MEMILIKIMU ADALAH TAKDIRKU

MEMILIKIMU ADALAH TAKDIRKU
Mommy Terbaik


__ADS_3

Siapakah yang tak akan meleleh menerima ungkapan cinta seperti yang Reo lakukan pada Edewina. Sekalipun gadis itu selalu bilang bahwa ia sangat membenci Reo karena telah membuat mereka ada dalam pernikahan ini, jauh didalam hatinya, Edewina pernah merasa sangat bangga mengenal Reo. Cowok itu banyak membantunya saat datang ke Inggris pertama kali. Bahkan teman-teman Edewina mengira kalau keduanya pacaran.


Kini, dalam dekapan dan ciuman Reo, Edewina menjadi gelisah. Jika situasi terus seperti ini, maka Edewina tahu, suatu hari, ia akan menyerahkan tubuhnya pada Reo.


"Reo, cukup ciumannya nanti kamu siksa sendiri." ujar Riani dari tempat tidurnya. Reo langsung melepaskan Edewina. Ia mengangkat kepalanya sedikit untuk melihat apakah mommy Riani sedang melihat mereka. Ternyata si mommy sedang tidur membelakangi mereka. Bagaimana mommy bisa tahu?


Edewina langsung menghapus bekas ciuman Reo di bibirnya. "Aku mengantuk." katanya lalu segera menutup matanya. Namun tangan kanannya ia gunakan untuk menutup mulutnya sendiri. Reo terkejut melihat apa yang dilakukan oleh Edewina. Namun ia tak protes lagi. Lelaki itu merasa bahwa ia sudah cukup mencium bibir istrinya malam ini. Walaupun sebenarnya ia belum puas namun benar juga apa kata mommy Riani. Nanti ia sendiri yang tersiksa. Setidaknya malam ini, Reo dapat tenang karena bisa tidur sambil memeluk Edewina.


**********


Pagi harinya, Edewina terbangun saat ia tinggal sendiri di kamar. Perempuan itu bergegas turun dari ranjang, merapikan tempat tidurnya dan lalu menggerakkan badannya sedikit karena merasa sedikit kaku. Sepanjang malam Reo memeluknya dan Edewina dapat merasakan beberapa kali pria itu mencium pipi dan dahinya. Dasar mesum! Menggunakan kesempatan karena ada mommy.


Selesai mandi, Edewina turun ke bawa.


"Selamat pagi, sayang. Bagaimana kondisimu?" tanya Riani lalu mendekati menantunya dan memberikan pelukan hangat.


"Aku sudah baik, mom." ujar Edewina.


Riani meraba bekas luka di dahi Edewina lalu memeriksa luka di tangannya. "Lukanya sudah kering ya. Lalu memar di dadamu bagaimana?"


"Sudah membaik pula. Hanya...." Edewina tadi melihat bekas tanda merah yang dibuat Reo masih ada. Ia bahkan tak bisa mengikat rambutnya saat ini.


"Kalau yang itu memang akan hilang 3 atau 4 hari. Begitulah Almond." bisik Riani lalu menggandeng tangan menantunya menuju ke meja makan.


"Reo pergi agak pagi tadi. Ia harus ke Manchester karena ada rapat pemegang saham di sana. Dia sendiri sudah lupa tentang rapat itu. Untung saja daddy Jack mengingatkan. Sebenarnya kalau kamu nggak kecelakaan, mommy ingin mengajak kamu ke sana. Kota Manchester lebih menyenangkan dari pada London."


Edewina hanya tersenyum mendengar celotehan mertuanya ini. Saat ia duduk di depan meja makan, matanya langsung berbinar melihat apa yang tersedia di sana.


Nasi goreng ikan asin yang pedas, ada kerupuk udang, telur sambal balado, dan kue putu kesukaannya.


"Mommy, semuanya enak..." Edewina jadi bersemangat melihat apa yang tersaji di atas meja.


"Tadi, sebelum Reo pergi, dia meminta mommy untuk menyiapkan makanan Indonesia. Untung saja toko Asia nya nggak jauh dari sini. Reo sudah tahu apa makanan kesukaanmu. Saat mommy tanya apakah mami Mahira yang mengatakannya, anak itu bilang bahwa ia sudah lama tahu. Dia juga bilang kalau kamu paling suka minum teh melati buatan Cina."


Edewina mengerutkan dahinya. Kalau tak bertanya pada mami Mahira, lalu siapa yang memberitahukannya?


"Ayo sarapan. Mommy juga sudah kangen dengan makanan Indonesia." Riani membuyarkan lamunan Edewina.


Selesai sarapan, Edewina memilih ada di kamar untuk membaca bahan kuliah yang dikirimkan Clara untuknya.


Sementara membaca, Sinta meneleponnya.


"Hallo Win. Bagaimana keadaan lu?"


"Sudah membaik. Namun begitulah, mertua gue datang dan tak mengijinkan gue kuliah. Nanti besok katanya."


"Gue dengar mertua lu baik banget ya? Orang Indonesia pula. Wah, semoga aja gue dapat mertua kayak Nyonya Riani Almond. Terus bagaimana si tampan Reo?"

__ADS_1


"Lagi rapat di Manchester. Gue senang aja dia nggak ada. Bisa bebas tanpa melihatnya."


"Dia tampan lho."


Edewina hanya terkekeh mendengar perkataan Sinta.


"Eh, tahu nggak, kemarin Ken menanyakan lu."


"Oh ya?"


"Iya. Dan gosip terbaru yang gue dengar kalau Ken sudah putus dengan Jenisa. Kabarnya semalam Jenisa mabuk di cafe karena tak terima Ken memutuskan dirinya."


"Kok putus. Mereka kan baru sebulan jadian."


"Ken kayaknya sudah punya yang baru."


"Oh ya? Siapa?"


"Leona. Gadis asal Portugal. Mahasiswa kedokteran juga."


"Jadi sekarang Ken jadi playboy?"


"Sepertinya"


"Kok dia sampai seperti itu sih?"


"Gue tutup dulu, Sin." Edewina meletakan ponselnya lalu menatap nampan berisi kue dan susu yang diletakan mertuanya di hadapannya.


"Mommy, aku bisa jadi gemuk kalau seperti ini."


Riani tersenyum. "Nggak masalah kamu gemuk. Soalnya para Almond suka istrinya agak padat berisi. Kamu masih masuk kategori kurus."


Riani terkejut mendengar perkataan mertuanya. Apa iya kalau gue kurus?


********


Malam sudah sangat larut. Riani sudah sejak tadi tenggelam dalam mimpinya setelah hampir satu jam telepon mesra dengan Jack.


Edewina sampai geleng-geleng kepala saat mendengar bagaimana mesranya Riani dan Jack diusia mereka yang tak lagi muda. Hal itu mengingatkan dia pada mami dan papinya. Sama mesranya. Terkadang Edewina merasa kalau mereka terlalu lebay. Namun ternyata saling menjaga kemesraan sampai diusia tua akan membuat hubungan mereka awet.


Edewina tadi sudah tertidur. Namun ia bangun saat ada panggilan telepon dari Clara. Sahabatnya itu mengirim foto Ken dan Leona. Yang membuat Edewina sedih adalah Leona yang duduk dipangkuan Ken dan mereka sepertinya sedang berciuman. Tangan Ken nampak membelai paha gadis itu dan mereka sepertinya ada di club' malam.


Perlahan Edewina bangun dan turun dari ranjang. Ia melangkah ke arah balkon, membuka pintunya perlahan lalu mencoba mencari udara segar. Walaupun sekarang masih musim panas namun udara malam ini cukup dingin.


Ken, kenapa kamu menjadi seperti itu? Kenapa kamu tak bisa menerima kenyataan kalau hubungan kita terlarang? Aku memang masih mencintaimu. Namun aku berusaha untuk melupakanmu untuk kebaikan kita berdua.


Air mata Edewina mengalir saat mengingat kehidupan Ken yang mulai rusak.

__ADS_1


Balkon tempat ia berdiri ini menghadap ke gerbang masuk apartemen. Ia melihat sebuah mobil yang masuk. Apartemen ini memang sangat terjaga privasinya. Mobil yang masuk pun harus menempelkan kartu khusus kalau tidak, pintu tak akan terbuka.


Entah karena apa, Edewina memperhatikan sopir yang turun dan membukakan pintu. Mark? Berarti Reo pulang? Bukankah kata mommy Riani kalau Reo akan tinggal di Manchester selama dua hari?


Benar saja. Reo turun saat pintu dibukakan oleh Mark. Lelaki itu menengadah ke atas dan menatap Edewina yang juga sedang menatapnya. Reo melambaikan tangannya.


Edewina langsung membuang muka.


Setelah itu Edewina memilih duduk di kursi kayu yang ada di balkon. Ia membuka ponselnya dan mencoba menghilangkan kejenuhan hatinya.


Tak lama kemudian ia mendengar pintu kamar yang dibuka dan munculah Reo di balkon.


"Honey, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Reo sambil mendekat. Ia berdiri di belakang Edewina, menunduk lalu mencium puncak kepala istrinya dengan rasa rindu yang sangat dalam.


"Aku nggak bisa tidur." jawab Edewina sambil terus memainkan ponselnya.


"Merindukan aku ya?" canda Reo lalu ikut duduk di samping istrinya.


"Mana mungkin?" Edewina tertawa sedikit mengejek.


"Mungkin saja."


Edewina hanya menatap Reo sekilas lalu kembali menatap layar ponselnya.


"Aku merindukanmu. Ku selesaikan semua pekerjaanku hari ini sampai jam 10 malam tadi untuk segera datang kembali ke sini. Rasanya meninggalkanmu sehari saja aku tak bisa."


Edewina masih tetap diam. Ia berusaha tak menanggapi perkataan Reo pada hal hatinya sedikit tersentuh mendengar pengakuan pria itu. Wina tahu, Reo pasti sangat lelah.


"Apakah kamu memikirkan Ken?" tanya Reo dengan pelan.


Perlahan kepala Edewina terangkat dan menatap Reo yang duduk di sampingnya. "Iya."


Senyum di wajah Reo sesaat menjadi hilang. Edewina dapat melihat bahwa Reo terluka mendengar pengakuan Edewina.


"Jangan salahkan dirimu kalau Ken jadi play boy. Itu karena ia tak mau menerima kenyataan kalau kalau bersaudara. Jangan Bebani dirimu atas kebodohan yang dibuatnya dengan malas masuk kuliah. Kamu tak bersalah atas semua yang yang terjadi padanya." kata Reo lalu mengusap punggung Edewina. "Masuklah. Kamu belum terlalu sehat. Harus cepat pulih supaya bisa kembali kuliah." Lalu Reo berdiri dan segera masuk ke kamar.


Edewina terdiam mendengar kata-kata Reo. Ia juga bingung bagaimana Reo bisa tahu semua yang ia alami dan pikirkan. Ia kemudian masuk dan segera tidur. Reo sepertinya ada di kamar mandi.


Setelah Reo selesai membersihan dirinya dan mengganti pakaiannya. Ia pun naik ke atas tempat tidur setelah terlebih dahulu mencium mommy Riani.


Reo menatap punggung Edewina yang tidur membelakanginya. Jujur hatinya sakit mendengar pengakuan Edewina kalau ia memang sedang memikirkan Ken. Entah mengapa, Reo jadi enggan memeluk Edewina malam ini.


********


.Hallo semua.....


dukung emak terus ya guys

__ADS_1


__ADS_2