MEMILIKIMU ADALAH TAKDIRKU

MEMILIKIMU ADALAH TAKDIRKU
Salah Sangka


__ADS_3

Justin meletakan tubuh Edewina ke dalam mobilnya. Ia sangat kaget saat gadis itu mendadak pingsan. Untunglah ia bergerak cepat sehingga sebelum Edewina jatuh ke lantai, Justin langsung memeluk tubuh gadis itu.


Ia membawa Edewina ke salah satu rumah sakit yang tak jauh dari proyek mereka.


Dokter langsung menanganinya dengan cepat dan memberikan pengobatan sesuai prosedur yang ada.


"Gadis ini sakit apa, dok?" tanya Justin khawatir. Jujur saja, sejak pertama ia melihat Edewina, ada sesuatu yang membuat ia tertarik dengan gadis ini. Bukan ia terkenal sebagai lelaki play boy yang menyukai banyak wanita, namun baru pertama di sepanjang sejarah hidupnya, hati Justin bergetar melihat seorang gadis tersenyum.


"Dia sedang datang bulan. Namun ia kelelahan dan sepertinya tak tidur cukup sehingga mengalami anemia. Ada sedikit gangguan di ususnya. Jika tak ditangani dengan serius bisa berakibat fatal. Makanya ia harus makan teratur, jangan dulu makan sesuatu yang pedas dan keras, tidur cukup dan jangan stres. Pacarmu ini sepertinya mengalami stres yang cukup berat."


"Pacar?"


"Dia pacarmu kan? Aku melihat kalau kamu sangat khawatir saat membawa dia tadi." ujar dokter Martha yang berusia sekitar 50an tahun.


"Oh.....dia ...."


Dokter Martha tersenyum. "Hubungan tanpa status ya? Aku mengerti. Tapi dia gadis yang cantik. Gadis Asia nampaknya. Jangan lepaskan dia ya? Gadis Asia kebanyakan setia."


Justin hanya tersenyum. Entah mengapa ia merasa senang saat mendengarkan perkataan dokter Martha yang mengira mereka pacaran.


Ia pun segera memerintah asistennya untuk menyiapkan fasilitas kamar terbaik di rumah sakit ini, juga meminta dokter ahli untuk memeriksa masalah yang ada di usus Edewina malam itu juga.


**********


"Aku dimana?"


Justin yang sedang tertidur di sofa panjang yang ada di ruang perawatan Edewina, langsung terbangun saat mendengar suara Edewina.


"Cantik, kau sudah sadar?"


Edewina merasakan kalau kepalanya masih sakit dan ia merasa muntah.


"Aku mau ke toilet. Pingin muntah."


"Eh, jangan turun dari ranjang mu." Justin langsung memanggil dokter. Seorang perawat membawakan wadah seperti sebuah ember kecil untuk tempat Edewina muntah.


"Nona, usus anda sedikit ada masalah. Ada bakteri yang berkembang di dalamnya sehingga membutuhkan penanganan khusus untuk membersihkannya. Jadi untuk sementara, jangan makan makanan yang keras dan pedas. Jangan makan makanan yang terlalu panas atau terlalu dingin. Perut anda harus diisi setiap 4 jam sekali." dokter Martha memberikan instruksinya agar Edewina menyadari bahwa kondisi yang di hadapinya cukup serius. Saat dokter pergi, perawat datang membawakan makanan untuk Edewina. Semacam sup yang sebenarnya tak enak di lidah Edewina namun harus dimakannya karena Justin sendiri yang menyuapinya sebab Edewina belum bisa bangun karena masih merasa pusing.


"Sup nya nggak enak namun cukup membuat perutku nyaman."


Justin menatap Edewina. "Kamu pernah ada masalah di perutmu?"


Edewina mengangguk. "Waktu aku kecil, aku pernah kena tembakan di bagian perut dan dadaku. Usia 14 tahun, aku menjalani operasi plastik untuk menghilangkan bekas jahitan karena sering membuat aku trauma. Tembakan di bagian perut sebenarnya membuatku ususku terluka. Aku bahkan sempat koma dan setelah sembuh membutuhkan waktu yang lama untuk pulih."


"Kalau sudah tahu begitu, kenapa nggak menjaga kesehatan secara benar? Serius belajar dan kerja boleh. Tapi jangan mengabaikan keselamatan."


"Baik, pak."


"Kok panggil aku, pak? Namaku Justin. Apakah aku terlihat tua sampai kau harus memanggilku dengan sebutan bapak?"


Edewina tersenyum. "Baiklah, bos."


"Justin!"

__ADS_1


Edewina terkekeh. Ia kemudian menguap. "Kenapa aku mengantuk lagi ya?"


"Pengaruh obat yang baru saja disuntikan padamu. Tidurlah."


"Tolong bangunkan aku sebelum jam 10 ya?"


"Untuk apa?"


"Bangunkan saja." ujar Edewina sambil memejamkan matanya. Ia tak bisa menahan rasa kantuknya lagi.


Justin tersenyum menatap Edewina. Ini nggak mungkin kalau aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Nggak mungkin kan?


Justin sengaja tak membangunkan Edewina yang masih tertidur. Ia tahu kalau gadis itu butuh istirahat.


**********


Kembali ke mommy Riani yang pingsan.


"Sayang.....!" Jack menyentuh pipi istrinya saat ia melihat Riani yang perlahan menggerakkan kepalanya sambil membuka matanya.


"Jack, aku kenapa?" tanya Riani sambil perlahan bangun dan mendudukan tubuhnya di atas ranjang.


"Kamu pingsan, sayang. Aku jadi khawatir. Namun kata dokter kamu hanya sock saja."


Ingatan Riani kembali pada kejadian yang membuatnya langsung pingsan. "Mana Reo?"


"Masih ada di ruangan Edewina."


"Sabar sayang, nanti kamu pingsan lagi."


"Edewina sedang hamil dan mereka akan cerai? Pasti ada sesuatu yang telah Reo lakukan. Anak itu, kapan dewasanya?"


Di ruangan Edewina......


"Wina, akhirnya kamu hamil." Clara dan Sinta langsung mendekati ranjang tempat Edewina berbaring.


"Kalian salah mengerti. Aku tidak....!"


"Duh, aku pastikan kalau anakmu ini akan sangat tampan atau cantik. Pantas saja kamu pingsan dan mual-mual. Kita akan menjadi aunty." ujar Clara bahagia.


Reo menatap Edewina dengan segenap rasa cinta yang dimilikinya untuk gadis itu. Jantungnya saja masih berdetak sangat kencang. Ia hanya mengantar mommy Riani ke ruangan ada yang ada di sebelah dan langsung kembali karena tak ingin meninggalkan Edewina sendiri. Walaupun saat ia datang, 2 teman Edewina sudah kembali berada di kamar.


Pintu ruangan terbuka. Dokter Martha datang karena Edewina memang sengaja memanggilnya untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada diri Edewina.


"Selamat siang." Sapa dokter Martha.


"Dokter, tolong jelaskan apa yang terjadi padaku." Edewina sebenarnya tak ingin mereka tahu masalah sakitnya ini. Namun apa boleh buat. Dari pada mereka salah sangka apalagi ibu mertuanya.


Tepat di saat itu Raini dan Jack sudah tiba di ruangan perawatan Edewina.


Dokter Martha pun menjelaskan situasi kesehatan Edewina seperti yang ia jelaskan pada Justin.


"Begitulah adanya. Nona cantik ini nggak hamil. Ia sedang mengalami menstruasi dan tubuhnya terlalu lemah sehingga ia pingsan."

__ADS_1


Riani nampak kecewa. Ia duduk di atas sofa dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Reo pun demikian.


Clara dan Sinta juga terlihat lesuh. Keduanya segera meninggalkan ruangan Edewina saat dokter juga keluar. Mereka hanya ingin memberikan mereka privasi sebagai satu keluarga.


Edewina dapat melihat kekecewaan di wajah mertuanya.


"Lalu kenapa kalian ingin bercerai?" tanya Riani sambil melirik anaknya dengan tajam.


"Aku tidak bisa mencintai kak Sen. Dari pada aku selalu menyakitinya, selalu membuatnya kecewa jadi sebaiknya kami berpisah saja."


Perkataan Edewina membuat Reo terkejut.


"Kata bibi Adeline, kalian bertengkar. Sebenernya ada apa?" tanya Riani.


"Aku yang salah, mommy. Aku menyukai pria lain." ujar Edewina membuat Reo kembali terkejut.


Edewina sengaja berbohong agar Riani tak memarahi Reo.


Riani mengusap dadanya sambil menahan tangisnya. "Beginilah kalau hubungan yang terlalu dipaksakan. Mommy nggak tahu harus bicara apa." Riani berdiri. "Honey, ayo kita pulang ke Manchester. Hatiku terlalu sakit."


Jack langsung memeluk istrinya. Setelah itu keduanya melangkah meninggalkan kamar Edewina.


Reo menatap Edewina. "Kenapa kamu bohong?"


"Hubungan kita memang tak bisa diteruskan lagi. Kita akan selalu saling menyakiti. Jadi mungkin sebaiknya seperti ini."


"Aku.....!" Reo tak tahu harus bicara apa. "Bukan karena Justin kan?"


"Aku baru saja mengenalnya."


Reo menatap Edewina tajam. "Win, tak dapatkah kita bersama lagi? Tak dapatkah kita memperbaiki hubungan kita ini?"


"Lho, bukankah kamu sendiri yang ingin pisah? Kamu yang cuek padaku, kamu yang tak menghargai semua usahaku."


"Aku melakukan semua itu karena aku takut disakiti lagi olehmu. Tadi di pengadilan, sebenarnya aku ingin membatalkan gugatan perceraiannya. Aku ingin bersama kamu lagi, Win."


Edewina kembali membaringkan tubuhnya. "Aku capek! Aku mau tidur."


"Win....!"


"Tolong tinggalkan aku, kak."


Reo tak bergeming. Ia tetap berdiri di tempatnya. "Aku akan menjagamu."


************


Naik turun deh hubungan mereka


Ya begitulah adanya....


Konflik terbesarnya belum muncul ya guys


ayo mana dukungannya.

__ADS_1


__ADS_2