
Perlahan Reo melangkah mendekati Edewina. "Ka...mu serius?" tanya Reo perlahan.
"Ya." Jawab Edewina masih dengan rasa gugup yang semakin dalam.
"Kamu yakin?"
Ya Tuhan, kenapa aku harus ngomong seperti ini sih?
Edewina menyesali apa yang baru saja dikatakannya.
Namun apa boleh buat. Nasi sudah menjadi bubur. Reo tentu tak akan membiarkan Edewina menarik kata-katanya.
"Sayang?" Reo bertanya lagi.
Edewina mengangkat wajahnya. Mengumpulkan semua keberanian dalam dirinya. Bagaimana pun Reo adalah suaminya. Tak mungkin ia akan membiarkan Reo menunggu terus.
"Aku siap, kak." ujar Wina dengan mantap sambil tersenyum.
Gantian Reo yang gugup. Ini sudah dia tunggu-tunggu selama 4 bulan lebih.
"Be... benarkah?"
Edewina menelan salivanya. "Eh ya....., tapi aku ke toilet dulu ya?" Edewina langsung membalikan tubuhnya. Sedikit berlari ia masuk ke dalam kamar mandi. Rasa kebelet buang air kecil yang sejak tadi ditahannya entah meluap kemana. Namun gadis itu duduk juga di atas kloset sambil menetralkan jantungnya.
Sementara itu di luar kamar mandi, Reo sedang menatap tubuhnya ke cermin. Ia menepuk-nepuk pipinya sendiri untuk meyakinkan dirinya bahwa ini bukan mimpi.
Wajah tampan Reo nampak berseri. Ia masih tak percaya kalau sebentar lagi ia dan Edewina akan menikmati hubungan intim yang sudah lama ia nantikan atas keinginan Edewina sendiri.
Tenang Reo, jangan gugup! Jangan mempermalukan keluarga Almond. Jika daddy dan uncle Clark mengetahui kalau kamu gugup seperti ini, kamu pasti akan ditertawai oleh mereka.
Di dalam kamar mandi sendiri, Edewina sementara menggosok giginya. Bagaimana pun ia baru saja bangun. Selesai menggosok giginya, Edewina mencuci wajahnya. Ia menarik napas panjang beberapa kali sebelum akhirnya keluar dari kamar mandi.
"Kok lama, sayang?" tanya Reo masih dengan senyum menggodanya pada hal sebenarnya ia sangat gugup.
"A....aku gosok gigi juga."
"Kalau begitu aku juga mau gosok gigi." Reo pun bergegas ke kamar mandi.
Edewina menunggu dengan gelisah. Ia bahkan menyisir rambutnya untuk mengusir ketegangan dirinya.
"Sayang ....!"
Edewina menoleh. Reo sudah selesai gosok gigi. Dan dia terlihat semakin tampan dengan wajah yang segar karena baru selesai di cuci.
"Hai .....!" Edewina menjadi semakin gugup. Ia bahkan melambaikan tangannya seolah mereka baru saja ketemu.
Reo tertawa melihat tingkah Edewina. Ia mendekat lalu menangkup pipi istrinya itu dengan kedua tangannya.
"Aku bahagia, sayang." kata Reo dengan suara yang begitu lembut lalu ia mengecup dahi Edewina.
"Ini akan menjadi hadiah ulang tahun terindah sepanjang hidupku." katanya lagi sambil mengecup pipi kiri dan kanan Edewina.
"Aku mencintaimu." kata Reo lagi lalu menyentuh hidung Edewina dengan hidungnya. Memejamkan matanya sebentar, menikmati kedekatan mereka lalu ia menyatukan bibir mereka dalam ciuman panjang yang tak terbantahkan.
__ADS_1
Seluruh tubuh Edewina bergetar menerima ciuman itu. Sebagian dalam dirinya berusaha untuk tak terbuai, namun sebagian lagi menerima bahkan mulai terlena dengan ciuman itu.
"Jangan berusaha untuk membantah apa yang tubuhmu inginkan, sayang." bisik Reo saat ciuman mereka terlepas. Lalu dengan cepat ia kembali mencium bibir Edewina.
Tangan Reo kini bergerak cepat melepaskan satu persatu kancing piyama Edewina. Setelah semuanya terbuka, ia langsung melepaskan piyama bagian atas dari Edewina. Awalnya gadis itu enggan untuk melepaskannya, namun ciuman Reo kembali membuat ia terbuai sehingga piyama itu pun jatuh ke lantai.
Perlahan Reo mengangkat tubuh Edewina dan memeluknya ala koala lalu meletakkannya di atas ranjang.
Tangannya yang masih ada di punggung Edewina, melepaskan kain penutup gunung kembar itu.
Suasana di kamar itu menjadi semakin panas ketika satu persatu kain yang menutup tubuh keduanya terlepas.
Jantung keduanya sama-sama berpacu sangat cepat, ketika sentuhan demi sentuhan membuat keduanya semakin larut dalam api gairah.
Edewina memejamkan matanya, ketika sesuatu yang pernah dirasakannya terjadi lagi saat jari Reo menyentuh inti tubuhnya. Perempuan itu merasakan tubuhnya melayang dan perlahan jatuh kembali dengan perasaan yang sangat indah.
Perlahan, Reo menempatkan dirinya di atas Edewina. Siap untuk menyatukan diri mereka.
"Ah.....kak ...sakit......!" Edewina meletakan kedua tangannya di pinggang Reo. Tangannya mencengkram kuat pinggang Reo ketika penyatuan itu terjadi dan ia merasakan bahwa inti tubuhnya seperti dibela menjadi dua.
Reo menghentikan gerakannya. Mencium pipi Edewina dengan sangat lembut. Pada hal tadi ia sudah sangat pelan masuknya. Ia sudah sangat hati-hati agar tak menyakiti istrinya itu.
"Sayang, maafkan aku jika sudah menyakitimu. Lihat aku ! Rasakan sentuhan ku padamu. Jangan fokus pada rasa sakitnya, ok?"
Edewina mengangguk. Hatinya kembali merasa damai saat Reo menghapus air matanya dan mengecup lembut bibirnya.
Perlahan Reo mulai menggerakkan tubuhnya. Dia memang belum punya pengalaman dengan gadis manapun. Namun bukan berarti Reo tak membaca, meneliti dan mencari tahu tentang ini. Ia ingin Edewina menemukan kepuasaan yang sama dengan dirinya agar saat pertama mereka tak akan pernah terlupakan di sepanjang perjalanan rumah tangga mereka nanti.
**********
Saat Reo akhirnya memisahkan diri darinya, Edewina merasakan ada nyeri di inti tubuhnya. Ia lelah dan akhirnya jatuh ke alam mimpi saat Reo meletakan kepala Edewina di lengannya dan kembali memeluk dia dengan posesif.
"I love you." itu yang sempat Edewina dengarkan sebelum ia benar-benar terlelap.
***********
Entah berapa lama Edewina tertidur namun yang pasti ia masih merasa mengantuk. Tapi perutnya yang keroncongan memaksa Perempuan itu untuk bangun dan membuka matanya. Tak ada Reo di sampingnya.
Saat Edewina perlahan duduk dan berusaha mengembalikan kesadaran dirinya dari alam mimpi, perempuan itu merasakan nyeri di inti tubuhnya. Semua tubuhnya bahkan terasa sangat sakit seperti baru saja melakukan pekerjaan yang sangat berat.
Namun gadis itu tetap memaksa untuk turun dari tempat tidur. Matanya langsung menatap bercak-bercak merah yang ada di seprei berwarna biru muda.
Edewina mengerutkan dahinya. Apakah harus berdarah lagi?
Reo adalah lelaki pertama yang menyentuhnya. Edewina ingat saat ia bangun di kamar hotel itu, ada juga bercak darah yang sama walaupun tak sebanyak ini.
Kejadian sekitar 6 bulan yang lalu itu kembali ke memori Edewina. Saat ia bangun, apakah ia merasakan sakit seperti ini terutama di inti tubuhnya? Bukankah saat itu aku tak merasakan apa-apa? Ataukah karena aku terlalu kaget dengan situasi yang terjadi sampai tak merasakan apapun?
Edewina memakai piyamanya dengan perlahan karena memang tubuhnya sakit. Begitu juga dengan kakinya. Ia meraih hp nya lalu membuka semua informasi tentang pengalaman pertama seorang perempuan.
Apakah saat itu kak Sen menipuku? Apakah malam itu tak terjadi apapun?
Pintu kamar terbuka. Reo masuk sambil membawakan nampan berisi makanan.
__ADS_1
"Selamat siang sayang, kamu pasti sudah lapar kan? Ayo kita makan di balkon." ajak Reo lalu segera menuju balkon dan meletakan semua makanan yang di bawahnya ke sana. Hari ini bibi Adeline libur namun sebelum ia pergi tadi pagi ternyata ia sudah menyiapkan makanan untuk Reo dan Edewina. Apalagi ia tahu kalau Reo ulang tahun hari ini.
Edewina dengan sedikit tertatih mengikuti langkah Reo ke balkon. Ia berdiri di depan pintu.
"Wina sayang, ayo duduk di sini!" ajak Reo.
Edewina menatap Reo dengan tajam.
"Katakan padaku, kak. Pagi itu, saat keluargaku menemukan kita di kamar hotel paman Clark, malamnya, kita tak melakukan apapun kan?"
Reo menatap Edewina. Ia tahu Edewina gadis pintar. Hari ini Edewina akan tahu kalau ia baru saja kehilangan mahkotanya. Bukan pada malam itu.
"Sayang, kita duduk dulu. Kita makan setelah itu baru kita bicara." Reo mendekat dan bermaksud memagang tangan istrinya itu.
Edewina menepiskan tangan Reo. "Kamu berbohong saat itu kan, kak?"
Reo akhirnya mengangguk.
Air mata Edewina jatuh namun ia menghapusnya dengan kasar. "Kamu licik!"
"Maaf, Win. Aku harus lakukan itu agar kamu tak melakukan kesalahan dengan menikahi Ken secara diam-diam."
"Kamu jahat!"
"Aku mencintai kamu, Win!"
Edewina menggelengkan kepalanya. "Kamu tidak mencintai aku. Perasaanmu padaku hanya sebuah obsesi karena kamu sudah lama menyukai ku. Kamu memaksa aku untuk ada dalam ikatan pernikahan ini pada hal kamu tahu kalau aku belum siap menikah."
"Wina, tenang dulu."
Edewina merasakan kalau hatinya sakit. Ia merasa sudah ditipu oleh Reo. "Aku merasa sangat bersalah karena mengira diriku mengalami keguguran ketika kita ada di Swiss. Aku tak berani menatap mata mama Riani karena tahu bahwa cucu yang dia inginkan secara tak sengaja telah hilang karena aku. Ternyata semua itu palsu. Aku menangis ketakutan sambil minta ampun pada Tuhan untuk sesuatu yang tak pernah terjadi atas diriku. Aku benci kamu, Reo!" teriak Edewina histeris. Ia segera berlari ke kamar mandi dan menangis di sana.
"Win...., Wina....!" Reo mengetuk pintu kamar mandi.
"Tinggalkan aku!" teriak Wina dengan suara tangisnya yang semakin keras.
Reo menunggu di depan kamar mandi. Ia terus mengetuk sampai akhirnya Wina membukanya. Sepertinya Wina baru selesai mandi. Rambutnya basah dan ada bau sabun dari tubuhnya. Gadis itu langsung masuk ke dalam walk in closet. Ia ganti pakaian secara cepat dan keluar lagi sambil membawa sebuah koper.
"Win, kamu mau kemana?" tanya Reo melihat Edewina yang membawa koper.
Edewina tak menjawab. Ia hanya menyisir rambutnya, lalu memasukan beberapa cream wajah dan lipstik nya ke dalam tas punggungnya. Ia kemudian mengambil laptop dan beberapa bukunya dan dimasukan secara asal ke dalam koper yang sudah ada beberapa bajunya.
"Wina, kamu mau kemana?" tanya Reo dengan nada frustasi.
Edewina menatap Reo. "Aku akan pergi dari sini. Aku ingin kita bercerai!"
Deg!
Reo merasa kalau dunianya menjadi gelap.
*********
Selamat pagi ...
__ADS_1
kalau ada typo harap maklum ya...beritahu aja nanti emak perbaiki soalnya di up tanpa edit 🤣🤣
ayo mana dukungannya?