MEMILIKIMU ADALAH TAKDIRKU

MEMILIKIMU ADALAH TAKDIRKU
Ancaman Bagi Keluarga Almond


__ADS_3

Ada beberapa komentar yang menyerang Mark Karena Mark nggak mencegah saat Reo dan Indira masuk kamar sambil berciuman.


Apa hak Mark mencegah bosnya? Justru Mark ditonjok oleh Reo. Mark itu hanya seorang asisten yang akan selalu menganggap bosnya benar. Jadi jangan salahkan Mark ya. Reo sendiri juga tak menyalahkan Mark karena membiarkan dia masuk ke kamar.


*********


Mendengar pengakuan Indira bahwa dia hamil anaknya Reo, Edewina dengan cepat langsung meninggalkan kantor itu. Ia sangat terkejut dan rasanya berita itu sangat mengundang hatinya.


Dengan cepat Edewina memacu mobilnya menuju ke rumah mereka. Sepanjang jalan perempuan itu menangis karena ia yakin, kejadian di malam hari ulang tahunnya, saat Edewina melihat kalau mobil Reo dan Indira ada di sana namun Mark berbohong dan mengatakan kalau mereka ada di tempat lain.


Itu terjadi bukan salah mereka. Itu terjadi karena kesalahanku sendiri. Aku yang saat itu belum menyadari arti Reo dalam hidupku, begitu tak peduli padanya. Akhirnya Reo menumpahkan segala kekecewaannya pada Indira. Sahabat baiknya yang sangat mengerti akan kehidupannya.


Begitu sampai ke rumah, Edewina langsung ke kamar mandi. Ia mau melaksanakan tes. sekarang ia justru berharap kalau keterlambatan datang bulannya bukan karena ia sedang hamil.


Namun harapan Edewina tak terwujud. Ia melihat ada dua garis di sana yang menandakan kalau ia hamil.


Air mata perempuan itu langsung mengalir. Ia membelai perutnya dengan penuh sayang.


"Mami tak mungkin menolak mu. Opa Edriges akan sangat bahagia. Sebaiknya kita akan membiasakan diri untuk sendiri, sayang. Karena tante Indira juga sedang hamil dan mami nggak mungkin membiarkan Tante Indira seorang diri sana. Papi mu harus bertanggungjawab padanya." Edewina menghapus air matanya. Ia ingin jalan-jalan di sekitar kompleks untuk menenangkan hatinya karena ia yakin kalau Reo akan segera datang saat Mark mengatakan tentang kedatangannya di kantor.


Edewina dengan sengaja meninggalkan hp dan mobilnya. Walaupun salju agak tebal, namun matahari juga sedang bersinar. Edewina memakai jaket yang tebal dan topi rajutan. Ia pun melangkah meninggalkan rumah setelah terlebih dahulu menyalahkan sistem alarm pintu utama dan pintu belakang.


Hati Edewina sedang galau. Ia tak tahu apa yang akan dilakukannya. Tangannya sesekali mengusap perutnya.


Sebuah mobil Hammer hitam tiba-tiba saja berhenti di dekatnya, pintu mobil itu terbuka dan akhirnya menarik Edewina untuk masuk ke dalam sebelum gadis itu berteriak. Mulutnya langsung di tutupi dengan sebuah sapu tangan dan tak lama kemudian Edewina pun pingsan.


Saat ia membuka matanya, ia kaget menemukan dirinya diikat di sebuah kursi.


"Lepaskan.....! Lepaskan....aku!" teriak Edewina sambil berusaha melepaskan dirinya.


Terdengar suara bunyi hak sepatu. Seorang perempuan muncul. Ia menggunakan dres pendek dengan sepatu boat yang panjang berwarna hitam Sayangnya, wajah perempuan itu tertutup dengan cadar. Di belakangnya ada beberapa pria yang berseragam hitam. Mereka semua menggunakan masker yang hanya menunjukkan matanya saja.


"Kenapa menutupi wajah kalian? Dasar pecundang!" teriak Edewina.


Perempuan itu tertawa sangat keras. "Kau memang pemberani. Seperti Mahira!"


Edewina terkejut mendengar perempuan itu menyebutkan nama maminya.


"Siapa kau?" teriak Edewina.


Perempuan itu mendekati Edewina. Ia mengusap wajah Edewina dengan kasar lalu dengan cepat ia menampar Edewina sebanyak dua kali.


Edewina merasakan sakit yang amat sangat di wajahnya namun perempuan itu tak gentar.


"Kau sungguh pemberani ya? Darah siapa yang mengalir di tubuhmu ha? Setahuku bukan darah Moreno kan? Atau karena kau sudah menikah dengan keluarga Almond sehingga kau menjadi berani seperti ini?" perempuan bercadar itu mencengkeram lengan Edewina dengan sangat kuat. Edewina berusaha menahan rasa sakit. Ia tak mau menunjukan bahwa ia ketakutan. Melihat Edewina yang tak juga meringis, perempuan itu mendorong kursi yang sedang Edewina duduki sehingga Edewina jatuh ke lantai dalam keadaan miring dengan tangan dan kaki yang terikat.


"Ah.....!" Edewina berteriak karena kepalanya yang terbentur di lantai terasa sangat sakit.

__ADS_1


Perempuan itu menunduk dan menginjak perut Edewina dengan kakinya.


"Ah....jangan....aku mohon jangan! Aku sedang hamil." ujar Edewina dengan penuh permohonan.


Perempuan itu mengangkat kakinya. "Kau hamil? Bukankah selingkuhan suamimu juga sedang hamil? Sebaiknya kau saja yang kehilangan bayimu!" Ia kemudian meninju perut Edewina.


"Lepaskan dia!" kata seseorang dalam bahasa Spanyol.


Edewina tak bisa melihat pria itu karena datangnya dari belakang Edewina.


Perempuan menatap ke arah belakang Edewina. "Apa yang kau lakukan di sini?"


"Lepaskan dia!"


Lalu terdengar suara seseorang lagi. Edewina sepertinya pernah mendengar suara itu. Tapi ia lupa ada di mana. Sebelum Edewina berpikir jernih, tiba-tiba ada yang membekap mulutnya dari belakang dan akhirnya Edewina kembali tak sadarkan diri.


***********


"Begitulah kejadiannya, pak. Aku sama sekali tak mengenal wajah salah satu diantara mereka. Hanya saja diantara mereka ada yang menggunakan bahasa Spanyol. Orang itu tahu latar belakang keluargaku."


Polisi yang mendengarkan cerita Edewina segera mengangguk. "Istirahat saja dulu, nyonya. Jika kau mengingat sesuatu, segeralah menghubungi kami."


"Baik pak."


Kedua polisi itu pun keluar dari ruang perawatan Edewina. Perempuan itu masih ada di ruang perawatan intensif karena kondisi kandungannya yang masih kritis sehingga ia belum pernah turun dari tempat tidur. Bahkan untuk buang air pun Edewina melakukannya di atas tempat tidur.


Seorang suster masuk saat Edewina selesai diwawancara.


"Suster, aku merasa sangat lelah. Bolehkah aku tidur dulu?"


Suster itu tersenyum. "Baiklah. Jangan stres ya? Ingat kandunganmu."


Edewina mengangguk. Dia memang belum ingin berbicara dengan Reo.


"Bagaimana, suster?" tanya Reo yang menunggu di depan pintu.


"Nyonya Almond mengatakan kalau ia sangat lelah dan ingin tidur. Mungkin nanti kalau ia sudah bangun baru tuan bisa menemuinya." kata suster itu membuat Reo terpaksa mengangguk walaupun sebenarnya hatinya begitu rindu dengan istrinya.


Ponsel Reo berbunyi. "Hallo, Mark."


"Saya sudah berhasil menemukan nona Indira di bandara. Saat ini kami ada di cafe rumah sakit ini."


"Tunggulah di sana." Reo menatap Adeline. "Aunty, tolong jaga istriku ya? Aku mau ke bawa sebentar."


Reo segera turun ke lantai dasar dan menemui Indira dan Mark yang sudah menunggu di sana. Ketika Mark melihat kalau Reo sudah datang, maka ia pun segera pergi.


Reo dan Indira duduk saling berhadapan. Indira nampak tertunduk sedangkan Reo menatapnya dengan tajam. "Mengapa kau resign dari perusahaan?"

__ADS_1


"Mungkin itu yang terbaik, Re. Aku nggak mau menganggu hubunganmu dengan Edewina. Apalagi Mark mengatakan padaku kalau Edewina sedang hamil."


"Tapi aku nggak mungkin melepaskan kamu begitu saja saat aku tahu kalau ada anakku dalam perutmu. Kamu sudah yatim piatu, Ra. Siapa yang akan mengurus kamu di Indonesia? Apa nanti kata saudara-saudara mu dan orang-orang yang ada di sana saat tahu kalau kamu hamil tanpa ada suami? Kamu pasti akan dikucilkan oleh mereka."


"Lalu kamu harus apa? Menikahi aku? Nggak mungkinkan? Semua ini terjadi karena kesalahanku. Aku yang membiarkan kamu mencium aku malam itu. Semua ini salahku. Biar saja aku yang menanggungnya."


"Indira, hubungan kita sudah seperti saudara. Masa sih aku akan membiarkan kamu menderita seperti ini? Lagi pula semua ini terjadi karena kesalahanku juga."


"Aku mencintai kamu, Re. Sejak kita kecil, aku sudah mencintai kamu. Berada di dekatmu akan membuat aku berharap pada cintamu yang bertepuk sebelah tangan ini. Biarlah aku tak memilikimu, namun anak ini akan membuat hidupku bahagia."


Reo menggeleng. "Kamu jangan meninggalkan Inggris. Aku akan bertanggungjawab atas hidupmu dan anak ini walaupun aku tak bisa berada di sisimu sebagai pasanganmu. Kamu tahu, Edewina adalah nafasku. Edewina adalah segalanya bagiku. Aku akan menjamin hidupmu dan anak itu. Memberikan kalian hidup yang layak. Setidaknya jika tetap di sini, kamu tak akan dikucilkan."


Indira menghapus air matanya. Gadis itu terlihat begitu tersiksa.


Ponsel Reo berbunyi lagi. Panggilan dari kakaknya Cassie.


"Ada apa, kak?" tanya Reo setelah ia berdiri agak jauh dari Edewina.


"Polisi baru saja menghubungiku. Mereka mengatakan bahwa kecelakaan yang dialami daddy, memang disengaja. Ada yang sepertinya ingin mencelakai keluarga kita. Karena itu kau harus hati-hati di sana."


"Jangan memberitahukannya pada mommy. Aku akan meminta para bodyguard untuk memperketat penjagaan di sana dan juga yang ada di sini."


"Lalu bagaimana keadaan Edewina."


"Dia masih belum ingin bertemu denganku."


"Dan Indira?" tanya Cassie. Reo memang sudah menceritakan segalanya pada kakaknya itu.


"Aku sudah mengatakan seperti yang yang kita bicarakan saat itu."


"Baguslah. Bagaimana pun Indira sudah seperti saudara kita. Kau tak boleh melepaskan tanggungjawab padanya. Hanya sekedar tanggungjawab saja tanpa membangun status apapun dengannya. Karena kakak tahu, Edewina adalah cinta terbesar dalam hidupmu."


"Terima kasih, kak."


"Bye."


Reo menarik napas panjang. Ia mengirim pesan pada Mark. "Indira, Mark akan mengantarkan mu ke apartemen yang baru, yang sistem keamanannya sangat ketat. Tinggallah kau di sana. Barang-barang mu dari apartemen lama, akan mereka pindahkan besok. Aku akan di sini menemani Edewina."


Indira hanya mengangguk. Ia langsung pergi meninggalkan cafe dan Reo pun kembali ke atas.


"Di mana bibi Adeline ?" tanya tanya Reo saat tak menemukan wanita itu di sana.


"Nyonya Almond memanggilnya."


Reo nampak kecewa. Mengapa Edewina tak mau bertemu dengannya?


*********

__ADS_1


Sudah ada yang bisa menebak siapa dalang dari semuanya ini?


Episode berikut Edmond dan Mahira akan datang.


__ADS_2