
Sepanjang perjalanan dari kampus, Edewina hanya diam saja.
Kali ini ia duduk di depan bersama Reo. Tak lagi duduk di belakang seperti biasanya. Reo cukup senang.
Edewina memperhatikan jalan sampai akhirnya ia menyadari kalau ini bukan jalan menuju ke apartemen.
"Kita mau kemana?" tanya Edewina bingung.
"Ke suatu tempat. Kamu pasti suka." ujar Reo.
"Mau kemana? Aku nggak mau jalan-jalan. Aku mau ke apartemen saja."
"Sudah ku katakan kalau kamu pasti suka."
Edewina ingin membantah namun ia malas beradu mulut dengan Reo karena cowok itu sedikit pemaksa.
Mobil berhenti di sebuah club' tempat berolah raga.
"Ngapain ke sini? Aku malas." ujar Edewina saat membaca nama gedung yang ada.
Reo turun lalu membuka pintu tempat Edewina duduk. "Ayolah sayang...! Aku yakin kamu akan melupakan kegalauan hatimu saat ini."
Edewina dengan kesal turun. Ia mengikuti langkah Reo memasuki gedung itu.
Setelah Reo melakukan registrasi dengan kartunya, ia mengambil baju olahraga yang sepertinya baru di belinya.
"Gantilah baju dan kita akan bermain bersama."
"Main apa sih?" Edewina sedikit menghentakan kakinya sambil masuk ke ruang ganti. Untunglah hari ini ia ke kampus menggunakan sepatu kets.
Saat ia selesai ganti pakaian, gadis itu baru menyadari kalau ia menggunakan baju olahraga khusus basket.
Edewina jadi ingat masa SMA nya. Sekolahnya selalu menang baik tim basket perempuan maupun tim basket laki-laki.
"Ini..., ikat rambutmu agar tak menganggu saat bergerak nanti." ujar Reo sambil menyerahkan sebuah karet rambut ketika mereka akan memasuki lapangan basket.
Edewina pun mengikat rambutnya. Hatinya bergetar saat melihat ring basket. Semenjak ia kuliah di sini, dia memang tak pernah lagi main basket. Itu berarti sudah 2 tahun lebih.
"Kamu siap?" tanya Reo.
"Memangnya kamu tahu main basket? Orang sepertimu kalau nggak kerja pasti menghabiskan waktunya di club' malam."
Reo menatap Edewina yang sepertinya meremehkan dia. "Serendah itukah kau menilai diriku?" Reo mulai mendribel bola yang ada di tangannya. "Ayo, kalau kamu mampu merebutnya dari tanganku."
"Oh....tak tahu kalau aku ini kapten tim basket putri di sekolahku ya?"
Tahu sayang. Apa sih yang nggak aku tahu tentang dirimu? ujar Reo dalam hati.
Permainan pun di mulai. Awalnya Reo tak mau mengalah karena ia ingin membangkitkan semangat Edewina. Apalagi gadis itu sudah lama tak main basket. Namun lama-kelamaan Edewina terlihat mulai putus asa. Reo yang dari segi postur tubuh sebenarnya jauh di atas Edewina, pura-pura kelelahan. Edewina dengan cepat merebut bola dan ia berhasil memasukan bola ke ring. Selama beberapa kali Edewina memasukan bola dengan cepat. Gadis itu bersorak gembira karena ia hampir menyamai skor dari Reo.
Keduanya terus bermain sampai keringat sudah membasahi tubuh mereka.
"1 menit lagi....!" ujar Reo membuat Edewina jadi tambah bersemangat. 3 angka lagi dan ia bisa menyamai skor Reo.
"Ah ....aku bisa...., aku bisa....!" teriak Edewina ketika ia bisa menyamai skor Reo.
Hati Reo bahagia melihat gadis itu tersenyum bahagia. Tak ada lagi wajah sedih yang dilihatnya menangis di taman tadi.
__ADS_1
"Besok kita main lagi dan aku pasti bisa mengalahkan mu." Kata Edewina dengan penuh keyakinan.
"Ok. Siapa takut?" ujar Reo dengan gaya menantang.
Edewina mengambil handuk dan menyeka keringat yang ada di wajah dan seluruh tubuhnya.
"Reo, aku mau mandi dulu." ujar Edewina saat keduanya melangkah keluar dari ruangan main basket.
"Hilangkan dulu keringatnya. Nggak baik mandi tapi masih berkeringat. Ini minum dulu." Reo menyerahkan sebotol air mineral. Edewina meminumnya sampai habis.
Mereka sampai di ruang penyimpanan barang. Mark sudah ada di sana.
"Ini bajunya tuan. Baju nyonya yang ada di paper bag warna hijau." ujar Mark.
"Sayang, ini baju gantinya." kata Reo sambil menyerahkan paper bag yang berisi baju Edewina.
"Memangnya masih sempat mengambilnya ke apartemen?" tanya Edewina.
"Nggak. Mark membelinya ke mall dekat sini."
"Memangnya Mark tahu ukuran ku?" tanya Edewina.
"Sudah, jangan banyak tanya. Kamar mandinya di sana." kata Reo sambil menunjuk sebuah pintu merah.
Edewina pun segera ke kamar mandi karena memang ia ingin segera mandi.
Saat Edewina selesai mandi, ia terkejut saat melihat baju dalam, celana jeans, dan kaos yang dipakainya semuanya sangat pas di tubuh nya. Ia pun segera keluar kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya.
"Mark, mana Reo?"
"Tuan masih mandi. sepertinya di kamar mandi laki-laki banyak yang mandi jadi agak antri. Nyonya perlu sesuatu?"
"Ukurannya tuan yang bilang. Aku tinggal beli saja."
"Oh ya?" Edewina tak menyangka. Apakah Reo memperhatikan bajuku yang ada di lemari? Sampai baju dalam juga ia perhatikan? Dasar mesum!
"Ada apa sayang?" tanya Reo yang baru keluar dari kamar mandi. Ia menyerahkan pakaian kotornya pada Mark.
"Tidak." Edewina langsung menggeleng.
"Kenapa rambutmu masih basah? Di kamar mandi tak ada pengering rambut ya?" tanya Reo sambil memegang rambut Edewina.
"Ada. Tapi aku suka saja rambutku kering secara alami."
Reo mengangguk. "Kita pergi sekarang?" tanya Reo.
"Iya. Aku sudah lapar."
"Ok." Reo dan Edewina pun meninggalkan club'olahraga itu sedangkan Mark pergi sendiri dengan mobilnya sambil membawa barang-barang Edewina dan Reo.
"Kita mau kemana lagi? Pulang cepat yuk, aku lapar." keluh Edewina.
"Ini juga mau pergi makan. Di rumah bibi Adeline tidak masak. Aku yang memerintahnya." ujar Reo sambil terus konsentrasi dengan jalan yang ada di depannya.
Edewina pun diam walaupun wajahnya sedikit kesal karena dia ingin makan di rumah.
"Pusat makanan Asia?" Mata Edewina langsung berbinar saat melihat kemana mereka datang. Ia turun lebih dulu dari mobil dan segera masuk ke dalam.
__ADS_1
Rupanya, hari ini ada bazar makanan Asia karena hari kemerdekaan RI.
Dengan wajah gembira, Edewina berpindah dari satu meja ke meja yang lain. Dan yang paling membuatnya senang, Edewina menemukan bakso. Gadis itu makan dengan lahap membuat Reo bahagia melihatnya. Cowok itu pun memilih makan ayam geprek walaupun harus kepedisan.
"Ah, aku sudah lama tak makan es cendol." seru Edewina membuat beberapa pengunjung yang memang sebagian besar orang Indonesia melihatnya sambil geleng-geleng kepala.
Sekali lagi Reo tersenyum melihat Edewina yang nampak bahagia.
"Duh, selama aku tinggal di sini, baru kali ini aku makan sangat banyak. Terima kasih Reo." ujar Edewina sambil mengusap perutnya.
"Sama-sama, sayang."
"Jangan selalu panggil aku sayang." ujar Edewina lalu mulai menutup matanya.
"Kenapa?" tanya Reo.
"Aku kan tak menyayangimu." jawab Edewina lalu akhirnya ia tertidur.
"Kamu memang saat ini belum menyayangiku. Namun kamu pasti akan menyayangiku, sayang." kata Reo pelan sambil membelai pipi Edewina lalu kembali konsentrasi menyetir.
Perjalanan kembali ke apartemen membutuhkan waktu sekitar 45 menit. Saat mereka tiba di apartemen, Edewina pun membuka matanya.
"Sudah sampai ya?" tanya gadis itu sambil mengucek matanya.
"Iya. Mau aku gendong ke atas? Kamu masih mengantuk kan?"
"Ih..., aku bisa jalan sendiri." Edewina langsung melepaskan seatbelt nya lalu turun. Ia langsung berjalan ke arah pintu masuk lalu masuk ke lift khusus.
Adelin menyambut kedatangan mereka dengan senyum keibuannya.
"Mommy Riani sudah pulang?" tanya Edewina.
"Sudah nyonya. Tadi jam 10 pagi."
Edewina mengangguk. Ia langsung menuju ke lantai dua untuk melanjutkan tidurnya. Reo mengikuti langkahnya dari belakang.
"Astaga, kemana sofanya?" pekik Edewina saat melihat sofa panjang yang lembut itu sudah di ganti dengan 2 single sofa.
Reo juga ikut terkejut. Ia segera memanggil Adelin.
"Sofanya sengaja di ganti oleh nyonya. Katanya nggak boleh ada sofa panjang di kamar pengantin baru. Nanti lama dapat momongannya." Adelin tertawa lalu segera meninggalkan pasangan suami istri itu.
Edewina menatap tempat tidur yang ternyata juga sudah diganti. Tak ada lagi ranjang king size yang bisa ditiduri oleh 6 orang. Yang ada hanya tempat tidur khusus 2 orang.
"Ya Tuhan, kok mommy menggantinya sampai dengan tempat tidur sih?" keluh Edewina. Sedangkan Reo justru tersenyum senang.
"Nggak masalah kok sayang. Kan masih cukup untuk 2 orang."
"Aku mau tidur di kamar tamu saja." Edewina melangkah namun Reo menahannya.
"Adelin akan melaporkan pada mommy jika kita pisah kamar."
"Tapi...."
"Apakah kamu takut tergoda dengan pesonaku?" tanya Reo dengan menatap istrinya itu dengan tatapan yang membuat Edewina menjadi salah tingkah.
**********
__ADS_1
Bagaimana mereka melewati malam ini?
Dukung emak terus ya guys