
Saat Reo dan Edewina tiba di rumah, mereka dikejutkan dengan kedatangan Riani, Jack, Arma dan Wilson suaminya, serta kedua anak cowoknya.
Mereka pun langsung berpelukan penuh kasih saling melepas kerinduan.
Jack masih menggunakan tongkat penyangga untuk menahan beban tubuhnya yang belum kuat pasca operasi setelah kakinya terjepit saat kecelakaan itu.
"Reo sayang, kenapa tanganmu?" tanya Riani khawatir.
"Aku dan Mark tadi mengalami kecelakaan kecil, mom. Ada mobil lain yang menyerempet mobil kami. Sopirnya mabuk. Aku mengalami luka karena nggak menggunakan sabuk pengaman." ujar Reo. Ia kemudian tersenyum dan berusaha untuk menunjukan bahwa ia baik-baik saja.
Jack menatap anaknya tak percaya. Ia tahu bagaimana canggihnya mobil Reo. Namun ia menyimpan dulu semuanya. Nantilah ia akan menanyakannya pada anaknya.
"Edewina sayang, bagaimana kandunganmu, nak?" tanya Riani lalu memegang perut Edewina.
"Dia bayi yang kuat, mom. Dia sehat. Kini sudah memasuki minggu ke-9." kata Edewina dengan perasaan bangga.
"Ah, tak sabar menunggu kelahirannya." ujar Riani dengan wajah yang berseri.
Mereka pun kemudian makan siang bersama. Setelah itu Reo dan Edewina menuju ke kamar mereka untuk beristirahat.
"Kak Sen, bagaimana lukanya. Masih sakit?" tanya Edewina sambil duduk di samping suaminya yang bersandar pada kepala ranjang.
"Agak perih, sayang. Namun kalau kamu dekat-dekat aku, nggak pergi menjauh, pasti perihnya hilang."
"Modus." cibir Edewina.
Reo terkekeh. "Ayo sini." Ia menepuk pahanya, meminta Edewina berbaring di sana.
"Kaki kakak kan sakit."
"Yang terluka betisnya. Ayo ke sini!" Reo menepuk pahanya kembali.
Edewina pun membaringkan tubuhnya. Kepalanya di letakan di atas paha suaminya. Reo dengan segera langsung menyentuh wajah istrinya. "Aku bahagia jika kita seperti ini."
"Tadi juga kak Sen dan kak Indira saling dekat-dekat. Wajah kalian bahkan hampir bersentuhan. Pasti kalau tadi aku nggak datang, kak Sen sudah memelas kesakitan di depan kak Indira."
"Sayang.....!" Reo membelai rambut Edewina. "Aku dan Indira itu berteman sejak kecil. Kami dekat bagaikan saudara kandung. Mungkin saking dekatnya sampai kami sudah saling mengenal pribadi masing-masing.
"Tapi aku merasa kak Indira itu mencintai kak Sen."
Reo menarik napas panjang. Tentang perasaan Indira, perempuan itu memang sudah mengakuinya. Namun Reo tak ingin mengatakan pada istrinya ini. Cukup dia saja yang tahu tentang perasaan Indira. Reo juga sedang menyiapkan keberaniannya untuk mengatakan tentang kehamilan Indira pada kedua orang tuanya.
"Sayang, Indira mengerti dengan posisinya. Aku dekat dengannya hanya karena anak di kandungannya. Selebihnya tidak. Dia tahu kalau dari dulu aku hanya mencintai satu gadis. Gadis yang membuat aku jatuh cinta pada pandangan pertama."
"Dasar pedofil."
__ADS_1
Reo meraih tangan Edewina lalu mengecupnya mesra. "Kau adalah permaisuri dalam hatiku. Aku tak akan pernah mendua. Tidak akan pernah."
"Aku takut anak Indira akan menjadi duri dalam kehidupan kita nanti, kak. Jujur saja aku sangat cemburu jika kakak dekat dengannya."
Reo kembali mengecup tangan Edewina. "Aku janji, sayang. Setelah kamu selesai studi, kita akan kembali ke Manchester. Indira akan tetap di London. Jika aku akan mengunjungi anaknya, aku pasti akan datang bersamamu. Aku tak akan pernah datang jika kamu tidak mendampingiku. Aku memang tak bisa menghapus semua yang terjadi di masa lalu itu, namun aku ingin menjadi lebih baik di masa depan. Dan itu hanya mungkin jika kamu akan tetap bersamaku, sayang."
Edewina menatap suaminya. "Aku nggak mungkin akan meninggalkanmu, kak. Aku sekarang justru takut jika kakak yang akan kepincut dengan gadis lain."
Reo tertawa. "Ah, itu sesuatu yang nggak mungkin, sayang." Reo lalu menunduk dan mencium istrinya. "Tidurlah."
"Kakak nggak tidur juga?"
"Aku ingin melihat kamu tidur lalu aku pasti akan tidur."
Edewina bangun lalu mengatur bantal. "Tidurlah di sini, kak. Aku ingin memeluk kakak."
Hati Reo gembira. Semakin hari, ia semakin merasakan cinta dan perhatian Edewina padanya.
*********
Selesai makan malam, Jack mengajak Reo untuk berbincang di ruang kerja. Reo menceritakan semua pada papanya.
"Aku berusaha untuk hidup damai di masa tuaku ini. Namun kalau mereka mengusik keluargaku, maka aku tak akan tinggal diam. Sepertinya, mereka sengaja hendak membuat Edewina menjadi gila dengan penampakan-penampakan itu. Aku akan mencari siapa dalang semuanya itu."
"Serahkan semuanya pada kami, daddy. Aku dan Mark akan menemukannya. Sudah beberapa nama yang kami curigai. Hanya saja, saat mendengar cerita Edewina ketika ia diculik, ada lelaki berbahasa Spanyol."
"Ya. Aku tahu latar belakang ayah mertuaku." Reo menarik napas panjang. "Dad, ada sesuatu yang harus aku katakan pada daddy dan mommy."
"Kalau begitu, panggilan mommy mu."
Reo keluar ruangan dan memanggil mommy Riani. Ia juga tak lupa memanggil Edewina.
Arma yang melihat adiknya memanggil mommy dan adik iparnya, jadi mengerti apa yang akan mereka bicarakan. Cassie sudah menceritakan semua padanya.
"Ada apa ini? Kok serius sekali?" tanya Riani lalu mengambil tempat duduk di samping suaminya.
"Aku juga penasaran, sayang."
Edewina menatap Reo. "Kak?"
"Mommy dan daddy harus tahu, sayang." Kata Reo lalu meminta Edewina untuk duduk di sampingnya.
"Ada apa sih?" tanya mommy Riani penasaran.
"Mom, dad, saat aku dan Edewina bertengkar di malam ulang tahunnya, aku sangat stres malam itu." Lalu Reo pun menceritakan segalanya.
__ADS_1
Mata Riani berkaca-kaca. Bagaimana pun ia menyayangi Indira seperti anaknya sendiri.
"Reo...., kenapa kamu mengulangi kesalahan yang pernah daddy lakukan? Terus Indira bagaimana?" Riani semakin gelisah.
"Indira hamil."
"Oh my God....! Oh...my God!" Riani memegang dadanya yang tiba-tiba terasa sesak. Matanya langsung menatap Edewina yang tertunduk sambil menangis juga.
"Tenang sayang....!" Jack mengusap punggung istrinya.
"Sekarang bagaimana kamu harus menghadapi semua ini? Kamu merasa hebat karena akan punya dua anak sekaligus dari dua wanita yang berbeda? Ah Reo..., pusing kepala mommy rasanya."
"Maafkan saya, mom." Reo tahu ia sudah menyakiti hati wanita yang sangat dicintainya.
"Mommy, maafkan aku." Reo langsung bersujud di depan kaki Riani.
"Nak, Indira sudah sebatang kara. Dia tak punya siapa-siapa lagi di sini. Dan mommy tahu, kau juga sangat menyayangi Edewina. Dia adalah wanita yang sangat kau ingini sejak usiamu masih sangat muda. Lalu mengapa sampai kau bisa lepas kontrol seperti itu?"
Reo menangis di pangkuan Riani. Untuk sesaat, di dalam ruangan itu hanya ada suara tangis Reo.
"Mommy, jangan salahkan kak Sen. Semua ini juga terjadi karena aku yang dulu kurang peduli pada kak Sen." Edewina akhirnya bicara. "Semua ini salahku juga."
Riani menatap Edewina. Ia tahu kalau Edewina masih sangat muda dan harus menerima kenyataan pahit ini.
"Aku tak akan melarang kak Sen bertanggungjawab atas diri kak Indira. Namun tanggungjawab itu hanya sebatas untuk anak itu saja." kata Edewina. Ia tak tahan melihat Reo yang menangis.
Riani menarik napas panjang beberapa kali. Ia mengusap kepala anaknya. "Reo...., mommy berharap kau tak akan pernah menyakiti Edewina."
Jack hanya bisa menatap putra dan menantunya secara bergantian. Ia tak menyangka kalau Reo akan mengikuti jejaknya.
***********
Rombongan dari Indonesia akhirnya datang. Edewina bahagia karena ia bisa bertemu dengan kedua adiknya juga.
Ia memang tak mengalami muntah dan mual yang berlebihan. Ia bahkan bisa makan dengan baik. Apalagi jika itu makanan Indonesia. Tentu saja Riani dan Mahira akan membuatkan dengan senang hati.
Sehari sebelum hari natal, Cassie pun datang berkumpul di rumah itu dengan keluarganya. Nampak wanita itu sedikit canggung berjumpa dengan Wilson, suaminya Arma. Bagaimana pun Wilson adalah pria yang pertama mengisi hati Cassie namun akhirnya menikah dengan Arma. Tak ada yang tahu kalau Cassie dan Wilson pernah punya kisah manis. Dan demi Arma, Cassie merelakan semuanya.
Namun dengan berlalunya waktu, Cassie mampu melupakan Wilson. Tuhan mempertemukan dia dengan lelaki baik hati yang mencintainya dengan tulus. Dan Cassie juga tahu kalau Wilson telah mencintai Arma dengan segenap hatinya.
Saat keluarga Almond sedang merayakan pesta malam natal, tak jauh dari sana berdiri seorang perempuan. Ia menatap ke arah rumah itu dengan mata yang berkaca-kaca. Tangannya terkepal dan dia akhirnya menangis. Aku tak akan membiarkan kebahagiaan kalian bertahan lama.
********
Hallo semua....
__ADS_1
mendekati episode-episode akhir, semuanya akan segera terungkap guys
pokoknya dukung emak saja, guys