MEMILIKIMU ADALAH TAKDIRKU

MEMILIKIMU ADALAH TAKDIRKU
Reo yang Memahami Wina


__ADS_3

Ada senyum bahagia di wajah Riani saat melihat anak dan menantunya tidur sambil berpelukan. Reo dengan posesif memeluk Edewina yang tidur di dadanya.


Riani terkejut saat melihat putranya itu sudah ada di kamarnya. Namun sebagai mama yang melahirkan dan membesarkan Reo, Riani sangat mengerti dengan karakter anaknya. Reo sifatnya sangat menyayang. Di balik penampilan dirinya yang dikenal orang sebagai lelaki dingin dan tak ada belas kasihan terhadap semua musuhnya, Reo tetap pria berhati lembut jika sudah berhadapan dengan orang yang dicintainya.


Ia pun perlahan meninggalkan kamar anaknya dan menuju ke lantai satu. Hendak menyiapkan sarapan untuk mereka.


Edewina perlahan membuka matanya. Ia terkejut mendapati dirinya ada dalam dekapan Reo. Bukankah semalam ia tidur tanpa memelukku?


Gadis itu secara cepat melepaskan diri dari pelukan Reo dan segera bangun. Ia ada kuliah jam 8 pagi Saat Edewina sudah selesai mandi, Reo ternyata sudah bangun. Ia sedang menerima telepon.


"Ke kampus hari ini aku antar ya?" ujar Reo selesai menelepon.


"Aku bisa naik taxi."


"Nggak. Aku yang akan mengantarmu." Reo mendekat dan tanpa diduga ia mencium pipi Edewina yang sedang duduk di depan meja rias.


"Reo....!" Edewina menghapus bekas ciuman Reo di pipinya. Namun lelaki itu tak marah. Ia hanya terkekeh dan melangkah masuk ke dalam kamar mandi.


"Wina, kalau sudah selesai kuliah, telepon Reo ya? Biar dia menjemputmu." ujar Riani mengingatkan. Hari ini ia akan kembali ke Manchester sebab kalau tidak om Jack bisa mengamuk.


"Iya mommy." Edewina tak mau membantah perkataan mertuanya.


"Reo sayang, beneran kamu mau masuk kantor? Kamu kan baru saja sampai tadi malam. Kata daddy kamu bekerja tak henti kemarin. Biar saja Mark yang mengatur semuanya. Selesai mengantar Edewina, kamu istirahat lagi di rumah." ujar Riani.


"Aku baik-baik saja, mommy." Reo tersenyum ke arah mommy nya. Ia tahu kalau mommy mengkhawatirkan dia.


Saat mereka akan pergi, Riani menahan tangan Reo.


"Nak, Edewina baru 19 tahun. Ibarat bunga, dia belum mekar semuanya dan kau sudah memetiknya. Harus ekstra sabar menghadapi sikap Wina ya? Sebenarnya anak itu baik, mungkin saja ia belum terbiasa dengan statusnya sebagai seorang istri. Mommy sebenarnya sedih. Kamu sudah menikah namun masih mengurus diri sendiri. Namun salah mu juga pilih istri masih sangat muda."


Reo tersenyum lalu memeluk mommy nya. "Aku bahagia dengan pilihanku, mom. Dan aku bersyukur karena mommy menerima Edewina dengan semua kekurangannya." Lalu Reo mengecup dahi mommy dan menyusul langkah Edewina yang sudah menunggunya di depan lift.


Mereka naik mobil menuju ke kampus Edewina. Mark yang membawa mobil.


"Aku jemput jam 3 sore ya?" ujar Reo.


Riani mengerutkan dahinya. Bagaimana Reo bisa tahu jadwal kuliahnya?


"Aku bisa naik taxi. Jarak kantormu ke kampus ku kan agak jauh. Jadi tak perlu repot." kata Edewina sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya. Ia yakin walaupun saat ini mereka berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia namun asisten Mark pasti mengerti. Dan Edewina yakin Mark juga tahu alasan dibalik pernikahan mereka sehingga ia tak perlu bersikap manis di hadapan Mark.


"Aku selesai


hari ini sebelum makan siang. Jadi aku punya banyak waktu untuk menjemputmu."

__ADS_1


Edewina diam. Ia tak menanggapi perkataan Reo.


Saat mobil memasuki kampus, Edewina sebenarnya ingin turun di gerbang saja. Namun Reo yang sudah tahu tempat Edewina turun pun meminta Mark untuk tak menurunkan istrinya di sana.


Mobil berhenti. Mark turun dengan cepat untuk membukakan pintu bagi Edewina sedangkan Reo dengan cepat ikut turun.


Beberapa teman Edewina yang ada di tempat parkir saling berbisik saat melihat Edewina diantar oleh Reo.


Mata Edewina terbelalak melihat Ken juga ada di sana. Dengan pacar barunya. Reo pun menyadari kehadiran Ken. Dengan cepat ia memeluk pinggang Edewina dan memberikan kecupan di bibir istrinya itu. "Sampai jumpa nanti sore." ujarnya lalu masuk kembali ke dalam mobil.


Edewina menahan napasnya yang tiba-tiba saja merasa sesak. Di satu sisi ia merasa senang karena Reo membuatnya tak salah tingkah saat melihat Ken dengan perempuan lain namun di sisi yang lain, Edewina dapat melihat pandangan mata Ken yang terluka melihat bagaimana lembutnya Reo menciumnya.


"Ayo, Win!" Clara segera menarik tangan sahabatnya untuk meninggalkan tempat parkir.


"Mulai besok, lu jangan turun di sini lagi. Turun aja lewat pintu belakang. Ken akan selalu menunggu ku di sini untuk menunjukan semua pacar barunya."


"Gue harus bicara dengan Ken." ujar Edewina.


"Untuk apa?"


"Pokoknya gue harus bicara."


"Terserah lu deh."


**********


"Boleh kita bicara?" tanya Edewina saat ia berhasil menemukan Ken di cafe kampus tempat mereka biasa nongkrong.


"Ada apa?" tanya Ken yang saat itu memang sedang sediri.


Edewina duduk di depannya. "Kenapa jadi kayak gini? Kamu nggak masuk kelas lagi kan? Memangnya kamu sudah nggak peduli dengan masa depanmu?"


"Apa peduli mu dengan masa depan ku?"


"Ken, hubungan kita sebagai kekasih memang sudah selesai dan meninggalkan luka yang sangat dalam. Kamu pikir aku tak menderita pisah denganmu? Namun sebagai saudara sepupumu, bukankah aku juga harus peduli denganmu? Jangan nanti kau menyesal karena menyia-nyiakan waktumu."


Ken menatap Edewina dengan sangat dalam. "Kamu ternyata tak mencintaiku sedalam aku mencintaimu. Kamu sudah melupakan semua kenangan manis kita dan tenggelam dalam dekapan suamimu. Aku maklum. Usiamu masih 19 tahun. Kamu pasti masih labil. Karena itu, jangan larang aku bersikap seperti ini. Karena beginilah cara aku untuk melupakanmu."


Air mata Edewina jatuh tanpa bisa ditahannya. Kata-kata Ken sangat menusuk sampai ke kedalaman hatinya. "Kau berpikir bahwa aku begitu cepat melupakanmu ? Kau salah, Ken. Namamu masih terukir indah dalam hatiku. Aku bahkan tak ingin menghapusnya. Tapi memang kisah kita tak bisa diteruskan. Karena kisah kita terlarang. Aku mencoba menerimanya. Walaupun sakit. Kau seharusnya juga mencoba menerima kenyataan tentang kisah kita yang tak mungkin dilanjutkan." Edewina menghapus air matanya dengan kasar. Ia kemudian pergi meninggalkan Ken sendiri.


Tak jauh dari situ, anak buah Reo merekam semuanya secara mendetail. Lalu ia mengirimkannya pada Reo.


Kebetulan Reo baru saja tiba di pelataran parkir kampus Edewina. Ia sengaja menyetir mobil sendiri dan meminta Mark untuk tinggal di kantor.

__ADS_1


Saat Reo membuka video itu dan mendengarkan semua percakapan yang tercipta di sana, hati Reo sangat terbakar oleh cemburu. Edewina dan Ken masih sangat kuat ikatannya. Apalagi dengan pengakuan Edewina bahwa ia tak mau menghapus nama Ken dalam hatinya.


Perlahan Reo berusaha mengembalikan pikiran warasnya agar tak bertindak gegabah. Setidaknya Edewina tak mengkhianati nya dengan mencari waktu berdua dengan Ken. Tujuan Edewina hanyalah untuk menasehati Ken agar fokus dengan kuliahnya.


Setelah meminum air mineral yang selalu tersedia di dalam mobilnya, Reo pun akhirnya menghubungi istrinya itu.


Edewina sama sekali tak mengangkatnya. Reo terpaksa menghubungi anak buahnya.


"Nyonya sedang duduk di taman, tuan. Sepertinya Nyonya menangis."


"Ok. Terima kasih." Reo membuka jasnya. Lalu menggulung kemeja putihnya sampai ke siku. Ia membuka dasinya, lalu keluar dari mobil tanpa melepaskan kaca mata hitamnya. Ia melangkah ke arah taman.


Beberapa mahasiswi yang berpapasan dengannya menatap Reo dengan tatapan kagum atas ketampanan cowok itu.


Reo menemukan istrinya yang sedang menangis di sudut taman yang agak sepi.


"Sayang ....!" panggil Reo sambil mendekat. Edewina mengangkat wajahnya. Saat melihat Reo, ia dengan cepat menghapus air matanya.


"Kenapa menangis?" tanya Reo.


Edewina tak menjawab. Ia hanya menarik napas panjang lalu menghembuskan nya secara perlahan. Ia mencoba menahan air matanya namun karena hatinya yang sedih mengingat semua percakapannya dengan Ken, gadis itu kembali terisak.


"Baby, come on....! Kamu bukan gadis cengeng seperti yang aku tahu. Sejak SMP, kamu menjadi gadis yang populer di sekolah, sangat energik dan selaku ada buat teman-teman mu. Edewina Carensia dikenal sebagai gadis tangguh yang tak pernah menangis jika tim sekolahnya tak menang saat mengikuti suatu lomba. Ia bahkan tampil menjadi motivator buat semua teman-temannya agar mereka bersemangat lagi. Lalu kenapa hanya karena perkataan Ken yang tak bisa menerima kenyataan kalau kalian bersaudara, kau jadi cengeng?"


Edewina menatap Reo. "Bagaimana kau tahu tentang kehidupanku?"


"Karena aku sudah mencintaimu jauh sebelum engkau mengenal apa itu cinta."


"Maksudmu?"


Reo menghapus air mata Edewina dengan ibu jarinya. "Kau sebenarnya cukup pintar untuk mengerti kata-kataku. Namun kali ini hatimu sedang galau sehingga pikiranmu menjadi buntu. Ayo, kita pulang!" Reo meraih tangan Edewina dan menautkan jari mereka. Kali ini Edewina tak menarik tangannya dari genggaman Reo. Ia mengikuti langkah pria itu masih dengan pikirannya yang bingung.


Tak jauh dari sana, Ken melihat pasangan itu. Hatinya kembali memanas. Dasar pembohong! Bagaimana mungkin kau masih menyimpan namaku dalam hatimu?


**********


Selamat hari Kamis yang manis


Apakah Edewina akan cepat luluh ataukah ia bimbang dengan semua yang ia rasakan pada Reo dan Ken?


Dukung terus cerita emak ini ya


komentarnya yang panjang, lucu, main tebak-tebakan juga boleh.

__ADS_1


__ADS_2