MEMILIKIMU ADALAH TAKDIRKU

MEMILIKIMU ADALAH TAKDIRKU
Tenggelam Dalam Pesona Reo


__ADS_3

Pribadi Edewina yang tak pernah ingin menyakiti orang lain sebenarnya sangat bertentangan dengan apa yang dilakukannya pada Reo.


Dan setiap kali rasa bersalah itu muncul karena suatu peristiwa, Edewina akan bermimpi buruk.


Semua itu Edewina alami sejak ia tertembak ketika menghadang peluru yang ditujukan kepada maminya. Edewina jadi terbeban setiap kali ada orang yang terluka karena dirinya.


Dan jika mimpi buruk itu datang, butuh waktu beberapa jam lamanya bagi Edewina untuk sadar dari mimpi buruknya. Biasanya papi atau opanya akan memeluk Edewina, sambil membelai punggungnya dan membisikan kata-kata yang akan menenangkan gadis itu. Namun sekarang Edewina sudah dewasa. Tak ada lagi papi dan opanya. Yang ada hanya pria dewasa yang sangat mencintai Edewina. Yang juga begitu ingin menjadikan Edewina bagian dari dirinya. Yang tergila-gila dengan tubuh gadis itu.


Beginilah cara Reo menenangkan Edewina, yakni dengan menciumnya dan memberikan ketenangan lewat belaiannya. Karena hanya itu yang Reo tahu. Dan kenyataannya, Edewina bisa ditenangkan dengan cara itu.


Dalam ketakutan atas apa yang dialaminya tadi sore, Edewina pun nampaknya pasrah dalam dekapan sang suami. Ia yang masih sangat muda, yang belum pernah memiliki pengalaman apapun, akhirnya larut pada respon yang diberikan oleh tubuhnya. Ia lupa kalau yang sementara mendekap, mencium dan membuka kancing piyamanya satu persatu saat ini adalah pria yang dibencinya.


Suatu perasaan aneh yang belum dia mengerti artinya, telah mendorong dirinya untuk membalas ciuman Reo. Sangat berbeda dengan ciuman yang pernah ia lakukan bersama Ken. Ciuman yang satu ini membuat tubuh Edewina menggeliat tak tentu arah, mendesak dirinya untuk merasakan sesuatu yang lebih.


Reo tahu, mendapatkan Edewina dengan cara seperti ini adalah paling mudah dibandingkan gadis itu dalam keadaan sadar. Namun isi hati Reo yang paling dalam menyadarkan dia bahwa ia tak boleh mengambil keuntungan atas kelemahan Edewina. Reo akan melakukannya atas permintaan Edewina sendiri. Cukup sekali Reo menjebak gadis itu untuk membawanya dalam pernikahan. Makanya, walaupun sesungguhnya tubuh Reo tak rela melepaskan Edewina, perlahan ia menghentikan ciumannya. Ia menarik dirinya dari atas tubuh Edewina. Lalu perlahan membelai pipi gadis itu dan mencium dahinya dengan sangat lembut.


"Semuanya baik-baik saja, sayang. Jangan takut." bisik Reo dan mengembalikan kesadaran Edewina sepenuhnya dari buaian birahi yang mulai menguasai dirinya.


"Apa ....?" Edewina bingung saat membuka matanya dan melihat kalau dua kancing piyamanya yang paling atas terbuka.


Ia ingat dengan mimpi buruknya tentang kecelakaan itu. Juga sentuhan Reo yang memabukkan itu. "Aku mau minum...!" Edewina dengan cepat turun dari ranjang dan segera melangkah ke arah sofa, di meja depan sofa selalu tersedia air putih dan gelas bersih. Edewina meminumnya sampai dua gelas. Lalu ia mengusap wajahnya dan mengunci kembali piyamanya.


Jantung gadis itu berdetak sangat cepat. Ia tak berani menatap Reo. Dengan langkah cepat pula ia menuju ke kamar mandi. Edewina mencuci wajahnya di wastafel untuk menenangkan pikirannya. Aku bisa gila jika Reo berhasil bercinta denganku. Ini tidak boleh terjadi. Mengapa juga kalau mimpi buruk aku harus seperti ini?


Setelah mengeringkan wajahnya dengan handuk, Edewina kembali menatap wajahnya ke cermin. Ia menyisir rambutnya dengan tangannya sendiri sambil mengaturnya agar terlihat rapi. Namun, alangkah terkejutnya Edewina saat melihat tanda merah di lehernya. Ada dua. Matanya terbelalak. Ia memegang tanda merah itu dan memutar otaknya untuk mengingat bagaimana mungkin Reo melakukan ini padanya tanpa ia sadari?


Edewina penasaran dan membuka kancing piyamanya. Ia hampir saja berteriak histeris saat melihat ternyata ada dua juga tanda merah yang Reo buat di sana.


Edewina mengatur rambutnya agar kembali menutupi lehernya. Ia menutup kancing piyamanya dan segera keluar dari kamar mandi. Reo sedang duduk di atas sofa.


"Sayang, kamu baik-baik saja?" tanya Reo. Ia melangkah mendekati Edewina namun gadis itu justru menjauh.


"Aku mengantuk." ujar Edewina lalu segera naik ke atas ranjang dan menutupi tubuhnya dengan selimut sampai ke kepala.


Reo menahan tawanya. Ia yakin kalau Edewina sudah melihat tanda merah yang dibuatnya. Dan pria itu pun tidur dengan hati yang bahagia walaupun sebenarnya ada yang sakit di bawa sana 😂😂😂😂


*********


Sebenarnya Reo masih mengantuk, namun bunyi ponselnya yang tak mau berhenti membuatnya segera mengangkatnya.


"Ada apa, Mark?"


"Nyonya Riani datang dan sekarang sedang naik ke lantai dua, tuan."


Reo dengan cepat bangun dan mengambil bantalnya lalu segera naik ke atas ranjang.


"Ada apa? Kenapa tidur di sini?" tanya Edewina kesal.


"Ada mommy. Ayo ke sini." Reo menarik Edewina untuk tidur dalam dekapannya. Edewina sebenarnya agak ragu. Namun saat mendengar suara pintu yang dibuka, gadis itu dengan cepat membaringkan kepalanya di lengan Reo dan membiarkan pria itu memeluknya.

__ADS_1


"Good morning...!" Sapa Riani. Ia sebenarnya tak enak membangunkan anak dan menantunya yang terlihat lelap. Ia bahkan tersenyum melihat mereka saling berpelukan dengan mesra seperti ini.


"Mommy?" Reo pura-pura bangun sambil mengucek matanya. Ia menguap seolah-olah masih mengantuk.


"Wina masih tidur ya?" tanya Riani pelan sambil memberi kode kepada anaknya agar jangan bergerak.


Reo mengangguk. Tepat disaat itu Edewina membuka matanya. "Mommy....!"


Riani duduk di tepi ranjang. "Mommy langsung datang dengan penerbangan jam 5 subuh saat dengar kalau kamu mengalami kecelakaan. Kenapa sih kalian nggak memberitahukannya pada mommy?" tanya Riani sambil menatap tajam pada anaknya.


"Aku baik-baik saja, mommy!" Edewina bangun diikuti oleh Reo. Keduanya duduk sambil bersandar di kepala ranjang.


"Baik-baik gimana? Dahi mu ada luka gores. Tanganmu juga. Mana mommy periksa yang lain." Riani mengeluarkan minyak ramuan yang biasa ia pakai. Minyak buatan Indonesia. "Ayo buka bajumu, biar mommy lihat. Kata dokter ada memar di dada karena tekanan seatbelt ya? Minyak ini akan sangat bagus dioleskan di luka memar. Lebih bagus memang jika baru bangun tidur." ujar Riani.


"Buka baju?" tanya Edewina agak malu. Ia melirik Reo dengan tajam saat mendengar kekehan pria itu.


"Sayang, apakah kamu malu membuka bajumu di hadapan mommy? Kita kan sama-sama perempuan. Reo, ambil penjepit rambut atau karet rambut supaya rambut Edewina bisa diikat dulu."


Reo turun dari ranjang dan segera mencari barang yang dimaksud. Edewina orangnya sangat rapi. Dan semua barangnya disimpan di kotak-kotak kecil. Dan Reo mengambilnya.


"Sudah, biar mommy yang mengikat rambutmu." ujar Riani.


Edewina sudah duduk di tepi ranjang dengan kaki yang menyentuh lantai.


Saat rambut Edewina telah diikat, mata Riani yang tajam menatap dua tanda merah di leher Edewina. Begitu juga saat kemeja piyama Edewina lepas dari tubuhnya, Riani melihat ada tanda itu di sana.


"Reo....!" Panggil Edewina dengan suara yang nyaring membuat Edewina langsung menutup telinganya.


"Apa ini? Dan ini? Dan ini?" tanya Riani masih dengan nada suara yang tinggi sambil menunjuk bekas kiss mark yang Reo buat semalam di leher dan dada Edewina.


Wajah Edewina langsung menjadi merah. Ia lupa dengan tanda itu.


"Mommy...., itu...." Reo menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia bingung harus menjawab apa.


"Kamu tu ya nggak bisa tahan apa? Edewina itu baru saja kecelakaan. Badannya pasti sakit semua. Dan kamu sudah memaksakan hasrat dirimu? Dasar Almond!"


"Mom, itu bekas yang kemarin." ujar Reo berusaha berbohong.


"Hei...., jangan ajari mommy tentang masalah beginian. Karena daddy mu adalah orang yang paling ahli membuatnya. Mommy tahu mana bekas yang masih baru dan mana yang sudah beberapa hari." Riani mengambil kain shall yang dipakainya lalu memukul Reo dengan kesal.


"Mommy, kok dipukul sih?" Reo jadi malu. Ia berlari dan segera masuk ke kamar mandi.


Edewina menahan tawanya melihat Reo yang seperti anak kecil tak berdaya di hadapan mommy Riani. Sangat berbeda dengan Reo yang biasa menatapnya dengan pandangan mengintimidasi jika menahan amarahnya.


"Anakku sayang, setiap hari aku dan mami Mahira selalu saling memberi kabar. Kami memang ingin segera memiliki cucu namun bukan berarti Reo boleh memaksakan kehendaknya padamu sesuka hatinya. Dia memang Almond sejati." ujar Riani sambil mengolesi minyak di bagian tubuh Edewina dan memijatnya sedikit.


"Tuhan memberkati tangan mommy. Rasanya sangat enak dipijat." kata Edewina.


"Lebih baik Wina tidur tengkurap aja biar mommy pijat seluruh badannya."

__ADS_1


"Benar mom?"


"Tentu saja, nak."


Edewina jadi ingat mami Mahira. Betapa senangnya dipijat seluruh badannya.


Reo yang sudah keluar dari kamar mandi diam-diam menatap 2 wanita yang sangat dicintainya itu. Ia bahagia melihat Edewina larut dalam kasih sayang dan perhatian mommy Riani.


***********


Saat malam hari, Reo terkejut melihat mommy Riani ada di kamarnya.


"Mommy, kenapa belum ke kamar tamu? Ini sudah jam 11 malam lho." ujar Reo.


"Mommy akan tidur di sofa. Supaya kamu nggak macam-macam sama Edewina." Ujar Riani membuat Edewina menjadi tegang.


Reo dengan senyum mesumnya segera naik ke atas ranjang. Ini suatu keberuntungan untuknya.


"Ayo sayang, tidur di sini." Reo merentangkan tangannya.


"Tidur begini saja." Edewina menolak halus walaupun matanya menatap tajam ke arah Reo.


"Sayang, katanya kamu nggak bisa tidur kalau nggak peluk aku. Jangan malu sama mommy." kata Reo sengaja dikeraskan volume suaranya.


"Wina sayang, nggak apa-apa tidur sambil memeluk Reo. Tapi kalau Reo macam-macam lapor sama mommy." kata Riani membuat Edewina menjadi tak berdaya. Ia perlahan menggeser tubuhnya dan membaringkan kepalanya di lengan Reo. Pria itu langsung memeluknya lalu menghadiahkan satu kecupan di dahi Wina.


"Have a nice dream baby." ujar Reo. Edewina mencubit perut Reo karena kesal.


"Aow ...sayang....sakit." Reo pura-pura meringis.


"Diam nanti mommy dengar." Wina jadi panik.


"Ya sudah, diam aja kalau aku peluk."


Edewina segera memejamkan matanya. Ia dapat merasakan hangatnya napas Reo ada di wajahnya. Jantung gadis itu berdetak hebat mengingat bagaimana panasnya mereka berciuman kemarin malam. Perlahan Edewina membuka matanya. Ia melihat kalau wajah Reo sangat dekat dengan wajahnya. Bibir mereka bahkan hampir bersentuhan.


"Kau mau apa?" tanya Edewina pelan.


Reo menyentuh hidung Edewina dengan hidungnya. "I love you." bisik nya dengan nada sensual lalu menyentuh bibir Edewina dengan bibirnya.


***********


Duh, apakah Edewina nggak akan luluh dengan semua sikap romantisnya babang Reo?


Terus sampai kapan mommy Riani akan tidur di kamar itu?


Makasi ya sudah membacanya


Ayo, komen, like dan vote

__ADS_1


agar emak semangat menulisnya.


__ADS_2