
Di beberapa tempat, yang berbeda kebudayaan dan adat istiadat, menikah dengan sepupu itu memang dianggap hal yang biasa. Namun di beberapa tempat juga dianggap sesuatu yang salah. Apalagi dari ilmu kedokteran, menikah dengan orang yang masih ada hubungan darah dengan kita dapat membuat penyakit bawaan itu menurun pada anak yang akan dilahirkan.
Ini sih menurut pendapat aku berdasarkan beberapa hal yang aku pelajari. Tak tahu bagaimana pendapat para pembaca sekalian.
*************
"Ada apa?" tanya Ken sambil menggenggam tangan Edewina yang duduk di sampingnya.
"Ken, bagaimana kalau orang orang tuaku tak menyukai keluargamu? Aku merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh mereka."
"Kita akan berjuang untuk cinta kita, sayang. Papa dan mamaku juga semalam rada aneh. Meminta aku untuk segera memutuskan hubungan denganmu. Namun mereka sendiri tak menjelaskan apa alasannya."
Edewina membaringkan kepalanya di bahu Ken. "Kita harus kuat untuk mempertahankan cinta kita, Ken."
Ken meremas tangan Edewina yang ada dalam genggamannya. "Tentu saja, sayang. Aku akan berjuang menghadapi apapun demi keutuhan cinta kita."
"Kalau ternyata mereka masih menentangnya?"
"Aku terpaksa harus menikahi mu secara diam-diam."
Edewina mengangkat kepalanya lalu memandang Ken. "Kita kawin lari?"
"Bukan kawin lari, sayang. Kita akan menikah diam-diam dan saat kita sudah resmi barulah kita akan memberitahukan mereka. Aku yakin mereka tak akan melarang kita lagi. Kamu mau kan?"
Edewina mengangguk. Ia langsung memeluk Ken dengan semua rasa cinta yang ia miliki untuk pria itu. Ken yang lembut, Ken yang baik hati. Ken yang menghormati prinsip hidup Edwina yang tak ingin melakukan hubungan intim sebelum mereka menikah. Apalagi yang harus Edewina ragukan?
********
Reo mengepalkan tangannya mendengar percakapan pasangan kekasih itu. Hatinya menjadi panas melihat bagaimana kuatnya ikatan cinta diantara mereka.
Tanpa Edewina ketahui, Reo meminta anak buahnya memasang kamera di luar mobil Ferrari Edewina. Kebetulan mobil itu diparkir tepat di depan tempat mereka duduk. Tentu saja sangat jelas terlihat dan terdengar percakapan diantara mereka.
Mark masuk ke ruangan Reo yang memang tak dikunci. Saat pria berusia 37 itu masuk, ia langsung menutup pintunya.
"Bos, tuan Teddy Kandow sudah pernah melakukan tes DNA saat Edewina masih berusia 5 tahun. Dan hasilnya, Edewina memang anak kandung Teddy Kandow. Sepertinya mereka merahasiakan ini pada Edewina atas persetujuan bersama di masa lalu. Hubungan Teddy dan Edewina tetap terjalin akrab namun Edewina tahu kalau dia berdarah Moreno."
"Benarkah? Apakah data ini dapat dipercaya?"
Mark menyerahkan beberapa berkas yang berhasil didapatkannya.
"Rupanya seperti itu." Reo tersenyum sangat manis. "Ken dan Wina tak bisa menikah. Mereka adalah saudara sepupu. Akan dianggap dosa jika mereka akhirnya menikah."
"Itulah yang membuat aku senang, tuan."
"Tinggal bagaimana membuat Wina mengerti. Aku takut kalau dia nantinya akan berlaku nekad dan kawin lari dengan Ken. Orang tuanya harus memberikan dia penjelasan yang baik agar Wina mengerti bahwa hubungannya dengan Ken adalah sesuatu yang tak mungkin. Ah, aku dapat tidur nyenyak kali ini."
Mark hanya bisa mengangguk walaupun ia sendiri bingung dengan cara Reo mencintai Edewina. Menurutnya, Reo seakan telah dibutakan oleh pesona Edewina sampai tak menyadari bahwa gadis itu mencintai orang lain.
__ADS_1
********
"Kalian harus putus!" ujar Mahira saat mereka sudah selesai makan malam.
"Tapi kenapa, ma?" tanya Edewina.
"Opanya Ken, memiliki hubungan yang tidak baik dengan almarhumah Edewina. Yaitu kakak dari papi Edmond." ujar Mahira. Itulah alasan yang Mahira pikirkan dan juga akan dikatakan orang tua Ken pada anaknya itu.
"Kenapa mami baru mengatakannya sekarang? Mami kan sudah lama kenal papa Teddy."
Mahira berusaha menyusun kata yang baik karena ia tahu kalau Edewina anaknya cerdas.
"Mami kenal papa Teddy tanpa tahu latar belakang keluarganya. Keluarga Moreno sangat membenci opanya Ken. Mami juga yakin opanya Ken tak akan setuju karena ia sudah mengenal keluarga kita." Kata Mahira sambil sesekali menatap Edmond yang hanya diam saja. Ia tahu Edmond kurang nyaman memakai hubungan masa lalu antara Kakaknya dengan ayahnya Teddy. Namun Edmond tentu tak setuju jika harus mengatakan bahwa alasan yang sebenarnya karena Teddy adalah ayah kandung Edewina.
"Hubungannya seperti apa, mi?" tanya Edewina terlihat frustasi karena ibunya menentang hubungannya dengan Ken.
"Mami tak ingin menceritakannya. Ini merupakan luka terbesar di keluarga Moreno. Jadi, sebelum opa mu tahu yang sebenarnya, sebaiknya kalian akhiri saja hubungan kalian."
Edmond mengangguk. "Wina, selama ini kami tak pernah melarang mu. Hanya saja kali ini, dengarkan permohonan papi dan mami."
"Aku mencintai, Ken. Bagaimana mungkin aku harus mengakhiri hubungan kami hanya karena masa lalu keluarga ini?"
"Edewina!" sentak Mahira marah. Ia tak menyangka anaknya akan bereaksi seperti itu.
"Mami, aunty Edewina kan sudah meninggal. Kita tak bisa memperbaiki masa lalu. Apakah karena itu harus mengorbankan hubunganku dengan Ken? Kami saling mencintai. Aku tak mau berpisah dengan Ken." mohon Edewina sambil menangis.
"Tidak, mami. Ken sangat menghormati aku. Hubungan kami tak melebihi batas-batas yang sudah mami ajarkan. Ken lelaki yang baik."
Mahira menarik napas lega. "Pokoknya hanya itu yang mami katakan. Kalian harus putus demi menjaga kedamaian keluarga Moreno. Jika mami masih mengetahui kalau kalian berhubungan lagi, maka mami akan memaksamu untuk pulang ke Indonesia." kata Mahira dengan sedikit mengancam. Selama ini ia tak pernah berkata kasar pada anaknya. Ia bahkan menuruti semua keinginan Edewina. Namun kali ini, Mahira harus menunjukkan sikapnya yang tegas agar anaknya mau mendengarkan dia.
*********
"Sayang, jangan menangis." Ken menghapus air mata Edewina. Keduanya kini ada di dalam mobil Edewina. Sengaja hari ini Edewina bolos kuliah.
"Ken, aku tak mau putus dengan kamu!"
"Aku tahu sayang. Aku juga tak mau kita berpisah hanya karena masa lalu diantara opa ku dan bibi mu. Papaku juga mengancam akan mengirim aku kembali ke Seoul jika kita tak putus. Karena itu, aku ingin menjalankan rencana kita, sayang."
"Rencana apa, Ken?"
"Kita menikah saja. Aku punya teman yang ayahnya adalah seorang pendeta. Pamannya juga seorang petugas catatan sipil. Dia akan mengurus surat-surat kita. Katanya sekitar 2 atau 3 hari."
"Kau yakin akan melakukan ini?"
Kennard mengangguk. "Hanya ini jalan satu-satunya."
"Ken, usiaku saja baru 19 tahun. Dan kamu 23 tahun. Apakah ini tak terlalu cepat? Bagaimana kalau aku hamil?"
__ADS_1
Ken tersenyum. "Justru itu yang aku inginkan. Aku ingin kamu hamil. Tentu saja hamil dengan jalur yang benar. Kata orang, kehadiran seorang cucu akan membuat opa dan omanya akan jatuh cinta." Ken menghapus air mata Edewina. "Kamu mau menikah dengan aku kan, sayang?"
Edewina sebenarnya ingin menikah seperti yang dia impikan selama ini. Papi nya akan mengantar dia sampai di depan altar dan semua saudara-saudaranya akan berdiri sebagai pendamping penggantinya. Namun, impian itu harus dikuburkannya dalam-dalam. Demi mempertahankan hubungannya dengan Ken, Edewina siap melakukan apa saja.
**********
Mark terkejut saat melihat Reo yang mematahkan pulpen yang ada di tangannya. Pulpen yang begitu kuat itu hancur di tangan Reo dan membuat tangan pria tampan itu berdarah. Ia baru saja mendengar percakapan Wina dan Ken.
"Mereka akan menikah? Tidak akan pernah ku ijinkan!" kata Reo pelan namun penuh penekanan. Hatinya sangat panas.
"Apa yang harus kita lakukan, tuan? Keduanya begitu saling mencintai."
"Kalau Ken bukan sepupu Edewina, maka aku akan melepaskan mereka. Juga masa lalu opa Ken dan bibi Edewina akan menjadi duri dalam rumah tangga mereka Aku akan merelakan Edewina menikah dengan pria yang dia cintai dan juga mencintainya. Namun aku tak ingin Edewina melakukan kesalahan yang nantinya akan dia sesali saat tahu kebenarannya tentang siapa ayah kandungnya." Reo mengambil tissue dan menutup luka di telapak tangannya.
"Mark, Wina sangat suka dengan otomotif. Buat acara pameran mobil klasik. Acaranya harus di halaman hotel milik paman Clark agar aku lebih muda mengawasinya. Edewina akan menikah dengan Ken 3 atau 4 hari lagi. Jadi pamerannya harus dilaksanakan 2 hari dari sekarang."
"Baik tuan. Kalau begitu aku harus permisi untuk menyiapkan semuanya."
Reo mengangguk. Saat Reo keluar, Indira masuk. Perempuan cantik itu terkejut melihat tangan Reo yang berdarah.
"Reo, tanganmu kenapa?" tanya Indira panik.
"Hanya luka kecil saja. Oh ya Indira, aku sangat membutuhkan bantuan mu."
"Bantuan apa?"
"Untuk menjadikan Edewina sebagai milikku."
"Reo, relakan saja Edewina dengan Ken. Mereka saling mencintai."
Reo menggeleng. "Mereka tak boleh menikah. Ken dan Wina saudara sepupu."
"Apa?"
Reo menceritakan tentang asal usul Edewina. "Ken dan Edewina akan menikah secara diam-diam. Aku akan menggagalkan rencana mereka. Aku mohon agar kamu mau membantuku. Tolonglah agar aku bisa mendapatkan Wina."
Indira akhirnya mengangguk. Bagaimana mungkin ia akan menolak lelaki yang sangat dicintainya itu?
*********
"Pameran mobil klasik? Wah, tentu saja aku akan datang kak Reo. Tapi mungkin nanti agak malam karena kuliahku sampai jam setengah enam sore. Aku juga harus ijin pada orang tuaku. Ok. see you tomorrow." Edewina tersenyum senang. Sesungguhnya ia agak tegang karena 2 hari lagi akan menikah secara diam-diam dengan Ken. Mungkin dengan hadir di pameran maka ia bisa menenangkan suasana hatinya. Reo sungguh baik mau mengundangnya untuk datang ke pameran itu.
**********
Apakah yang akan terjadi di pameran nanti?
Berikan komentar mu ya guys
__ADS_1