MEMILIKIMU ADALAH TAKDIRKU

MEMILIKIMU ADALAH TAKDIRKU
Sendiri Lebih Baik?


__ADS_3

"Edewina kan?"


Edewina menatap pria di hadapannya. Pria tampan, memakai jas tiga potong seperti yang biasa di pakai oleh Reo. Sesaat Edewina ingat Reo. Usia pria ini pasti hampir sama dengan Reo.


"Iya."


Pria itu mengulurkan tangannya. "Perkenalkan nama saya Justin Tan."


"Anda orang Korea?" tanya Edewina lalu membalas uluran tangan Justin. Keduanya berjabat tangan lalu melepaskan kembali.


"Ayahku. Namun ibuku orang Inggris. Aku lahir sampai usia 15 tahun ada di Korea dan 15 tahun sampai sekarang 27 tahun ada di Inggris."


Edewina tertawa melihat bagaimana lucunya pria yang bernama Justin ini.


"Kenapa tertawa?"


"Kamu lucu."


"Oh ya?" Justin nampak senang.


"Apa yang anda lakukan di sini?" tanya Edewina.


Sebelum Justin menjawab, seorang pria yang Wina kenal sebagai salah satu mandor datang mendekat.


"Tuan, anda di cari oleh nyonya."


"Oh..." Justin menepuk jidatnya sendiri. Ia tersenyum ke arah Edewina. "Aku pergi dulu ya cantik."


Edewina mengangguk sambil menatap mandor itu. "Siapa itu?"


"Anda tidak tahu? Dia adalah pemilik utama saham mall yang sementara dibangun ini."


"Ya Tuhan. Aku sudah bersikap tak sopan padanya."


Mandor itu tersenyum. "Tuan Justin memang begitu. Selalu bersikap baik dan ramah pada siapa saja."


Edewina hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Ia kemudian melangkah masuk ke dalam ruangan khusus tempat mereka bertugas. Di lihatnya Sandra sedang duduk termenung.


"San, ada apa?" tanya Edewina sambil duduk di depan sahabatnya itu.


"Aku sedang mencari strategi lain lagi untuk menaklukan kekasihku."


"Yang kemarin gagal?"


"Ya. Dia masih cuek dan enggan berbicara denganku. Namun aku yakin kalau dia mencintaiku. Mungkin dia masih sakit hati dengan apa yang baru terjadi."


"Kamu nggak akan menyerah?"


"Kenapa harus menyerah jika aku tahu kalau dia masih mencintaiku?"


Edewina diam sejenak. Apakah Reo masih mencintaiku? Ataukah cintanya sudah hilang? Tapi menurut bibi Adeline, Reo mencintaiku sejak aku masih kecil. Apakah cintanya akan hilang secepat itu?


Edewina menarik napas panjang. Ia tersenyum saat melihat Sandra sedang membaca artikel yang berjudul CARA MEMBUAT PRIA JATUH CINTA LAGI DENGAN KITA


Apakah aku harus mencoba lagi? Ya Tuhan, rasanya sakit saat Reo mengacuhkan ku kemarin malam.


********


Kembali lagi sore ini Edewina datang ke kantor Reo. Dia tak tahu apakah kali ini akan berhasil atau tidak namun ia datang tanpa pemberitahuan.


"Mau buat kejutan untuk pak Reo lagi, nyonya?" tanya Diana begitu melihat Edewina datang.


"Ya."


"Bapak kayaknya ada di ruangannya. Hari ini nggak ada rapat-rapat."


Edewina hanya mengangguk sambil tersenyum. Ia datang sore ini membawa kue kesukaan Reo. Semalaman Edewina membuatnya setelah menanyakan resepnya pada mommy Riani saat mereka pergi ke Manchester. Kue coklat yang sangat Reo sukai.


3 kali Edewina mengulanginya sampai akhirnya kue itu bisa jadi dengan sempurna. Tangan Edewina bahkan sampai melepuh saat tak sengaja memegang baki yang panas.


Saat ia keluar dari lift, dilihatnya pintu ruangan Reo terbuka. Ada tawa terdengar dari ruangan itu. Tawa Reo dan seorang perempuan.

__ADS_1


Saat Edewina berdiri di depan pintu masuk, ia melihat Reo sedang duduk berdampingan dengan Indira. Keduanya sedang menonton sesuatu di TV yang ada di hadapan mereka. Di tangan mereka ada cangkir berisi kopi dan di atas meja ada kue coklat.


"Wina?" Indira yang secara tak sengaja menengok ke arah pintu masuk langsung berdiri melihat Edewina yang datang.


"Ha...hai...!" Edewina terlihat salah tingkah melihat bagaimana rapatnya Indira duduk di sebelah Reo dengan rok mininya yang mengekspos paha putih mulusnya.


Tangan Edewina menggenggam kantong plastik tempat ia menaruh kotak makanan berisi kue. Matanya menatap kue coklat di atas meja yang nampaknya sudah berkurang separuh.


Reo hanya menatap Edewina dengan ekspresi yang dingin. Sedangkan Indira langsung melangkah mendekati Edewina. "Ayo masuk!"


"Terima kasih." Agak ragu Edewina melangkah namun akhirnya ia melangkah juga.


"Aku tinggalkan kalian ya?"Pamit Indira.


"Filmnya belum habis lho." ujar Reo.


"Aku bisa tonton lagi di rumah." ujar Indira lalu menutup pintu ruangan Reo sebelum akhirnya benar-benar keluar.


Reo terus menonton film. Seakan tak memperdulikan dengan kehadiran Edewina.


"Kak, aku buatkan kue coklat kesukaan kakak. Resep dari mommy Riani." kata Edewina berusaha menahan tangisnya melihat sikap Reo yang cuek. Ia mengeluarkan kue coklat itu dari kantong plastik.


Reo menatap Edewina. "Aku dan Indira sudah makan kue coklat. Tak lihat yang ada di atas meja ini?"


"Tapi ini kan bukan seperti resep buatan mommy Riani."


"Indira yang membuatnya. Dia belajar membuat kue coklat ini langsung dari mommy. Jadi rasanya sama persis dengan yang dibuat oleh mommy Riani."


"Kenapa kakak tak mencoba kue buatan ku? Aku memang baru pertama kali membuatnya. Namun aku jamin, rasanya pasti nggak kalah enak dengan buatan mommy Riani."


Reo mengambil remote TV dan langsung mematikan TV nya. Ia berdiri lalu melangkah ke arah meja kerjanya. Duduk di sana sambil menyalahkan laptopnya.


"Lain kali, kalau mau datang, melapor dulu ke resepsionis. Jangan langsung asal masuk saja."


Edewina terkejut mendengar perkataan Reo. "Kak..., apakah aku harus minta ijin juga?"


"Ya." jawab Reo tegas.


Bukankah Reo juga awalnya sangat baik dan perhatian padanya? Di mana akhirnya semua itu? Apakah Reo terlalu bosan pada sikap juteknya selama ini?


Edewina memasukan kembali kotak yang berisi kue itu ke dalam kantong plastik. Ia kemudian membuangnya ke dalam tempat sampah yang ada di sudut ruangan.


"Maaf, aku tak akan pernah datang ke sini lagi." kata Edewina lalu segera pergi.


Reo terkejut melihat Edewina membuang kotak makanan itu ke dalam tempat sampah. Ia buru-buru mengambilnya dan mengeluarkan kotak makanan itu dari kantong plastiknya.


Apakah sikapku sudah keterlaluan? Tapi ini kan yang aku ingini? Aku ingin lepas dari Edewina. Tapi mengapa rasanya sangat menyakitkan?


**********


3 hari kemudian......


"Tuan, bibi Adeline datang mengantarkan kunci apartemen. Katanya nyonya Edewina sudah keluar dari sana. Jadi bibi akan kembali ke Manchester."


Reo yang sementara membaca hasil pengeluaran keuangan mengangkat wajahnya dan menatap Mark. "Wina keluar dari apartemen? Bukankah dia sudah tahu kalau apartemen itu miliknya?"


"Sudah tahu. Namun nyonya tetap pergi. Ini juga ada surat penggilan dari pengadilan."


"Surat panggilan apa?"


"Nyonya Edewina menggugat cerai lebih dulu."


"Apa?" Reo langsung merampas surat itu dari tangan Mark. Ia membacanya.


"Dia mengingat cerai aku lebih dulu? Jadi dia memang ingin berpisah. Ok." Reo membanting surat itu di atas meja. Entah mengapa hatinya menjadi sakit. Egonya sebagai seorang lelaki yang selama ini selalu disia-siakan oleh Edewina membuat semua rasa cinta yang masih begitu besar ada dalam hatinya seakan pergi.


"Dasar bocah! Dia pikir aku takut dengan gugutannya ini? Ok. Aku sendiri yang akan hadir di sana. Kapan sidang pertamanya?"


"Besok. Jam 10 pagi. Sidang mediasi."


"Nggak perlu mediasi. Langsung putusan saja." Reo langsung berdiri lalu menuangkan minuman ke gelasnya. "Cukup sudah aku menantinya dengan sia-sia. Cukup!" teriak Reo lalu meminum minuman beralkohol yang sudah dituangnya dalam gelas.

__ADS_1


"Ada juga satu yang nyonya kembakikan, tuan."


"Apa itu?"


"Mobil Ferrari klasik merah yang tuan hadiahkan padanya. Juga kartu kreditnya."


"Ihs...dasar bocah itu sombong. Lalu ia ke kampus naik apa? Dia kan nggak biasa naik angkutan umum."


Mark tersenyum. "Mungkin sekarang nyonya mau membuktikan bahwa ia bisa tanpa semua fasilitas yang tuan berikan."


"Bocah keras kepala!" ujar Reo lalu kembali menuangkan minuman ke gelasnya.


********


Semua pekerja bangunan sudah pulang. Namun Edewina masih ada di ruangannya. Ia merasa malas untuk kembali ke apartemen kecil yang disewanya di dekat kampus.


"Edewina, apa yang masih kamu lakukan di sini?"


Edewina mengangkat wajahnya. "Eh, pak Justin?"


"Kok panggil pak sih. Aku merasa tua. Panggil saja Justin."


"Tapi....!"


"Nggak ada tapi-tapian. Kalian kan para mahasiswa adalah mitra kerja kami. Arsiteknya merasa sangat puas dengan perubahan kecil yang kamu buat untuk bagian tangganya."


"Hanya sekedar memberi usulan sih, pak."


"Kok pak lagi, sih?"


Edewina tersenyum. "Justin."


"Nah, gitu dong. Kita pulang yuk!"


"Aku bisa pulang sendiri."


"Di daerah sini sudah dapat taxi. Bus nggak ada. Kebetulan aku juga arahnya ke kampus kamu. Kamu tinggal di sana kan?"


"Iya. Apartemen yang agak dekat dengan kampus. Cukup jalan kaki saja."


"Berarti kamu ke tempat sini yang agak jauh ya?"


"Lumayan, sih."


"Ayo kita pulang bareng."


"Aku nggak mau merepotkan."


"Aku tak merasa direpotkan."


Edewina meraih tasnya dan segera berdiri. Namun tiba-tiba saja ia merasa agak pusing.


"Wina, kamu kenapa?" Justin langsung memeluknya.


"Aku merasa pusing dan agak mual."


"Kamu sakit?"


Edewina tak sempat menjawab. Ia langsung pingsan dalam pelukan Justin.


*********


Hallo semua.....


Apa kabar?


Makasi ya untuk komentar yang banyak di dua episode terakhir.


Aku senang bacanya.


Semoga komentar di episode ini juga lebih banyak

__ADS_1


jangan lupa dukung emak terus ya guys


__ADS_2