisa menasehati Wina."


"Mommy nggak tahu kalau Wina terpaksa menikah denganku. Jika aku curhat, mommy pasti tahu. Dan mommy orang pertama yang akan meminta Wina untuk pisah dariku."


"Ya kalau begitu, kamu yang harus banyak sabar."


"Ingin rasanya aku membawa Edewina ke suatu pulau dimana hanya ada kami. Aku yakin bisa memenangkan hatinya."


"Ya sudah. Bawa saja."


"Opa Edriges akan membunuhku. Karena dia berpesan bahwa Wina harus menyelesaikan kuliahnya sekalipun sudah menikah denganku. Sekarang aku mau pergi dulu." Reo akan keluar dari ruangan Indira.


"Kamu mau kemana?"


"Aku mau menjemput istriku di rumah sakit."


"Jaga emosi ya?"


Reo mengangguk lalu segera meninggalkan ruangan Indira.


*********

__ADS_1


Ken yang masih terbaring lemah langsung tersenyum melihat Edewina memasuki ruangan perawatannya.


"Wina?"


Edewina mendekat. "Bagaimana keadaanmu?"


"Sudah lebih baik. Walaupun lukanya terkadang nyeri."


Edewina menarik kursi sampai ke dekat tempat tidur Ken lalu duduk di sana. "Kenapa kemarin mengusir Clara dan Sinta?"


"Aku stres karena keadaanku jadi seperti ini. Aku menyesal menyetir mobil dalam keadaan mabuk."


"Ken, jangan lagi mabuk. Ingat tujuanmu ada di sini apa? Hubungan kita boleh gagal. Namun jangan sampai cita-citamu juga gagal. Bukankah kau ingin menjadi dokter handal seperti kakek mu? Dulu kamu pernah bilang, papamu mengecewakan kakek karena lebih memilih jadi pengusaha dari pada seorang dokter. Apakah sekarang kamu juga harus mengecewakan kakekmu? Tinggal setahun lagi dan semuanya akan selesai. Kau akan menjadi ahli beda seperti kakekmu."


Mata Ken berkaca-kaca. "Aku sungguh menyesal terlalu mengikuti kata hatiku." Ken meraih tangan Edewina. "Wina, aku ingin kita tetap menjadi teman. Seperti dulu, bersama Brian, Clara dan Sinta, kita sering bersama di kampus."


"Kita bukan hanya teman, Ken. Tapi kita sudah menjadi saudara. Justru hubungan kita menjadi semakin kuat sebagai saudara sepupu. Lupakan saja semua yang pernah terjadi, Ken." Edewina mengusap tangan Ken yang menggenggam tangannya. Tepat di saat itu pintu ruangan Ken terbuka dan masuklah Reo.


Mata pria itu langsung menyala saat melihat kalau Edewina dan Ken saling berpegangan tangan.


"Sayang....!" Reo melangkah mendekati mereka.


Edewina menarik tangannya dari genggaman Ken. Walaupun baru 2 bulan lebih menikah, Edewina tahu apa arti tatapan mata Reo sekalipun bibirnya tersenyum.


"Ken, aku pulang dulu ya? Nanti aku akan datang menjenguk lagi. Banyak istirahat dan makan yang banyak." ujar Edewina lalu mengambil tas punggungnya. "Reo, ayo kita pergi!"


"Sayang, aku kan belum sempat bercakap-cakap dengan Ken." ujar Reo sambil menahan langkah Edewina dengan cara memeluk pinggang istrinya itu. Reo dapat melihat tatapan mata Ken yang terluka. Namun Reo ingin agar Ken sadar bahwa Edewina tak bisa lagi dimilikinya.


Edewina menatap Reo dengan mata penuh permohonan.


"Ken, bagaimana keadaanmu?" tanya Reo sambil menarik perlahan pinggang Edewina agar gadis itu semakin merapat ke tubuhnya.


"Mulai membaik." jawab Ken pelan.


"Baguslah. Kami berdua berharap yang terbaik untukmu, Ken. Ayo sayang kita pergi!" Reo melepaskan tangannya yang melingkar di pinggang Edewina lalu menautkan jari mereka. Edewina berusaha menarik tangannya namun Reo sama sekali tak melepaskannya sampai keduanya sudah ada di tempat parkir.


"Lepaskan !" Wina menarik tangannya dan kali ini Reo membiarkannya.


"Kamu pasti menyuruh orang untuk mengawasi aku kan? Kalau tidak mengapa kamu bisa tahu kalau aku ada di rumah sakit?"


"Ya. Karena aku ingin tahu apakah istriku taat pada apa yang aku katakan atau tidak? Ternyata tidak kan?"


"Aku hanya mengunjungi temanku dan sekaligus juga saudaraku. Apakah itu tak boleh?"


"Boleh sayang. Namun sebaiknya jika mau berkunjung, kamu harus minta ijin dulu padaku. Aku adalah suamimu. Segala sesuatu yang istri lakukan harus sepengetahuan suaminya. Itu jangan kau lupa."


Edewina mendengus kesal. Ia ingin membantah perkataan Reo namun apa yang Reo katakan adalah sebuah kebenaran.


"Masuklah. Kita pulang sekarang." Reo membuka pintu mobil. Edewina langsung masuk.


Reo kini tahu salah satu kelemahan Edewina. Istrinya itu tak suka beradu mulut terlalu lama. Dan itu sangat menguntungkan bagi Reo. Di bawa tekanannya, Edewina akan tunduk.


***********


Kapan sih Edewina akan takluk?

__ADS_1


Sabar ya pembacaku


Namanya juga mereka baru menikah 2 bulan lebih. Tak akan mudah mengubah hati gadis sekeras kepala Edewina.


__ADS_2